Belenggu

Posted: September 21, 2012 in sepenggal

: Demit

Mulutku mulutku! Cangkem iki!!

Sumpal. Sumpal. Karena dia tak henti meneriakkan remuk hati. Aku tak bisa membungkam mulutku sendiri. Kikis oleh uap panas sakit hati.

Mulutku mulutku!

Cium aku sayang. Jangan henti. Biar aku tidak perlu berkata-kata lagi. Jangan. Jangan pergi. Aku kelimpungan sendiri. Mulutku gatal. Lidahku melompat ke sana kemari. Sudah kumasukkan kacang dan keripik. Supaya dia sibuk mengunyah. Kugigit bantal biar suaraku teredam. Tapi mulutku mulutku, cangkem iki. Aku tidak tahan!

***

Aku butuh kamu di dekatku. Setidaknya untuk selalu mengingatkanku. Untuk menahan diri. Ini sama sekali bukan aku, Sayang. Aku yang selalu meneriakkan setiap yang kurasakan. Terlebih kepedihan. Bagaimana caranya aku bisa, hanya mengabarkan kebahagiaan? Sedang aku tak henti merasakan sayatan. Aku tidak tahan.

Aku dihimpit kebencian dan sakit hati. Seperti batu ditimpakan di dadaku. Semakin kutahan teriakan, semakin berat himpitan kurasakan. Aku butuh kamu untuk memelukku. Selalu berbisik menenangkan di telingaku. Karena setiap aku sendiri, kebencian ini bergolak lagi. Panas lagi.

***

“Setiap kita punya sisi gelap, setiap kita punya bayang-bayang” – Ayu Utami #Lalita

About these ads
Comments
  1. Carra says:

    Spertinya kita mempunyai letak permasalahan yang sama…. MULUT. walo mungkin penyebabnya berbeda… *opoooooooo*

    *lanjut makan oatmeal*

  2. Sang Nanang says:

    weiiiiit…………….

mari-mari silakan ikut urun komen...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s