Guruku Idolaku Pahlawanku Bapakku Ibukku

Aku tahu ini bukan hari pendidikan, bukan hari guru. Cuma hari Rabu biasa. Tapi hari ini tiba-tiba aku ingin bicara tentang guru. Gara-gara twit yang lewat di timeline-ku pagi ini. Twit dari orang yang sebenarnya aku tidak follow, tapi diretweet oleh temanku.

@pasarsapi
Guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi guru adalah pahlawan yg penuh jasa! @IDberkibar
Retweeted by raditya jatismara

Seberapa baik kamu mengenal ‘guru’?

Sebatas dia sebagai orang yang mengajar kamu membaca, menulis, berhitung, PMP, IPS, Bahasa Indonesia, Kimia, Fisika, Bahasa Inggris… Apa?

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru/ Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku/ Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/ Sebagai prasasti terima kasihku ‘tuk pengabdianmu/ Engkau bagai pelita dalam kegelapan/ Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan/ Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

Itu lagu yang (hampir) pasti dinyanyikan setiap acara pelepasan siswa kelas akhir, atau pada peringatan hari pendidikan. Sebatas mana kamu meresapi?

Coba bandingkan dengan twit di atas. Dulu ada juga twit yang bikin risih, dan langsung aku protes, tapi tidak ditanggapi. Sudah lumayan lama dan agak susah kalau mau scroll back metani. Twit itu juga mention @IDberkibar. Kira-kira bunyinya: seberapa besar kita menghargai guru? masih mau bilang ‘guru pahlawan tanpa jasa?’

Aku ngerti sih. Maksud twit-twit itu baik, meneriakkan untuk menghargai guru. Aku lihat kaitannya dengan twit yang lain. Karena aku langsung cek TL mbak @pasarsapi, bukan sekedar baca satu twit teriakan itu. Tapi teriakan yang itu ndak nyaman didengar. Orang lain mungkin tidak perhatikan. Tapi aku langsung merasa ada yang ndak pas. Oh please deh, Cin. Bagaimana bisa kalian bilang: guru sekarang penuh jasa. Apalagi ‘guru adalah pahlawan tanpa jasa.’

***

Mungkin kalian menganggap aku lebay, karena menanggapi kalimat yang ‘kesannya’ ndak penting. Tapi buatku penting. Sedikit pergeseran kata dan kalimat yang menurutku menggeser jauh maknanya. Bapak Ibukku guru. Dan aku ngerti banget  mereka guru yang bagaimana. Mereka guru yang benar-benar mengajar dan mendidik. Mantan murid-murid Bapak Ibu banyak yang sudah jadi orang ‘besar’. Banyak yang  masih mengunjungi Bapak Ibu waktu lebaran, atau kapan saja mereka punya kesempatan. Bapak Ibu tetap jadi guru sampai pensiun, dan hanya bisa bangga pada mereka. Bahkan setelah pensiun, mereka tetap guru buatku. Buat semua yang pernah jadi murid mereka di sekolah juga, kurasa.

Aku sendiri, hingga setua ini, sudah ndak bisa ngitung lagi berapa banyak guru dalam hidupku. Guru TK, SD, SMP, kuliah, guru ngaji, guru senam, dan segala guru dalam kehidupan. Bagiku mereka semua pahlawan, yang menjadikan aku seperti adanya aku sekarang.

Jadi maaf kalau aku agak gerah dengan twit yang bilang ‘guru pahlawan tanpa jasa‘ atau ‘guru sekarang penuh jasa‘. Dari dulu, sampai sekarang, sampai kapan pun; guru adalah pahlawan penuh jasa. Tanpa tanda jasa, iya. Sampai sekarang. Entah sampai kapan.

Aku tahu, twit itu lintasan sekilas. Apalagi kalau live tweet, ngetiknya buru-buru dan sering terjadi yang namanya typo. Tapi yang sekilas itu pun punya kemungkinan besar untuk membekas. Sangat. Karena ini twit yang aku yakin memang dimaksudkan serius. Bukan canda. Tolonglah berhati-hati…

About these ads

11 thoughts on “Guruku Idolaku Pahlawanku Bapakku Ibukku

  1. guru,, dulu saya murid yang nakal.. jadi banyak dimarahi olehnya.. tp berkat mereka lah saya bisa menulis dan membaca, tidak hanya itu,..

    jadi kangen.

  2. Mgkn tweetnya ingin mengkritik guru-guru jaman sekarang yang menjadikan profesi guru sebagai ‘pekerjaan’ bukan lagi ‘pengabdian’, Mbak.. Tapi, belepotan nulisnya ^^

  3. Tanggal 10 Nopember adalah hari yang bersejarah yang kita kenal dengan hari pahlawan. Guru menurut definisi baru yang lebih luas juga merupakan seorang pahlawan khususnya pahlawan di bidang pendidikan. Pernyataan atau ungkapan ‘guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa’ sudah seharusnya kita tinjau ulang. Sudah saatnya guru mendapatkan ‘tanda jasa’ atas peran dan andilnya dalam pembangunan khususnya pembangunan di bidang pendidikan. Sekaranglah saat terbaik bagi pemerintah untuk memberikan ‘tanda jasa’ yang layak dan sesuai kepada guru, sang pahlawan pendidikan nasional.

  4. ya benar mbak aq juga ngerasa nelongsoooo gitu kenapa ya kok sekarang ne banyak orang ngata ngata ngatai guru yang gak gak, apa mereka iri ya ama yang namanya sertikipasi eh gak taulah pokoknya serti gtu. padahal guruku itu orangnya enak sabar kalo ngomong hati ini jadi tenang nyaman kayak di taman, banyak temen2q yang males sekolah jadi gak males, muridnya juga banyak yang sukses orangnya sederhana banget, ah klo digambarkan gak cukup. Kalo menurutq mbak. orng yang ngta ngatain guru ihhhhhhhhh kuwalat…………..

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s