Archive for the ‘musik’ Category

Sering kita merasa orang lain tidak bisa peka. Pernahkah terpikir, orang lain pun bisa merasa demikian tentang kita?

***

Pagi ini ada hantaman di dada, ketika aku menandai Kang Putu dalam video yang kuunggah. Video rekaman saat kemarin sore aku membawakan ‘Ibu, Bapak di Mana’ untuk ke sekian kalinya.

Sebenarnya lagu ini tercipta dengan cara yang tidak biasa. Saat itu aku diminta oleh Budi Maryono, pemilik penerbit Gigih Pustaka Mandiri, untuk membawakan satu lagu yang diangkat dari buku ‘Nyanyian Penggali Kubur’ karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) dalam rangkaian roadshow buku tersebut. Sebenarnya waktu yang diberikan cukup longgar, sekitar dua minggu. Entah kenapa,  meskipun aku bisa merasakan semua cerpen di buku itu, terasa sulit banget memilih satu dan menyanyikannya. Jadi aku bilang, aku ikut, tapi entah bisa memenuhi permintaannya atau tidak.

Sehari menjelang acara di Kudus, di mana seharusnya aku ikut berpartisipasi, aku menetapkan cerpen ‘Langit Gelap tanpa Bintang’. Cerpen ini bercerita tentang kepedihan seorang ibu, yang setiap malam harus menjawab pertanyaan anaknya, tentang di mana bapaknya. Si Bapak, diceritakan hilang entah ke mana, oleh kekejaman penguasa pada suatu era.

Aku mengutip beberapa kalimat. Menyelipkan beberapa kalimatku sendiri. Lalu nggenjreng gitar sambil membaca apa yang kutuliskan. Aku sendiri masih merasa ajaib. Dalam kurang dari satu jam, lagu itu terbentuk begitu saja. Masih kasar, tapi aku memberanikan diri menelpon Budi Maryono; aku ikut, dan bernyanyi.

Banyak yang suka. Ada yang bilang aku biadab karena membuatnya menitikkan air mata. Maka dari perform ke perform, beberapa kali kubawakan lagu ini. Aku membawakannya sebagai bagian dari show, dan karena merasa banyak yang menyukainya. Baru kemudian aku menyadari, ada seorang teman yang pergi keluar ruangan ketika tahu aku akan membawakan ‘Ibu, Bapak di Mana’. Dia tidak tahan, dan meskipun kesehariannya garang, dia menjadi cengeng setiap harus mendengar lagu ini.

Kang Putu sendiri, si pemilik cerpen, pernah mengatakan bahwa lagu ini mengiris-iris perasaannya. Karenanya aku bertanya terlebih dahulu, apakah dia mau kuberi rekaman audio mp3 sederhananya. Dia mau. Dan katanya, setelah berulang kali diputar, ada suatu beban seperti dilepas pelan-pelan. Bagiku itu melegakan.

Tapi pagi ini, Kang Putu bilang, dia tidak bisa terus menerus mendengarkan lagu ini. Bukan berarti dia keberatan. Aku boleh tetap menyanyikannya kapan aku mau, ‘the show must go on‘.

***

Kurasa, hanya pada saat pertama kali kubawakan lagu itu lah, aku benar-benar menyanyi dengan hati (sepenuhnya).

duet with Adith

Jujur saja, ketika akhirnya aku berduet dengan Adith pun, juga karena dia bilang suka sangat lagu itu, dan sudah menyiapkan aransemen khusus untuk mengiringi aku, solo. Siapa yang tidak ingin?  Mungkin kemarin itu, aku telah tanpa sadar meletakkan hati dan bernyanyi lebih sebagai sebuah pertunjukan. Berharap audiens menyukai penampilan kami. Bertepuk tangan. Memuji.

Iya sih. Pasti ada kekecewaan jika audiens tidak  merasa mendapatkan apa-apa dari penampilan kita. Karena memang itu tujuan sebuah pertunjukan, memberikan sesuatu kepada penonton. Tapi mungkin harus kupikirkan lagi, jika urusannya sudah menyinggung kepekaan sebagian orang. Bukan sekedar ‘the show must go on’. Atau biasa aja?

Sebulan terakhir ini sungguh istimewa. Waktu memberiku kesempatan perform di tempat dan even yang tidak biasa.

Tanggal 15 April aku diajak mas Timur Budi Raja untuk tampil di Pembukaan Festival Gua dan Air di Gua Pancur, Pati. Ini adalah panggung paling eksotis yang pernah kuinjak. Perform di dalam gua yang dasarnya digenangi air. Aku sudah membayangkan tempat yang ames, dingin dan gelap. Tapi semua itu hilang ketika kami berada di dalamnya. Lampu yang dipasang bukan cuma memberi terang, tapi memberi efek indah, terpantul stalagtit dan stalagmit. Dan air kolamnya, percaya atau tidak, hangat.
Yang bikin lebih eksotis adalah perjalanan ke venue acara. Malam, hujan deras, dan lokasi yang jauh dari jalan raya. Lumayan terencil di tepi hutan. Aha, romantis sekali!

gua pancur

Lalu tanggal 22 April aku ditemani Iwan, Ipank dan Ibit, berkesempatan tampil di Pembukaan Pameran Industri Kreatif di Hotel Ciputra. Ini pertama kalinya aku perform di sebuah hotel, berbintang pula. Hmmm… bukan audiens ideal, tapi ini pengalaman baru. We have our own places to belong, ya kan?

20130513-074746.jpg

Senangnya bisa ambil bagian di syukuran ulang tahun ke-2 Komunitas Lacikata. Sederhana namun khidmat. Di sini lebih nyaman, jujur saja. Akrab, meriah, hangat. Bagiku kesederhanaan adalah kemewahan tersendiri. Selamat ya, kawan-kawan.

20130513-074907.jpg

Dan Sabtu tanggl 11 Mei kemarin, kami mendapat kehormatan untuk ikut memeriahkan pembukaan pameran lukisan, Rekreasi Visual Nh. Dini di Oudetrapp Gallery di kawasan kota lama Semarang. Iya, Nh. Dini. Beliau ternyata gemar melukis. Lukisannya rasa Chinese Painting. Ah… mimpi apa aku bisa bernyanyi untuk beliau, membawakan sebuah lagu yang kucipta khusus dari novel beliau. Iwan, gitarisku, sampai meriang saking dege-degannya. Whatta…

20130513-072805.jpg

Rangkaian perform ini lumayan sih, sebagai latihan menjelang acara awal Juni nanti. Tentu saja ditambah latihan-latihan khusus yang lain.

20130513-075100.jpg

Iya, akan ada persembahan khusus di awal Juni nanti. Insya allah. Semoga ya :)

Sabtu, 15 Desember 2012 lalu, di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, diselenggarakan peluncuran buku antologi puisi ‘Berkata Kaca’ karya Dhenok Kristianti dan Nana Ernawati. Terus terang aku belum mengenal dua penyair senior ini secara pribadi. Eng… sejujurnya, mendengar nama mereka berdua ya baru-baru saja ini, karena diajak pentas bersama Atisejati memusikpuisikan karya mereka.

Dalam acara peluncuran ini, selain dibawakan dalam bentuk musik-puisi oleh Atisejati, beberapa puisi dari buku Berkata Kaca dibacakan oleh penyair-penyair dari Solo, Yogya, Gresik bahkan Makassar. Acara diakhiri dengan diskusi membedah buku. Aku tidak akan menceritakan isi diskusi, karena aku memang hanya mengikuti sebentar, tidak tuntas. Lagian ndak terlalu ngerti juga…

 DSC_0793mbak Dhenok Kristianti membawakan puisinya

Jadi aku mau bercerita tentang Atisejati saja. Yang setelah latihan yang awur-awuran itu, hasilnya sangat memuaskan. Aku yang setiap latihan nyebul suling selalu error, pada saat tampil hampir tanpa error. Iya, cuma hampir. Tapi kan cuma hampir. *halah*. Nada tinggi di akhir Sajak Batu, yang biasanya putus kecekik, pada saat pentas meluncur mulus dan manis. Keren lah pokoknya.

IMG-20121215-01786Sebelum pentas: Latree, Leak, Luluk, Adit. Harusnya ada Pendi, tapi dianya sedang sibuk instalasi untuk video dan lampu…

DSC_0779

Atisejati di panggung. Mas Leak selalu punya cara untuk menyampaikan pengantar setiap puisi dengan ringan tapi kena.

DSC_0809diskusi bersama pembicara Andrik Purwasito dipandu moderator Leak Sosiawan

Buat yang penasaran, seperti apa kerennya penampilan Atisejati, bisa cek rekaman sederhananya. Iya di youtube. Di mana lagi :D

Ada 4 puisi yang dibawakan malam itu. Ini linknya:

Sajak Bertanya 

Sajak Kegelisahan

Sajak Batu

Sebelum Epitaph Berakhir

Selamat menikmati, sampai jumpa dengan Atisejati di pentas selanjutnya!

Awur-awuran ala Atisejati*)

Posted: December 10, 2012 in buku, musik, pertunjukan, poem

Ketika mulai bergabung dengan Atisejati sekitar bulan November 2010 dulu, aku tinggal tahu jadi 10 puisi-musik yang ada di album ‘Hati Kata-kata’. Tugasku hanya mendengar, menghapalkan, lalu ikut membawakannya di pentas-pentas Atisejati setelah itu.

Awal 2012, Atisejati berproses mengerjakan musikalisasi puisi-puisi baru. Setiap anggota mendapat jatah puisi yang harus dimusikkan. Aku dengan keterbatasan kemampuan musikku, selalu mengerjakan musikalisasi puisi dengan sederhana. Mengingat lagu-lagu di Album Hati Kata-kata yang menurutku sangat ‘kaya’, aku sempat minder. Toh tetap aku lakukan bagianku semampunya. Pada bagian-bagian tertentu aku stuck dan menyerah.

Ketika kuperdengarkan hasil komposisiku kepada teman-teman anggota yang lain, ah ya, benar saja. Ada hal yang membuat mereka tertawa, karena komposisiku yang terlalu sederhana, yang bahkan katanya lebih cocok dibawakan oleh girl band. Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku malah merasa tersanjung, karena bahkan komposisi yang sederhana itu tetap dipakai. Tentu saja, harus dipoles lagi.

“Nanti kita awur bareng-bareng, kita juga biasanya begitu”

Begitu kata Adith, arranger andalan Atisejati. Ngawur, katanya. Asem tenan. Bagaimana sebuah pekerjaan ngawur bisa menghasilkan karya yang begitu keren?

IMG-20121209-01705

Maka di materi-materi baru, aku ikut terlibat, ‘ngawur’ bersama mengerjakan beberapa musikalisasi puisi. Sama sekali tidak ngawur. Aku lebih suka menyebutnya ‘merdeka’. Tidak terkekang satu warna, siapa saja bisa usul. Dan yang mungkin bisa dibilang ngawur (saking merdekanya) adalah, main tabrak dalam aransemen musik dan vokalnya. Tapi toh hasilnya asik banget. (more…)

Persembahan.

Posted: November 27, 2012 in kata hati, lagu, musik, poem

Telah kupersembahkan hati pada
kerisauan. Yang menjajah siang-siang dan malam-malam. Pada rindu yang enggan bertemu. Pada lapar yang menolak makan.

Telah kupersembahkan waktu pada kekacauan. Yang merampas
keteraturan. Pada detak yang melulu sepi. Pada jarak yang tak hendak mendekat.

Telah kupersembahkan rasa pada
nada. Tapi ke mana kesaktian getar dawai?

persiapan yang cukup panjang. kurasa. tapi mungkin memang sulit untuk bisa sempurna. sedikit gangguan di lighting bukan alasan untuk bilang pertunjukan kemarin tidak sukses. ide setting kafe menurutku keren sekali. keren. beneran.

Ibit dan Santa membawakan ‘Kembang Api Malam Ini’

Kelompok Musik Pembluesukan membawakan ‘Susu untuk Sari’ dan ‘Namaku Samantha Ray’

Molotov Candy menarikan ‘The Wine’

Babahe Widyo Leksono sebagai manajer kafe

Iwan dan Mas Adit, dua gitaris keren-ku; Ibit dan Santa, backing vokalku; Ipank mengetuk jimbe; pendukung di lagu ‘Kembang Api Malam Ini’

itu aku, dan dua penari dari timur tengah, membawakan ‘Kembang Api Malam Ini’

kapan lagi kalian lihat aku pakai gaun?

hm.. pada ngerubungi apa sih ini?

ada film RAN! sebagai respon terhadap cerpen Bayang-bayang, aku sedang mengusahakan ijin dari Zoex Zabidi sang creator, untuk dapat kuupload di sini, atau di tempat lain, mungkin. juga foto-foto dari Cantrik Suwoko.

oh ya. sampai saat ini belum ada upload di youtube. karena sesuatu dan lain hal. rahasia. ah. nanti juga kalian tahu kenapa.

terima kasih pada semua pendukung. Danang, atas semua supportnya. Babahe, sang manajer panggung sekaligus manajer kafe. Budi Maryono, atas apa pun. Daniel Hakiki, sang sutradara. Adhitia Armitrianto, produser acara. Sinta Pramucitra, untuk undangan mengobrol di TVKU. Cantrik Suwoko, untuk foto-foto perempuan perkasa. Umam, Bintar, Vicky, untuk tarian yang memabukkan. Sandra Palupi, Kurniawan Yunianto, Yongki, Ghany, Deska, untuk musik blues yang nakal dan mengiris. Ibit Sukma, Santa, Iwan, Adit Bagus Pradana, Ipang Baihaqi Arsyad, untuk suara-suara indah dan harmoni. Okta dan Ambar, untuk tarian yang seksi. Zoex Zabidi, Imaniar Christy, Yanuar, Icha Denisa, untuk film yang istimewa. Mbak Maret, yang siap menyajikan suguhan setiap rapat dan persiapan. Agus Maladi, atas pinjaman kursinya. Zainal Arifin, yang telah membawa bala. Daae, Diyah, Habibah, atas promosi dan ticketingnya. Dekase. Teater SS. Lacikata. Openmind Community. Linikreatif Writing and Reading. Gigih Pustaka Mandiri. Vivi Andriani, Mbah Mo, Fajar, Agus, Mas Amat, dan lain-lain yang tidak bisa kusebut satu persatu. Maaf kalau ada yang terlewat :D

terima kasih yang datang berkunjung. tanpa kalian apa lah arti pertunjukan.

sekali lagi terima kasih, mohon maaf atas segala kekacauan, dan sampai jumpa di lain kesempatan!

Senin, 5 Nopember 2012 jam 19.30 – 21.30 WIB
Gedung Serba Guna Taman Budaya Raden Saleh, Jl. Sriwijaya 29 Semarang

Sebuah pertunjukan yang merupakan respons kreatif terhadap buku kumpulan cerpen KEMBANG API MALAM INI karya Latree Manohara dalam bentuk musik, lagu, tari, foto, dan film pendek.

YANG TAMPIL
- Zoex Zabidi
- Tri Styawan
- Ibit & Santa
- Cantrik Suwoko
- Молотов конфеты
- Kelompok Musik Pembluesukan
- Latree Manohara

YANG TERLIBAT
- Daniel Hakiki, Sutradara
- Widyo Babahe Leksono, Manajer Pertunjukan
- Adhitya Armitriyanto, Produser

 

 

TIKET
Rp 10.000/tanpa buku
Rp 25.000/dapat buku Kembang Api Malam Ini seharga Rp 40.000

KONTAK PEMESANAN TIKET
- 085225808044 (Bibah, Unissula)
- 085641591874 (Diyah, Unnes)
- 085726366182 (Ipank, IAIN)
- 08122524455 (Adhit)

KERJASAMA
Linikreatif Reading & Writing, Gigih Pustaka Mandiri, Dewan Kesenian Semarang, dan OnSIDE Production.