Judul: Gerhana Kembar
Penulis: Clara NG
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007
Tebal: 368 halaman
Aku tidak ingat dengan tepat siapa yang merekomendasikan untuk membaca buku ini. Aku cuma ingat si-entah-siapa-yang-aku-lupa-itu bilang, semua karya Clara bagus. Jadi aku ambil judul dan sampul yang lumayan menarik. Di kata pengantarnya diterangkan bahwa buku ini bercerita tentang lesbian. Lebih menarik lagi.
Ternyata kalimat dan cara bertuturnya mentah. Aku baru membaca prolognya dan beberapa halaman pertama. Belum menikmati tapi aku mencoba bertahan, berharap menemukan sesuatu. Akhirnya aku menyerah di halaman 25 ketika membaca dua paragraf ini.
Philip merapikan kertas-kertas kerja, mematikan komputer hingga dengungnya menghilang, lalu bergegas berdiri. Jalan Sudirman macet total pada jam pulang kerja seperti ini sehingga dia harus bergegas mencuri waktu agar bisa tiba di rumahsakit dengan cepat. Semua orang selalu terburu-buru sehingga Philip meringis kecut pada ironi pikirannya sendiri. Tak ada kepentingan yang lebih penting dibandingkan kepentingan diri sendiri.
Mobilnya menunggu di tempat parkir. Philip menguap sambil bergegas menyalakan mesin. Udara Jakarta sangat kering dan gerah. Tidak ada hujan sama sekali. Para petani di daerah Jawa menjerit putus asa akibat panjangnya musim kemarau tahun ini.
Aku minta suamiku mendengarkan aku membaca dua paragraf itu dan ingin tahu apa pendapatnya.
“Stop aja, jangan lanjutkan membaca. Aku takut tulisanmu jadi ikut aneh begitu”
Ah… entah itu pujian atau apa….
Tapi lihat saja berapa kali dia mengulang kata ‘bergegas’. Dan kalimat ‘petani di daerah Jawa…. dst’ itu sangat mengganggu bangunan kalimat yang sejak awal memang sudah tidak enak.
Jadi, bagaimana aku mau bikin review? Belum tahu dia mau pakai alur apa, selain sebuah kisah masa lalu yang menjadi prolognya itu. Mungkin saja jalan ceritanya bagus. Tapi ‘mendengar’ cara Clara bercerita membuatku kehilangan ‘ingin’ mengetahuinya. Nanti deh, kalau sudah tidak ada bacaan lagi dan terpaksa aku harus membacanya. Sementara… segini dulu.
Filed under: Uncategorized | 15 Comments


wah kalau saya membaca buku biasanya dari belakang lompat ketengah dan baca awal cerita, kalau dirasa menarik dilanjutkan, tapi kalo gak ya sptmu sist perlu waktu dan kesempatan yg benar2 dalam kondisi terdesak dan gak punya bacaan lagi….
selamat pagiiiii
coba baca bukunya Ayu utami mulai yang saman,larung,bilangan fu pasti asik.
halah! ga niat kuwi
hmm….jadi begitu yaaa,aku belum pernah membacanya
kenapa yaa koq commentku hilang mulu ???
Assalamu’alaikum sista, hehe… uni lom pernah baca novel Gerhana Kembar, tapi klo lihat paragraf yg ditulis di atas… kayaknya uni jg ambil sikap yg sama, berhenti baca, hehe
lesbian, ihh..iih…cari buku lain saja ..!!!
ho27x, dapet ilmu lg nh aku.
he27x
Wach kiatanya menarix, tapi terusin dong bahas referensinya
sedetail mungkin biar aku tertarik
ckckckck ..
hmm….jadi begitu yaaa, aku lom pnah baca tu….
aaaaaaaaaaahhh aku suka yang iniiiiiiiiiiiiiii
ini bagus padahalllll
bacanya sampe abis aaaaaaaaaaaaahhh
mwehehehehhe
*fans yang protes :p
Terus terang sebagai org yg kehidupannya dekat dengan tema cerita buku ini, saya pun ga menikmati baca buku ini. Tapi saya sukses bc sampe akhir. Alurnya memang menarik, tapi cara menceritakannya ga bikin saya bersemangat. Baca karya clara ng yang lain deh. Saya paling suka dengan Dimsum terakhir. Best of clara ng ever.
oh iya buat om fauzan, kenapa ihh ih begitu?
kepedesan ya?
@R2G, idana, uni, mrpall: yah begitulah…
@mrpall: malaam….
@lintang: waduh. bahasanya terlalu tinggi buatku mbak
@fauzan: sama sekali bukan karena temanya. hanya karena cara bertuturnya yang buatku tidak menarik. entah buat orang lain…
@farcham: pelajaran apa?
@natasya, merahijocinta: maaf… kurasa hanya soal selera. aku kan udah bilang, ceritanya mungkin bagus. tapi gaya tuturnya bener2 ga bisa nahan aku… maaf…