“Panas! Panas! Aduh….! Mukaku!”
“Jangan digosok, jangan! Siram dengan air… jangan digosok!”
Mpek-mpek yang digoreng putriku tiba-tiba meledak. Sebuah mpek-mpek terlempar ke luar wajan. Minyak terciprat dari penggorengan ke segala arah. Ke rak piring. Ke tembok. Ke wajah kami. Aku ingin mendekat mematikan kompor. Tapi minyak meledak lagi. Kutunggu sampai sisa mpek-mpek di penggorengan meledak. Di dekat kulkas putriku menjerit-jerit. Kutarik dia ke arah keran wastafel, menyuruhnya menyiram wajahnya dengan air mengalir. Hati-hati kumatikan kompor dan mengangkat mpek-mpek yang pecah dari penggorengan.
Sampai beberapa saat putriku masih menjerit-jerit, menangis. Panas dan pedih, katanya. Seorang tetangga memberikan krim untuk luka bakar. Setelah dioles, putriku malah semakin histeris. Berulangkali aku menyuruhnya tenang dan diam, tapi dia seperti tidak mendengarku. Aku berkata setengah berteriak.
“Berhenti menangis! Ibu juga terciprat seperti kamu. Jangan lebay! Sakitnya tidak perlu kamu jeritkan seperti itu. Diam!”
Aku mengoleskan sedikit krim ke wajahku yang juga terciprat minyak. Panas, seperti balsem.
Kudekati putriku. Kuhapus krim yang dia oles sendiri ke dahi dan pipinya, “Krimnya yang panas. Tipis saja, jangan terlalu tebal.”
Dia diam. Masih terisak.
“Sakit. Panas. Perih. Sama, Ibu juga. Tapi tidak perlu menjerit-jerit teriak-teriak seperti itu. Tahan. Jadilah orang yang bisa menahan sakit.”
Karena dalam hidup ini kamu akan menemui banyak rasa sakit. Banyak luka. Bukan luka-luka di kulit dan badan kita saja. Tapi banyak sakit dan luka karena kekecewaan, keadaan yang tak sesuai harapan, atau karena perbuatan orang lain. Dan jika kita selalu terlalu menghayati rasa sakit, lemah lah kita.
***
“Buka tisunya. Jangan ditutupi. Luka yang tergesek tisu nanti bisa iritasi.”
“Mau kututup pakai kasa…”
“Jangan, biar dia mengering oleh udara.”
“Aku malu…”
Apa yang membuatmu malu, Nak? Lihat lah orang cacat yang tidak punya lengan, yang kakinya cuma satu. Mereka tidak malu. Itu bukan cacat yang layak membuatmu malu. Terciprat minyak di wajan tidak ada apa-apanya dibanding luka yang orang lain derita.
Angkat wajahmu, Nak. Tersenyumlah. Setiap luka akan sembuh bersama waktu. Jangan kau pelihara sakitnya, karena dengan terus merasakannya kau akan sembuh dalam waktu yang lebih lama . Lawanlah dia. Menangkan. Kau kuat.



