Archive for the ‘cerita dari sekitar’ Category

Cahaya

Posted: December 31, 2012 in cerita dari sekitar, cerpen

*terpantik puisi Yuli Bdn; ‘Semarang Nol Kilometer.

Entah sudah bulan ke berapa. Aku belum menghasilkan satu cerpen pun lagi. Tidak pula puisi. Tidak apa pun. Aku tidak bisa menulis apa pun.

Aku tidak bisa melakukan apa pun dengan benar. Kepalaku ditusuk-tusuk ingatan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan.

“Biarkan rambutmu abu-abu. Aku lebih suka begitu…”

“Kupikir kamu akan suka kalau aku terlihat lebih muda.”

“Hey, rambut abu-abu tidak membuatmu terlihat tua. Mengecat hitam tidak membuatmu terlihat lebih muda… Kamu bagiku ya kamu. Aku tidak peduli kamu tua atau muda.”

Kurengkuh dia, kuacak rambut pendeknya  yang memang tak pernah disisir. Mata yang gelisah. Ujungnya basah. Bibirnya bergetar menahan.

“Cahya…”

Klik shut down dan kubiarkan laptop menutup sendiri program-program yang masih terbuka.

Pantai kehilangan angin. Matahari enggan membiarkan deretan pohon kelapa menebar kesejukan di teras villa. Seperti mobil yang rusak radiatornya. Otakku terbakar, berasap. Atau imajinasi? Atau hati? (more…)

image

disclaimer: bukan iklan warung yang di gambar itu

Tiba-tiba restoran dan warung makan harus pasang tirai. Tempat hiburan dilarang beroperasi. Yang nekat diancam didatangi dan dirazia. Katanya harus menghormati umat Islam yang sedang berpuasa. Di lain pihak, teman-teman yang tidak berpuasa tak jarang yang mengeluh. Susah cari tempat makan siang karena banyak warung yang tutup.

Entahlah… Puasa itu kan intinya melatih kemampuan menahan hawa nafsu. Mustinya ndak masalah dengan warung yang tetap buka tanpa tirai. Juga tempat hiburan malam yang tetap beroperasi. Justru membuat puasa makin bermakna. Latihan tahan hawa nafsunya jadi lebih berkelas. Masa sih kita senggakpercayadiri itu? Sampai harus dibantu dimudahkan dengan mengurangi godaan? Lagian jika memang sudah bulat niat untuk berpuasa, mustinya ndak ngaruh kalau lihat warung buka. Bahkan lihat makanan atau orang makan di depan mata.

Jadi kupikir, menutup apa-apa yang dianggap godaan demi memudahkan yang berpuasa itu justru penghinaan. Nganggep kita kaya anak TK yang lagi belajar puasa. Dan jadinya kita ndak menghormati yang ndak puasa. Puasa tapi maunya menang sendiri. Semua-mua harus dikondisikan untuk memudahkan yang puasa.

Jadi lucu juga mereka yang sampai mau razia warung-warung yang buka siang hari di bulan puasa. Jadinya seperti mereka menghina diri sendiri. Daripada ngerazia warung kenapa ndak kerja bakti aja bersihin rumput di pinggir jalan kampung? Jelas manfaatnya. Mereka itu ndak pernah puasa sunnah di luar Ramadhan? Kan ya semua tetap buka seperti biasa. Ndak masalah….

***

Pengin puasa dengan godaan yang minimalis? Pergi aja ke pucuk gunung yang sepi. Di sana ndak perlu repot nahan godaan makan dan hiburan.

Kamu puasa kapan?

Tanggal 1 Ramadhan…

Ya iya lah. Puasa tanggal 1 Ramadhan. Tapi tanggal 1 Ramadhanmu itu kapan? Dulu, dulu banget, tak perlu muncul pertanyaan seperti ini. Muslim seantero Indonesia Raya akan memulai puasa Ramadhan pada tanggal (Masehi) yang sama. Lebaran pun bareng. Coba kuinta-ingat, sejak kapan kita mulai dibuat bingung mau puasa dan lebaran kapan. Sepuluh tahun yang lalu? Atau lebih? Yang satu menentukan tanggal dengan hitungan matematis. Yang lain lebih mantap kalau meneropong bulan. Dua-duanya mestinya bisa diterima ya. Tinggal mantepnya yang mana. Nah itu lah yang bikin jatuhnya 1 Ramadhan dan 1 Syawal jadi berbeda-beda.

Ini jadi sebuah keribetan tersendiri loh. Misalnya di keluarga besar kami dari Embah dari garis ibuku, yang sepakat untuk berkumpul setiap lebaran hari ke-3. Nah kalau lebarannya beda-beda, hari ke-3nya beda-beda, bagaimana mau bisa ngumpul? Akhirnya ditambahkan ‘hari ke-3 lebaran sesuai pengumuman pemerintah.’ Bukan sesuai pengumuman Muhammadiyah, NU, atau kelompok organisasi Islam lain apa pun.

***

Di Semarang, ada satu tradisi asik menyambut datangnya bulan Ramadhan. Selain pasar DUGDERAN yang digelar beberapa hari (eh, tepatnya sebulan atau dua minggu ya?) sebelum Ramadhan, gongnya adalah pawai Warak Ngendhog yang digelar di hari terakhir Bulan Syakban. Kalau sudah gelar pawai ini, tandanya nanti malamnya sudah mulai sholat Tarawih, dan besoknya puasa.

(eh itu linknya ke Wiki bahasa inggris, keterangan lebih lengkap boleh lihat lagi di http://www.visitsemarang.com/artikel/warak-ngendog)

Salah satu berkah bekerja di kantor yang sekarang ini adalah, bisa nonton pawak Warak Ngendhog langsung di depan kantor. Seperti hari ini. Kali ini pawai diberi judl Kirab Budaya. Aku ketinggalan openingnya, DrumBand dari Akpol, padahal itu yang dari pagi kutunggu-tunggu. Keren banget mereka itu… (more…)

Aku takjub dengan kesukaan penonton televisi Indonesia akan drama. Drama bukan sekedar sebagai ‘a play’, tapi sebagai suasana yang menguras emosi. Lihatlah sinetron yang masih saja menjadi sajian andalan. Penggemarnya akan terkuras emosinya, ikut gemas pada si jahat, ikut marah, ikut menangis. Yang tidak suka juga ikut terkuras emosinya, ‘ini tontonan apaaaah!?’ lalu mematikan televisi.

Meskipun bukan jenis penoton setia yang tidak pernah absen, aku menganggap diriku sendiri cukup full mengikuti Indonesian Idol 2012 mulai dari audisi sampai tersisa tiga besar di babak spektakuler. Aku mengerti sekali pentingnya mengemas acara ini lebih dari sekedar ajang kompetisi, tapi juga sebagai hiburan, dan tentu saja, cari uang. Itu sebabnya aku berusaha maklum meskipun kadang keki dengan peserta audisi lucu-lucu yang bisa sampai ke hadapan para juri. Mereka sengaja diloloskan dari saringan awal untuk lucu-lucuan. Bahkan kurasa ada yang sengaja disiapkan untuk. Kalian percaya Ashanty ikut audisi? Atau sekelompok bule gila yang membawakan Alamat Palsu versi Inggris?

***

Tapi aku mulai gerah dengan drama, kalau tidak mau disebut settingan, ketika pemilihan 12 kontestan yang masuk babak spekta. Aku yakin bukan hanya aku yang keberatan ketika Khanza bisa masuk spekta. Gayanya menyanyinya mirip Citra? Juri berharap akan ada Citra selanjutnya?

Ada tidak yang memperhatikan, Daniel keceplosan? Waktu itu baru ada 11 kontestan yang ditetapkan, tidak termasuk Febri. Tapi Daniel menyebut nama Febri, meskipun kemudian dia berusaha mengalihkan perhatian orang. Setelah itu, dengan gaya sok penuh pertimbangan, pura-pura pakai musyawarah dan bisik-bisik, juri memanggil Febri.

Akting yang payah. (more…)

sok penting

Posted: June 6, 2012 in cerita dari sekitar

Aku kok agak kesal ya, sama orang-orang yang pelit. Bukan pelit duit. Pelit apa ya namanya.

Misalnya aku menelpon ke ekstensi 503, mencari seseorang. Lalu diangkat oleh orang lain, yang kemudian menjawab, ‘langsung ke 502 aja ya Dek….’ Padahal 502 dan 503 itu satu ruangan, dan berdekatan. Kecuali kalau 502 itu di ujung ini, 503 di ujung sana, terhalang sekat-sekat ruangan. Apa susahnya yang angkat telponnya itu memanggil sebentar, lalu yang dipanggil jalan kaki sedikit untuk menerima telepon.

Atau yang lagi santai-santai. Mengerjakan pekerjaannya disambi browsing. Lalu ketika ditelpon untuk datang ke ruangan lain sebentar, hanya sebentar, misalnya untuk melengkapi tanda tangan yang kurang, dengan nada serius menjawab, ‘Sebentar ya, aku harus mengerjakan sesuatu ini. Ditunggu sebelum jam dua belas harus sudah diemailkan.’

Kalau aku sih, biar lagi mengerjakan sesuatu, kalau dipanggil diajak makan, atau pingpong, ya ayuk aja… *soundswrong*

***

Meskipun kalian mempersulit orang lain, semoga segala sesuatunya selalu dimudahkan untuk kalian. Amin.

Ndak Masuk Akal

Posted: May 31, 2012 in cerita dari sekitar, thoughts

Sering memperhatikan iklan di side bar Facebook?

Yang paling sering kuperhatikan sih iklan ‘ibu bekerja di rumah dengan hasil jutaan per bulan’ itu. Halo… Yang katanya kerja di rumah itu, kata temenku, pada prakteknya malah jadi online sepanjang waktu. Alih-alih banyak waktu buat si kecil, buat kentut aja kadang jadi ndak sempat. Tapi ya entah ya kalau yang ini. Mungkin tergantung pinter-pinternya si ibu mengatur waktu.

Lalu iklan membesarkan payudara. Halo…  Menurut yang aku baca, payudara itu bukan terbentuk dari otot. Jadi tidak bisa dilatih supaya jadi lebih besar. Bukan juga timbunan lemak, jadi tidak bisa dikecilkan dengan membuang lemak. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjaganya tetap kencang dengan melatih otot-otot yang menyangganya.

Lalu iklan untuk langsing tanpa repot. Halo… Ini berdasarkan pengamatan sehari-hari ya. Mereka yang ribut merasa gemuk itu, sebenarnya tahu kalau asupan makannya berlebih, dan aktivitas olahraganya kurang. Tapi ngunyahnya ndak berenti. Jalan kaki dikit aja males. Pokoknya ndak sumbut  lah sama sambatnya.

Ini ada lagi. Iklan buat bikin hidung mancung kurus. Iseng-iseng aku lihat apa isinya. Ternyata alatnya adalah jepitan yang harus dipasang 5-15 menit setiap hari selama minimal 2 minggu. Pasang tiap hari selama 1-3 bulan untuk hasil permanen. Nanti tulang lunak akan terbentuk menjadi kurus dan ramping. Haloooo… selunak-lunaknya tulang lunak orang dewasa, ya udah begitu bentuknya, karena sel tubuh sudah berhenti bertumbuh. Nyiksa diri aja, menurutku, kalau mau mancungin hidung dengan cara begitu.

***

Ibu-ibu mau duduk  manis di rumah dan dapet duit jutaan per bulan? Cari suami yang kaya.

Mau tetek yang besar? Pasang silikon. Ndak berani? Sumpel aja beha-nya.

Mau hidung mancung dan kurus? Operasi.

Mau langsing tanpa repot? Nah. Yang ini aku belum nemu jawaban instannya. Seperti pertanyaan ‘mau gemukan tanpa harus banyak makan?’

Kenapa disebut Sekolah Luar Biasa?

Dulu, atau mungkin sampai sekarang, yang terlintas di benak ketika mendengar ‘Sekolah Luar Biasa’ adalah sekolah yang muram. Isinya murid-murid yang cacat. Tuli, bisu, idiot, lumpuh, buta. Syukurlah kita punya kata-kata penghalus untuk sebutan anak cacat. Tuna. (Bukan ikan tunaaaa…). Yang ku tahu dalam bahasa Jawa, ‘tuna’ bisa berarti merugi. Itu jika terkait dengan jual beli. Tapi ‘tuna’ sebagai sebutan bagi penderita cacat kurang lebih berarti ‘tidak ada/tidak punya’. Tuna rungu tidak bisa mendengar. Tuna wicara tidak bisa bicara. Tuna netra tidak bisa melihat.

Jaman dulu, mempunyai anak cacat dirasa sebagai suatu aib. Bahkan sampai sekarang masih ada orang yang merasa begitu. Sebutan cacat itu sebenarnya memang ndak enak di kuping. Lebih enak menyebut ‘anak berkebutuhan khusus’. Panjang ya. Tapi nyaman. Karena ‘cacat’ itu rasanya dekat dengan ‘cela’. Mungkin itu pula sebab ada orang yang merasa memasukkan anak ke SLB adalah hal yang memalukan…

Di tempat tinggal kami dulu, kami punya dua tetangga yang punya kasus serupa tapi beda penanganannya. Dua-duanya orang terpandang. Dua-duanya memiliki anak yang menderita polio. Sebelah kakinya lebih kecil dari yang lain. Sebenarnya secara fisik, itu saja kekurangannya. Kalau berjalan pincang. Wajahnya yang laki ganteng, yang perempuan cantik. Bedanya, yang satu diperlakukan seperti anak normal. Boleh main keluar. Sekolah dan berprestasi. Teman-temannya juga tidak peduli dengan kecacatannya. Yang satunya dijaga di dalam rumah. Tidak boleh main keluar. Bahkan, tidak sekolah. (more…)