Dua Belas Lewat Dua

IMG_8101.JPG

Lewat tengah malam. Di alam mimpi langit masih terang. Jalan setapak kehilangan arah.

Angin meniupkan resah pada penantian yang terabaikan. Kesepian adalah perayaan ketidakpastian.

Masih ada rerumputan meninggi menanti disibak. Jika, dan hanya jika kau benar menanti….

Kapal Phinisi: Cetak Biru di Kepala

Akhir pekan kemarin aku dan anak-anak berkesempatan jalan-jalan ke Pantai Bira, di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Pantai Bira menyenangkan. Bersih, airnya jernih, dan tenang. Terlalu tenang malah. Minim ombak, jadi kurang seru, kata anak-anak.

Pantai Bira

Tapi aku ingin bercerita tentang satu tempat yang tak kalah eksotis. Pembuatan kapal Pinisi. Kapal Pinisi adalah kapal layar tradisional berukuran besar yang dibuat oleh orang Bugis atau Makassar Sulawesi Selatan. Ada dua tiang layar utama yang, yang mewakili dua kalimat syahadat, dan tujuh layar tambahan yang mewakili jumlah ayat di Surat Al-Fatihah.

Konon kapal Pinisi sudah mulai dibuat sejak sebelum tahun 1500. Nama Pinisi diberikan sebagai penghargaan kepada seseorang yang menyarankan perbaikan struktur layar dari kapal-kapal yang sudah ada. Dia dianggap memiliki kemampuan mendesain kapal yang lebih baik. Dan kapal Pinisi yang dibuat sampai sekarang adalah sesuai bentuk yang disarankan Pinisi.

Tempat pembuatan kapal di Desa Bira ini terletak di pantai tidak jauh dari jalan raya. Agak turun sedikit, melewati jalan yang agak serem juga kalau dilewati pakai mobil. Jadi kami memutuskan parkir di jalan raya dan turun dengan jalan kaki kira-kira 200 meter.

Saat kami tiba di sana, ada lima kapal besar dan tiga kapal berukuran lebih kecil yang sedang dikerjakan. Ada rangkaian upacara yang harus dijalani di setiap tahap pembuatan. Mulai dari penebangan kayu, peletakan lunas, sampai ke peluncurannya.

IMG_8077

Calon-calon pengarung lautan.

Kami sempat ngobrol dengan seorang Bapak pembuat kapal (dia menyebutkan nama tapi kurang jelas, dan kami juga rikuh mau nanya lagi). Dia berdelapan sedang mengerjakan satu kapal besar, beratnya nanti jika sudah jadi kira-kira 1000 ton. Kapal itu sudah dikerjakan hampir satu tahun, dan diperkirakan selesai tiga bulan lagi.

IMG_8065

Anak-anak berpose bersama Pak Azhar atau Pak Hajar (atau siapa?)

IMG_8053

Papan kayu dikeringkan maksimal sebelum dipasang.

Kayu yang dipergunakan adalah kayu besi yang didatangkan dari Kendari.

IMG_8054

Kapal Pinisi masa kini dilengkapi baling-baling. Hanya satu baling-baling ini untuk kapal seberat 1000 ton.

Yang menakjubkan adalah, bapak-bapak itu tidak punya gambar kerja atau cetak biru. “Pembeli tinggal bilang saja, dia mau kapal ukuran berapa, nanti kami bikin,” kata si Bapak. Setelah tahu ukuran kapal yang diminta, mereka langsung bekerja begitu saja. Menjalankan tahap demi tahap sampai selesai. Kapal itu sudah jadi sebelum dibuat, katanya. Raksasa cantik ini dipesan oleh pengusaha ekspedisi dari Jakarta, dan dibanderol 8 milyar rupiah.

IMG_8063

Celah antar papan dan lubang-lubang baut ditambal dengan dempul yang terbuat dari serbuk kayu dan lem khusus. Kerasnya sama dengan kayu besi yang asli.

IMG_8052

Si cantik dalam pengerjaan

Badan kapal yang dikerjakan Pak Azhar(?) sudah selesai. Kapal ini setinggi pohon kelapa. Dalam masa pembuatannya, untuk naik ke bagian atas kapal hanya ada tangga darurat dari papan-papan dan balok. Setiap diinjak mentul-mentul, dan licin pula. Para pembuat kapal itu santai saja naik turun sambil lari. Aku sudah mencoba naik pelan-pelan tapi tetap tidak berani sampai atas. Padahal aku pengin melihat, apakah geladak sudah dikerjakan. Akhirnya cukup harus merasa puas melihat kabin tampak dari bawah sedang dikerjakan.

Delapan orang. Satu tahun. Tanpa gambar kerja. Seribu ton. Delapan milyar. Dan kelak akan mengarungi samudera. Menjadi kapal ekspedisi, atau kapal pesiar keliling dunia. Dengan perawatan yang baik, sebuah kapal Pinisi bisa beroperasi lebih dari 15 tahun.

Kami meninggalkan tempat itu membawa ketakjuban. Beberapa kali aku menoleh ke belakang melihat lagi, dan takjub lagi, sebelum akhirnya masuk kendaraan dan melanjutkan perjalanan.

***

Kalau punya uang delapan milyar, kamu pilih beli Lamborghini atau Kapal Pinisi?

 

Gula Tumbu dari Sulang

Selama ini mungkin banyak dari  kita yang hanya tahu bahwa tebu dibikin gula pasir, sedang gula merah dibikin dari nira kelapa atau aren. Satu hal yang membuatku mensyukuri perjalanan yang kulakukan, pengetahuan yang selalu bertambah. Ternyata tebu juga bisa dibikin gula merah.

Hari Senin lalu aku berkesempatan jalan-jalan ke Desa Kebonharjo, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Kami berkunjung ke rumah salah satu pengrajin gula merah. Desa Kebonharjo adalah salah satu sentra tanaman tebu di Jawa Tengah. Hasil perkebunan tebu dikirim untuk diolah menjadi gula pasir di Pabrik Gula Trangkil.

Sebagai bahan baku gula pasir, pabrik gula mensyaratkan randemen tertentu. Banyak faktor yang mempengaruhi randemen. Waktu panen, lama pengangkutan, kualitas varietas tebunya. Panen yang terlalu cepat atau terlambat dapat mempengaruhi kadar gula dalam tebu. Demikian juga waktu antara penebangan hingga pengolahan. Setelah lewat 24 jam, randemennya  juga akan turun, karena kadar air dalam tebu berkurang oleh penguapan. Selain permasalahan dalam ‘tubuh’ tebu sendiri, kapasitas pabrik juga mempengaruhi randemen. Mesin-mesin pabrik tebu yang ada sudah beroperasi sejak jaman berdirinya pabrik di jaman Belanda. Bisa dibayangkan, kemampuan mesin yang sudah jauh dari optimal.

Sementara jika diolah sendiri, walaupun dengan cara tradisional, randeman tebu bisa lebih tinggi. Jika gula hasil pabrik randemennya sekitar 5-7 saja, dengan diolah senidiri hasilnya bisa 10-11. Sehubungan dengan kapasitas mesin pabrik juga, pabrik tidak bisa menerima hasil panen tebu setiap saat. Karena itu dibuat jadwal yang disepakati antara petani dengan pabrik. Setiap petani mengirim hasil panen pada hari tertentu. Dengan cara ini diharapkan tidak ada antrian truk bermuatan tebu. Tebu yang dibawa dari perkebunan bisa langsung diolah sebelum 24 jam.

Karenanya banyak petani tebu Desa Kebonharjo yang memilih mengolah sendiri hasil panenan mereka menjadi gula merah. Bahkan ada juga pengrajin gula merah yang tidak punya kebun tebu. Mereka membeli tebu yang tidak disetor ke pabrik. Ada 18 pengusaha pengrajin gula merah di sana.

image

Pembuatan gula merah dari tebu di Desa Kebonharjo masih dilakukan secara tradisional. Batang-batang tebu diperas dengan mesin khusus (lupa tidak moto gambarnya…). Air perasan tebu dialirkan melalui pipa ke kuali besar paling ujung. Satu set tungku pembuatan gula merah terdiri dari sembilan kuali. Sambil terus diobori, cairan diaduk dan secara bertahap dipindahkan dari tungku pertama hingga tungku terakhir. Waktu yang dibutuhkan sampai cairan gula siap untuk dicetak antara satu sampai dua jam.

image_2

Setelah kekentalan cairan tepat (entah bagaimana mengukurnya, sepertinya bapak-bapak pengrajin itu pakai feeling dan kira-kira saja saking sudah ahli), gula dicetak di dalam tumbu (bakul bambu) berukuran besar. Karena cetakan yang unik inilah, gula merah produksi Desa Kebonharjo lebih dikenal sebagai ‘gula tumbu’. Berat satu tumbu gula setelah jadi bisa mencapai 150 kg. Wow.

image_3

Satu tim yang terdiri dari 4-5 orang bisa memproduksi gula merah 50 tumbu seminggu, sekitar 70-100 kuintal seminggu. Seminggu sekali, gula yang sudah padat dicetak ini akan diambil oleh pengepul, untuk kemudian dikirimkan ke pabrik kecap. Orang Tua dan Indofood adalah dua pabrik kecap besar yang juga mengambil bahan baku gula merah tradisional ini.

image_4

 

Kelompok petani pengrajin gula merah di Desa Kebonharjo, saat ini sedang bersiap untuk lebih mengembangkan produksi mereka. Dengan bantuan pemerintah dan beberapa lembaga penelitian, sedang dirintis pembuatan gula merah yang lebih higienis dalam cetakan kecil untuk konsumsi rumah tangga. Selain itu juga pengolahan limbah tebunya untuk pupuk organik dan etanol.

Semoga inovasi mereka berhasil, sehingga lebih banyak manfaat yang dihasilkan. Dan kita bisa ikut menikmati gula merah dalam ukuran yang lebih bersahabat untuk ditenteng ibuk-ibuk yang belanja di pasar :D

 

 

Swaranabya di Suara Serasi

Mestinya, Sabtu lalu Swaranabya merekam dua materi lagu untuk album yang sedang dipersiapkan. Tapi Embun sang operator recording tiba-tiba menawari kami untuk siaran di radio. Ada undangan untuk acara siaran grup band indie seputar Semarang. Ini berarti jadwal rekaman mundur lagi. Jadwal job Embun hilang (setidaknya dua jam). Meskipun grup indie, Swaranabya sebenarnya tidak pas disebut ‘band’. Tapi aku, juga Iwan dan Ipank sepertinya tidak tahan untuk melepaskan kesempatan narsis di radio. Dan Embun, untungnya, OK saja jika jadwal rekaman diganti, belum tahu kapan.

Jadilah akhirnya kami bertiga, ditemani Embun, berangkat menuju studio.

photo

Tes tongsis di Rumah Record sebelum berangkat ke Studio Radio Suara Serasi.

Radio Suara Serasi adalah RSPD (Radio Siaran Pemerintah Daerah) Kabupaten Semarang. Nama ‘Suara Serasi’ rasanya lebih akrab dan tidak kaku ya. Ruang siarannya masih setengah darurat, karena baru saja pindah lokasi. Tapi sedarurat-daruratnya tetap layak. Dan AC-nya dingin, sampai buku-buku jari Iwan kaku…

Penyiar yang bertugas saat itu, Mbak Novi, cantik imut ramah dan menyenangkan. Sebelum mulai acara kami sempat berkenalan dan ngobrol sebentar. Dari situ barulah kami tahu bahwa judul acaranya adalah ‘Pro ABG’. Okay… Jadi itulah kenapa grup-grup yang diundang (atau mendaftar) sebelumnya adalah band-band grunge, punk, hardcore… Duh, cocok ndak ini Swaranabya duduk di sini?

Tapi kami sudah siap di ruang siaran. The show must go on.

Maka begitulah, di sela-sela lagu pilihan Mbak Novi diudarakan, Swaranabya mendapat empat sesi on air. Dua sesi diisi dengan obrolan santai tentang apa dan bagaimana Swaranabya. Sesi ketiga dan keempat, Swaranabya membawakan dua lagu. Yang pertama adalah Dinding yang Retak di Bulan Januari, puisi Galih Pandu Adi; yang kedua Bangun Tengah Malam, puisi Irwan Bajang.

Suara serasi

Meski kedinginan oleh AC namun obrolan tetap hangat….

Respon pendengar (juga si Mbak Penyiar) menyenangkan. Banyak sms masuk yang menyatakan suka. Sayang belum sempat ngobrol interaktif karena beberapa telpon yang masuk bertepatan dengan saat Swaranabya sedang membawakan lagu.

Salah satu sms yang menggembirakan adalah dari ‘Bos’-nya Mbak Novi, aku juga tidak tahu tepatnya apa jabatan beliau. Si Boss ternyata memantau siaran dari rumah, dan suka dengan penampilan Swaranabya. Dia ingin Swaranabya diundang lagi kali lain. Siap!

Di ujung acara, sebagai closing biasanya Mbak Novi memutar lagu pilihannya. Tapi, katanya, karena dia suuuukkka banget dengan yang dibawakan Swaranabya sebelumnya, dia mempersilakan Swaranabya membawakan satu lagu lagi untuk penutupan. Jadilah kami menutup acara dengan Hasrat, puisi Neng Titin.

image

Narsis bareng Mbak Novi yang cantik dan baik hati :)

Dua jam yang menyenangkan. Terima kasih Suara Serasi, terima kasih Mbak Novi. Sampai jumpa lagi di udara, di kesempatan lain :)

Inspirasi Untaian Nama Bayi: Bayi Pertama IIDN Semarang

Inspirasi Nama Bayi1

 

Ini pengalaman baru, nulis buku kroyokan bareng Ibu-Ibu Doyan Nulis Semarang. Dan ini adalah buku pertama dari kumpulan ibu-ibu yang doyan nulis ini. Dalam buku ini ada 200 cerita di belakang nama bayi. Ada bayi yang baru lahir, bayi yang sudah agak gede, sampai bayi yang sudah gede, sampai sudah punya bayi lagi. Ditulis oleh para Ibu, berdasarkan pengalaman pribadi. Bisa dijadikan referensi, selain buku-buku inspirasi nama bayi yang sekedar berisi makna-makna kata dari berbagai bahasa.

***

Ada yang menarik perhatian, dan tiba-tiba terasa aneh, ketika membaca kisah-kisah dibalik nama bayi yang ada di buku ini. Banyak nama yang terdiri dari dua (atau lebih) kata, dan kata-kata itu berasal dari bahasa yang berbeda. Lalu si pemberi nama menggathuk-gathukkan makna kata-per-kata, dan mengepas-ngepaskan, dan merasa telah menyusun sebuah nama yang indah.

Sampai di sini aku tertawa sendiri. Karena begitu juga lah aku menamai anak-anakku: mencampur Bahasa Arab dan Jawa.

Padahal setiap bahasa punya kaidah sendiri, yang belum tentu klop ketika dipadankan dengan  kata dari bahasa lain. Misalnya kata Bahasa Arab ‘an-nuur‘ yang berarti cahaya, dan ‘al-qomar‘ yang bermakna bulan. Jadi cantik ketika digabung menjadi ‘Nurul Qomariah’ – cahaya bulan.

Mari kita coba menggabungkan ‘nuur’ dengan bulan dalam bahasa jawa, ‘wulan’. Nurul Wulan. Atau dibalik, Cahyaning Qomariah.  Kedengaran bagus sih. Tapi ada yang terasa tidak pas, ya.

Bagaimana jika kita gabungkan dua kata Bahasa Jawa dengan makna yang (kurang lebih) sama? Cahyaning Wulan. Ini baru pas!

Bagaimana kalau kata-kata yang kita gabungkan berasal dari bahasa yang punya struktur berbeda? Gampangnya, misalnya, antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Bahasa Inggris punya struktur MD (menerangkan – diterangkan): red dress. Bahasa Indonesia punya struktur DM: baju merah. Kalau kita ingin menggabungkan dua kata dari kedua bahasa tersebut, kita mau ikuti struktur yang mana?

Yang ada kita abai. Tidak peduli mau ikut kaidah mana. Kita begitu mudah menjadi tidak konsisten dan egois. Yang penting kata ini bagus, kata itu indah, kata itu cantik. Kata-kata indah digabung menjadi lebih indah. Lalu menerjemahkan makna dengan semena-mena. Dan ini bukan hanya ditemui di buku ini, tapi di mana-mana di sekitar kita.

Barangkali ini karena terbatasnya pengetahuan kita, sedang keinginan kita untuk indah dan istimewa, begitu besar. Dan karena sudah kadung, ya sudahlah biarkan saja. Toh maksud kita baik, memberikan nama yang baik, menyelipkan doa. Dan semoga si empunya nama bahagia, tidak mempermasalahkan ‘kekacauan’ yang tanpa sengaja terkandung dalam nama mereka.

Di titik ini kekagumanku pada Bapak semakin meninggi. Bukan saja beliau memilihkan kata-kata indah, tapi juga tetap konsisten tidak memaksakan kehendak dalam menyusun kata-kata.

***

Terus terang agak beda dengan ketika aku ikut berkontribusi di beberapa buku rombongan sebelumnya. Misalnya untuk kumpulan cerita anak ‘Pocong Nonton Tivi‘, yang harus ikut workshop nulis cerita anak dulu selama dua hari. Atau buku literasi media ‘Tak Harus Membenci Televisi‘, yang harus ikut workshop literasi media untuk belajar lebih kritis mengamati siaran televisi. Atau ‘Dear Mama‘, kumpulan surat cinta buat ibu, yang harus melalui seleksi ketat.  Atau ‘#15HariNgeblogFF‘, yang harus konsisten 15 hari berturut-turut ngeblog FF. Atau… apa lagi ya… ya pokoknya… seneng banget, untuk buku ini, cukup dengan nulis kurang dari 200 kata bercerita tentang kisah dibalik nama bayi, kita bisa ‘punya buku’. Terima kasih IIDN, ajang bagi para ibu untuk belajar nulis dan hore-hore rame-rame. Yay!

Yang ingin mendapatkan bukunya bisa segera meluncur ke Gramedia. Yang ingin ikut belajar nulis (dan punya buku) ayo gabung komunitasnya ;)

Khusyuk

Untuk prompt Quiz #5 di Monday Flash Fiction: Burning Giraffes and Telephone.

Burning Giraffe and Telephone, lukisan Salvador Dali. Gambar diambil dari weheartit.com.

Burning Giraffes and Telephone, lukisan Salvador Dali. Gambar diambil dari weheartit.com.

Kesepiannya masih khusyuk berasyik masyuk dengan suara yang dikirim dari kejauhan, lekat di pendengaran. Kata-kata terus tumbuh serupa sulur tanaman yang perlahan membelit sekujur badan. Erat. Jerat yang nikmat.

***

“Ibu…! Kakak nakal…! Aku dipukul sapu…!”

“Ibu…! Adik nangis minta susu…!”

“Ibu…! Kompornya meledak!!”

“Ibu…! Ibu…!! IBUUUUU…!!!”

Harap Khilaf

Kadang aku berharap kita khilaf
Lupa segala janji
Larut dalam hasrat
Sesaat
Tanpa ragu menjerat

Tapi selalu kudapati
Akhirnya kita pergi
Membawa renungan
Atau mungkin sedikit penasaran
Kemudian sedikit menyesal
Kenapa?

Benarkah kita telah berlaku benar
Dengan tidak berlaku salah?
Legakah kita telah dengan sadar
Memilih mengubah arah?

Ataukah hati masih menyimpan secuil angan
Akan datang lagi kesempatan yang tiba-tiba terasa telah kita sia-siakan?

Kadang aku berharap kita khilaf
Berhenti berpura
Lalu sambil tertawa
Melabur rasa bersalah
‘Kita bajingan, tapi aku bahagia.’