Archive for the ‘Uncategorized’ Category

*untuk Prompt #8 ‘Parfum’ di Monday Flash Fiction dan prompt #5 – ‘harga diri’ di Lampu Bohlam*

Musik. Lampu. Lalu lalang orang di mana-mana.

Isti tidak pernah membayangkan akan hadir di acara seperti ini. Pesta ulang tahun Nindya, cewek paling populer di sekolah. Sebenarnya Isti yakin, Nindya tidak mungkin mengundang Isti, kalau saja Isti bukan pacar Reno. Cowok paling populer di sekolah.

***

Sekitar lima bulan lalu, di parkiran sepeda. Reno mendekati Isti yang mendadak merasa canggung dan gelisah. Menduga-duga apa maunya. Ternyata Reno hanya mengajaknya ngobrol biasa. Menemaninya berjalan menuntun sepeda sampai keluar halaman sekolah. Begitu sampai beberapa hari. Lalu Reno menawari Isti untuk pulang bareng dengan mobilnya.

“Makasih. Aku naik sepeda saja. Aku harus mampir ke beberapa tempat mengambil pesanan Ibu.”

Dan begitu sampai beberapa minggu, Reno hanya menemani Isti menuntun sepeda keluar halaman. Setiap siang sepulang sekolah. Sampai suatu hari.

“Isti. Maukah kamu jadi pacarku?”

Pertanyaan Reno seperti petir di siang bolong. Isti tidak menjawab dan langsung mengayuh sepedanya meninggalkan Reno. Reno pasti main-main. Buat apa Reno bertanya seperti itu padaku? Isti tahu siapa Reno. Isti sadar siapa dirinya. Mereka seperti langit dan bumi. Reno anak orang kaya. Banyak cewek yang mungkin rela memberikan apa saja untuk jadi pacarnya. Tapi Isti tidak pernah bermimpi yang sama. Karena dia cuma anak seorang buruh cuci. Sama sekali tidak terpikir untuk pacaran. Dia hanya ingin belajar yang rajin dan membahagiakan Ibu. Dia cuma seorang cewek miskin yang kutu buku.

Tapi Reno tak kenal menyerah. Setiap hari setelahnya, dia terus berusaha meyakinkan Isti akan kesungguhannya.

***

Suara dengingan microphone membuat Isti menutup telinganya. Sedetik setelah dengingan itu hilang, terdengar suara Nindya si empunya pesta.

“Selamat malam teman-teman… “

Reno menarik tangan Isti mendekat ke arah Nindya. Wajahnya gelisah. Isti jadi ikut gelisah tak mengerti.

“…sangat istimewa. Dan semakin istimewa karena malam ini akhirnya aku akan menyerahkan hadiah taruhan dengan Reno…”

“Nindya! Jangan teruskan! Aku sudah bilang aku mundur dari taruhan. Tidak ada taruhan. Hentikan!”

“…bahwa Reno akan berhasil memacari Isti dalam waktu kurang dari dua bulan, dan bisa bertahan selama paling tidak tiga bulan…”

Isti menutup wajahnya. Panas. Reno memandangnya penuh rasa bersalah. Mempererat genggamannya. Tapi Isti berontak. Pergi.

“Ini parfum oleh-oleh Papa dari Paris, yang aku janjikan akan kamu dapatkan…”

Nindya mengulurkan sebuah kotak ke arah Reno.

“Brengsek kamu Nin. Aku sudah bilang batalkan. Aku tidak peduli dengan parfummu…”

***

Isti berlari seperti kesetanan. Reno berusaha menghentikannya.

“Isti… kumohon. Maafkan aku. Aku tidak berani menjelaskan padamu. Aku malu. Aku malu sama kamu. Aku malu pada diriku sendiri yang menerima tantangan Nindya. Menganggap hal ini lelucon. Aku minta maaf. Please!”

Isti berhenti.

“Aku ingin sekali percaya. Ingin. Tapi aku ga bisa. Teganya kamu Re. Menilaiku seharga sebotol parfum…”

“Sumpah Is. Memang awalnya seperti itu. Tapi lama-kelamaan aku ngerti kamu. Dan aku merasa kamu sangat berharga dengan segala kesederhanaanmu. Aku bener-bener sayang kamu Is. Lihat aku! Lihat aku Is! Aku tidak peduli dengan Nindya. Aku tidak peduli siapa pun. Aku cuma peduli kamu… Is…”

Isti terus berjalan. Membiarkan Reno. Dia tidak peduli, meski sebenarnya dalam hati dia percaya perkataan Reno.

gambar dari sini

Kartu Pos

Posted: March 31, 2013 in cerpen, sepenggal, Uncategorized

untuk #7 di Monday Flash Fiction
dan #5 – pulang di Lampu Bohlam

Your eyes
Your hair
Your uniform
are nice.

Kuamati lagi kartu pos yang baru kuambil dari bawah pintu. Tidak ada nama pengirim, tidak ada alamat. Tidak ada namaku, tapi hanya aku yang tinggal di sini.

Tanpa sadar aku berjalan ke depan cermin.

Mataku kuyu setelah dari pagi menatap layar komputer. Rambutku acak-acakan, aku benar-benar tidak sempat sekedar bersisir. Senyum? Aku sudah tidak kuat lagi mengangkat sudut bibir. Seragam… Aku sama sekali tidak bangga dengan seragamku.

Siapa yang mengirim kartu pos ini? Yang mengagumi rambutku, senyumku, mataku, seragamku? Aku lebih banyak bekerja di ruangan. Hampir tidak pernah bertemu orang selain karyawan kantor. Paling-paling aku keluar ke kantin. Ketemunya ya mereka-mereka.

Kecuali. Di bus. Mungkinkah?

Aku mencoba mengingat-ingat, siapa yang selalu bareng denganku di bis, entah saat berangkat atau saat pulang kerja.

Sama sekali tidak ingat. Aku tidak pernah memperhatikan penumpang lain.

Kulempar kartu pos ke kasur. Juga badanku.

***

Tanggal merah di hari Jumat. Libur tiga hari. Lumayan, bisa pulang tilik Ibuk.

Aku turun dari angkot, berjalan setengah tak sabar melewati gang menuju rumah.

“Mas Pram!”

Sebuah suara memaksaku menoleh.

“Sudah terima kirimanku?” dia bertanya sambil tersenyum manis.

“Ki… Kiriman?”

“Kartu pos… Aku tanya alamat Mas Pram ke Ibuk. Kemarin aku minta tolong Mas Panijo yang sok bersih-bersih kebon itu untuk ngirim ke kantor pos…” dia mengerling.

“Su.. Sudah Tante… Terima kasih… Eh… Anu… Permisi… Saya… Saya ingin segera ketemu Ibuk…”

Dia mengerling lagi. Aku lari.

Ternyata dari Tante Linda, tetangga rumah yang berusia 57 tahun, dan sudah tiga belas tahun menjanda.

ana randha umure seket pitu…
wis meh padha karo yuswane Ibu…

Ayah

Posted: March 19, 2013 in Uncategorized
Tags: ,

untuk prompt #6 di Monday Flash Fiction

Noura menggeliat berusaha lepas dari security. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dia masih sempat berbalik dan berteriak, “Saya sudah mencari Anda bertahun-tahun, Tuan Black. Tiga hari lalu saya melihat Facebook Anda dan menemukan kisah yang sama seperti yang selalu diceritakan Ibu saya.”

Sudah lama Noura mencari orang ini. Yang menurut Ibu adalah ayah sejatinya. Cinta sejati Ibu. Eyang tidak merestui hubungan mereka, karena Handoko adalah keturunan bule Amerika. Eyang ingin Ibu menikah dengan orang Jawa. Noura percaya kata Ibu. Cerita Ibu menjawab pertanyaan hatinya tentang wajahnya yang kebule-bulean. Ayahnya memang putih dan tampan, tapi bukan bule.

Noura gembira ketika Ibu menemukan Handoko di Facebook. Handoko Black, seorang direktur perusahaan forwarding yang mapan. Ibu terlihat lebih ‘hidup,’ dan dia akan segera bertemu ‘ayah’-nya.

***

Kuletakkan seikat bunga di samping nisan lalu duduk berlutut.

“Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku yang mengabaikan ketulusan kasih sayangmu, meski aku yakin, kau tahu aku bukan anak sejatimu. Aku telah membuang waktu bertahun-tahun mencari orang yang sesungguhnya tidak peduli pada Ibu, apalagi aku.”

Aku tidak akan membiarkan Handoko mengulang usahanya yang gagal dua puluh enam tahun yang lalu. Karena Handoko Black ternyata adalah orang yang sama, dengan laki-laki yang menceraikan mama Risma, sahabatnya. Hanya setelah dua tahun menikahinya. Ya, setelah menguras hartanya untuk berfoya-foya dan dengan licik mengambil alih kepemilikan perusahaan.

Aku pastikan Ibu tidak akan jadi penyelamat kebangkrutan Tuan Black. Tidak akan menjadi salah satu dari deretan korbannya. Tidak akan. Aku pastikan.

hasrat membeli

Posted: June 27, 2012 in Uncategorized
Tags:

Aku beli kalau aku pengen. Kadang perlu digoda penawaran, tapi jangan yang sampai bikin ilfil. Makin dipaksa makin ogah.

Pagi ini misalnya, aku baru saja sarapan. Lalu ada yang datang menawari gado-gado. Kujawab dengan sopan, “Maaf Pak, saya baru saja sarapan…”

“Buat siang dong Mbak…”

“Hm… ngga tahu ya Pak, buat siang belum saya pikir nanti mau makan apa…”

“Kenapa harus dipikirkan? Wong sudah di depan mata?”

What the heck? Emang dia ahli giziku, yang menentukan nanti siang aku harus makan apa?”

“Saya lagi ngga pengin gado-gado Pak”

“Ini hari terakhir saya jualan lho Mbak, mulai minggu depan saya ganti usaha…”

Yah good luck dengan usaha barunya, tapi maaf, makanan jualan Bapak tuh ngga terlalu ngangenin. Iya, nggak tega sih ngomong begitu. Jadi aku diemin aja sambil purapura sibuk.

***

Di kantor ada yang rutin setiap… setiap… entah setiap berapa waktu sekali aku juga nggak perhatikan, menawarkan ayam goreng atau ayam bakar. Kalau pas pengin, pas bisa pulang gasik, pas bukan naik bis atau motor, ya aku beli buat lauk di rumah. Pernah aku ditawari, ndilalah pas malam sebelumnya sudah masak ayam, jadi aku tolak. Lain waktu ditawari, pas habis masak ayam juga. Lain waktu ditawari lagi, aku pas mau ada acara, jadi takut ngga enak kalau dibawa pulang udah malam.

Lalu suatu hari si Bapak menawari lagi. Kayanya sih aku lagi ngga mood beli-beli karena emang lagi butek dengan kerjaan. Eh si Bapak ini bilang, “Mbak, udah lama ngga beli di saya…”

What? Spontan aku jawab, “Emang wajib ya Pak, saya beli ayam di njenengan?”

Sebenarnya itu sudah momen aku mulai ogah beli ayam di Bapak itu. Beberapa waktu setelah itu setiap kali dia menawari, aku menggeleng dan tersenyum dan dia pergi. Eh kemarin pagi, dia datang lagi. Karena kupikir dia sudah mengerti bahwa tanpa dipaksa aku akan beli kalau aku pengin, jadi aku lagi-lagi menggeleng dan tersenyum. Emang lagi ngga pengin tanpa alasan tertentu.

Eh, ini  katanya, “Ayo dong Mbak, kan nanti Mbak mau dapet gaji ke-13. Saya diciprati dong…”

Buset. Aku aja ngga tahu kalau gaji ke-13 mau dibagi hari itu.

“Bapak ini tahu dari mana saya mau dapet gaji ke-13, kaya njenengan bendaharanya…”

“Ya… kan saya tadi ketemu bendaharanya mau ke bank ambil gaji ke-13… Gimana Mbak? Beli ya?”

“Nggak!”

Jadi ya, yang sebenarnya aku udah melupakan ‘kesalahan’ dia yang dulu memaksa beli karena aku lama ngga beli, tapi jadi males tambah males beli ke dia. Apalagi bawa-bawa gaji ke-13. Gaji ke-13 itu kan hak-ku. Terserah aku mau kupakai untuk apa. Bukan dia yang atur untuk sebagian buat beli ayam di dia. Dia mana tahu aku punya keperluan yang sudah kucadangkan pakai uang itu? Dan mosok aku harus menjelaskan? Menurutku pemaksaan orang ini sudah sampai ke taraf tidak sopan.

***

Kurasa Bapak penjual ayam itu ya ngga akan baca sih tulisan ini. Dan iya, aku ngerti itu usaha mereka menawarkan dagangannya. Tapi orang menawarkan dagangan itu mbok ya mikir itu efeknya ke orang yang ditawari bagaimana…

Yang Tertinggal

Posted: June 20, 2012 in Uncategorized

Ada yang tertinggal
Tatap mata sesayu rembulan
Bisik selirih desau angin

Dan getaran teredam sedahsyat gempa

pingpong

Posted: June 8, 2012 in Uncategorized

Setahun sekali setiap tahun selama bekerja di kantor yang sekarang ini (iya, ga ada kantor yang lain…) aku dengan sangat terpaksa menjadi atlet tenis meja. Bukan karena jago, tapi karena yang lain lebih ndak bisa. Err… lebih tepatnya ndak mau. Sedang aku, aku lebih suka yang begini dari pada ngadep berkas kerjaan…

Sebenarnya aku ya bisa-bisaan aja. Karena dulu Bapak sedia meja pingpong di rumah. Juga bet dan bolanya. Siapa saja boleh main, setiap hari, setelah jam tiga sore sampai maghrib. Kalau malam minggu habis maghrib sampai jam sepuluh. Dan yang datang lebih banyak lagi.

Rame banget waktu itu. Aku dan teman-teman sebaya. Adik-kakak angkatan satu-dua-tiga tahun. Dan seingatku, aku satu-satunya cewek yang tiap sore ikut nyabet bola, jejingkrakan dan bersorak.

Tidak bisa kuingat kapan tepatnya, keriuhan meja ping pong itu berangsur angsur hilang. Satu persatu dari kami kuliah di kota lain. Dan tidak ada adik-adik kami yang melanjutkan keasyikan yang menyehatkan itu. Pingpong mulai digantikan demam nintendo. Bahkan rokok dan alkohol…

Aku pernah bercita-cita, punya meja pingpong di rumah. Dan membebaskan anak-anak di lingkungan main setiap hari. Tapi rumah kami sungguh terlalu sempit untuk itu…

***

Aku sedang mengenang saat aku gegar otak karena kegeblag terpeleset ketika mengejar bola (ya, mungkin itu penjelasan kenapa aku ini sering error). Aku sedang mengenang game yang panjang: 21 dan bukan 11. Aku mengenang pindah bola yang setiap kelipatan lima dan bukan dua. Aku sedang mengenang deuce, last one, salah kamar, net.

Aku sedang mengenang mati ganti, ketika kami terlalu banyak dan main dengan set penuh akan membuat yang lain tidak kebagian waktu.

Aku sedang mengenang mas Ari. Mas budi. Wahyu. Parno. Ninu. Nanang. Gatot. Sipur. Dan adiknya Nanang itu, siapa? Didik? Ah bukan, Didik itu putranya pak Keman, adiknya Mbak Dwi.

Aku sedang mengenang kesenangan yang langka.

Apa kabar kalian?

Kegilaan yang Merepotkan

Posted: May 31, 2012 in Uncategorized

Keputusan Gubernur tentang pakaian dinas PNS di lingkup provinsi yang mengharuskan memakai lurik di hari Rabu dan batik di hari Kamis dan Jumat itu, adalah Kepgub favoritku. Awalnya aku masih menjahit baju dengan model-model semi blazer, semi jacket. Tapi lama-lama muncul ide untuk bikin model yang aneh-aneh.

Penjahit langgananku itu, sebenarnya bagus jahitannya, dan enak jatuhnya di badan. Tapi sering sok tahu dan suka mikir sendiri, beda dengan yang kumau.

Sudah ngukur langsung lingkar perutku, eh pas jahit dia mikir ‘mosok perut sekecil ini? aku salah ngukur kali ya?’ Lalu ditambahin lah lingkar perutnya, dan kedodoran lah jadinya waktu kupakai.

Aku pengen bikin krah yang asimetris habis. Kanan gede kiri kecil, lalu miring. Waktu nggambar sudah dijelaskan (perasaanku sih) sejelas-jelasnya. Eh pas udah jadi, beda ukuran kerahnya nanggung. miringnya juga dikit. Jadinya kaya baju salah potong.

Aku pasang tumpal lurik di satu sisi badan, dia protes, katanya tumpal harus dipasang seimbang kanan kiri. Siapa yang mengharuskan????  Seimbang bukan berarti harus persis dicerminkan. Coba kamu berdiri sambil mengangkat kaki kanan, lalu membentangkan tangan kiri. Seimbang kan? Tapi asimetris kan?

Mungkin si mas ini ahli memotong dan menjahit, tapi daya imajinasinya harus dikembangkan lagi kayanya. Lama lama sih akhirnya dia manut aja. Seperti misalnya menabrakkan dua motif batik yang warnanya kontras. Memasang kancing segede piring di dada (oke ini lebay). Memasang sabuk yang cuma nempel di depan. Semuanya menurut dia aneh. Tapi dia tetep kerjakan.

Terakhir kemarin, aku sudah bawa gambar dari rumah. Maksudku tinggal nempel aja di bukunya, lalu dikasih keterangan di sana sini. Eh dia malah bikin gambar sendiri. Oke deh. Tapi keterangan yang dia cantumkan itu beda dengan yang aku mau. Misalnya aku bikin kerut dia bikinnya ploi. Katanya ‘biasanya bagian saku itu dikasihnya ploi, bukan kerut.’

Haloooo… ya itu lah gunanya aku bawa gambar sendiri. Aku mau bikin yang ngga biasanya. Maksudku biar cepet, tinggal baca gambarku. Eh karena dia masih kebawa ‘biasanya’ jadinya malah lama, pake eyel-eyelan dulu.

***

Jadi sepertinya aku harus memaksa diri beli mesin jahit. Dan mulai menjahit lagi. Supaya bisa bikin baju segila apa pun yang kumau.