gamelan manggaung. Antareja datang dengan gagah kepadaku. bukan pencilakan seperti Buta Cakil atau lemah lembut seperti Janaka.

‘kau mengundangku,’ sapanya
‘harusnya aku yang datang padamu, maaf. tapi aku terlalu malu’

dia tersenyum menenangkanku, ‘tak mengapa. apa yang bisa kubantu?’

aku menghela nafas panjang. diam panjang. Antareja menunggu. ah, betapa para tokoh wayang telah terbiasa berlarat-larat…

‘aku,’ aku memulai, ‘ ingin ditelan bumi. tapi aku tidak bisa mengumpulkan harta sebanyak Qarun, terlebih dalam waktu singkat. sedang aku ingin ditelan bumi cepat. lagi pula, aku tidak yakin aku bisa sekikir ia.’

Antareja mengernyitkan alis, ‘lalu?’

‘aku,’ kataku lagi,‘ sebenarnya ingin belajar ambles bumi padamu. tapi aku tidak yakin itu perlu. bukan pelajarannya yang aku butuhkan. aku hanya ingin ditelan bumi, itu saja. jadi aku hanya ingin kau tarik aku ambles bersamamu, setelah itu kau boleh muncul lagi ke permukaan. tapi tinggalkan aku di perut bumi terdalam yang bisa kau jangkau’

Antareja tertawa membahana. aku bersabar menunggu selesainya. mungkin dia akan menari dulu, atau nembang.

dia berhenti.

‘aku tidak ingin tahu alasanmu,’ katanya,‘tapi seharusnya kau tidak memanggil aku. dan tidak perlu pula kau masuk ke perut bumi terlalu dalam. gali saja kuburmu, berbaringlah di dalamnya. dan mintalah seseorang menimbunkan tanahnya di atasmu…’

aku bisu.

gamelan menggaung. Antareja mengangkat sebelah kaki tinggi, lalu ambles dia ke bumi. meninggalkan aku.


Genderuwo

24Oct09

*seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 30, tanggal 24-30 Oktober 2009*

Matahari baru saja menyapa dhuha. Net berjalan agak terburu melintasi depan rumah Mbah Mis.

“Net! Kenapa kamu terburu-buru begitu? Dari mana?” tanya Mbah Mis setengah berteriak dari beranda rumahnya.

Net berhenti, sesaat menengok ke kanan, ke kiri, ke belakang. Diam sebentar, lalu memutuskan untuk mampir. Dia duduk di samping Mbah Mis di lincak.

“Dari tempat Lik Tuk, Mbah.”

Selak ngapa, kok playon gitu?”

“Ah, bukan selak apa-apa. Saya pengin cepet sampai rumah. Mau mandi, lalu balik ke tempat Lik Tuk lagi.” Dia diam sebentar lalu melanjutkan, “E… saya… barusan memandikan jenasah bayinya Rim, Mbah.”

“Inna lillah! Bayi? Bayi apa? Kapan lahirnya kok tiba-tiba sudah ada jenazahnya? Kapan Rim hamil?” Mbah Mis memberondong Net dengan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba memberondong kepalanya.

“Saya tidak tahu Mbah.” Net mendesiskan istighfar beberapa kali lalu melanjutkan, “Bayinya laki-laki Mbah. E… anu… ah… . Sekujur tubuhnya penuh rambut. Lebat.”

Mbah Mis menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan telapak tangan kanannya. Badannya gemetar. Matanya tak berkedip menatap Net. Penuh tanda tanya tapi tidak jelas juga apa pertanyaannya.

Net berdiri, “Saya pulang dulu, Mbah. Kalau Mbah mau layat ke sana, nanti saya ampiri.”
Continue reading ‘Genderuwo’


Ungu – Dilema Cinta

Seberapa salahkah diriku
Hingga kau sakiti aku begitu menusukku
Inikah caramu membalas
Aku yang selalu ada saat kau terluka

Seberapa hinanya diriku
Hingga kau ludahi semua yang ku beri untukmu
Tak ada satu pun perasaan yang mampu membuatku begitu terluka

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

Telah ku coba segala cara
‘Tuk bahagiakan kamu
Merebut hatimu
Namun tak semudah yang ku bayangkan
Bila kau tak inginkan ku ’tuk di sisimu

Tak pernah kurasakan sebelumnya
Menginginkan dirinya hingga ku tak kuasa
Meyakini hatiku bahwa ku mampu berlalu

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu

****
pak *e** di E*****, pengen deh ketemu njenengan lagi.  iringi aku nyanyi lagu ini gitu…


*sebuah postingan jujur seorang anggota bau kencur*

Selamat Ulang tahun…

Loenpia Hebat:
- Force
- 1000 Buku
- Kegiatan sosial

Loenpia Ngambang:
- di mana posisi kita di Semarang?
- sudahkah kita bisa ngumbulke Semarang?

Loenpia Tanda Tanya:
- komunitas blogger katanya. tapi yang aktif ngeblog hanya sebagian saja…

Loenpia Lucu:
- milis obat duka

hah…

4th

NGERI THOK NDHA…!!!


tak ranggeh ora tekan
banjur kepiye anggonku arep mbuang?

wis kesuwen
tak kerok ora ilang
kelet ngoyot ngethel

wis kebacut

tresna iki wisa
tanpa tamba
ora marakake mati
amung agawe
mati
rasa

lan iku luwih nyiksa….


The Wine….

25Sep09
2 glasses of red wine

Berdua kita termangu di depan pintu.

“Kita masuk atau tidak?” tanyaku.
“Aku ragu,” jawabmu.
Lalu untuk beberapa lama kita berdiam saja di situ membisu.
“Kurasa tidak mengapa kita masuk,” katamu memecah bisu.
“Sungguh?” aku tidak tahu apakah aku senang atau bertambah ragu. Kau tampak seperti tidak yakin juga.
“Ya, asal kita yakin kita bisa menjaga diri di dalam sana”

Maka perlahan kita melangkahkan kaki. Merasa gamang dan asing di dunia yang bukan punya kita.
“Kita… apakah menurutmu kita telah menjadi salah satu di antara mereka?” tanyaku, karena aku sebenarnya tidak seberani itu menjadi begitu.
“Bukan. Berada di tengah mereka bukan berarti kita telah menjadi seperti mereka”
“Tapi kita bergerak seperti mereka”
“Gerakan yang sama tak selalu bermakna sama. Jika kulambaikan tangan di atas kepalaku, mungkin aku sedang memanggil seorang di kejauhan. Mungkin pula sebenarnya aku sedang mengucapkan selamat jalan.” Continue reading ‘The Wine….’


aku ini dusta

10Sep09

bapak,
akankah kau maafkan?
atau kau akan malu aku adalah anakmu?
kejujuran yang kau ajarkan
telah membusuk di ujung lidahku
karma yang kau ceritakan
dia akan menimpaku

aku ini sampah
ibu,
akankah kau ampuni?
atau kau akan jijik melihatku lagi?
kesetiaan yang kau ajarkan
telah berjamur di sudut hatiku
ketegaran yang kau tanamkan
dia telah meninggalkanku

aku tersungkur di hadapan kalian
membawa air mata merendam kaki kita
tapi bagaimana aku harus bercerita kenapa?
darah yang lambah-lambah ini
adalah hasil perbuatanku sendiri
tapi bagaimana aku berharap kalian iba?

sakit ini mulai tak tertanggungkan
beban ini mulai tak tertahankan
tapi bagaimana aku berani teriakkan nama kalian untuk kuatkan
sedang aku lah penjahat yang sedang terazab?

bapak
ibu
dengan penuh rasa malu
masih kuberanikan diri
memohon
basuhlah aku.

*belum lagi idul fitri*


aku menggelinding di dalamnya
perlahan
bermula di atas bukit
bermula kecil

rolling
rolling
rolling
like a coaster

memicu gairah
memacu adrenalin
berteriak
tertawa
kita bersama, karena kudengar engkau

rolling
rolling
rolling
like a coaster

membesar
besar
sekali

lalu kusadari aku berguling dalam sepi
hanya gemuruh dalam gelombang nada rendah meninggi
merendah lagi
kupanggil kau tiada
ku berteriak kau tak jawab
ku menjerit
….
sepi

rolling
rolling
rolling
it’s not a coaster

menuruni bukit yang terjal berbatu
yang mencuat di antara tebalnya salju

rolling
rolling
rolling
I am alone

semakin cepat
cepat
sekali

berhenti terhantam di dinding tebing
berkeping
bola salju itu

aku hancur bersamanya
masih kulihat kau di tengah perjalanan yang kutempuh
sedang berjalan kembali ke arah dari mana mula kau gulingkan
bola salju itu

lalu kusadari kau tidak pernah berguling bersamaku
kau hanya membawa sebatang tongkat kayu
menggiring

bola salju itu
yang aku berguling di dalamnya
menuju kehancuran
kau tinggalkan
sendirian.


benak-benak memendam rahasia
hati-hati memendam rasa

….

aku dicacah
ditusuk
dirajam
dihempas

….

mata-mata menangis
hati-hati menjerit

….

benak-benak berdalih
mulut-mulut berdusta


wanginya menusuk

aromanya menggairahkan

marhaban-1

selamat menjalankan ibadah bulan ramadhan *)

semoga dijauhkan dari kesia-siaan…




*)bagi yang menjalankan