tembang dolanan waktu kecil.
(minimal) tiga anak duduk membentuk lingkaran, lalu sebuah batu digilir dipindahkan dari hadapan satu anak ke hadapan anak yang lain. anak yang mendapatkan batunya tepat ketika lagu habis akan..

entah diapakan. aku benar-benar tidak ingat bagaimana peraturan dolanan yang satu ini. aku malah ragu, apa iya cuma satu batu yang diiderkan atau masing-masing anak pegang satu batu lalu semuanya bersama-sama diangsurkan ke teman di sebelahnya?

seingatku, tembangnya seperti ini

Ndhuk tri legendri nagasari
riwul owal awul jadah mentul
tulen olen olen jadah manten
titenana mbesuk gedhe dadi apa
podheng mbako enak mbako sedheng
dhengkok eyok-eyok kaya kodhok!

aku mengerti betul bahwa orang jawa jaman dulu, bahkan dalam sebuah tembang dolanan pun akan menyisipkan wejangan. lihat saja itu ‘titenana mbesuk gedhe dadi apa’. lihat nanti kalau sudah besar mau jadi apa. pesan untuk memikirkan masa depan, meskipun sambil dolanan.

tapi kalimat-kalimat yang lain aku ngga ngerti apa maksudnya. seperti cuma permainan bunyi. dugaanku, kuping kecilku dulu salah tangkap mendengar mbak-mbak dan mas-mas yang nembang. seperti halnya di lagu ‘Garuda Pancasila’ di mana kata-kata ‘pribadi bangsaku’ bisa berubah jadi ‘thibang-thibang satu’. apa coba artinya? :P Continue reading ‘ndhuktri apa gotri?’


dari surat cinta yang urung
dan diremas dengan gemas

yang dimulai dengan putih
dan wangi
dan senyum
dan debar halus

seperti kata-kata telah tertulis sebelumnya
seperti tak akan pernah habis

lalu getar mengacau larik
lalu basah oleh keringat
lalu kusut dalam genggaman terlampau kencang

aku mulai mengeja kembali
kata-kata yang berceceran di kaki meja
kupunguti
tapi sepertinya ada yang menggelinding entah ke mana

cukupkah jika lantas kukirim secarik kertas bergambar hati
dan smiley?

PS: I love you


dan akulah pelacur.

karena aku masih punya hati. meski kubiarkan semua berkecamuk dalam diriku sendiri, menggerogoti. oh aku tertawa. tawa yang bahkan tidak bisa menutupi tangis di mataku sendiri. iya, seperti lagu ‘kupu-kupu malam’-nya titik puspa itu.

so I paint on a smile with lipstick
put on a big charade

maka di detik tertentu aku kosong. seperti komputer ber-otak rendah yang harus diam cukup lama untuk berpikir. menentukan apa tindakan selanjutnya.
dan kau bertindak seperti kaset atau vcd yang diputar berulang-ulang. mengucapkan kalimat yang sama pada setiap yang berbeda. aku telah percaya begitu saja meski aku sudah menduga sebenarnya itu suara buaya. Continue reading ‘ternyata kaulah robot itu….’


aku ingin tahu perasaan bayi, yang ditilapke ibunya.

dibiarkan asik bermain, ditunggui si ibu di sebelahnya. lalu diam-diam ditinggalkan, karena pamitan dirasa lebih menyulitkan.
ketika menyadari si ibu tidak lagi di situ, apakah dia akan baik-baik saja?
diam saja, atau menangis mencari ibunya?
atau bertanya-tanya? apa yang menjadi pertanyaan di kepalanya?
ke mana ibuku?
kenapa ibuku pergi?
akankah dia kembali?

jka ada seseorang di dekatnya, mungkin si bayi akan dihibur. dibikin asik lagi hingga lupa akan rasa kehilangannya. mungkin berhasil. mungkin tidak. mungkin dia diam dan tenang. mungkin terus menangis hingga ibunya pulang — kalau pulang.

entahlah. aku bukan bayi. aku perempuan gede tua. aku tidak bisa membayangkan perasaanku seperti perasaan bayi.
ditinggalkan tanpa pesan. rasanya pasti bukan cuma kehilangan, tapi seperti tidak diinginkan.

cup… cup… cup…

*gambar di ambil dari sini setelah google*


Tidak lama lagi. Saatnya akan segera tiba.

Sekali lagi kupandangi benda mungil di etalase itu.
“Besok saya akan ke sini mengambilnya, Mbak. Tolong disimpankan. Kalau jam tujuh malam saya belum datang, dan ada orang yang menginginkannya, berikan saja. Mungkin memang belum jatah saya,” kataku pada penjaga tokonya. Dia tersenyum, mengangguk.

Benda mungil itu, yang kupesan untuk kubayar besok itu, akan aku berikan pada Mur, kekasihku. Ah… entahlah. Kami tidak pernah mengikrarkan diri sebagai kekasih sebenarnya. Kami hanya tumbuh bersama sejak kecil. Tepatnya, aku menjaga Mur sejak dia lahir. Continue reading ‘Kembang Api Malam Ini’


teringat pada suatu masa. aku sudah beranak pinak pula kalau tidak salah. sedang duduk-duduk di teras bersama Bapak Ibu dan lupa siapa lagi. seingatku ada mbakyuku dan adhi-adhiku juga.

entah apa yang jadi pengantarnya, Bapak ngendika, “kadang aku meri sama anak-anak. hidupnya tanpa beban. penuh tawa. bebas.. penekan talok… (memanjat pohon ceri-red)”
saat itu aku cuma tertawa, lalu matur, “ya kalau Bapak ingin penekan talok sekarang juga ngga ada yang ngelarang. nanti bukan cuma Bapak yang tertawa-tawa, kita ikutan. mungkin orang yang lewat juga…”
tentu saja yang lain cuma ikut ketawa, termasuk Bapak.

***

hari ini aku membaca catatan singkat adhiku lanang di blognya.

jenuh…
tak terasa sudah 32 tahun, sejak aq dilahirkan…
dan hari ini, aq lelah dengan perubahan…
aq ingin kembali ke masa, dimana tidak ada dirimu, tidak ada mereka…
dan yang ada hanyalah tidak ada…

dua kalimat terakhir, yang begitu sederhana itu, bikin aku nggregel. karena walaupun aku perempuan, aku justru sangat jarang hang out dengan kedua mbakyuku yang selisih umurnya lumayan jauh denganku (bikin kami ga terlalu nyambung di masa kanak-kanak dulu). ya justru dengan Bondan ini lah aku banyak bertualang. penekan (ngga cuma talok tapi juga pelem, jambu dan semua yang bisa dipanjat), blusukan di hutan. boncengan pit onthel berangkat dan pulang sekolah. nasak kebon (orang). bakar singkong (curian). kemah.
meskipun kadang jotosan. bandhem-bandheman. pisuh-pisuhan.
barangkali ini salah satu sebab aku tidak terlalu perempuan dalam banyak hal. makasih, Ndan.

tiba-tiba aku ingin pergi berdua aja sama bondan. penekan, boncengan pit onthel, blusukan di hutan, nasak kebon orang, bakar singkong curian.

***

setelah bertahun-tahun, aku baru benar-benar paham perkataan (dan perasaan) Bapak soal penekan talok itu…


I am lonely and it’s you I wanna be with
you can’t be here though it’s you I wanna be with
I meet people but it’s you I wanna be with
I kill time hanging around still it’s you I wanna be with
you’re with some one else but it’s you I wanna be with
you don’t give a damn though it’s you I wanna be with
….
so I break down ’cause it’s you I wanna be with


the road
Cormac McCarthy
Gramedia Pustaka Utama
264 halaman
2009

ngga tahu kenapa memutuskan beli buku ini. sampulnya yang jelas. gambarnya mengingatkanku pada proyek P2KP di sebuah kabupaten, pembuatan jalan beton kampung, yang sudah rompol seminggu setelah penyerahan.

apa yang terjadi?
di mana terjadinya?
kapan terjadinya?

tidak penting.

bahkan seandainya pertanyaan-pertanyaan itu dijawab, mungkin tetap akan terasa tidak penting. yang penting adalah bagaimana kita merasakan suasana mencekam sepanjang perjalanan membaca buku ini.

bukan perjalanan petualangan. apalagi bersenang-senang. ini adalah cerita perjalanan seorang laki-laki dan anaknya (yang namanya pun tidak dianggap penting untuk disebut) mengarungi jarak yang tak terukur melewati hari-hari tak berkalender. mengarah ke tujuan yang tidak terjelaskan. menghadapi lapar, dingin, sakit, takut, kecewa, putus asa.

membacanya kita ikut merasakan berjalan di atas salju yang dingin, lalu melewati aspal yang panas terbakar. tanah yang merekah. tersengal dalam udara berkabut asap. dingin hanya berbatas selimut basah, hujan hanya berbatas terpal. gelap. dan menyalakan api adalah bahaya. lapar berhari-hari tanpa makanan. bertahan hidup dengan menelan salju bercampur debu dan abu. mengais sampah yang menjadi sangat berharga untuk bertahan hidup.

membacanya kita ikut merasakan ketakutan luar biasa bertemu sesama manusia. karena bisa jadi, kita akan dijadikan mangsa. maka sebuah pistol yang tinggal berisi sebutir peluru menjadi senjata untuk menakuti yang mencoba menakuti kita. atau lebih baik diam bersembunyi membiarkan yang lain berlalu.

membacanya kita ikut merasakan mualnya melihat mayat kering. atau terbakar. atau terpotong-potong. mengetahui bahwa yang berserakan di jalan yang kita lalui adalah tulang belulang manusia, yang dilempar begitu saja setelah direbus dan dinikmati dagingnya. atau menemukan sisa api unggun berbau sedap, yang ternyata adalah tubuh bayi tanpa kepala yang dipanggang ala kambing guling…

membacanya kita ikut merasakan lunturnya kepercayaan terhadap sesama manusia. saling curiga. hilangnya iba demi mempertahankan hidup sendiri.

membacanya kita ikut berjuang mempertahankan daya juang, karena hanya itu kekuatan bertahan. untuk tidak memilih mengkahiri hidup dengan bunuh diri. untuk tetap berakal sehat. untuk tetap melindungi orang yang kita kasihi lebih dari hidup kita sendiri.

membacanya kita ikut merasakan mati rasa. kecewa melihat laut yang diceritakan, juga digambarkan di peta, berwarna biru; ternyata hitam juga seperti yang lainnya.

bahkan ketika perjalanan berakhir, entah juga itu sebuah akhir. karena sesungguhnya, itu adalah awal perjalanan berikutnya, yang tak kurang absurdnya.

barusan tau dari google, ternyata udah dibikin filmnya lho. kalo lihat teasernya kok, ngga sedahsyat bayanganku. tapi ngga tau juga ding, belum lihat full. mudah-mudahan masuk ke indonesia.


warning. postingan kali ini adalah curhat panjang lebar..

======================================

Dan jika aku berdiri

Tegar sampai hari ini

Bukan karena kuat dan hebatku

Semua karena cinta

Semua karena cinta

Tak mampu diriku

Dapat berdiri tegar

Terima kasih cinta

Dan aku berterima kasih kepada semua orang yang telah melimpahkan cinta padaku. Continue reading ‘Dari Peluncuran ‘SUICIDE’’