tentang keparat itu

:L

mungkin suatu hari akan keluar dari mulutku, pengakuan tentang aku yang naif pada suatu masa, seperti pernah kubilang padamu. kenaifan yang menghancurkan perlahan. hingga meski kucoba sekuat tenaga mengumpulkan serpihan, banyak yang hilang dan hidup tak pernah bisa kembali benar-benar utuh.

mungkin. jika aku yakin aku sanggup mengakuinya di hadapanmu.

:M

mungkin kau belum tahu kekejaman yang tersimpan di balik sepasang mata teduh. bukan, bukan keinginan menyiksamu, tapi hati yang sanggup memanipulasi suasana di pandanganmu agar bisa diraih yang dia inginkan. mungkin kau sebenarnya sudah merasakan itu, tapi setiap saat kau melanjutkan menipu diri dan menutup mata dengan harapan dan bunga-bunga.

mungkin suatu saat kau akan menyerah juga. meletakkan gengsi; dan hati yang seremuk milikku.

Beli Atau Tidak.

“Itu pisangnya sesisir berapa?”

“Dua puluh Bu..”

“Kok cuma dua puluh, biasanya lima puluh?”

“Ah Ibu bisa aja…”

“Kamu ndak bawa duku?”

Ndak Bu… dukunya asem asem, ndak ada yang manis. Saya bawa intip, barangkali Ibu mau?”

“Berapa satu?”

“Empat ribu?”

“Hah, kok cuma empat ribu? Bukan lima ribu?”

Gadis penjual itu tersenyum lalu berlalu. Hari ini dia kurang beruntung. Tidak seorang pun membeli apa yang ditawarkan. Si Ibu mulai bicara pada kawan di sebelahnya.

“Jualan kok mahalnya ndak karuan. Semua orang bilang lho kalau memang mahal. Ya kan? Itu Retno pernah sampai komentar, mosok harganya kalah murah dengan Toko Ada, Makro…”

“Ya kan toko besar kulakannya skala besar Bu,” kataku, “dia bisa ambil margin laba paling rendah.”

“Tapi kan toko besar begitu operasionalnya  mahal. Pakai listrik, AC, bayar pegawai. Lha si embak itu paling-paling kan bayar angkot.”

“Kemarin jual apel fuji 35.000 sekilo. Aku beli di Pasar Prembaen cuma 25.000. Yah, emang keterlaluan aja ngambil labanya,” timpal sebelahnya.

Itu. Diulang lagi. Sudah sejak minggu lalu perbandingan harga apel itu diceritakan lagi dan lagi. Aku lihat sendiri kemarin di sebuah supermarket. Apel fuji ada macam-macam jenisnya. Yang merk ini memang 23.500 per kilo. Ada yang 30.000, dan ada yang 35.000. Seingatku, yang dijual si embak itu memang yang harganya 35.000.

“Padahal kalau mau mampir Pasar Bulu sebentar kita bisa dapat yang lebih murah dari pada di mbake itu. Tapi mampir sebentar aja kita sok males ya… hahaha…”

“Ya itu lah, dianggap aja selisih harganya upah dia nganter ke mari,” kataku.

“Si Emak telur belum kelihatan ya hari ini?” kata si ibu lagi, “apa ndak jualan dia?”

“Jualan,” kata yang lain, “tadi aku ketemu di bawah, aku pesen sejinah.

“Aku sudah kapok beli telur di emak itu. Barangnya jelek. Banyak yang busuk. Mbak Wiwik dulu aku ceritain ndak percaya. Dikiranya aku mengada-ada. Mbak Wiwik sih, sukanya ndak percaya kalau aku yang ngomong. Setelah dia mengalami sendiri baru percaya. Beli sepuluh yang busuk empat. Sudah komplen ke si emak. Bisa-bisanya si emak bilang ndak tahu, ndak sengaja. Malah katanya, kalau memang busuk suruh mbungkus, tunjukin ke dia, nanti ditukar dua. Yang bener aja. Ngapain coba, mbungkus telur busuk, nggilani…”

“Ya kalau mau beli lah, niatnya bantu dia biar dagangannya laku. Kalau ndak suka ya ndak usah bilang dagangannya jelek lah, harganya mahal lah… Aku menghargai orang yang mau kerja keras begitu, timbang yang ngemis di jalanan…,” lalu kupasang headset dan memutar musik paling berisik, agar aku tidak mendengar lagi lanjutan percakapan miring itu.

 

Kisah Serumpun Bambu *)

Tak ada ikatan seperti saudara kandung. Ikatan secara biologis yang tidak bisa dimungkiri, bahwa orang-orang yang hidup sebagai pribadi-pribadi yang berbeda, lahir dari darah yang sama. Aku tahu, ikatan darah tak selalu sebanding dengan ikatan rasa. Tak sedikit yang begitu sulit menjadi dekat lahir batin dengan saudara sekandung. Bahkan bermusuhan.

20140326-084917.jpg

ilustrasi oleh Mbakyuku. dia pengen pulang >.<

Pada setiap cerita yang masuk telinga di hari-hariku, aku bersyukur bahwa kami bersaudara tetap hidup sebagai saudara, meskipun mungkin tidak sempurna di mata sebagian orang. Sejak kecil sampai sekarang setelah kami bisa dibilang tua, persaudaraan kami penuh warna. Kami bukan orang-orang penuh kelembutan, yang mengisi hidup hanya dengan penuh senyum dan belaian. Kami bisa bertengkar. Saling berteriak. Banting pintu. Banting handphone. Melempar kata-kata yang menyakiti. Meskipun seingatku, belum pernah kami saling menyakiti secara badani. Tapi hal-hal seperti itu tidak pernah disimpan lama.

Barangkali itu hanya cara kami (yang terbentuk menjadi keras) untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran masing-masing, ketika suara pelan tidak sanggup menyampaikan. Lebih baik begitu. Toh akhirnya kami lebih suka kembali ke suasana tawa tanpa memendam apa-apa. Sungguh tak enak menyimpan perasaan dan pemikiran, tidak berani mengungkapkan, hanya karena takut dikatakan tidak sopan. Tidak hanya pada saudara, pada orang tua kami pun, kami selalu mengungkapkan apa yang kami pikirkan. Apa adanya. Dan berkah bagi kami, bahwa Bapak Ibu begitu terbuka menerima setiap pemikiran yang berbeda.

Kami mendapat cinta yang kurang lebih sama dari Bapak dan Ibu. Mungkin saja Bapak atau Ibu mencintai salah satu dari kami lebih dari yang lain. Tapi orang tua kami adalah orang hebat yang sanggup mengelola kecintaan mereka sehingga tidak pernah ada cemburu di antara kami. Ketika kami berlima telah menikah semua, anak Bapak Ibu menjadi sepuluh. Kami menjadi sepuluh bersaudara. Tidak ada (rasa) menantu. Tidak ada (rasa) ipar. Kadang aku merasa, Ibu lebih menyayangi suamiku ketimbang aku, hahaha…

Anak-anak kami, cucu-cucu Bapak Ibu, hidup lebih dari sekedar bersepupu. Anakku bisa mbingungi  kalau sudah rindu pada anak bungsu kakak sulungku. Melihat mereka bertemu bisa tertawa sampai berurai air  mata. Seperti yang perlahan menetes dari sudut mata mereka, ketika gembira saat jumpa, atau ketika harus berpisah dengan penuh enggan.

Di rumah kami ada jilbab besar yang sampai (hampir) menutup jari. Ada kerudung yang tidak pernah nyaman melewati bahu dan dipakai seperlunya. Ada kepala yang dibiarkan terbuka rambutnya ke mana-mana. Di rumah kami berkibar banyak bendera partai, juga bendera golput. Rumah kami penuh warna, dan tidak sekali pun warna-warna itu kami biarkan menjadi perusak suasana.

Kami tinggal terpisah di beberapa kota di Pulau Jawa. Tapi tidak pernah kami berhenti bicara. Selalu ada denting dari chat group  keluarga yang anggotanya adalah semua anak dan cucu Bapak Ibu (kecuali bayi-bayi yang belum diperkenankan memegang handphone). Kami jauh. Tapi dekat. Dan sebisa mungkin kami mengatur waktu untuk bisa semuanya bertemu.

Tulisan ini mungkin lahir dari rindu. Bulan ini ada tanggal merah dekat Minggu. Barangkali kami bisa merancang sebuah acara kemah atau naik gunung. Atau sekedar nglesot saja di teras rumah Bapak sambil main kartu.

*) Judul diambil dari judul sebuah sinetron di TVRI tahun 80-an.

Asok Tukon

20140313-114618.jpg

Versi asli dalam Bahasa Jawa telah dimuat di Jagad Jawa Solopos tanggal 13 Maret 2014

Kanti memilih diam, dari pada bicara ketus. Sejak dulu dia sudah bilang, tidak suka memakai perhiasan emas. Perhiasan yang diberikan sebagai asok tukon dari Panji diterima dengan senang hati, tapi disimpan saja untuk tabungan. Bukan dipakai ke sana kemari.

Tapi Simbah Putri, nenek Panji, tidak henti bicara. Acara makan bersama di meja bundar itu jadi serba tak enak. Mau menelan rasanya sulit.

“Dipakai. Pokoknya dipakai. Kalau besok ikut mbesan ke Pagergunung harus dipakai,” Simbah mengulang lagi, ”Nji, kasih tahu istrimu itu.”

Simbah membawa piringnya ke dapur. Kanti berhenti makan. Panji hanya melirik Kanti yang baru seminggu menjadi istrinya itu.

”Aku ndak mau, Mas. Apalagi modelnya seperti yang biasa dipakai tukang daging di pasar begitu.”

Panji tidak menjawab. Dia meletakkan sendoknya, kebetulan sudah selesai makan. Lalu berdiri, pergi entah ke mana. Kanti cemberut. Ditumpuknya piringnya dengan piring suaminya, lalu dibawa ke belakang. Continue reading

Asok Tukon

20140313-114618.jpg
Telah dimuat di Jagad Jawa Solopos, Kamis 13 Maret 2014

Kanti milih meneng, timbang mangsuli Kewetu atos. Kawit mbiyen dheweke wis kandha, ora seneng nganggo mas-masan. Gelang kalung sing dadi asok tukon saka Panji ditampa kanthi bungah, Nanging disimpen wae, dinggo celengan. Ora arep dinggo mrana-mrene.

Nanging Simbah Putri, ya simbahe Panji, ora rampung-rampung anggone ngendikan. Adicara mangan bareng ing meja bunder kuwi dadi sarwa ora kepenak. Arep ngulu ya dadi seret.

“Dinggo. Pokoke dinggo. Nek sesuk melu mangkat mbesan ing Pagergunung, kudu dinggo,” Simbah mbaleni meneh, ”Nji, bojomu kuwi dikandhani.”

Simbah nuli nyangking piringe menyang pawon. Kanti leren anggone mangan. Panji mung nglirik Kanti sing nembe seminggu dadi bojone kuwi.

”Aku wegah, Mas. Apa maneh modhele kaya gelang kalung bakul daging ing pasar ngono.”

Panji ora mangsuli. Sendhoke diselehake. Ndilalah wis rampung anggone mangan. Banjur menyat. Embuh menyang ngendi. Kanti mecucu. Piringe ditumpuk karo piringe bojone, banjur digawa menyang mburi. Continue reading

Atur Pangabekti dalam Sekantung Tas Kresek

Desa mawa cara. Setiap desa punya adat kebiasaan sendiri-sendiri.

Aku dan suami, berasal dari dua kabupaten yang bertetangga. Meskipun secara geografis kampung halamanku hanya berjarak sekitar 20km dari kampung halaman suamiku, nyatanya begitu banyak adat kebiasaan yang tidak kuketahui. Masa kecilku kuhabiskan di tempat yang bisa dibilang kota, walaupun kecil. Kampungku adalah kampung bentukan baru di tahun 70-an, yang semula adalah hutan. Kalau jaman sekarang semacam perumahan gitu, kira-kira. Orang-orang di tempat kami tinggal kebetulan kebanyakan juga pendatang. Bapak dan Ibukku, menurutku termasuk orang jaman dulu yang berwawasan luas, berpikiran terbuka, sekali gus demokratis. Banyak yang menurut mereka tidak harus dilakukan seperti kebiasaan. Karena tidak diajarkan, aku bahkan kesulitan mengingat apa sebenarnya adat kebiasaan yang spesifik di kampung kami. Yang jelas kuingat misalnya, nyadran, ziarah kubur sebelum bulan puasa. Bapak tidak pernah mengajarkan kami hal itu. Kami ziarah ke makam Simbah bisa kapan saja.

Berbeda dengan kampung halaman suamiku, banyak hal-hal kecil yang (awalnya) kuanggap tidak prinsip, namun ternyata bisa mengundang ‘kisruh’ jika diabaikan. Beberapa kali aku dianggap tidak sopan dan sombong karena tidak berlaku sesuai kebiasaan. Repotnya, tidak ada seorang pun dari keluarga (atau tetangga) suamiku yang mengajariku kebiasaan-kebiasaan kecil itu. Mungkin aku dianggap sudah tahu, mestinya hal yang sama juga diajarkan padaku oleh orang tuaku. Karena ternyata, di desa-desa kerabat suamiku yang jaraknya lumayan jauh tapi masih dalam satu kabupaten, kebiasaan yang ada kurang lebih sama.

Maka seiring waktu dalam beberapa bulan bahkan tahun, banyak hal yang kuamati, kupelajari, dan kusimpulkan sendiri. Misalnya ketika menyuguhkan minuman kepada tamu, air harus penuh sampai ke bibir gelas. Jika tidak, kita akan dianggap pelit. Oh wow. Padahal ibuku mengajarkan untuk mengisi gelas paling tinggi satu sentimeter dari bibir gelas. Bukan apa-apa, hanya untuk berjaga, supaya air tidak tumpah ketika kita berjalan membawanya dari dapur dan menyajikannya di meja.

Aku juga pernah ditegur karena menyajikan potongan brownies yang dianggap terlalu kecil. Itu juga diartikan pelit. Oh wow. Padahal aku memotongnya seperti wajarnya potongan brownies, kira-kira 4cm x 4cm. Lalu simbah memotong brownies itu sebesar dua kali lipatnya; sebesar ukuran biasanya Simbah menyajikan jadah. Hasil potonganku tidak boleh disajikan, “Ini buat kita makan sendiri saja.”

Banyak hal kecil semacam itu. Dan juga hal-hal yang menurutku kecil tapi bagi penduduk kampung suamiku adalah hal besar. Misalnya tentang memakai perhiasan emas. Kali lain akan kuceritakan, kalau ingat :D

Atur Pangabekti dalam Gula Teh

Sekurang ajar-kurang ajarnya aku sebagai manusia, aku selalu berusaha menjaga sopan santun sebagai mantu. Walaupun banyak hal dan pendapat kadang tidak sejalan dengan mertua (dan embah mertua, terutama), aku berusaha ngerem agar tidak terjadi gesekan. Paling tidak berusaha diam agar tidak berbantah. Karena bagaimana pun keadaannya, mereka sudah menjadi orang tuaku juga.

Salah satu hal yang kujaga adalah rutin mengunjungi Simbah (mertua), sebisa mungkin sebulan sekali. Setiap kali berkunjung, kami membawakan Simbah barang-barang kebutuhan sehari-hari. Karena beras sudah selalu tersedia (Simbah selalu menyimpan sebagian hasil panen untuk dimakan sendiri), ya aku bawakan sabun, detergen, minyak goreng, telur, mi instan, dan kue-kue untuk cemilan.

Ternyata. Duh Gusti. Ada hal yang baru setelah bertahun-tahun kusadari, terlambat aku mengerti. Tidak lengkap walau kamu mau bawakan satu truk sembako, kalau kamu tidak bawa gula dan teh…

Ini baru kusadari beberapa bulan yang lalu, ketika aku diajak Simbah menjenguk salah satu Pak Dhe yang sakit. Iya, di keluarga suamiku, saudara jauh pun masih dihitung, sampai kadang aku ndak ngerti gimana hubungan persaudaraannya. Pokoknya itu Pak Dhe, itu Lik, itu Embah…

Waktu itu simbah pesan agar aku beli anggur hijau untuk Pak Dhe. Ya aku belikan. Dan kubawa waktu menjenguk Pak Dhe. Kuserahkan pada Budhe. Aku sangat akrab dengan keluarga Pak Dhe yang itu, sehingga sangat biasa kalau aku langsung menyusul ke dapur, membantu salah satu anak Pak Dhe membuatkan minuman untuk kami. Waktu itu lah, aku melihat Simbah menyerahkan sekantung tas kresek kepada Budhe, sambil mengatakan itu atur pangabekti dari aku. Iya, dari aku. Padahal aku tidak merasa membawa apa pun selain anggur hijau pesanan Simbah.

Dengan penasaran aku diam-diam mengintip isi tas kresek itu. Sekilo gula pasir dan satu bungkus teh.

***

20140302-140514.jpg

Ibukku mengajari aku untuk membawa buah tangan ketika mengunjungi orang tua. Tapi tidak harus gula dan teh juga. Ketika kutanyakan padanya tentang gula teh, ternyata itulah yang diajarkan secara turun temurun di banyak tempat seputar Surakarta. Jika orang yang kita kunjungi adalah orang yang lebih tua (atau secara garis keturunan lebih tua), itu adalah bentuk hormat bakti. Dan jika yang kita kunjungi adalah kerabat yang secara ‘awu’ selevel atau bahkan di bawah kita, itu berarti kita berusaha tidak merepotkan tuan rumah. Kita membawa sendiri gula dan teh, yang nantinya akan menjadi minuman yang disuguhkan kepada kita. Kebiasaan bergeser. Ada yang bisa menerima perubahan, ada yang menganggap kebiasaan lama itu adalah kepatutan yang tabu dilanggar.

Mendadak ada rasa malu yang sangat hebat kurasakan. Sudah berapa tahun aku jadi mantu desa itu, dan aku tidak pernah menyadari hal ini? Sudah berapa kali Simbah membawakan tas kresek berisi gula dan teh atas nama hatur baktiku setiap kali kami mengunjungi Pak Dhe, demi menjaga agar tidak ada anggapan aku ini orang yang tidak tahu sopan santun?

Aku lantas mengingat bagaimana, memang, keponakan-keponakan Simbah yang datang berkunjung juga selalu membawa tas kresek berisi gula dan teh. Bodohnya aku, ketika melihat lemari persediaan logistik Simbah penuh gula dan teh, aku malah berkomentar, “Kenapa sih semua orang bawa gula dan teh? Ini lihat, sampai selemari penuh.”

Hahahahaha…

Dengan polosnya aku berpikir, bahwa karena sudah begitu banyak gula dan teh, maka sebaiknya aku membelikan Simbah apa-apa yang belum ada. Ndak usah bawa gula dan teh, persediaan Simbah selalu berlimpah.

Dan kenapa Simbah tidak dari awal saja memberi tahu tentang ini? Kenapa garus diam-diam membawa kresek tambahan? Entahlah… semua kebiasaan benar-benar harus aku tangkap dan pelajari sendiri.

***

Sejak itu tidak pernah aku lupa. Sebanyak apa pun sembako yang aku bawa untuk Simbah, harus ada gula dan teh. Sudah cukup sekian tahun aku menjadi cucu mantu yang tidak pernah menghaturkan hormat bakti dalam sekantung tas kresek.

Jalan Berliku Menuju Gossip

Laili sedang mengedit laporan yang diminta Bu Rini, dia tidak menyadari Widha yang  mengendap-endap berjalan menuju ke kursinya.

“Lel,” Widha menyentuh pundak Laili.

“Ya?” Laili sedikit terkejut.

“Ng… begini… tadi aku ke lantai satu, mencari Parjio… itu… Parjio kurir… ternyata dia nggak ada…”

Laili tidak berhenti mengetik, tapi mulai mengernyit. Ada apa dengan Parjio?

“Jadi aku tidak bisa menitipkan suratnya…”

Barulah Laili berhenti, lalu melihat ke arah Widha, “Surat apa?”

“Surat yang pajak-pajak tadi lho…”

Yang dimaksud Widha pasti lah formulir pendaftaran e-FIN, pajak online, yang harus diisi semua karyawan dan diserahkan secara kolektif ke bagian keuangan. Entah bagaimana Widha bisa tetap bekerja di sini. Mengurus surat pun sering tidak beres.

“Parjio itu kan saudaranya Bu Wati, Lel…” lanjutnya.

Laili mengerutkan dahi. Ini apa lagi, kenapa sampai ke Bu Wati?

“Trus kenapa?”

“Bu Wati kan cuti seminggu…”

“Iya aku tahu. Lalu apa hubungannya dengan surat pajak?”

“Parjio kayanya juga ngga masuk hari ini…”

“Iya trus kenapa?” Laili mulai geregetan.

“Ya kan aku ngga bisa ngasih suratnya ke Parjio..”

“Ya udah tunggu Parjio ada…”

“Parjio itu nggak masuk Lel…” sekarang Widha yang gemas, merasa Laili begitu bodoh, tidak mengerti maksudnya.

“Ya aku tahu… ya udah tunggu besok kalau Parjio masuk.”

Widha menghela napas, “Lalu surat ini? Bagaimana kalau telat?”

“Nggak papa. Besok nggak papa.”

“Bener?”

“Iyaaa…..”

Widha menyingkir membawa tumpukan formulir yang sudah diisi dan dikumpulkan.

Tidak ada lima menit, Widha mendekat lagi ke samping Laili, tanpa membawa berkas.

“Lel… ada yang bilang Bu Wati itu mantu…”

Laili menghela napas, “Mantu siapa?”

“Ya nggak tahu. Mungkin mantu Nita. Padahal Nita itu kan belum selesai kuliah ya Lel. Eh tapi kan dia juga punya anak tiri, bawaan suaminya…”

“Ya udah ya udah biarin aja. Mau dia mantu Nita, mau mantu anak dari suaminya, mau cuti seminggu itu ada acara apa terserah dia. Kita nggak dikasih tahu ya udah diem aja. Kalau Bu Wati pengin kita tahu nanti dia akan cerita. Kalau enggak ya biarin aja. Bukan urusan kita!”

“Eh.. ttap… tapi suratnya? Aku takut kalau disalahkan karena terlambat mengumpulkan… eh.. ini.. sebenarnya dikumpulkan ke mana ya??”

Widha tergopoh-gopoh kembali ke mejanya. Laili tengkurap di meja. Televisi yang biasanya menyala jika Bu Wati masuk memang hari ini bisu. Tidak ada berisik infotainment. Tapi rupanya bukan jaminan gosip berhenti mengusik telinga.