Pengakuan Seorang Penulis

Ijinkan aku mengaku.

Pada satu masa aku menemukan keasyikan baru yang kurasa jauh lebih bermutu ketimbang bergosip, ubyang-ubyung atau nonton sinetron. Menulis. Awalnya aku menuliskan apa saja. Perjalanan naik angkutan umum, acara makan di restoran, jalan-jalan ke tempat wisata. Lalu aku mulai menuliskan curhat ketika aku jatuh cinta. Patah hati. Jatuh cinta lagi. Dikecewakan. Lalu aku mulai menuliskan cerita orang-orang yang curhat kepadaku. Lalu aku mulai mengemas kata-kata dalam bentuk cerita fiksi. Dan aku merasa hebat.

Aku merasa cerita-cerita fiksi yang kutulis bagus dan istimewa. Layak dibaca bahkan dimuat di majalah dan koran. Bahkan dibukukan. Maka begitulah aku berani menerbitkan sebuah buku. Lewat penerbit? Tidak. Untuk apa? Aku punya uang. Aku bisa mencetak dan menerbitkan sendiri bukuku tanpa harus bertarung dengan editor penerbit.

Bukuku terbit. Dan dengan demikian aku telah resmi menjadi penulis. Bukan begitu?

Begitu beraneka respon orang-orang yang membaca bukuku. Aku menerima banyak pujian, tapi tak sedikit juga kritik dan masukan. Aku menerima semua kritik, tapi terserah aku kan, untuk memilah mana yang kupakai dan mana yang kuabaikan? Banyak kritik yang disampaikan dengan kata-kata pedas dan menyakitkan. Meraka itu mau membangun atau sengaja ingin membuat iritasi? Jika memang ingin membangun agar aku dapat meningkatkan diri menjadi lebih baik, kenapa tidak dengan cara yang menyenangkan? Dan kalau memang mereka bermaksud menyakiti, untuk apa kupikirkan?

Maka aku memilih tidak mendengarkan mereka-mereka yang katanya mengkritik, tapi dengan membikin sakit. Aku anggap mereka hanya ingin bersenang-senang dengan seorang penulis cemerlang baru sebagai bahan mainan. Aku menolak. Well, tentu saja aku tidak bisa melarang mereka bicara. Tapi aku bisa memilih menganggap mereka tidak ada. Dan terus menulis untuk mereka yang menyukai tulisanku. Ya kan? Continue reading

Mata Telaga

Untuk Prompt #49 di Monday Flash Fiction

Pada mata itu aku tenggelam. Telaga yang hening dan bening. Aku bisa melihat dasarnya. Pasir dan bebatuan. Ikan dan udang. Kedamaian kehidupan di kedalaman. Helai bulu matanya seperti rindang pepohonan di tepi telaga, melengkapi kesejukan yang ditebarkan.

 

Maka kubiarkan ia merengkuh segala penat dan noda yang melumuri sekujur kehidupanku. Siapa yang hendak menyentuh tanpa sedikit jijik pun, perempuan yang telah dijilat ribuan lelaki? Siapa yang hendak percaya pada pengakuan pertobatan, dari bibir yang telah rela mengulum apa saja?

Maka kutinggalkan segala tawa dan senyum semu, berceceran di seprai kumal kusut yang membalut kasur kapuk kempes dan apak. Kutanggalkan kebahagiaan palsu, yang bertaburan di atas baju setali ketat sebatas menutup dada dan pantat.

Perlahan kulangkahkan kaki telanjang, merasai kesejukan tepian telaga bening. Terus melangkah. Merasakan air merambat naik ketika aku berjalan. Ke betis. Lutut. Paha. Pinggang. Dada. Leher. Dagu. Bibir. Hidung. Mata. Dahi. Hingga seluruh tubuhku memasuki heningnya. Menyelam hingga ke dasar.

Di dalamnya, segala bentuk lelaki menanti setelah menyerahkan gepokan uang kepada pemilik mata telagaku.

Aku lupa, air membiaskan cahaya yang melewatinya. Menggambar citra yang berbeda. Apa yang kulihat dari permukaan, sama sekali bukan yang sebenarnya ada di kedalaman.

Swaranabya: Bukan Hoki Karena Nama Baru

Seperti Sabtu pagi yang lain, kemarin aku mengantar Mbak Ibit sekolah, dan langsung lanjut latihan yoga. Ketika kendaraan berhenti, ada SMS masuk dari Ipank: Swaranabya Juara I :D.

Waduh. Kepala rasanya kemepyar. Kubalas, ‘heh? di mana pengumumannya?’. Aku nunggu sesaat sebelum jalan lagi. Supaya tidak perlu tergoda buka sms ketika sedang mengemudi. Katanya, dia sudah tag tautan pengumumannya di Facebook.

Oke baiklah. Aku berkendara menuju tempat latihan sambil jejeritan. Ada luapan kegembiraan yang membahayakan. Iya, membahayakan diri sendiri dan pengguna jalan yang lain…

Begitu sampai di tempat latihan, aku membuka FB di hape dan menemukan tautan yang dimaksudkan Ipank. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak senyum-senyum sendiri. Dan pagi itu, latihan yoga jauh dari konsentrasi…

Pengumuman Pemenang Lomba #MusikalisasiPuisiHelvy

Wow. Siapa sih yang ndak senang jadi juara? Meskipun sudah beberapa orang bilang kami pasti menang, tapi aku dan kawan-kawan memilih untuk tidak seoptimis itu. Dari 27 peserta, banyak yang musikalisasinya bagus. Bahkan aku minder dengan video milik Adew Habsta dan Rekan yang mengangkat puisi ‘Fisabilillah’. Musik dan videonya keren habis…

Iya, kami memang mengikuti Lomba Musikalisasi Puisi Helvy Tiana Rosa yang diadakan Forum Lingkar Pena bekerja sama dengan Komunitas Sahabat Helvy dan Asma Nadia Publishing. Periode lombanya cukup lama, sejak pertengahan Februari. Tapi kami baru mengunggah videonya sehari sebelum deadline. Kesibukan kami bertiga membuat kami sulit bertemu untuk latihan maupun proses rekaman. Ah iya, ini alasan klise. Tapi kenyataannya begitu.Kami cuma punya waktu klop saat akhir pekan.

Setiap karya punya cerita sendiri-sendiri. Puisi Mbak Helvy yang ini punya cerita unik juga. Suatu Sabtu pagi usai sholat shubuh aku sms Iwan dan Ipank, bisa nggak latihan siang nanti. Katanya bisa. Saat itu juga aku mengambil gitar dan mulai melagukan bait demi bait. Baru dapat dua bait. Berhenti sementara untuk mengantar anak-anak sekolah dan latihan yoga. Pulang dari latihan aku istirahat sambil bermain dengan si bungsu. Bada dhuhur aku lanjutkan mencari nada untuk reff. Jadi lah lagu mentah. Kupikir nanti saja kalau kurang gimana-gimana, diperbaiki saat latihan.

Dan begitulah. Hari itu latihan. Sabtu selanjutnya merekam. Jumat pekan berikutnya ambil gambar. Dan tiga hari kemudian video diunggah.

Nama Baru

Aku bersama Iwan dan Ipank, sebenarnya sudah cukup lama berproses bareng dalam musikalisasi puisi. Sejak tahun 2010. Namun kami tidak pernah memakai nama grup atau kelompok. Mungkin karena pada awalnya memang aku tampil sendiri. Sesekali mereka mengiringi. Di lain waktu aku mengajak pemusik lain. Namun dari pemusik pengiring yang berganti-ganti itu, dengan mereka berdua-lah aku bisa merasa ngeklik. Soul dan visinya nyambung. Maka di dua tahun terakhir, hampir di setiap performance aku tampil bersama mereka, atau memilih sendiri; tidak mengajak pemusik lain.

Selama itu pula orang mengenal Latree Manohara, bersama dua kawannya.

Sebenarnya bukan sekali-dua kali kami membahas kemungkinan memberi grup kami sebuah nama. Supaya hilang kesan dominan satu nama personelnya. Berkali pula baik Iwan maupun Ipank menyatakan bahwa mereka merasa nyaman-nyaman saja menjadi pengiring Latree Manohara. Tapi aku tidak.

Ketika hendak mendaftarkan video musikalisasi kami di lomba #MusikalisasiPuisiHelvy, aku merasa mungkin ini saat yang tepat kami benar-benar memikirkan nama. Karena dalam lomba tersebut dipersyaratkan, musikalisasi harus dibawakan berkelompok. Bisa saja aku tetap memakai nama lama dengan, seperti biasa, menyebutkan nama Iwan dan Ipank sebagai pendukung. Tapi aku merasa mereka bukan lagi sekedar pendukung. Kami bekerja sama di setiap komposisi. Kebetulan saja aku vokalisnya, sehingga terlihat lebih menonjol.

Setelah perbincangan yang cukup panjang di chat grup facebook, akhirnya kami sepakat bersatu di bawah nama ‘Swaranabya’.

Nama itu kami ambil dari judul konser kami di tahun 2013. Swaranabya diambil dari bahasa Sansekerta yang artinya kira-kira, suara-suara dari dalam kepala, yang seolah tidak nyata tapi ada, bisa dirasakan, dan mendesak ingin dilahirkan. Seperti itulah musik dan kata berkelindan di jiwa kami bertiga. Terima kasih pada Mas Aulia, yang sudah mengusulkan nama itu bersama dua kata lainnya, aku lupa apa.

Jadi, dalam musikalisasi puisi milik Mbak Helvy inilah, pertama kali kami resmi memakai nama ‘Swaranabya’. Kebetulan saja kurasa, bahwa kami terpilih menjadi Juara I. Tidak ada hubungannya. Banyak artis penyanyi yang mengubah nama mereka supaya lebih ‘menjual’ atau karena alasan hoki. Tapi jelas bukan itu alasan kami memakai nama baru. Kalau memang kami dinilai bagus, pakai nama Latree Manohara pun kami akan dipilih, seperti di lomba yang kami menangi sebelumnya. :D

Yang jelas, dalam setiap karya kami, baik yang untuk lomba atau yang bukan, kami selalu berusaha membangun yang terbaik. Karya-karya yang masih terasa kurang sreg, masih kami tahan untuk tidak dipublikasikan. Ini soal kepuasan batiniah dalam berkarya. Kami tidak mau asal-asalan atau setengah-setengah.

Well, untuk yang penasaran seperti apa video yang dipilih oleh Dewan Juri sebagai pemenang pertama itu, silakan intip di sini: Kangen – Swaranabya #MusikalisasiPuisiHelvy.

Lagu puisi ini juga bisa dinikmati di soundcloud. Ini soundcloud baru dengan nama Swaranabya, setelah sebelum-sebelumnya, lagu kami diunggah di soundcloud pribadiku.

Terima kasih Helvy Tiana Rosa, Forum Lingkar Pena, Komunitas Sahabat Helvy dan Asma Nadia Publishing House.

Oh ya, bagi yang tidak mau ketinggal update dari Swaranabya, silakan klik like di page Facebooknya ya :)

 

Memori Hape Pertama

Sesungguhnya ini adalah postingan yang akan menyibak tabir usia. Tapi siapa peduli, ada kenangan yang kita akan selalu ingat dan dengan senang hati membaginya dengan orang lain.

Aku tidak tahu seberapa banyak orang masa kini yang tahu, pernah ada handphone seperti ini:

henpon

Gambar dipinjam dari sini.

 

Dulu aku malah tidak memperhatikan serinya apa, selain bahwa merknya Motorola. Baru tahu sekarang ini karena googling gambarnya. MicroTAC 9800x. Kabarnya, itu first handphone ever  yang benar-benar pas di genggaman dan bisa masuk saku jaket. Diproduksi tahun 1989 dan aku memilikinya pada tahun 1999. Sepuluh tahun kemudian. Buset. Sedang sekarang tiap bulan keluar bermacam handphone jenis baru.

Hape pertamaku ini lungsuran dari suamiku, yang ganti hape GSM dengan merk yang sama. Dulu beli seken harganya 150 ribu. Lumayan berat. Kayanya ada deh kalau 200 gram. Kalau buat mbandhem marem lah pokoknya. Layarnya masih pakai dot matrix dari lampu LED. Operatornya Metrostar. Basisnya analog. Konon kabarnya, Metrostar ini cikalbakal Fren. CMIIW. Dulu sekali mengisi voucher senilai 50 ribu, pakai kartu yang digosok bagian belakangnya itu, lalu masukkan kode 16 digit. Tarif nelpon waktu itu mahal banget, jadi diirit-irit kalau nelpon. SMS juga mahal. Kalau tidak salah RP. 500 kalau antar operator, dan 350 kalau sesama operator. Gila.

Walaupun bentuknya nggilani begini, hape ini kuat banget menangkap sinyal. Di rumah mertuaku yang terkepung gunung, di masa itu ketika BTS belum banyak, dan hape-hape GSM milik suamiku, adik iparku, dan mertuaku tidak bisa dapat sinyal; dia tetap dapat sinyal dua strip dan bisa menelpon dengan lancar.

Hape itu sangat berjasa selama masa pasca kelahiran anak pertamaku. Karena Ibit adalah cucu pertama dari pihak keluarga suamiku, mertuaku ingin sehabis melahirkan aku tinggal di rumah mertua, sampai setidaknya satu bulan. Waktu itu memang aku belum bekerja. Sementara itu suamiku di Semarang, tilik tiap Sabtu Minggu. Dan mengingat kultur di sana yang masih kolot, masa itu adalah momen-momen yang cukup bikin frustrasi. Setiap saat harus berbantah dengan mertua, Embah, tetangga, bahkan seisi kampung, dalam hal merawat bayi. Mereka masih memaksakan pakai cara tradisional dan jamu-jamuan, sementara aku ingin merawat anakku dengan cara modern yang aku baca dari majalah dan tabloid wanita. Berbantahnya bisa sampai nangis-nangis.

Kalau sudah begitu aku bisa nelpon Ibuk atau Bapak, wadul sambil nangis juga. Minta mereka datang menjenguk. Bahkan pernah minta Bapak untuk jemput aku saat itu juga. Bapak Ibu mertua dan Embah kaget waktu tiba-tiba Bapakku datang. Mereka nangis dan bingung, mereka salah apa sampai aku pengin minggat. Bapak juga bingung dan merasa ndak enak, karena aku ndak bilang kalau minta dijemput. Superduper drama, saking frustrasinya. Waktu itu masih darah muda, jadi aku ndak peduli. Pokoknya aku mau ke Ibuk-ku, yang tidak serba ngatur dan lebih suka ikut merawat anakku dengan cara yang aku pilih. Selalu bertanya ini mau gimana, harus seperti apa…

However, tragedi itu sepertinya cukup membuka mata mertua dan embah mertuaku, bahwa aku punya cara yang berbeda dengan mereka. Bukan hanya dalam mengurus bayi, tapi juga dalam banyak hal. Perlahan dan butuh waktu agak lama, tapi akhirnya kami bisa saling mengerti dan tidak memaksakan metode masing-masing. Mereka memberi saran tapi tidak lagi memaksakan. Iya, kalau dulu harus nurut. Kalau aku ndak manut, dibentak sama Embah. Untunglah akhirnya Embah juga bisa mengerti, cucu mantunya yang satu ini ndak bisa dikerasi. Kalau dipukul bisa mental lebih keras.

Eh, ini kok malah jadi curhat ke mana-mana sih…

***

Aku lupa tepatnya tahun berapa, ada gosip Metrostar tidak akan beroperasi lagi. Kalau itu terjadi, hapeku itu ndak bisa dipakai lagi. Daripada menunggu saat itu tiba, dengan resiko hape itu tidak akan laku dijual lagi, aku memutuskan pindah ke GSM. Hape itu kujual dan laku dengan harga 100 ribu saja. Lumayan daripada hangus.

Dan inilah hape GSM pertamaku.

henpon2

Gambar dipinjam dari sini.

 

Motorola Timeport P7389i. Bagiku waktu itu sudah keren banget. Layarnya bisa ganti warna, merah – kuning – hijau. Masih monophonic. Tapi aku bisa bikin ringtone sendiri. Agak ribet sih, kamu harus ngerti nada dan not balok. Berhubung aku cuma ngerti sedikit-sedikit, ringtone bikinanku sederhana. Kalau tidak salah lagunya ‘Naik Delman’. 

Masa itu, Motorola bukan hape populer. Raja hape saat itu masih Nokia. Tapi aku tidak tertarik pakai  hape yang semua orang pakai. Nggaya ya?

Hape itu kupakai sampai rusak, dan diganti dengan hape lungsuran dari suamiku. Lalu dia beli baru. Sampai sekarang masih begitu. Kalau suamiku pakai hape baru, otomatis aku dapat lungsurannya. Bedanya, selain yang lungsuran aku punya satu lagi yang aku beli sendiri. Baru bukan seken…

Hape itu sudah entah ke mana bangkainya. Dulu kusimpan, trus dipakai Ibit dan kawan-kawannya, anak-anak tetangga, untuk main drama rumah-rumahan. Kardusnya juga sudah kubuang. Betapa tidak sentimentilnya.

***

Punya cerita menarik tentang hape pertama? Ayo tulis di blog dan ikutan giveaway Istiadzah ini. Asik buat seru-seruan!

giveaway isti

Malam Puisi Edisi (bukan) Khusus Perempuan

Entah kenapa, Malam Puisi Semarang edisi Jumat 25 April 2014 lalu dihadiri 75% perempuan (berdasar pandangan mata). Barangkali karena temanya, ‘Perempuan dan Puisi’. Padahal sama sekali tidak ada maksud membatasi hadirin. Justru kupikir akan asik mengetahui pandangan laki-laki tentang ‘perempuan dan puisi’. Tentang perempuan yang berpuisi, tentang puisi oleh perempuan, tentang perempuan di dalam puisi.

20140505-084155.jpg

Salah satu hadirat ikut menghangatkan diskusi.

20140505-084222.jpg

Salah satu pembacaan puisi.

Sandra Palupi yang menjadi pemantik diskusi, mengajak audiens berdinamika untuk melihat tema-tema yang bagaimana yang lebih diminati perempuan: keluarga, cinta, tuhan. Sandra juga mengajak meraba, bagaimana citarasa kata dan diksi yang dipilih perempuan dan laki-laki dalam menulis puisi bertema sama, bisa dibedakan.

20140505-084206.jpg

Sandra Palupi, penyair perempuan yang tajam.

Satu kehormatan, malam puisi kemarin dihadiri sastrawan senior Semarang, bapak Djawahir Muhammad. Beliau merasa, perempuan adalah inspirasi tiada habis untuk menulis puisi. Hadir juga Bu Sulis Bambang dan Pak Driya, dua-duanya penyair senior penggerak komunitas Kumandang Sastra. Haru biru.

20140505-084141.jpg

Pak Djawahir memberikan petuah dan suntikan semangat untuk pecinta puisi muda di Semarang.

Pak Driya

Pentholan Komunitas Kumandang Sastra Semarang.

Di tengah acara, ada mbak-mbak berjilbab njawil aku, “Saya Otit dari Her Spirit Suara Merdeka.” Di benakku langsung melintas, wah, wawancara nih. Tapi yang lahir di bibirku, “Ya, ada yang bisa saya bantu?”

20140505-084232.jpg

Bu Sulis dan perempuan-perempuan pecinta puisi ini masuk koran. Kok cukup ya? >.<

Mbak Otit memang lebih menyoroti tentang ‘Perempuan dan Puisi’-nya, tapi tetap tidak melupakan acara Malam Puisi itu sendiri. Ya mungkin karena dia wartawan rubrik wanita, jadi dipas-paskan biar ndak overlap dengan wartawan budaya… Semoga setidaknya tetap membuat Malam Puisi lebih dikenal dan dicintai…

20140505-084309.jpg

Dan semoga para penggerak Malam Puisi Semarang tetap pinaringan kemauan, kekuatan, kesabaran dan segala yang dibutuhkan untuk menggelar Malam Puisi selanjutnya. Salam :)

KRAM

Pukul dua dini hari, perut berkeriyut. Aku bangun, beringsut. Kata Ibu, kalau perutmu mulai terasa perih malam-malam, kunyah nasi satu dua suap saja. Nasi saja. Aku pergi ke dapur.

Tapi kemarin sore kami tidak masak nasi, kami makan malam di warung bakso.

Aku kunyah biskuit marie dua biji. Dan dua sendok madu. Semoga keriyut perut ini berhenti. Kuambil air wudhu, sholat dan berdoa. Tuhan, kalau aku berdzikir lebih lama apakah akan kau hentikan nyeri perutku? Kudengar Tuhan tertawa geli. Aku berbaring menenangkan diri.

Adzan subuh. Perih itu makin naik ke ulu hati. Lambung diaduk. Tumpah pertama tepat ketika adzan selesai dikumandangkan masjid terdekat. Baiklah, aku minum obat  maag cair yang kutemukan di kotak obat.

Pukul setengah enam pagi. Anak-anak sudah selesai subuhan. Si kembar membuka pintu perlahan, “Ibu, kami mau pergi berenang bareng teman-teman…”

“Boleh Ibu minta tolong belikan obat di apotek?”

Mereka berpandangan.

“Tidak bisa telpon minta dikirim?”

Aku menggeleng. Petugas 108 bilang apotek di alamat itu tidak terdaftar. Berdua naik sepeda mereka membawa catatan tiga jenis obat yang dismskan dokter  kesayanganku. Aku menunggu, sambil muntah sekali lagi.

Suara teman-teman anakku memanggil di luar pintu.

“Mereka sedang ke apotek,” kataku, “tunggu sebentar ya.”

Mereka duduk menunggu. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Kembar hanya membawa selembar uang, bagaimana kalau kurang?

“Boleh Ibuk minta tolong?’ tanyaka pada dua kawan anakku itu.

“Ya boleh…” kata yang satu.

“Tolong susul kembar ke apotek ya, takut uangnya kurang…”

Berdua mereka jalan kaki menyusul anakku ke apotek.

***

Pukul setengah tujuh, empat anak laki-laki itu kembali. Membawa dua obat dari tiga yang kupesan.

“Yang satu tidak ada,” kata anakku, “tapi itu ada catatannya.”

Tersedia dalam kemasan patennya.

“Tolong belikan ya, yang ada di catatan mbak apotek ini,” pintaku memelas. Aku bisa melihat rasa enggan. Tapi aku tahu mereka kasihan melihatku yang baru saja muntah lagi.

“Kalau ada sisa uangnya boleh beli jajan?”

Aku mengangguk. Tentu saja boleh. Dan berempat mereka berjalan kaki, lagi, ke apotek. Berjalan kaki, dan hampir satu jam menunggu mereka kembali. Langsung kuminum obat yang dibeli penuh perjuangan dan rasa iba itu. Dan mereka berangkat berenang dengan berjalan kaki, lagi.

Pukul setengah delapan pagi, aku tumpah lagi. Kuraih handphone dan menelpon tetangga ujung blok, “Bu, mau temani aku ke rumah sakit?”

***

Seperti dejavu, seperti biasa. Petugas UGD bertanya aku kenapa, kujawab dengan semestinya. Dokter memeriksa, mengetuk-ketuk perut kembung.

“Disuntik ya?”

Ya, Dok. Suntik saja. Maka dua perawat datang menyibak lengan bajuku, mencari-cari  pembuluh darah di bagian dalam lenganku. Dua tusukan di lengan kanan nyasar karena pembuluh yang terlalu tipis dan kecil. Untunglah tusukan ketiga, yang terpaksa dilakukan di  lengan kiri, berhasil menyuntikkan 40 mg topazol dan 4 mg kliran.

Lima belas  menit kemudian, nyeri dan mual mereda. Ibu boleh pulang, kata Dokter.

Di perjalanan pulang aku mengirim pesan ke kawan-kawan di sana sini: maaf, aku tidak bisa berangkat untuk perform.

***

Pukul dua siang. Hujan. Di perutku tinggal sisa-sisa kram dan perih sesekali. Aku bisa saja nekat berangkat ke Malam Harmoni Puisi #BookLoversFestival. Tapi kurasa itu tidak terlalu bijaksana. Dokter bahkan menyuruhku untuk istirahat dan tidak ke kantor dulu besok harinya.

Kuketik sms ke violistku.

- Yoh, mangkat, aku digendong
+ Tak cangklek gelem ra?
- Gelem.
+ Ngko saben 10 meter mandheg, aku njaluk pijet.
- Yo siap.
+ Yowis, ngko sore tak ampiri rono.
- Ya, tak pakpung sik.
+ Pakpung sing resik ya.

Kuletakkan handphone dan tidur. Tidak pakpung, karena aku tahu dia tidak akan menjemput dan menggendongku berangkat ke Yogya. Istirahat saja, kata si Ladangsandiwara. Begitu lebih baik. Ya kan?