Archive for the ‘poem’ Category

pada sisa purnama semalam

Posted: April 29, 2013 in poem

dan mata yang berkata

tak ada yang perlu dikatakan

rasa mengerti

cukup jalan yang kita ukur

dengan percakapan dan luap bahagia tak terkatakan

yang kita harap lebih panjang

yang tetap berujung meski kita coba panjangkan

 

sampai jumpa.

Sabtu, 15 Desember 2012 lalu, di Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, diselenggarakan peluncuran buku antologi puisi ‘Berkata Kaca’ karya Dhenok Kristianti dan Nana Ernawati. Terus terang aku belum mengenal dua penyair senior ini secara pribadi. Eng… sejujurnya, mendengar nama mereka berdua ya baru-baru saja ini, karena diajak pentas bersama Atisejati memusikpuisikan karya mereka.

Dalam acara peluncuran ini, selain dibawakan dalam bentuk musik-puisi oleh Atisejati, beberapa puisi dari buku Berkata Kaca dibacakan oleh penyair-penyair dari Solo, Yogya, Gresik bahkan Makassar. Acara diakhiri dengan diskusi membedah buku. Aku tidak akan menceritakan isi diskusi, karena aku memang hanya mengikuti sebentar, tidak tuntas. Lagian ndak terlalu ngerti juga…

 DSC_0793mbak Dhenok Kristianti membawakan puisinya

Jadi aku mau bercerita tentang Atisejati saja. Yang setelah latihan yang awur-awuran itu, hasilnya sangat memuaskan. Aku yang setiap latihan nyebul suling selalu error, pada saat tampil hampir tanpa error. Iya, cuma hampir. Tapi kan cuma hampir. *halah*. Nada tinggi di akhir Sajak Batu, yang biasanya putus kecekik, pada saat pentas meluncur mulus dan manis. Keren lah pokoknya.

IMG-20121215-01786Sebelum pentas: Latree, Leak, Luluk, Adit. Harusnya ada Pendi, tapi dianya sedang sibuk instalasi untuk video dan lampu…

DSC_0779

Atisejati di panggung. Mas Leak selalu punya cara untuk menyampaikan pengantar setiap puisi dengan ringan tapi kena.

DSC_0809diskusi bersama pembicara Andrik Purwasito dipandu moderator Leak Sosiawan

Buat yang penasaran, seperti apa kerennya penampilan Atisejati, bisa cek rekaman sederhananya. Iya di youtube. Di mana lagi :D

Ada 4 puisi yang dibawakan malam itu. Ini linknya:

Sajak Bertanya 

Sajak Kegelisahan

Sajak Batu

Sebelum Epitaph Berakhir

Selamat menikmati, sampai jumpa dengan Atisejati di pentas selanjutnya!

Awur-awuran ala Atisejati*)

Posted: December 10, 2012 in buku, musik, pertunjukan, poem

Ketika mulai bergabung dengan Atisejati sekitar bulan November 2010 dulu, aku tinggal tahu jadi 10 puisi-musik yang ada di album ‘Hati Kata-kata’. Tugasku hanya mendengar, menghapalkan, lalu ikut membawakannya di pentas-pentas Atisejati setelah itu.

Awal 2012, Atisejati berproses mengerjakan musikalisasi puisi-puisi baru. Setiap anggota mendapat jatah puisi yang harus dimusikkan. Aku dengan keterbatasan kemampuan musikku, selalu mengerjakan musikalisasi puisi dengan sederhana. Mengingat lagu-lagu di Album Hati Kata-kata yang menurutku sangat ‘kaya’, aku sempat minder. Toh tetap aku lakukan bagianku semampunya. Pada bagian-bagian tertentu aku stuck dan menyerah.

Ketika kuperdengarkan hasil komposisiku kepada teman-teman anggota yang lain, ah ya, benar saja. Ada hal yang membuat mereka tertawa, karena komposisiku yang terlalu sederhana, yang bahkan katanya lebih cocok dibawakan oleh girl band. Aku sama sekali tidak tersinggung. Aku malah merasa tersanjung, karena bahkan komposisi yang sederhana itu tetap dipakai. Tentu saja, harus dipoles lagi.

“Nanti kita awur bareng-bareng, kita juga biasanya begitu”

Begitu kata Adith, arranger andalan Atisejati. Ngawur, katanya. Asem tenan. Bagaimana sebuah pekerjaan ngawur bisa menghasilkan karya yang begitu keren?

IMG-20121209-01705

Maka di materi-materi baru, aku ikut terlibat, ‘ngawur’ bersama mengerjakan beberapa musikalisasi puisi. Sama sekali tidak ngawur. Aku lebih suka menyebutnya ‘merdeka’. Tidak terkekang satu warna, siapa saja bisa usul. Dan yang mungkin bisa dibilang ngawur (saking merdekanya) adalah, main tabrak dalam aransemen musik dan vokalnya. Tapi toh hasilnya asik banget. (more…)

lukisan

Posted: December 6, 2012 in poem

Lukiskan, sayang. Lukiskan untukku. Lukiskan apa yang sedang aku lukiskan padamu dengan kata-kataku.

Tentang gubug kecil di pinggir hutan. Sore yang basah oleh gerimis sedari siang. Angin yang dingin. Waktu yang dipaksakan. Menolak malam yang hampir turun membawa bulan. Meja kecil dan dua kursi kayu tanpa lengan. Termos air, gelas, dan teh yang urung disajikan. Tenggelam oleh perbincangan dan pengingkaran.

Lukiskan, sayang. Lukiskan untukku. Tentang kepergian yang enggan. Tentang diam yang tak diinginkan.

siklus….

Posted: December 3, 2012 in poem

siklus gempa

siklus ledakan gunung berapi

siklus menstruasi

siklus kehilangan….

 

kau datang

kau pergi

kau datang

kau pergi

kau datang

kau per….

Persembahan.

Posted: November 27, 2012 in kata hati, lagu, musik, poem

Telah kupersembahkan hati pada
kerisauan. Yang menjajah siang-siang dan malam-malam. Pada rindu yang enggan bertemu. Pada lapar yang menolak makan.

Telah kupersembahkan waktu pada kekacauan. Yang merampas
keteraturan. Pada detak yang melulu sepi. Pada jarak yang tak hendak mendekat.

Telah kupersembahkan rasa pada
nada. Tapi ke mana kesaktian getar dawai?

rindu….

Posted: September 6, 2012 in poem

ada rindu pada malam
yang bergandeng tangan dengan bisu
ketika gelap menjadikan gemuruh semakin riuh
seperti kembang api
meledak-ledak di kepala
berdentum-dentum di dada

ada rindu pada pagi
yang berpeluk matahari
ketika terang menjadikan sunyi semakin berarti
seperti keemasan warna daun yang gugur di musim kemarau

ada rindu
yang terlalu.