Archive for the ‘kata hati’ Category

Anomali Perempuan

Posted: May 22, 2013 in kata hati

Beberapa waktu yang lalu dengan terpaksa aku memasuki sebuah toko yang katanya surga bagi wanita. Pusat parfum, kosmetik, assesoris, dan salon supplies.

Kubilang terpaksa, karena sebenarnya aku mau ke dealer Yamaha, mengurus sesuatu tentang motorku. Tapi halaman parkir dealer penuh, sehingga aku harus mencari-cari tempat parkir di sekitarnya. Dapatnya ya di toko itu.

Waktu itu aku baru pulang dari senam. Pakai celana ijo tentara yang gombrang dan banyak sakunya; kaos oblong, kerudung kaos, dan sandal jepit bentuk kibod komputer. Bapak tukang parkir mengawasiku, jadi aku masuk saja ke toko itu, supaya tetap boleh parkir di situ.

Wow. Memang di situ tersedia berbagai merk kosmetik lengkap. Tapi aku cuma mengernyit. Ndak tahu apa ada satu pun yang aku ingin beli. Lalu aku berjalan lebih ke dalam lagi. Sekarang gantian mbak-mbak penjaga tokonya yang mengawasi.

Aku berharap menemukan sesuatu di bagian assesoris. Tapi yang ada di situ rupanya assesoris bling-bling imitasi. So not me. Tas dan baju juga begitu. Parfum? Ng… aku ga tahan pakai wangi-wangian. Baunya menyiksa hidungku. Itu sebab aku juga tidak bisa pakai kosmetik. Mencium wanginya bakalan bikin aku bersin berkepanjangan, lalu meler ingusan. Ogah banget.

Jadi kalau kemarin Carra protes karena aku nyanyi di acaranya Nh Dini tanpa make up, ya harap dimaklumi saja. Nyanyi di mana aja ya memang begitu.

Bandingkan ini, dari perform terakhir kemarin. Aku, dengan salah satu pemain Kentrung Rock n Roll dari Solo yang cantik jelita. Mbak ini selain cantik suaranya baguuuus banget. Dan bisa main perkusi. Keren.

anomali perempuan

Tapi ya bagaimana lagi. Memang aku lebih nyaman begini. Selalu malah merasa aneh kalau pakai make up.

***

Eh, balik ke toko tadi. Merasa sudah cukup lama ngadem di situ, AC-nya lumayan dingin, aku keluar dan pergi ke dealer Yamaha; tujuanku sebenarnya.

Ketika kembali dari sana, Bapak tukang parkir menanyaiku, “Dari mana Mbak?”

Dari bengkel Yamaha, jawabku. Lalu aku jalankan mobil dan pulang.

Sering kita merasa orang lain tidak bisa peka. Pernahkah terpikir, orang lain pun bisa merasa demikian tentang kita?

***

Pagi ini ada hantaman di dada, ketika aku menandai Kang Putu dalam video yang kuunggah. Video rekaman saat kemarin sore aku membawakan ‘Ibu, Bapak di Mana’ untuk ke sekian kalinya.

Sebenarnya lagu ini tercipta dengan cara yang tidak biasa. Saat itu aku diminta oleh Budi Maryono, pemilik penerbit Gigih Pustaka Mandiri, untuk membawakan satu lagu yang diangkat dari buku ‘Nyanyian Penggali Kubur’ karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) dalam rangkaian roadshow buku tersebut. Sebenarnya waktu yang diberikan cukup longgar, sekitar dua minggu. Entah kenapa,  meskipun aku bisa merasakan semua cerpen di buku itu, terasa sulit banget memilih satu dan menyanyikannya. Jadi aku bilang, aku ikut, tapi entah bisa memenuhi permintaannya atau tidak.

Sehari menjelang acara di Kudus, di mana seharusnya aku ikut berpartisipasi, aku menetapkan cerpen ‘Langit Gelap tanpa Bintang’. Cerpen ini bercerita tentang kepedihan seorang ibu, yang setiap malam harus menjawab pertanyaan anaknya, tentang di mana bapaknya. Si Bapak, diceritakan hilang entah ke mana, oleh kekejaman penguasa pada suatu era.

Aku mengutip beberapa kalimat. Menyelipkan beberapa kalimatku sendiri. Lalu nggenjreng gitar sambil membaca apa yang kutuliskan. Aku sendiri masih merasa ajaib. Dalam kurang dari satu jam, lagu itu terbentuk begitu saja. Masih kasar, tapi aku memberanikan diri menelpon Budi Maryono; aku ikut, dan bernyanyi.

Banyak yang suka. Ada yang bilang aku biadab karena membuatnya menitikkan air mata. Maka dari perform ke perform, beberapa kali kubawakan lagu ini. Aku membawakannya sebagai bagian dari show, dan karena merasa banyak yang menyukainya. Baru kemudian aku menyadari, ada seorang teman yang pergi keluar ruangan ketika tahu aku akan membawakan ‘Ibu, Bapak di Mana’. Dia tidak tahan, dan meskipun kesehariannya garang, dia menjadi cengeng setiap harus mendengar lagu ini.

Kang Putu sendiri, si pemilik cerpen, pernah mengatakan bahwa lagu ini mengiris-iris perasaannya. Karenanya aku bertanya terlebih dahulu, apakah dia mau kuberi rekaman audio mp3 sederhananya. Dia mau. Dan katanya, setelah berulang kali diputar, ada suatu beban seperti dilepas pelan-pelan. Bagiku itu melegakan.

Tapi pagi ini, Kang Putu bilang, dia tidak bisa terus menerus mendengarkan lagu ini. Bukan berarti dia keberatan. Aku boleh tetap menyanyikannya kapan aku mau, ‘the show must go on‘.

***

Kurasa, hanya pada saat pertama kali kubawakan lagu itu lah, aku benar-benar menyanyi dengan hati (sepenuhnya).

duet with Adith

Jujur saja, ketika akhirnya aku berduet dengan Adith pun, juga karena dia bilang suka sangat lagu itu, dan sudah menyiapkan aransemen khusus untuk mengiringi aku, solo. Siapa yang tidak ingin?  Mungkin kemarin itu, aku telah tanpa sadar meletakkan hati dan bernyanyi lebih sebagai sebuah pertunjukan. Berharap audiens menyukai penampilan kami. Bertepuk tangan. Memuji.

Iya sih. Pasti ada kekecewaan jika audiens tidak  merasa mendapatkan apa-apa dari penampilan kita. Karena memang itu tujuan sebuah pertunjukan, memberikan sesuatu kepada penonton. Tapi mungkin harus kupikirkan lagi, jika urusannya sudah menyinggung kepekaan sebagian orang. Bukan sekedar ‘the show must go on’. Atau biasa aja?

[Bukan] Perempuan Hebat

Posted: April 23, 2013 in kata hati, thoughts

Apa yang bisa kubanggakan tentang diriku sebagai perempuan?

Katanya aku ini penulis. Tapi aku semaunya. Kirim tulisan ke banyak majalah dan koran baru beberapa kali dimuat. Nerbitin buku beraninya indie.

Katanya pemusik, penyanyi. Tapi ndak bisa baca not balok. Guru les piano sampai ampun-ampun karena aku ndak apal-apal diajari berbagai istilah tempo dan ketukan. Main gitar ya pokoknya nggenjreng sebatas ngerti beberapa kunci.

Sebagai pegawai aku juga semaunya. Sering tidak ikut apel pagi. Jarang lembur. Kadang pas jam kerja malah menulis. Kadang fesbukan. Kadang tidur.

Sebagai siswa aku mbeling dan suka bolos.

Sebagai istri aku masih sering mengecewakan suami.

Sebagai ibu aku masih sering mengecewakan anak.

Sebagai anak aku masih sering mengecewakan Ibu dan Bapak.

Sebagai insan Tuhan aku masih sering melanggar larangan dan malas menjalankan perintah.

Sebagai blogger ya ndak jelas. Tidak jelas visi misi blognya. Kadang nulis puisi. Kadang nulis cerpen. Kadang sok-sokan punya opini. Kadang curhat tak jelas. Dan sering sekedar pamer hal-hal yang sebenarnya sama sekali tidak luar biasa. Tidak jelas apa yang mau dibagi. Apalagi dikomersialkan supaya punya tabungan paypal. Sama sekali tidak terpikir.

Ikut  komunitas blogger ya ndak intens. Kopdar kalau sempat. Ikut even kalau pengin. Ikut komunitas sastra kelakuannya ya sama saja. Ikut PKK ya yang penting datang pertemuan, itu juga kadang-kadang bolos.

Makanya aku sering minder pada perempuan-perempuan hebat. Yang penuh cinta pada suami sampai ndak berani bilang lelaki lain ganteng. Yang penuh cinta pada anak-anak dan memberikan semua yang dibutuhkan. Yang aktif di lingkungan. Yang jadi pegawai teladan. Yang kariernya hebat. Yang bisnisnya sukses.

Huft…

Ternyata aku masih harus banyak belajar untuk diriku sebagai apa pun aku merasa. Ya. Kalau ndak males.

Tapi dengan segala kekurangan itu, aku tetap merasa istimewa. Haha.

Lelaki Bermulut Ember

Posted: April 3, 2013 in kata hati

Matanya lapar. Mukanya minta ditampar.

Kakinya melangkah ke sana kemari. Tangannya menggapai ke segala arah. Sambil tak lupa terus mengiklankan wajah. Wajahnya sendiri. Juga wajah-wajah orang yang bisa membantunya mewujudkan mimpi. Mimpinya untuk punya wajah yang lebih besar.

Kepalanya penuh taktik. Matanya berkeliling melirik. Mulutnya tak henti berbisik. Menjual cerita tentang sebuah pergerakan mulia. Pada saat yang sama sedang melakonkan sebuah sandiwara. Membangun alat dan alibi, untuk sandiwara cinta terlarang antar galaksi. Mengawinkan dua tuhan. Mencederai kesetiaan.

Dadanya penuh kebanggaan akan hal-hal kecil yang di matanya terlihat besar. Karena sibuk dengan dirinya sendiri, dan orang-orang yang baginya berarti. Memasang wajah-wajah mereka lagi. Mempekerjakan tubuh-tubuh yang bisa dimanfaatkan. Tidak peduli penghargaan. Yang ada justru pelecehan. Merasa hati hanya punya mereka sendiri, yang lain boleh mati.

Lelaki bermulut ember. Mulutnya tak bisa pecah. Seperti ember plastik yang dijual orang tua kemarin sore. Di sini bicara apa. Di sana bicara apa. Lidahnya seribu. Semua pandai berdalih. Ke sini membujuk. Ke sana menjilat. ke tempat lain bercerita jahat.

Lelaki bermulut ember. Mulutnya lebar, teramat lebar. Tak bisa menyimpan apa yang semestinya tak dibicarakan. Tak peduli setelah ini ada yang terlukai. Toh bukan dirinya. Bukan teman-teman dekatnya. Bukan kekasih gelapnya.

Lelaki bermulut ember. Tertawa bersama teman-temannya. Lelaki bermulut ember. Tertawa bersama kekasih gelapnya.

Lelaki bermulut ember. Di sampingnya. Perempuan bermulut baskom. Mereka sangat serasi.

disclosure

Posted: January 14, 2013 in kata hati

Mari kuperkenalkan pada keikhlasan dan kejujuran, yang mungkin kau pikir tak bisa lagi ditemukan.

Karena kemarin kuteteskan keharuan pada ketulusan. Tak berbayar. Yang entah aku sendiri sanggup menyajikan. Sungguh keterbatasan bukan alasan untuk tidak memberi. Kau selalu punya sesuatu untuk diberikan. Selalu ada orang yang lebih membutuhkan.

Mari kuperkenalkan pada alibi dan tipuan, yang mungkin kau pikir mudah dilakukan.

Karena hari ini aku hampir mata tertawa. Oleh orang-orang yang mencoba mengelabui , tentang hal-hal yang sepenuhnya aku mengerti. Sekedar alasan untuk menghindar dari sedikit kerja keras. Atau mengira aib baru saja ditutupi.

Mari kuperkenalkan pada diriku yang penuh tipu. Dan merasa malu oleh pamrih yang masih selalu menggantung di benakku.

Persembahan.

Posted: November 27, 2012 in kata hati, lagu, musik, poem

Telah kupersembahkan hati pada
kerisauan. Yang menjajah siang-siang dan malam-malam. Pada rindu yang enggan bertemu. Pada lapar yang menolak makan.

Telah kupersembahkan waktu pada kekacauan. Yang merampas
keteraturan. Pada detak yang melulu sepi. Pada jarak yang tak hendak mendekat.

Telah kupersembahkan rasa pada
nada. Tapi ke mana kesaktian getar dawai?

Aku tahu ini bukan hari pendidikan, bukan hari guru. Cuma hari Rabu biasa. Tapi hari ini tiba-tiba aku ingin bicara tentang guru. Gara-gara twit yang lewat di timeline-ku pagi ini. Twit dari orang yang sebenarnya aku tidak follow, tapi diretweet oleh temanku.

@pasarsapi
Guru bukan lagi pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi guru adalah pahlawan yg penuh jasa! @IDberkibar
Retweeted by raditya jatismara

Seberapa baik kamu mengenal ‘guru’?

Sebatas dia sebagai orang yang mengajar kamu membaca, menulis, berhitung, PMP, IPS, Bahasa Indonesia, Kimia, Fisika, Bahasa Inggris… Apa?

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru/ Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku/ Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku/ Sebagai prasasti terima kasihku ‘tuk pengabdianmu/ Engkau bagai pelita dalam kegelapan/ Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan/ Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

Itu lagu yang (hampir) pasti dinyanyikan setiap acara pelepasan siswa kelas akhir, atau pada peringatan hari pendidikan. Sebatas mana kamu meresapi?

Coba bandingkan dengan twit di atas. Dulu ada juga twit yang bikin risih, dan langsung aku protes, tapi tidak ditanggapi. Sudah lumayan lama dan agak susah kalau mau scroll back metani. Twit itu juga mention @IDberkibar. Kira-kira bunyinya: seberapa besar kita menghargai guru? masih mau bilang ‘guru pahlawan tanpa jasa?’

Aku ngerti sih. Maksud twit-twit itu baik, meneriakkan untuk menghargai guru. Aku lihat kaitannya dengan twit yang lain. Karena aku langsung cek TL mbak @pasarsapi, bukan sekedar baca satu twit teriakan itu. Tapi teriakan yang itu ndak nyaman didengar. Orang lain mungkin tidak perhatikan. Tapi aku langsung merasa ada yang ndak pas. Oh please deh, Cin. Bagaimana bisa kalian bilang: guru sekarang penuh jasa. Apalagi ‘guru adalah pahlawan tanpa jasa.’

***

Mungkin kalian menganggap aku lebay, karena menanggapi kalimat yang ‘kesannya’ ndak penting. Tapi buatku penting. Sedikit pergeseran kata dan kalimat yang menurutku menggeser jauh maknanya. Bapak Ibukku guru. Dan aku ngerti banget  mereka guru yang bagaimana. Mereka guru yang benar-benar mengajar dan mendidik. Mantan murid-murid Bapak Ibu banyak yang sudah jadi orang ‘besar’. Banyak yang  masih mengunjungi Bapak Ibu waktu lebaran, atau kapan saja mereka punya kesempatan. Bapak Ibu tetap jadi guru sampai pensiun, dan hanya bisa bangga pada mereka. Bahkan setelah pensiun, mereka tetap guru buatku. Buat semua yang pernah jadi murid mereka di sekolah juga, kurasa.

Aku sendiri, hingga setua ini, sudah ndak bisa ngitung lagi berapa banyak guru dalam hidupku. Guru TK, SD, SMP, kuliah, guru ngaji, guru senam, dan segala guru dalam kehidupan. Bagiku mereka semua pahlawan, yang menjadikan aku seperti adanya aku sekarang.

Jadi maaf kalau aku agak gerah dengan twit yang bilang ‘guru pahlawan tanpa jasa‘ atau ‘guru sekarang penuh jasa‘. Dari dulu, sampai sekarang, sampai kapan pun; guru adalah pahlawan penuh jasa. Tanpa tanda jasa, iya. Sampai sekarang. Entah sampai kapan.

Aku tahu, twit itu lintasan sekilas. Apalagi kalau live tweet, ngetiknya buru-buru dan sering terjadi yang namanya typo. Tapi yang sekilas itu pun punya kemungkinan besar untuk membekas. Sangat. Karena ini twit yang aku yakin memang dimaksudkan serius. Bukan canda. Tolonglah berhati-hati…