bebal

setelah libur yang begitu lama, akhirnya kutemui lagi rindu-rindu. sesendok mie ayam. sepotong gerakan senam. kenikmatan dunia. tapi seperti katamu, semua hanyalah tamba kangen.

tuhan mungkin kelak akan menyediakan ruang senam dan mie ayam di surga. dan di sana juga akan ada engkau. karena di dunia aku tidak bisa mencicipimu seperti mie ayam atau senam. karena tak ada tamba kangen jika itu tentangmu.

barangkali aku telah kebas luka. terlanjur percaya waktu akan bekerja. sementara setiap detik tak henti jungkir balik kubunuh waktu. membunuh diriku. bukankah sebelum ke surga, orang harus mati terlebih dahulu?

Operasi

Seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 14 November 2014

Seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 14 November 2014

Pukul delapan malam lewat sedikit. Suster baru saja menyuntikkan lagi satu ampul Torasic untuk meredakan nyeri di perutku. Malam kedua aku berbaring di ranjang rumah sakit, dan masih belum tahu apa yang terjadi pada diriku. Hari ini kuisi dengan serangkaian pengambilan foto rontgent, USG dan pengambilan sampel. Dan sekarang aku masih menunggu nasib.

Foto dan hasil lab sudah keluar. Suster sudah menelpon dokter. Malam ini Dokter akan mengusahakan datang. Kau sebaiknya datang, Dok.

Hasil lain dari telpon Dokter, setelah selang infus, satu selang lain disusupkan melalui hidungku menuju lambung. Untuk mengurangi kembung dan mencegah muntah. Aku tidak muntah lagi kemudian, memang. Cairan kuning mengalir sendiri lewat selang itu, ditampung di plastik yang dipasang di ujungnya. Tapi perutku tetap kembung, dan menggembung, dan sakit.

Terbayang lagi ekspresi dokter jaga UGD yang terkejut – kalau bukan shock – memeriksa perutku. Tuhan, kalau dokter saja sampai tidak bisa menyembunyikan rasa ngeri, bagaimana aku harus menenangkan diri?

Pukul sepuluh lewat dua puluh, Dokter datang membawa hasil rontgen. Menunjukkan padaku gambar usus yang membengkak sebesar lengan. Dokter menjelaskan. Aku mendengarkan, sambil mencoba mengabaikan sakit yang kembali mulai datang. Pereda nyeri yang disuntikkan perawat tadi mulai kehilangan kendali.

Pasti ada sumbatan. Tapi belum bisa dipastikan di sebelah mana. Jalan satu-satunya harus dibedah, Dokter harus melihat langsung, karena tidak bisa terlihat dari foto. Perutku mendadak seperti diinjak kuda. Continue reading

Aku adalah Celana Pensil Bunga-bunga

Flowering branches Royalty Free Stock Vector Art Illustration

gambar dari iStockPhoto

Apa yang kau bayangkan tentang celana pensil bunga-bunga?

Kau tidak akan menemuinya di bioskop. Mungkin bisa. Tapi jarang. Sangat jarang.

Film bioskop bisa membuatmu tertawa, menangis diam-diam, menjerit ketakutan. Tapi itu cuma gambar dan suara rekaman. Dan saat kita nonton semua lampu dimatikan. Kita tidak bisa melihat reaksi orang-orang. Ya, orang yang menonton ataupun orang yang bercerita.

“Film itu. Itu cerita kan? Cerita yang disampaikan. Lalu sebenarnya siapa yang menyampaikan cerita film? Aktor dan aktrisnya? Sutradaranya? Mereka tidak bisa melihat bagaimana respon kita, para penontonnya, melihat cerita yang disajikan. Dan kita tidak bisa melihat ekpresi mereka atas respon kita. Tidak secara langsung. Apa asyiknya?”

Dia lebih suka menonton stand up comedy. Pertunjukan di mana penonton berhadapan langsung dengan penutur cerita. Mereka bisa melihat respon kita. Dan kita bisa melihat respon mereka melihat respon kita. Kita bahkan bisa menyahut kalimat-kalimat mereka dengan kata-kata kita. Menunjukkan kita suka, tidak suka; memancing supaya keluar lebih banyak pemancing tawa. Tawa saja.

“Aku suka melihat para comic menertawakan kita, menertawakan kehidupan sehari-hari di dekat kita. Hal-hal sepele yang kadang tidak pernah terlintas di kepala.”

Bukan berarti dia hanya suka tertawa dan tidak peduli dengan segala persoalan dunia. Bukan berarti dia tidak peka, tidak bisa berduka. Dia bisa menjadi begitu sentimentil dengan caranya sendiri.

“Jika kita bisa menyikapi persoalan dengan tertawa, kenapa harus dibikin berlinang air mata? Bersedih itu menyakiti jiwa. Percayalah, selalu ada sisi kesedihan yang bisa kita pandang lucu. Agak sulit menemukannya. Tapi kalau kita rajin melatihnya, pasti bisa.” Continue reading

fear

dalam kelemahan
aku telah menjadi begitu ketakutan
lalu menakutkan
dan kau ketakutan
dan aku makin ketakutan lagi

aku makin melemah lagi
dan kali ini kurasa tak akan ada yang peduli.

Dua Belas Lewat Dua

IMG_8101.JPG

Lewat tengah malam. Di alam mimpi langit masih terang. Jalan setapak kehilangan arah.

Angin meniupkan resah pada penantian yang terabaikan. Kesepian adalah perayaan ketidakpastian.

Masih ada rerumputan meninggi menanti disibak. Jika, dan hanya jika kau benar menanti….

Kapal Phinisi: Cetak Biru di Kepala

Akhir pekan kemarin aku dan anak-anak berkesempatan jalan-jalan ke Pantai Bira, di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan. Pantai Bira menyenangkan. Bersih, airnya jernih, dan tenang. Terlalu tenang malah. Minim ombak, jadi kurang seru, kata anak-anak.

Pantai Bira

Tapi aku ingin bercerita tentang satu tempat yang tak kalah eksotis. Pembuatan kapal Pinisi. Kapal Pinisi adalah kapal layar tradisional berukuran besar yang dibuat oleh orang Bugis atau Makassar Sulawesi Selatan. Ada dua tiang layar utama yang, yang mewakili dua kalimat syahadat, dan tujuh layar tambahan yang mewakili jumlah ayat di Surat Al-Fatihah.

Konon kapal Pinisi sudah mulai dibuat sejak sebelum tahun 1500. Nama Pinisi diberikan sebagai penghargaan kepada seseorang yang menyarankan perbaikan struktur layar dari kapal-kapal yang sudah ada. Dia dianggap memiliki kemampuan mendesain kapal yang lebih baik. Dan kapal Pinisi yang dibuat sampai sekarang adalah sesuai bentuk yang disarankan Pinisi.

Tempat pembuatan kapal di Desa Bira ini terletak di pantai tidak jauh dari jalan raya. Agak turun sedikit, melewati jalan yang agak serem juga kalau dilewati pakai mobil. Jadi kami memutuskan parkir di jalan raya dan turun dengan jalan kaki kira-kira 200 meter.

Saat kami tiba di sana, ada lima kapal besar dan tiga kapal berukuran lebih kecil yang sedang dikerjakan. Ada rangkaian upacara yang harus dijalani di setiap tahap pembuatan. Mulai dari penebangan kayu, peletakan lunas, sampai ke peluncurannya.

IMG_8077

Calon-calon pengarung lautan.

Kami sempat ngobrol dengan seorang Bapak pembuat kapal (dia menyebutkan nama tapi kurang jelas, dan kami juga rikuh mau nanya lagi). Dia berdelapan sedang mengerjakan satu kapal besar, beratnya nanti jika sudah jadi kira-kira 1000 ton. Kapal itu sudah dikerjakan hampir satu tahun, dan diperkirakan selesai tiga bulan lagi.

IMG_8065

Anak-anak berpose bersama Pak Azhar atau Pak Hajar (atau siapa?)

IMG_8053

Papan kayu dikeringkan maksimal sebelum dipasang.

Kayu yang dipergunakan adalah kayu besi yang didatangkan dari Kendari.

IMG_8054

Kapal Pinisi masa kini dilengkapi baling-baling. Hanya satu baling-baling ini untuk kapal seberat 1000 ton.

Yang menakjubkan adalah, bapak-bapak itu tidak punya gambar kerja atau cetak biru. “Pembeli tinggal bilang saja, dia mau kapal ukuran berapa, nanti kami bikin,” kata si Bapak. Setelah tahu ukuran kapal yang diminta, mereka langsung bekerja begitu saja. Menjalankan tahap demi tahap sampai selesai. Kapal itu sudah jadi sebelum dibuat, katanya. Raksasa cantik ini dipesan oleh pengusaha ekspedisi dari Jakarta, dan dibanderol 8 milyar rupiah.

IMG_8063

Celah antar papan dan lubang-lubang baut ditambal dengan dempul yang terbuat dari serbuk kayu dan lem khusus. Kerasnya sama dengan kayu besi yang asli.

IMG_8052

Si cantik dalam pengerjaan

Badan kapal yang dikerjakan Pak Azhar(?) sudah selesai. Kapal ini setinggi pohon kelapa. Dalam masa pembuatannya, untuk naik ke bagian atas kapal hanya ada tangga darurat dari papan-papan dan balok. Setiap diinjak mentul-mentul, dan licin pula. Para pembuat kapal itu santai saja naik turun sambil lari. Aku sudah mencoba naik pelan-pelan tapi tetap tidak berani sampai atas. Padahal aku pengin melihat, apakah geladak sudah dikerjakan. Akhirnya cukup harus merasa puas melihat kabin tampak dari bawah sedang dikerjakan.

Delapan orang. Satu tahun. Tanpa gambar kerja. Seribu ton. Delapan milyar. Dan kelak akan mengarungi samudera. Menjadi kapal ekspedisi, atau kapal pesiar keliling dunia. Dengan perawatan yang baik, sebuah kapal Pinisi bisa beroperasi lebih dari 15 tahun.

Kami meninggalkan tempat itu membawa ketakjuban. Beberapa kali aku menoleh ke belakang melihat lagi, dan takjub lagi, sebelum akhirnya masuk kendaraan dan melanjutkan perjalanan.

***

Kalau punya uang delapan milyar, kamu pilih beli Lamborghini atau Kapal Pinisi?

 

Gula Tumbu dari Sulang

Selama ini mungkin banyak dari  kita yang hanya tahu bahwa tebu dibikin gula pasir, sedang gula merah dibikin dari nira kelapa atau aren. Satu hal yang membuatku mensyukuri perjalanan yang kulakukan, pengetahuan yang selalu bertambah. Ternyata tebu juga bisa dibikin gula merah.

Hari Senin lalu aku berkesempatan jalan-jalan ke Desa Kebonharjo, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Kami berkunjung ke rumah salah satu pengrajin gula merah. Desa Kebonharjo adalah salah satu sentra tanaman tebu di Jawa Tengah. Hasil perkebunan tebu dikirim untuk diolah menjadi gula pasir di Pabrik Gula Trangkil.

Sebagai bahan baku gula pasir, pabrik gula mensyaratkan randemen tertentu. Banyak faktor yang mempengaruhi randemen. Waktu panen, lama pengangkutan, kualitas varietas tebunya. Panen yang terlalu cepat atau terlambat dapat mempengaruhi kadar gula dalam tebu. Demikian juga waktu antara penebangan hingga pengolahan. Setelah lewat 24 jam, randemennya  juga akan turun, karena kadar air dalam tebu berkurang oleh penguapan. Selain permasalahan dalam ‘tubuh’ tebu sendiri, kapasitas pabrik juga mempengaruhi randemen. Mesin-mesin pabrik tebu yang ada sudah beroperasi sejak jaman berdirinya pabrik di jaman Belanda. Bisa dibayangkan, kemampuan mesin yang sudah jauh dari optimal.

Sementara jika diolah sendiri, walaupun dengan cara tradisional, randeman tebu bisa lebih tinggi. Jika gula hasil pabrik randemennya sekitar 5-7 saja, dengan diolah senidiri hasilnya bisa 10-11. Sehubungan dengan kapasitas mesin pabrik juga, pabrik tidak bisa menerima hasil panen tebu setiap saat. Karena itu dibuat jadwal yang disepakati antara petani dengan pabrik. Setiap petani mengirim hasil panen pada hari tertentu. Dengan cara ini diharapkan tidak ada antrian truk bermuatan tebu. Tebu yang dibawa dari perkebunan bisa langsung diolah sebelum 24 jam.

Karenanya banyak petani tebu Desa Kebonharjo yang memilih mengolah sendiri hasil panenan mereka menjadi gula merah. Bahkan ada juga pengrajin gula merah yang tidak punya kebun tebu. Mereka membeli tebu yang tidak disetor ke pabrik. Ada 18 pengusaha pengrajin gula merah di sana.

image

Pembuatan gula merah dari tebu di Desa Kebonharjo masih dilakukan secara tradisional. Batang-batang tebu diperas dengan mesin khusus (lupa tidak moto gambarnya…). Air perasan tebu dialirkan melalui pipa ke kuali besar paling ujung. Satu set tungku pembuatan gula merah terdiri dari sembilan kuali. Sambil terus diobori, cairan diaduk dan secara bertahap dipindahkan dari tungku pertama hingga tungku terakhir. Waktu yang dibutuhkan sampai cairan gula siap untuk dicetak antara satu sampai dua jam.

image_2

Setelah kekentalan cairan tepat (entah bagaimana mengukurnya, sepertinya bapak-bapak pengrajin itu pakai feeling dan kira-kira saja saking sudah ahli), gula dicetak di dalam tumbu (bakul bambu) berukuran besar. Karena cetakan yang unik inilah, gula merah produksi Desa Kebonharjo lebih dikenal sebagai ‘gula tumbu’. Berat satu tumbu gula setelah jadi bisa mencapai 150 kg. Wow.

image_3

Satu tim yang terdiri dari 4-5 orang bisa memproduksi gula merah 50 tumbu seminggu, sekitar 70-100 kuintal seminggu. Seminggu sekali, gula yang sudah padat dicetak ini akan diambil oleh pengepul, untuk kemudian dikirimkan ke pabrik kecap. Orang Tua dan Indofood adalah dua pabrik kecap besar yang juga mengambil bahan baku gula merah tradisional ini.

image_4

 

Kelompok petani pengrajin gula merah di Desa Kebonharjo, saat ini sedang bersiap untuk lebih mengembangkan produksi mereka. Dengan bantuan pemerintah dan beberapa lembaga penelitian, sedang dirintis pembuatan gula merah yang lebih higienis dalam cetakan kecil untuk konsumsi rumah tangga. Selain itu juga pengolahan limbah tebunya untuk pupuk organik dan etanol.

Semoga inovasi mereka berhasil, sehingga lebih banyak manfaat yang dihasilkan. Dan kita bisa ikut menikmati gula merah dalam ukuran yang lebih bersahabat untuk ditenteng ibuk-ibuk yang belanja di pasar :D