Archive for the ‘sepenggal’ Category

Kartu Pos

Posted: March 31, 2013 in cerpen, sepenggal, Uncategorized

untuk #7 di Monday Flash Fiction
dan #5 – pulang di Lampu Bohlam

Your eyes
Your hair
Your uniform
are nice.

Kuamati lagi kartu pos yang baru kuambil dari bawah pintu. Tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat. Tidak ada namaku, tapi hanya aku yang tinggal di sini.

Tanpa sadar aku berjalan ke depan cermin.

Mataku kuyu setelah dari pagi menatap layar komputer. Rambutku acak-acakan, aku benar-benar tidak sempat sekedar bersisir. Senyum? Aku sudah tidak kuat lagi mengangkat sudut bibir. Seragam… Aku sama sekali tidak bangga dengan seragamku.

Siapa yang mengirim kartu pos ini? Yang mengagumi rambutku, senyumku, mataku, seragamku? Aku lebih banyak bekerja di ruangan. Hampir tidak pernah bertemu orang selain karyawan kantor. Paling-paling aku keluar ke kantin. Ketemunya ya mereka-mereka.

Kecuali. Di bus. Mungkinkah?

Aku mencoba mengingat-ingat, siapa yang selalu bareng denganku di bis, entah saat berangkat atau saat pulang kerja.

Sama sekali tidak ingat. Aku tidak pernah memperhatikan penumpang lain.

Kulempar kartu pos ke kasur. Juga badanku.

***

Tanggal merah di hari Jumat. Libur tiga hari. Lumayan, bisa pulang tilik Ibuk.

Aku turun dari angkot, berjalan setengah tak sabar melewati gang menuju rumah.

“Mas Pram!”

Sebuah suara memaksaku menoleh.

“Sudah terima kirimanku?” dia bertanya sambil tersenyum manis.

“Ki… Kiriman?”

“Kartu pos… Aku tanya alamat Mas Pram ke Ibuk. Kemarin aku minta tolong Mas Panijo yang sok bersih-bersih kebon itu untuk ngirim ke kantor pos…” dia mengerling.

“Su.. Sudah Tante… Terima kasih… Eh… Anu… Permisi… Saya… Saya ingin segera ketemu Ibuk…”

Dia mengerling lagi. Aku lari.

Ternyata dari Tante Linda, tetangga rumah yang berusia 57 tahun, dan sudah tiga belas tahun menjanda.

ana randha umure seket pitu…
wis meh padha karo yuswane Ibu…

SANDIWARA

Posted: March 6, 2013 in cerpen, gambar iseng, sepenggal

Postcard ini diikutkan di even Kampung Fiksi: #PostCardFiction Edisi Valentine

Dark theme. A twisted love story…

20130306-130439.jpg

Selamat Ulang Tahun, Risa.

Posted: March 5, 2013 in cerpen, sepenggal
Tags:

prompt #4 di Monday Flash Fiction

============================

Kali ini tidak ada kue ulang tahun. Tidak ada tumpeng. Tidak ada pesta. Ibu sempat berpikir untuk merayakan ulang tahun Risa meriah seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi akhirnya Ibu memutuskan untuk merayakan hari lahir Risa dengan tenang. Dan ia yakin Risa tak akan keberatan. Mungkin Risa justru menyangka Ibu sedang menyiapkan sebuah kejutan.

Bukan dilupakan. Bukan tak ada peringatan. Bayu sedang dalam perjalanan dari membeli kado, sebentar lagi dia datang. Seperti tahun-tahun sebelumnya. Persahabatan mereka sejak kecil begitu tulus dan indah. Bayu tak pernah absen mengucapkan selamat ulang tahun pada Risa.

“Ibu! Lihat! Aku bawa boneka untuk Risa!”

Ibu tersenyum kemudian berkata, “Lucu sekali. Mudah-mudahan Risa suka. Ibu antar ke kamarnya sekarang?”

Bayu mengangguk senang.

Berdua mereka masuk ke kamar. Bayu meletakkan boneka di atas meja rias, di samping kotak abu Risa. Lalu memanjatkan doa untuk ketenangan Risa di surga.

Ini kali pertama, Ibu dan Bayu merayakan ulang tahun Risa di depan abu kremasinya, setelah tiga bulan yang lalu Risa meninggal karena leukimia.

Paut.

Posted: February 18, 2013 in cerpen, sepenggal

Ik wil je zien
‘Kau pasti merindukanku’
‘Zozeer

Tapi aku masih mencari alasan untuk menghindar. Tak peduli seberapa kuat keinginanku untuk menemuinya.

‘Lusa pagi kau boleh ke sini. Sebelum anak-anak datang’
‘Berapa waktu yang kupunya?’
‘Tiga puluh menit’
‘Tak cukup. Aku mau satu jam atau lebih’
‘Entahlah kalau begitu. Minggu ini aku sibuk sekali’

Aku tahu di sana dia merajuk. Menjambak pelan rambutnya sendiri yang ikal melewati kuping dan acak-acakan. Membayangkannya, aku ingin merapikannya. Dengan sisir atau sekedar menyisipkan jemari. Memandang mata kekanakannya memandangiku.

‘Dari mana kau tahu aku sudah datang?’
‘Aku merasakan’
‘Kau menelpon beberapa menit setelah aku masuk rumah’
‘Aku tahu’
‘Sebenarnya aku belum ingin pulang. Aku sedang menghindari seseorang’
‘Aku?’
‘Bukan. Kau justru alasan aku kembali’

Bisa kurasakan hidungnya kembang kempis. Matanya melebar. Senyumnya mengembang. Dan tangannya menggapai.

‘Aku ingin memelukmu’
‘Aku takut bertemu denganmu’
‘Apa yang kau takutkan dariku?’
‘Aku takut pada diriku sendiri’

Aku takut pada hasrat yang menggelegak setiap berada di dekatnya. Setiap geraknya adalah percik api, dan aku seperti uap bensin. Aku berjuang menahan diri. Sedang dia tanpa rasa berdosa terus berpijar dan memercik.

‘Apakah aku membuatmu terbakar?’

***
Tak peduli apa pun yang kutanamkan dalam benakku, akhirnya kupasrahkan tengkukku pada hembus napasnya. Dan kubiarkan dia bermain peran menjadi drakula, seperti bagaimana dia selalu memanggil dirinya sendiri. Lalu api membakar setiap kegamangan. Aku bukan uap bensin yang terbakar lalu hilang. Aku bara.

‘Aku cukup tua untuk jadi ibumu’
‘Aku tidak peduli’
‘Kau masih muda dan punya banyak untuk diperjuangkan. Aku tak mau merusakmu’
‘Aku rusak tanpamu’

***
‘Aku ingin memelukmu. Sisirkan rambutku. Aku ingin rebah di pangkuanmu’
‘Aku tak bisa’
‘Kenapa kau lakukan ini padaku? Kau membuat aku berpikir bahwa kau menginginkanku. Tapi kau tak mengijinkan aku menginginkanmu. Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? Kau mengejarku tapi menjauh setiap aku mendekatimu’
‘Aku tak berani punya keinginan atas dirimu. Untuk memiliki, atau untuk memintamu pergi…’
‘Aku menginginkanmu…’

Ada gigil menemani malam. Untuk sekali aku berharap kehilangan kedewasaan dan mengabaikan segala pertimbangan tentang bagaimana orang akan memandang. Menyetujui idenya bahwa usia tak lebih dari sekedar angka.

Hand phone-ku berkedip lagi. Aku telah mengabaikannya semalaman. Dia masih tak henti berusaha manghubungi.

Besok aku akan ke Belanda lagi.

25 Menit

Posted: February 5, 2013 in cerpen, sepenggal
Tags:

*untuk prompt #3 di MondayFlashFiction*

“Gawat!”

Aku melirik jam di tangan, sudah lewat 3 menit! Kupercepat lariku, walaupun tahu bahwa itu hanyalah usaha sia-sia. Aku sudah telat!

“Tidak apa-apa,” kataku menenangkan hati.

Aku mulai memasuki ruangan. Seketika semua mata di dalam ruangan ini melihat ke arahku. Tapi perhatian mereka segera teralih kembali ke arah altar.

“Kau boleh mencium pengantinmu,” kata pendeta. Dan aku tak bisa mencegah mataku menyaksikan pemandangan yang tidak kuharapkan. Laki-laki itu mencium Clara yang diam tak bisa berbuat apa-apa. Tepuk tangan penuh hingga ke langit-langit gereja. Dadaku pecah.

Aku keluarkan lagi secarik kertas yang diselipkan Clara, atau siapa pun, di pintu kosku tadi malam.

 

datanglah ke gereja besok jam 9.30. hanya kamu yang bisa berkata ‘tidak’ dan mencegah pernikahanku diresmikan – Clara

 

Kulirik lagi jam tanganku. Pukul 09.35. Mestinya belum sampai titik ini. Mestinya aku masih sempat mengajukan keberatan pada pendeta. Apakah upacara dimulai lebih awal?

Aku masih terdiam di muka pintu ketika mempelai berjalan keluar diikuti wajah-wajah bahagia keluarga. Aku terpaksa menyingkir sedikit ke tepi pintu. Kudengar sekilas Clara berbisik padaku sambil melewatiku. Wajahnya beku.

“Kamu terlambat 25 menit.”

Apa? Kulihat lagi jam tanganku, jam 09.37. Tapi saat itu kudengar dentang lonceng gereja sepuluh kali.

Kuraih entah tangan siapa yang lewat di dekatku, kulihat jam tangannya. Pukul sepuluh. Tangan yang lain, pukul sepuluh. Tangan yang lain lagi, pukul sepuluh.

Aku terduduk di lantai. Lemas. Mendengar riuh kaleng di belakang mobil pengantin yang kian jauh kian hilang. Membawa cintaku. Membawa Claraku, dan anakku di dalam tubuhnya.

Pelarian

Posted: October 6, 2012 in cerpen, sepenggal

“Aku pergi”

Dan aku pergi. Aku tahu setelah ini ada petir. Ada hujan. Badai. Di sana, di meja itu. Tempat aku meninggalkannya.

Juga di dalam diriku.

***

Persetan dengan cinta kita. Ini cinta gila. Kita gila. Tapi tak cukup gila untuk mempertahankannya. Aku tak sanggup menanggung kata dunia.

Aku mencintaimu, sangat. Seperti kau mencintaiku. Aku menginginkanmu, sangat. Seperti kau menginginkanku. Tapi aku menginginkanmu untuk diriku sendiri. Bukan berbagi. Dan aku tak ingin melukai orang banyak. Sedang kamu tidak bisa meninggalkan mereka. Dan anak-anak. Terutama anak-anak… Aku tak tega.

Jadi biar aku cari jalan melupakanmu. Penggantimu. Mungkin cintaku padanya tak sebesar padamu. Tapi dia mencintaiku sama besar sepertimu. Setidaknya dia bisa menopang hidupku. Itu sedikit penghiburan untuk limbungku.

Jangan temui dia ya. Jangan. Jangan ceritakan apa pun padanya. Jangan. Aku tak mau dia tahu bahwa dia sekedar pelarian, dari cinta mustahilku padamu.

pelukan terakhir

Posted: October 3, 2012 in sepenggal

“hapus lipstickmu”

“aku akan terlihat pucat”

“kau cantik tanpa apa-apa. aku merasa asing melihatmu”

“kau mengenaliku walau apa pun kubalutkan di tubuhku”

kuhapus rias wajahnya.

“lalu bagaimana aku akan menyembunyikan luka?”

“tersenyumlah”

lalu kuhapus air matanya.

***

“sayang, peluk aku”

lalu sunyi. hanya detak jantung kita perlahan. dan sesekali hela nafas mencoba melepas beban. selalu begitu. hanya bisa begitu. untuk sejenak lepas beban itu. meski nantinya kita tahu, akan datang masa selamanya ada satu batu. tak bisa kita singkirkan karena tak akan ada lagi peluk itu.

kecup di keningmu. and I will miss you.