Postcard ini diikutkan di even Kampung Fiksi: #PostCardFiction Edisi Valentine
Dark theme. A twisted love story…
Sebenarnya aku ingin terlebih dahulu menulis tentang peluncuran Pocong Nonton Tivi. Tapi ada kendala teknis untuk upload gambar. Jadi biar aku bercerita tentang sedikit acara senang-senang di sela keprihatinan ketika, menjenguk kakak iparku yang sakit (semoga dia lekas sembuh).
Hal menyenangkan pertama adalah aku bertemu Mamie Lily, blogger Anging Mamiri yang tinggal di Jakarta. Beruntung banget karena kantor Mamie dekat dengan rumah sakit tempat kakakku dirawat. Dan terima kasih sekali, Mamie mau repot-repot datang ke rumah sakit, sehingga aku tidak perlu nunak-nunuk mencari lokasi untuk ketemuan. Terima kasih lagi, udah ditraktir makan siang… Si Mamie ini ternyata orangnya lembuuuut banget. Padahal tadinya bayanganku, dia itu agak centil gitu. Haha, maaf ya Mie
Hal yang menyenangkan selanjutnya adalah mengunjungi pameran lukisan Raden Saleh di Galeri Nasional Indonesia. Gratis, bayangkan! Pameran ini berlangsung tanggal 3-17 Juni 2012. Ketika membaca soal akan diadakannya pameran ini di timeline Gunawan Muhammad, aku cuma bisa berdoa semoga sukses, tanpa membayangkan bakal bisa datang. Jadi merasa ada blessing in disguise di balik kunjunganku menengok kakakku.
Waktu aku datang pengunjungnya tidak terlalu ramai. Mungkin karena hari dan jam kerja. Kubayangkan di jam-jam sepulang kerja pengunjungnya akan banyak hingga berdesak-desak. Apalagi pada akhir pekan. Biasanya, di sebuah pameran lukisan dilarang mengambil gambar. Terlebih lagi pelukis besar seperti Raden Saleh. Tadinya aku sudah bersiap mau nyolong-nyolong ambil gambar pakai handphone. Ternyata itu tidak perlu, karena bahkan yang pakai kamera segede termos pun dibiarkan saja oleh satpamnya!

Ini salah satu lukisan favoritku, Berburu Banteng. Lukisan cat minyak di atas kanvas. Aku tidak sempat memperhatikan ukurannya. Besar banget pokoknya. Minimal lebarnya 150cm. Lihat deh, terasa banget ‘berburu’nya. Riuh, tegang, keras. Kata Bapak, Raden Saleh itu aliran lukisannya naturalisme. Tapi juga dibilang romantisme. Entah itu sebutan general untuk semua lukisannya, atau sebagian naturalis dan sebagian romantis. Yang jelas agak sulit buatku menganggap lukisan perburuan banteng itu romantis. Bahkan yang lukisan potret, terasa kaku. Beberapa potret yang dipasang adalah potret bangsawan eropa. Semuanya begitu, kaku, ndak manis. Aku moto satu potret bangsawan wanita. Setelah sampai di rumah, baru kusadari bukan saja kaku tanpa senyum, tapi wajah si nyonya ini terkesam kejam. Jadi tidak kupasang. (more…)