Archive for the ‘cerpen’ Category

Laki-laki Tua Itu.

Posted: May 21, 2013 in cerpen

*untuk Prompt #13 di Monday Flash Fiction*

gambar:  Dok pribadi RinRin Indrianie

Perlahan kuparkir mobil di halaman yang  tak seberapa luas, lalu turun dan berjalan ke arah warung. Seorang laki-laki setengah baya yang tadi sedang duduk khusyuk membaca menutup Qur’an di tangannya, berdiri.

Dia tidak langsung mempersilakan aku duduk.

Mangga Neng, ada yang bisa Bapak bantu?”

“Ah, saya mau numpang istirahat saja, Pak. Sepertinya saya  butuh kopi, dari tadi menyetir, lelah dan mengantuk…”

Sambil membuatkan kopi bapak itu bertanya kepadaku, “Jalan jauh?”

“Iya, Pak.”

Aku berharap dia bertanya aku siapa, dari mana, mau ke mana, mau apa. Tapi dia hanya mengulurkan kopi ke hadapanku sambil tersenyum.

“Sepi ya Pak, kalau jam segini?”

“Iya Neng, nanti agak siang pas jam istirahat, baru agak ramai. Juga kalau malam, banyak pekerja pabrik di sana itu mampir kemari…” katanya sambil menunjuk sebuah bangunan yang dikelilingi pagar tinggi.

“Itu pabrik apa Pak?

“Pabrik keramik Neng. Dulu anak Bapak kerja di situ. Teman Bapak yang bawa ke sana. Tapi dia ga tahan. Pekerjaannya terlalu kasar, katanya…”

“Anak Bapak perempuan?”

“Laki, Neng. Seharusnya dia…”

Dia tidak meneruskan kata-katanya. Lalu pura-pura sibuk membereskan meja.

Kopi di gelasku sudah habis. Aku berdiri dan membayar.

Nuhun, Neng. Maafkan Bapak, tapi wajah Neng sungguh mirip anak Bapak itu. Sampai Bapak berpikir, jangan-jangan Neng ini… Ah… Maafkan. Hati-hati menyetir ya…”

Kuucapkan terima kasih. Aku kembali masuk ke mobil. Kulambaikan tangan ke arah laki-laki tua itu. Kututup jendela, lalu pergi dari tempat itu. Kubiarkan air mata yang sejak tadi kutahan, mengalir di pipi dan jatuh membasahi dadaku.

Abah, maafkan anakmu. Aku belum siap mengaku di hadapanmu. Bahwa setelah meninggalkan rumah tiga tahun yang lalu, aku bekerja di salon kecantikan, dan kadang melayani laki-laki hidung belang. Untuk biaya hidupku. Juga agar aku bisa mendapatkan biaya operasi wajah dan dadaku.

Sejak tinggal di rusun ini enam bulan yang lalu, aku belum pernah bercakap-cakap dengan perempuan di rumah nomor 307 itu. Paling-paling tersenyum ketika berpapasan di tangga. Itu pun tak selalu. Kadang dia melengos atau menunduk, seolah enggan bertatap mata. Sombong sekali, pikirku.

Belakangan kudengar dari obrolan tetangga, dia itu seorang guru sebuah SD swasta yang tidak terkenal. Aku juga tidak tahu di mana ada SD swasta di sekitar sini. Trayekku rumah-kantor-rumah. By bus. Aku juga jarang ngobrol dengan tetangga lain. Setiap kali pulang aku lebih suka langsung masuk ke rumah dan istirahat. Hanya menyapa dan sesekali bicara tentang hal-hal tak penting dengan ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya sore hari, atau sedang menjemur cucian di pagi hari. Sekedar sopan santun bertetangga.

Aku tidak suka terlibat obrolan yang ujung-ujungnya menggosipkan tetangga. Entah barangkali mereka juga pernah menggosipkan aku di belakang. Yang jelas aku setuju dengan mereka soal penghuni 307. Sombong. Tidak mau bergaul. Ada yang bilang perempuan itu sakit jiwa. Aku sama sekali tidak pernah memperhatikan aktivitas mereka. Pintu rumahnya selalu tertutup. Hey, aku bahkan baru beberapa kali melihat suaminya. Pakaian dan rambutnya berantakan. Badannya bau. Mungkin asap rokok bercampur alkohol dan parfum murahan yang kubayangkan tertular dari baju-baju perempuan mainannya. Kurasa memang sebaiknya aku tidak berurusan dengan mereka.

***

Hari ini aku pulang agak malam. Tadi sepulang kerja aku mampir ngopi dengan beberapa teman. Ada yang aneh ketika aku masuk gang. Sebuah mobil ambulans dengan sirene yang meraung-raung parkir di depan pintu utama rusun. Di belakangnya ada sebuah mobil polisi. Orang-orang berkerumun di pinggir jalan, di depan pintu rumah, di tangga, melongok di jendela. Beberapa polisi menahan kerumunan untuk tidak mendekati garis polisi. Rumah 307 dibatasi garis polisi.

“Apa yang terjadi?” tanyaku berbisik pada ibu penghuni 215.

“Perempuan aneh itu mati…”

“Ha? Kenap…”

“Dibunuh suaminya. Mungkin tidak bermaksud membunuh. Tapi badan perempuan itu penuh memar bekas pukulan. Dari telinganya keluar darah. Tadi dia sempat menjerit-jerit minta tolong. Pak RT dan beberapa bapak ke sana, sampai mendobrak pintu. Masih sempat dibawa ke rumah Pak RT, perempuan itu. Tapi…”

Aku mundur merapat ke tembok, mencengkeram lengan ibu di sebelahku. Dua polisi lewat menggiring laki-laki 307 yang sudah diborgol tangannya. Dalam hati aku meminta maaf pada perempuan malang itu. Andai warga rusun ini, termasuk aku, memilih peduli ketimbang berprasangka buruk, mungkin ini tidak harus terjadi…

*tulisan ini diikutsertakan dalam Berani Cerita #09*

Alibi

Posted: April 30, 2013 in cerpen

Untuk Monday Flash Fiction Prompt #11: Nota

Rima memandangi secarik nota yang dia temukan bersama lembaran kusut ribuan dan lima ribuan dari saku jaket suaminya. Seperti yang biasa dia lakukan, Rima memeriksa semua saku sebelum mencuci pakaian. Disimpannya nota itu di saku cover kulkas, lalu melanjutkan mencuci. Pikirannya tak bisa lepas dari nota itu.

Rima merasa terlempar ke tahun sembilan puluhan. Mendengar lagu tentang sepotong karcis Bina Ria. Lalu bertanya-tanya: Kamu ke sana dengan siapa? Gambir? Jakarta? Bukankah kemarin kamu pamit ke Surabaya? Tanggal dan waktu yang tercantum di nota itu… Saat itu harusnya kamu masih di Surabaya. Itu kalau kamu benar ke Surabaya. Sebenarnya kemarin kamu ke mana? 

Malam ini di meja makan, Rima memberanikan diri bertanya pada Ridho.

“Aku memang ke Jakarta. Tidak jadi ke Surabaya. Maaf kemarin aku lupa memberi tahu”

“Lupa? Atau sengaja? Acara meeting di Surabaya, bisa ujug-ujug dipindah ke Jakarta begitu? Lalu kenapa itu dua gelas jus? Kamu sama siapa?”

“Tapi memang seperti itu. Aku waktu itu bukan berdua, berlima malah. Dari Yogya berangkat bareng. Kebetulan cuma aku dan Said yang pesan jus. Yang lain pesan minuman di kafe sebelah. Kamu boleh telpon Said. Atau Rifki. Erlan. Hendri. Tanya mereka kalau kamu tidak percaya.”

“Aku tidak punya nomor mereka…”

Ridho mengulurkan handphone-nya, “Nama mereka semua ada di situ.”

Ridho berdiri meninggalkan Rima dan selembar nota dan handphone, terdiam bersama di meja makan. Mungkin Ridho memang berkata jujur. Tidak mungkin dia berani serta merta menyuruh mengecek tentang nota ini kepada teman-temannya. Dia tidak punya waktu untuk mengabari dan meminta mereka untuk menjawab yang sama seandainya Rima bertanya. Atau… atau mereka sudah dikode dan diwanti-wanti sebelumnya?

Ragu-ragu Rima menekan nama Said. Baru dengan Said dia pernah bertemu, satu kali.

“Maaf Mas Said, kemarin meetingnya ndak jadi di Surabaya?”

“Oh iya. Loh, Ridho ndak cerita?”

“Cerita kok Mas. Makanya dia bilang ndak bisa carikan pesenan saya. Ya sudah, terima kasih ya Mas. Maaf mengganggu…”

Rima menutup handphone lalu segera menyusul Ridho ke kamar. Hatinya lega. Kekhawatirannya tidak terbukti.

Di seberang sana Said masih bicara, “Iya. Meetingnya dibatalkan. Mau digabung dengan meeting area bulan dep… halo… halo? Mbak Rima? Ah, sudah ditutup… Haha. Ya sudah. Perempuan. Soal ga bisa beliin pesanan sampai ngecek begini, huhu…”

***

to: 081325xxxxxx

sayang, besok2 sblm kita berpisah kamu periksa aku dulu ya. jgn sampai ada jejak yg bisa bikin rima curiga. kmrn dia nemu nota kafe tempat kita ketemu. untung aku berhasil meyakinkannya dg alasan lain. dan jgn lagi mindah2 tempat ketemuan mendadak begitu yah. ribet. love you.

sent.

Ridho meletakkan handphone  dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Entah apa yang dikatakan Said sehingga Rima berhenti curiga. Dia tidak mau menelisik, nanti malah gantian Said yang curiga. Biar saja. Yang penting besok lagi dia harus lebih hati-hati.

*untuk Prompt #8 ‘Parfum’ di Monday Flash Fiction dan prompt #5 – ‘harga diri’ di Lampu Bohlam*

Musik. Lampu. Lalu lalang orang di mana-mana.

Isti tidak pernah membayangkan akan hadir di acara seperti ini. Pesta ulang tahun Nindya, cewek paling populer di sekolah. Sebenarnya Isti yakin, Nindya tidak mungkin mengundang Isti, kalau saja Isti bukan pacar Reno. Cowok paling populer di sekolah.

***

Sekitar lima bulan lalu, di parkiran sepeda. Reno mendekati Isti yang mendadak merasa canggung dan gelisah. Menduga-duga apa maunya. Ternyata Reno hanya mengajaknya ngobrol biasa. Menemaninya berjalan menuntun sepeda sampai keluar halaman sekolah. Begitu sampai beberapa hari. Lalu Reno menawari Isti untuk pulang bareng dengan mobilnya.

“Makasih. Aku naik sepeda saja. Aku harus mampir ke beberapa tempat mengambil pesanan Ibu.”

Dan begitu sampai beberapa minggu, Reno hanya menemani Isti menuntun sepeda keluar halaman. Setiap siang sepulang sekolah. Sampai suatu hari.

“Isti. Maukah kamu jadi pacarku?”

Pertanyaan Reno seperti petir di siang bolong. Isti tidak menjawab dan langsung mengayuh sepedanya meninggalkan Reno. Reno pasti main-main. Buat apa Reno bertanya seperti itu padaku? Isti tahu siapa Reno. Isti sadar siapa dirinya. Mereka seperti langit dan bumi. Reno anak orang kaya. Banyak cewek yang mungkin rela memberikan apa saja untuk jadi pacarnya. Tapi Isti tidak pernah bermimpi yang sama. Karena dia cuma anak seorang buruh cuci. Sama sekali tidak terpikir untuk pacaran. Dia hanya ingin belajar yang rajin dan membahagiakan Ibu. Dia cuma seorang cewek miskin yang kutu buku.

Tapi Reno tak kenal menyerah. Setiap hari setelahnya, dia terus berusaha meyakinkan Isti akan kesungguhannya.

***

Suara dengingan microphone membuat Isti menutup telinganya. Sedetik setelah dengingan itu hilang, terdengar suara Nindya si empunya pesta.

“Selamat malam teman-teman… “

Reno menarik tangan Isti mendekat ke arah Nindya. Wajahnya gelisah. Isti jadi ikut gelisah tak mengerti.

“…sangat istimewa. Dan semakin istimewa karena malam ini akhirnya aku akan menyerahkan hadiah taruhan dengan Reno…”

“Nindya! Jangan teruskan! Aku sudah bilang aku mundur dari taruhan. Tidak ada taruhan. Hentikan!”

“…bahwa Reno akan berhasil memacari Isti dalam waktu kurang dari dua bulan, dan bisa bertahan selama paling tidak tiga bulan…”

Isti menutup wajahnya. Panas. Reno memandangnya penuh rasa bersalah. Mempererat genggamannya. Tapi Isti berontak. Pergi.

“Ini parfum oleh-oleh Papa dari Paris, yang aku janjikan akan kamu dapatkan…”

Nindya mengulurkan sebuah kotak ke arah Reno.

“Brengsek kamu Nin. Aku sudah bilang batalkan. Aku tidak peduli dengan parfummu…”

***

Isti berlari seperti kesetanan. Reno berusaha menghentikannya.

“Isti… kumohon. Maafkan aku. Aku tidak berani menjelaskan padamu. Aku malu. Aku malu sama kamu. Aku malu pada diriku sendiri yang menerima tantangan Nindya. Menganggap hal ini lelucon. Aku minta maaf. Please!”

Isti berhenti.

“Aku ingin sekali percaya. Ingin. Tapi aku ga bisa. Teganya kamu Re. Menilaiku seharga sebotol parfum…”

“Sumpah Is. Memang awalnya seperti itu. Tapi lama-kelamaan aku ngerti kamu. Dan aku merasa kamu sangat berharga dengan segala kesederhanaanmu. Aku bener-bener sayang kamu Is. Lihat aku! Lihat aku Is! Aku tidak peduli dengan Nindya. Aku tidak peduli siapa pun. Aku cuma peduli kamu… Is…”

Isti terus berjalan. Membiarkan Reno. Dia tidak peduli, meski sebenarnya dalam hati dia percaya perkataan Reno.

gambar dari sini

Kartu Pos

Posted: March 31, 2013 in cerpen, sepenggal, Uncategorized

untuk #7 di Monday Flash Fiction
dan #5 – pulang di Lampu Bohlam

Your eyes
Your hair
Your uniform
are nice.

Kuamati lagi kartu pos yang baru kuambil dari bawah pintu. Tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat. Tidak ada namaku, tapi hanya aku yang tinggal di sini.

Tanpa sadar aku berjalan ke depan cermin.

Mataku kuyu setelah dari pagi menatap layar komputer. Rambutku acak-acakan, aku benar-benar tidak sempat sekedar bersisir. Senyum? Aku sudah tidak kuat lagi mengangkat sudut bibir. Seragam… Aku sama sekali tidak bangga dengan seragamku.

Siapa yang mengirim kartu pos ini? Yang mengagumi rambutku, senyumku, mataku, seragamku? Aku lebih banyak bekerja di ruangan. Hampir tidak pernah bertemu orang selain karyawan kantor. Paling-paling aku keluar ke kantin. Ketemunya ya mereka-mereka.

Kecuali. Di bus. Mungkinkah?

Aku mencoba mengingat-ingat, siapa yang selalu bareng denganku di bis, entah saat berangkat atau saat pulang kerja.

Sama sekali tidak ingat. Aku tidak pernah memperhatikan penumpang lain.

Kulempar kartu pos ke kasur. Juga badanku.

***

Tanggal merah di hari Jumat. Libur tiga hari. Lumayan, bisa pulang tilik Ibuk.

Aku turun dari angkot, berjalan setengah tak sabar melewati gang menuju rumah.

“Mas Pram!”

Sebuah suara memaksaku menoleh.

“Sudah terima kirimanku?” dia bertanya sambil tersenyum manis.

“Ki… Kiriman?”

“Kartu pos… Aku tanya alamat Mas Pram ke Ibuk. Kemarin aku minta tolong Mas Panijo yang sok bersih-bersih kebon itu untuk ngirim ke kantor pos…” dia mengerling.

“Su.. Sudah Tante… Terima kasih… Eh… Anu… Permisi… Saya… Saya ingin segera ketemu Ibuk…”

Dia mengerling lagi. Aku lari.

Ternyata dari Tante Linda, tetangga rumah yang berusia 57 tahun, dan sudah tiga belas tahun menjanda.

ana randha umure seket pitu…
wis meh padha karo yuswane Ibu…

Sertifikat.

Posted: March 11, 2013 in cerpen

Untuk prompt #5 di Monday Flash Fiction dan prompt #2 di Lampu Bohlam 

Juga diikutkan di #PostCardFictionEdisiValentine di Kampung Fiksi; Dark Theme: twisted love story.

20130311-131933.jpg

SANDIWARA

Posted: March 6, 2013 in cerpen, gambar iseng, sepenggal

Postcard ini diikutkan di even Kampung Fiksi: #PostCardFiction Edisi Valentine

Dark theme. A twisted love story…

20130306-130439.jpg