*terpantik puisi Yuli Bdn; ‘Semarang Nol Kilometer.
Entah sudah bulan ke berapa. Aku belum menghasilkan satu cerpen pun lagi. Tidak pula puisi. Tidak apa pun. Aku tidak bisa menulis apa pun.
Aku tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Kepalaku ditusuk-tusuk ingatan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan.
“Biarkan rambutmu abu-abu. Aku lebih suka begitu…”
“Kupikir kamu akan suka kalau aku terlihat lebih muda.”
“Hey, rambut abu-abu tidak membuatmu terlihat tua. Mengecat hitam tidak membuatmu terlihat lebih muda… Kamu bagiku ya kamu. Aku tidak peduli kamu tua atau muda.”
Kurengkuh dia, kuacak rambut pendeknya yang memang tak pernah disisir. Mata yang gelisah. Ujungnya basah. Bibirnya bergetar menahan.
“Cahya…”
Klik shut down dan kubiarkan laptop menutup sendiri program-program yang masih terbuka.
Pantai kehilangan angin. Matahari enggan membiarkan deretan pohon kelapa menebar kesejukan di teras villa. Seperti mobil yang rusak radiatornya. Otakku terbakar, berasap. Atau imajinasi? Atau hati? (more…)


