Bukan. Bukannya tiga buku itu satu seri atau gimana. Hanya saja kebetulan aku menyelesaikannya dalam waktu yang hampir bersamaan. Sebenarnya mulai membacanya tidak berbarengan, tapi waktu memasukkan ke Goodreads ya dibikin sama aja tanggalnya, mumpung lagi login aja…
Aku suka membaca buku secara terpisah tempat. Satu buku di ransel, buat dibaca di mana-mana, sambil nunggu atau apa pun; yang kali ini adalah Girl Talk. Satu buku di rumah, seringnya dibaca di kasur atau di ruang tengah; kali ini adalah Negeri 5 Menara. Dan satu buku dibaca di kantor, kalau sedang tidak ada kerjaan atau sedang malas bekerja… (ugh) yang kali ini adalah Ocean Sea.
Ini kesan yang aku rasakan setelah membaca ketiganya:
Girl Talk; 60 Perempuan. 30 Kisah. Yang Manakah Kisah Hidupmu?
Lala Purwono
Penerbit Stiletto
2012
Buku ini seperti rangkuman percakapan sehari-hari. Perempuan-perempuan dalam satu lingkungan yang terbatas. Menengah ke atas. Permasalahan-permasalahan yang diangkat juga klasik sehari-hari.
Sayangnya semua percakapan ini terasa sama. Padahal dikatakan ini adalah 30 percakapan 60 perempuan. Semua tokoh berbicara dengan gaya yang sama. Bahkan dua tokoh dalam satu cerita. Jadi rasanya mendengarkan satu orang berbicara, pura pura sekarang jadi Dinda, lalu jadi siapa, lalu jadi siapa, lalu jadi siapa.
Aku tahu ada orang yang sering menyisipkan kalimat berbahasa Inggris dalam dia bercakap-cakap sehari-hari. Tapi (hampir) semua tokoh di 30 kisah ini bicara dengan gaya itu. Agak aneh aja.
Anyway. Buku ini perlu dibaca oleh kalian, perempuan-perempuan yang merasa hidup (harus) baik-baik saja. Karena hidup tidak pernah mudah. Supaya melek. Supaya tahu bahwa orang bisa punya masalah yang kadang kita ga bisa mengerti. Hm… sebenarnya masih banyak masalah yang bisa diungkap sih. Yang lebih sadis gitu.
Kesan ini juga bisa dibaca di Goodreads
Negeri 5 Menara
Ahmad Fuadi
Gramedia 2009
Novel ini… yah… pokoknya… bagus deh. Untuk sebuah pembentukan pikiran positif dan motivasi. Bahasanya ringan dan mudah dimengerti. Humor-humornya kena. Pesan-pesannya tercerna.
Tapi memang kubayangkan seperti itulah kehidupan pondok. Segala sesuatu dikondisikan untuk membentuk jiwa yang diharapkan. Disiplin, tangguh, rajin. Semua penghuni pondok dibentuk seperti itu. Jadi kubayangkan (lagi), seandainya aku hidup di pondok, kemudian lulus. Hal terberat adalah mempertahankan semua kebiasaan bagus yang dilakukan di pondok. Karena di luar pondok, siapa yang akan mengawasi jika kita tidak disiplin? siapa yang akan membangunkan kita untuk sholat, belajar atau yang lain? Siapa yang akan mensensor berita di koran?
Man jadda wa jadda. Mereka yang benar-benar hidup di pondok yang bisa menjawab dan membuktikannya.
Oh ya. Meskipun buku ini trilogi, sepertinya aku tidak terlalu bernafsu membaca lanjutannya. Ya… seperti Ketika cinta bertasbih itu. Buku pertama tamat, tapi ogah banget ngelanjutin ke buku ke dua…
Juga kutulis di Goodreads
Ocean Sea
Alessandro Barrico
Vintage 1993
Terjemahan oleh Dastan
Novel ini luar biasa gila. Suspensenya sungguh terasa. Misterinya mengajak berpikir. Cara tuturnya menggemaskan. Karakter setiap tokoh terbaca bahkan dari setiap kalimat yang terucap.
Memang perlu energi lebih untuk ‘mikir’. Banyak percakapan antar banyak orang tanpa menyebutkan siapa yang sedang bicara. Kalimat narasinya, di bab awal, panjang lebar, bersayap dan beranak-cucu. Sering juga ditemui metafora yang susah dimengerti. Atau mungkin metafora itu ada dalam bahasa aslinya, dan menjadi kaku ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Kita diajak memahami laut sebagai sebuah kedalaman tak terukur, luas tak berbatas, sifat yang tak baku. Laut bisa menjadi lembut atau keras. Pengasih atau kejam. Laut bukan sekedar air di luar sana. Laut bahkan ada dalam diri kita.
Juga ada di reviewku di Goodreads
*semua gambar diambil dengan semena-mena dari Goodreads*





Baeklah… jadi udah ketauan saya mo baca yang mana
oh ya? yang mana?
buku terbitan dastan kayaknya emang kadang bermasalah di penerjemahannya deh
soalnya pernah beli terbitannya, asli susah masuknya ke otak pas ngebaca, rada janggal aja sih
nggak semua juga. yang ini kayanya emang versi aslinya yang model kalimat-kalimatnya rumit…
wew … ngebut baca bukunya ik
)
nggak ngebut, tau tau selesai aja. ni udah selesai dua lagi. Ibuk dan Entrok. tapi sik males meh cerita kesannya.