the road
Cormac McCarthy
Gramedia Pustaka Utama
264 halaman
2009

ngga tahu kenapa memutuskan beli buku ini. sampulnya yang jelas. gambarnya mengingatkanku pada proyek P2KP di sebuah kabupaten, pembuatan jalan beton kampung, yang sudah rompol seminggu setelah penyerahan.

apa yang terjadi?
di mana terjadinya?
kapan terjadinya?

tidak penting.

bahkan seandainya pertanyaan-pertanyaan itu dijawab, mungkin tetap akan terasa tidak penting. yang penting adalah bagaimana kita merasakan suasana mencekam sepanjang perjalanan membaca buku ini.

bukan perjalanan petualangan. apalagi bersenang-senang. ini adalah cerita perjalanan seorang laki-laki dan anaknya (yang namanya pun tidak dianggap penting untuk disebut) mengarungi jarak yang tak terukur melewati hari-hari tak berkalender. mengarah ke tujuan yang tidak terjelaskan. menghadapi lapar, dingin, sakit, takut, kecewa, putus asa.

membacanya kita ikut merasakan berjalan di atas salju yang dingin, lalu melewati aspal yang panas terbakar. tanah yang merekah. tersengal dalam udara berkabut asap. dingin hanya berbatas selimut basah, hujan hanya berbatas terpal. gelap. dan menyalakan api adalah bahaya. lapar berhari-hari tanpa makanan. bertahan hidup dengan menelan salju bercampur debu dan abu. mengais sampah yang menjadi sangat berharga untuk bertahan hidup.

membacanya kita ikut merasakan ketakutan luar biasa bertemu sesama manusia. karena bisa jadi, kita akan dijadikan mangsa. maka sebuah pistol yang tinggal berisi sebutir peluru menjadi senjata untuk menakuti yang mencoba menakuti kita. atau lebih baik diam bersembunyi membiarkan yang lain berlalu.

membacanya kita ikut merasakan mualnya melihat mayat kering. atau terbakar. atau terpotong-potong. mengetahui bahwa yang berserakan di jalan yang kita lalui adalah tulang belulang manusia, yang dilempar begitu saja setelah direbus dan dinikmati dagingnya. atau menemukan sisa api unggun berbau sedap, yang ternyata adalah tubuh bayi tanpa kepala yang dipanggang ala kambing guling…

membacanya kita ikut merasakan lunturnya kepercayaan terhadap sesama manusia. saling curiga. hilangnya iba demi mempertahankan hidup sendiri.

membacanya kita ikut berjuang mempertahankan daya juang, karena hanya itu kekuatan bertahan. untuk tidak memilih mengkahiri hidup dengan bunuh diri. untuk tetap berakal sehat. untuk tetap melindungi orang yang kita kasihi lebih dari hidup kita sendiri.

membacanya kita ikut merasakan mati rasa. kecewa melihat laut yang diceritakan, juga digambarkan di peta, berwarna biru; ternyata hitam juga seperti yang lainnya.

bahkan ketika perjalanan berakhir, entah juga itu sebuah akhir. karena sesungguhnya, itu adalah awal perjalanan berikutnya, yang tak kurang absurdnya.

barusan tau dari google, ternyata udah dibikin filmnya lho. kalo lihat teasernya kok, ngga sedahsyat bayanganku. tapi ngga tau juga ding, belum lihat full. mudah-mudahan masuk ke indonesia.


warning. postingan kali ini adalah curhat panjang lebar..

======================================

Dan jika aku berdiri

Tegar sampai hari ini

Bukan karena kuat dan hebatku

Semua karena cinta

Semua karena cinta

Tak mampu diriku

Dapat berdiri tegar

Terima kasih cinta

Dan aku berterima kasih kepada semua orang yang telah melimpahkan cinta padaku. Continue reading ‘Dari Peluncuran ‘SUICIDE’’


serba salah

03Dec09

when you let some thing wrong do you wrong, you just let everything around you goes wrong.

***

PMS.
masa inkubasi flu.
dua hari yang lalu putus cinta.
kemarin sore kecopetan.

hebat kalau mengalami semuanya dan masih bisa tersenyum. aku tidak. Continue reading ’serba salah’


jangan….

28Nov09

jangan di depan toko
jangan di halte bis
jangan di samping pasar
jangan di pangkalan taksi
jangan di pom bensin
jangan di bawah pohon randu
jangan di jembatan
jangan di warung kopi

jangan temui aku.


AH….!

22Nov09

Aku terus berjalan. Cepat. Dengan langkah lebar sepanjang trotoar. Aku senang tadi aku memutuskan memakai rok super lebar yang sering kupakai dulu jaman kuliah. Dua rok lebarku yang lain sudah entah ke mana kuberikan pada siapa. Tapi yang satu ini masih kusimpan dan kupakai sesekali. Masih cinta. Aku bahkan bisa bonceng motor melangkah tanpa harus takut tersibak. Retsletingnya tidak terkancing sampai atas, dan kaitnya tidak bertemu. Lingkar perutku sudah bertambah beberapa senti dari masa rok ini dijahit beberapa tahun yang lalu. Tapi tidak masalah, selama atasanku sampai ke pantat, tidak ada yang tahu begitu sebenarnya caraku memakai rokku.

Aku senang tadi aku memutuskan memakai bootku, dan bukan sandal trepes yang licin itu. Sudah tiga tahun sejak aku membelinya, dan memakainya hampir tiap hari. Tapi di mataku dia tidak bertambah jelek atau usang. Cuma lecet di sana sini yang bisa kututup dengan semir. Dan rasanya, makin hari kulitnya makin lembut dan nyaman di kakiku.
Continue reading ‘AH….!’


Aku penulis skenarionya. Aku sutradaranya. Aku juga pemainnya. Terima kasih telah terlibat dalam sandiwaraku. Tapi maaf, ini perjanjiannya. Karena aku sutradaranya, kita lakukan dengan caraku. Kamu boleh protes, aku dengarkan. Kutanggapi? Aku tidak janji.

Ini adalah sandiwaraku. Ceritanya tergantung penuh kepadaku. Kau mungkin bisa menduga. Kau bahkan bisa mengusulkan jalan cerita. Tapi ketika di tengah jalan aku tidak suka, adalah kuasaku untuk mengubahnya. Kau tidak suka? Kau tidak berhak berbuat apa-apa.

Ini adalah sandiwaraku. Yang telah kususun berbulan lamanya. Sungguh aku menikmati sepanjang jalan merangkainya. Kupasang tangis dan kau percaya aku menderita. Kupasang senyum dan kau percaya aku bahagia. Kupasang wajah romantis dan kau percaya aku sedang jatuh cinta. Aku tahu kau ikut menikmati indahnya.

Ini adalah sandiwaraku. Terima kasih telah terlibat di dalamnya. Aku tahu kau bermain sepenuh jiwa, bahkan seolah ini nyata. Tapi ini sandiwaraku. Aku berhak menghentikannya kapan saja. Hanya aku tidak tega tiba-tiba berhenti dan mengakhiri semua. Bahkan untuk itu aku perlu mengarang tambahan cerita.

Ini adalah sandiwaraku. Dan kurasa sudah tiba masanya. Aku sudah jenuh bermain denganmu. Aku perlu mencari pemain lain dengan cerita lain di panggung yang lain. Kau tidak mau? Ah, maaf. Aku tidak bisa melanjutkan lagi. Bermain denganmu sudah membosankan dan lama-lama bisa jadi memuakkan.

Ini adalah sandiwaraku. Jadi mari kita mainkan babak terakhir drama percintaan kita. Berhenti mendadak memang tidak sempurna. Jangan memaksaku untuk terus melanjutkannya. Bagaimana akhir yang kau damba? Bahagia? Bukankah kau ratu cerita berakhir duka? Kenapa tidak kita buat kau merasakan mengalaminya?

Ini adalah sandiwaraku.

TAMMAT.


ngga lucu ya, kalo ngereview buku sendiri.

suicide

jadi silakan dibaca review dari teman-teman yang baik hati ini. yang tercantum di sini hanya potongan yang belum mewakili keseluruhan pandangan mereka. untuk lebih komplitnya ya sebaiknya dibaca langsung di tempat asalnya : Continue reading ’suicide – latree manohara’


gamelan manggaung. Antareja datang dengan gagah kepadaku. bukan pencilakan seperti Buta Cakil atau lemah lembut seperti Janaka.

‘kau mengundangku,’ sapanya
‘harusnya aku yang datang padamu, maaf. tapi aku terlalu malu’

dia tersenyum menenangkanku, ‘tak mengapa. apa yang bisa kubantu?’

aku menghela nafas panjang. diam panjang. Antareja menunggu. ah, betapa para tokoh wayang telah terbiasa berlarat-larat…

‘aku,’ aku memulai, ‘ ingin ditelan bumi. tapi aku tidak bisa mengumpulkan harta sebanyak Qarun, terlebih dalam waktu singkat. sedang aku ingin ditelan bumi cepat. lagi pula, aku tidak yakin aku bisa sekikir ia.’

Antareja mengernyitkan alis, ‘lalu?’

‘aku,’ kataku lagi,‘ sebenarnya ingin belajar ambles bumi padamu. tapi aku tidak yakin itu perlu. bukan pelajarannya yang aku butuhkan. aku hanya ingin ditelan bumi, itu saja. jadi aku hanya ingin kau tarik aku ambles bersamamu, setelah itu kau boleh muncul lagi ke permukaan. tapi tinggalkan aku di perut bumi terdalam yang bisa kau jangkau’

Antareja tertawa membahana. aku bersabar menunggu selesainya. mungkin dia akan menari dulu, atau nembang.

dia berhenti.

‘aku tidak ingin tahu alasanmu,’ katanya,‘tapi seharusnya kau tidak memanggil aku. dan tidak perlu pula kau masuk ke perut bumi terlalu dalam. gali saja kuburmu, berbaringlah di dalamnya. dan mintalah seseorang menimbunkan tanahnya di atasmu…’

aku bisu.

gamelan menggaung. Antareja mengangkat sebelah kaki tinggi, lalu ambles dia ke bumi. meninggalkan aku.


Genderuwo

24Oct09

*seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 30, tanggal 24-30 Oktober 2009*

Matahari baru saja menyapa dhuha. Net berjalan agak terburu melintasi depan rumah Mbah Mis.

“Net! Kenapa kamu terburu-buru begitu? Dari mana?” tanya Mbah Mis setengah berteriak dari beranda rumahnya.

Net berhenti, sesaat menengok ke kanan, ke kiri, ke belakang. Diam sebentar, lalu memutuskan untuk mampir. Dia duduk di samping Mbah Mis di lincak.

“Dari tempat Lik Tuk, Mbah.”

Selak ngapa, kok playon gitu?”

“Ah, bukan selak apa-apa. Saya pengin cepet sampai rumah. Mau mandi, lalu balik ke tempat Lik Tuk lagi.” Dia diam sebentar lalu melanjutkan, “E… saya… barusan memandikan jenasah bayinya Rim, Mbah.”

“Inna lillah! Bayi? Bayi apa? Kapan lahirnya kok tiba-tiba sudah ada jenazahnya? Kapan Rim hamil?” Mbah Mis memberondong Net dengan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba memberondong kepalanya.

“Saya tidak tahu Mbah.” Net mendesiskan istighfar beberapa kali lalu melanjutkan, “Bayinya laki-laki Mbah. E… anu… ah… . Sekujur tubuhnya penuh rambut. Lebat.”

Mbah Mis menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan telapak tangan kanannya. Badannya gemetar. Matanya tak berkedip menatap Net. Penuh tanda tanya tapi tidak jelas juga apa pertanyaannya.

Net berdiri, “Saya pulang dulu, Mbah. Kalau Mbah mau layat ke sana, nanti saya ampiri.”
Continue reading ‘Genderuwo’


Ungu – Dilema Cinta

Seberapa salahkah diriku
Hingga kau sakiti aku begitu menusukku
Inikah caramu membalas
Aku yang selalu ada saat kau terluka

Seberapa hinanya diriku
Hingga kau ludahi semua yang ku beri untukmu
Tak ada satu pun perasaan yang mampu membuatku begitu terluka

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

Telah ku coba segala cara
‘Tuk bahagiakan kamu
Merebut hatimu
Namun tak semudah yang ku bayangkan
Bila kau tak inginkan ku ’tuk di sisimu

Tak pernah kurasakan sebelumnya
Menginginkan dirinya hingga ku tak kuasa
Meyakini hatiku bahwa ku mampu berlalu

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

****
pak *e** di E*****, pengen deh ketemu njenengan lagi.  iringi aku nyanyi lagu ini gitu…