<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>kata dan rasa</title>
	<atom:link href="http://katadanrasa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://katadanrasa.wordpress.com</link>
	<description>hanya kata-kata biasa dari segala rasa yang tak biasa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2009 22:20:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='katadanrasa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b722f39ac5d5fa1dc51fc62db59eea9d?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>kata dan rasa</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>pelajaran ambles bumi</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/11/06/pelajaran-ambles-bumi/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/11/06/pelajaran-ambles-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 22:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kata hati]]></category>
		<category><![CDATA[sepenggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/?p=831</guid>
		<description><![CDATA[gamelan manggaung. Antareja datang dengan gagah kepadaku. bukan pencilakan seperti Buta Cakil atau lemah lembut seperti Janaka.
&#8216;kau mengundangku,&#8217; sapanya
&#8216;harusnya aku yang datang padamu, maaf. tapi aku terlalu malu&#8217;
dia tersenyum menenangkanku, &#8216;tak mengapa. apa yang bisa kubantu?&#8217;
aku menghela nafas panjang. diam panjang. Antareja menunggu. ah, betapa para tokoh wayang telah terbiasa berlarat-larat&#8230;
&#8216;aku,&#8217; aku memulai, &#8216; ingin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=831&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>gamelan manggaung. Antareja datang dengan gagah kepadaku. bukan pencilakan seperti Buta Cakil atau lemah lembut seperti Janaka.</p>
<p><em>&#8216;kau mengundangku,&#8217;</em> sapanya<br />
<em>&#8216;harusnya aku yang datang padamu, maaf. tapi aku terlalu malu&#8217;</em></p>
<p>dia tersenyum menenangkanku,<em> &#8216;tak mengapa. apa yang bisa kubantu?&#8217;</em></p>
<p>aku menghela nafas panjang. diam panjang. Antareja menunggu. ah, betapa para tokoh wayang telah terbiasa berlarat-larat&#8230;</p>
<p><em>&#8216;aku,&#8217;</em> aku memulai,<em> &#8216; ingin ditelan bumi. tapi aku tidak bisa mengumpulkan harta sebanyak Qarun, terlebih dalam waktu singkat. sedang aku ingin ditelan bumi cepat. lagi pula, aku tidak yakin aku bisa sekikir ia.&#8217;</em></p>
<p>Antareja mengernyitkan alis,<em> &#8216;lalu?&#8217;</em></p>
<p><em>&#8216;aku,&#8217;</em> kataku lagi,<em>&#8216; sebenarnya ingin belajar ambles bumi padamu. tapi aku tidak yakin itu perlu. bukan pelajarannya yang aku butuhkan. aku hanya ingin ditelan bumi, itu saja. jadi aku hanya ingin kau tarik aku ambles bersamamu, setelah itu kau boleh muncul lagi ke permukaan. tapi tinggalkan aku di perut bumi terdalam yang bisa kau jangkau&#8217;</em></p>
<p>Antareja tertawa membahana. aku bersabar menunggu selesainya. mungkin dia akan menari dulu, atau nembang.</p>
<p>dia berhenti.</p>
<p><em>&#8216;aku tidak ingin tahu alasanmu,&#8217;</em> katanya,<em>&#8216;tapi seharusnya kau tidak memanggil aku. dan tidak perlu pula kau masuk ke perut bumi terlalu dalam. gali saja kuburmu, berbaringlah di dalamnya. dan mintalah seseorang menimbunkan tanahnya di atasmu&#8230;&#8217;</em></p>
<p>aku bisu.</p>
<p>gamelan menggaung. Antareja mengangkat sebelah kaki tinggi, lalu ambles dia ke bumi. meninggalkan aku.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/831/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/831/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/831/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=831&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/11/06/pelajaran-ambles-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Genderuwo</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/24/genderuwo/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/24/genderuwo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 00:29:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/24/genderuwo/</guid>
		<description><![CDATA[*seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 30, tanggal 24-30 Oktober 2009*

Matahari baru saja menyapa dhuha. Net berjalan agak terburu melintasi depan rumah Mbah Mis.
“Net! Kenapa kamu terburu-buru begitu? Dari mana?” tanya Mbah Mis setengah berteriak dari beranda rumahnya.
Net berhenti, sesaat menengok ke kanan, ke kiri, ke belakang. Diam sebentar, lalu memutuskan untuk mampir. Dia duduk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=829&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>*<em>seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 30, tanggal 24-30 Oktober 2009*<br />
</em></p>
<p>Matahari baru saja menyapa dhuha. Net berjalan agak terburu melintasi depan rumah Mbah Mis.</p>
<p>“Net! Kenapa kamu terburu-buru begitu? Dari mana?” tanya Mbah Mis setengah berteriak dari beranda rumahnya.</p>
<p>Net berhenti, sesaat menengok ke kanan, ke kiri, ke belakang. Diam sebentar, lalu memutuskan untuk mampir. Dia duduk di samping Mbah Mis di lincak.</p>
<p>“Dari tempat Lik Tuk, Mbah.”</p>
<p>“<em>Selak ngapa,</em> kok <em>playon</em> gitu?”</p>
<p>“Ah, bukan <em>selak</em> apa-apa. Saya pengin cepet sampai rumah. Mau mandi, lalu balik ke tempat Lik Tuk lagi.” Dia diam sebentar lalu melanjutkan, “E… saya&#8230; barusan memandikan jenasah bayinya Rim, Mbah.”</p>
<p>“Inna lillah! Bayi? Bayi apa? Kapan lahirnya kok tiba-tiba sudah ada jenazahnya? Kapan Rim hamil?” Mbah Mis memberondong Net dengan pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba memberondong kepalanya.</p>
<p>“Saya tidak tahu Mbah.” Net mendesiskan istighfar beberapa kali lalu melanjutkan, “Bayinya laki-laki Mbah. E… anu… ah… . Sekujur tubuhnya penuh rambut. Lebat.”</p>
<p>Mbah Mis menutup mulutnya yang ternganga lebar dengan telapak tangan kanannya. Badannya gemetar. Matanya tak berkedip menatap Net. Penuh tanda tanya tapi tidak jelas juga apa pertanyaannya.</p>
<p>Net berdiri, “Saya pulang dulu, Mbah. Kalau Mbah mau layat ke sana, nanti saya ampiri.”<br />
<span id="more-829"></span><br />
***</p>
<p>Sekitar delapan-sembilan bulan yang lalu, Rim hilang tiga hari lamanya. Seisi dukuh ikut mencari hingga ke dalam hutan. Bahkan beberapa pemuda dari dukuh tetangga juga membantu. Ada yang mengusulkan untuk meminta bantuan orang pintar, tapi Tuk menolak. Dia juga tidak mau lapor ke polisi. Katanya, nanti saja kalau sampai seminggu tidak ketemu, dia akan melakukan dua-duanya sekaligus: meminta tolong orang pintar dan polisi.</p>
<p>Hari ketiga hilangnya Rim, sore hari menjelang maghrib, semua orang baru saja pamit. Tuk juga baru saja masuk rumah setelah mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka. Tiba-tiba Tuk keluar lagi dan berteriak, “Rim sudah pulang! Rim sudah pulang!”</p>
<p>Kontan semua orang berbalik mendatangi rumah Tuk lagi. Ribut, tentu saja. Tuk meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, meminta semuanya tenang.</p>
<p>“Maaf, tapi tolong jangan ribut. Saya tidak ingin Rim terganggu, sepertinya dia agak linglung,” katanya.</p>
<p>“Benar dia sudah pulang? Di mana dia sekarang?” tanya Pak Bayan.</p>
<p>“Di dalam, Pak. Di kamar. Tadi saya ke belakang, mau langsung mandi. Saya lihat Rim masuk dari pintu belakang. Masih pakai baju yang dia pakai empat hari yang lalu. Badannya bersih, rambutnya juga rapi. Saya salah juga, saya rasa. Saya langsung menanyai dia dari mana saja, sama siapa, ngapain. Dia malah nangis. Jadi saya pikir sebaiknya dia beristirahat dulu di kamar, biar tenang. Nanti akan saya tanya pelan-pelan.”</p>
<p>“Boleh saya ketemu dia? Saya saja, yang lain biar di sini,” pinta Pak Bayan.</p>
<p>Tuk diam sebentar sebelum akhirnya berkata, “Mari saya antar masuk, Pak Bayan. Mohon maaf, yang lain. Saya tidak mau membuat Rim tambah gelisah.”</p>
<p>Pak Bayan hanya dipersilakan mengintip dari celah pintu, untuk melihat bahwa Rim benar-benar sudah pulang. Tanpa suara Pak Bayan mendekatkan wajahnya dan mengintip ke dalam. Dalam remang lampu bolam lima watt tampak Rim sedang duduk di kasurnya memeluk lutut. Seperti kata Tuk, rambutnya terikat rapi. Wajahnya berlinang air mata.</p>
<p>Mereka keluar lagi. Dari corong masjid sudah terdengar adzan, tapi orang-orang masih menunggu., rupanya tidak bisa menahan penasaran.</p>
<p>“Iya, saya lihat dia. Sebaiknya kita pulang dulu. Biarlah Rim agak tenang. Nanti Lik Tuk saja yang meminta penjelasan pelan-pelan,” jelas Pak Bayan.</p>
<p>“Iya betul. Saya mohon maaf sudah merepotkan berhari-hari. Terima kasih banyak. Saya juga bingung apa yang terjadi. Nanti kalau Rim sudah mau bicara, insya Allah akan saya beritahu semua, apa yang nanti diceritakan Rim. Maaf, maaf sekali lagi. Terima kasih, terima kasih banyak semuanya,” Tuk sampai membungkuk-bungkukkan badannya dalam-dalam menegaskan permintaan maaf dan hatur terima kasihnya.</p>
<p>Esok harinya tersebar berita. Selama tiga hari hilang, Rim bisa melihat semua orang yang mencarinya. Dia ingin memanggil dan memberi tahu bahwa dia baik-baik saja, tapi tidak ada  yang melihat ke arahnya atau mendengar suaranya. Kata Rim, menurut Tuk, dia diajak pergi  oleh seorang pria gagah tampan, pergi ke sebuah keraton yang megah dan indah&#8230;<!--more--></p>
<p>***</p>
<p>Rim adalah putri tunggal Tuk. Hanya dengan dia seorang juga Tuk tinggal, semenjak istrinya meninggal karena demam berdarah tiga tahun yang lalu. Mereka tinggal di pinggir selatan desa. Paling pinggir, di kaki bukit, dekat dengan hutan.</p>
<p>Rim berusia 16 tahun. Dua tahun yang lalu baru lulus SD. Semua orang tahu Rim bukan anak pandai dan pernah beberapa kali tinggal kelas. Bahkan menurut kabar yang beredar, sebenarnya diluluskan karena gurunya sudah tidak sabar lagi mengajar dia.</p>
<p>Sekitar dua tahun belakangan ini, Rim menjadi sangat pendiam dan tertutup. Jarang sekali keluar rumah, bahkan hampir tidak pernah. Jarang sekali keluar rumah. Awalnya teman-teman gadisnya masih sering main ke rumahnya. Tapi Rim benar-benar kehilangan keceriaannya, sehingga lama-lama mereka pun menjadi sungkan. Tidak ada yang berani bertanya kepada Tuk atau Rim sendiri apa yang terjadi.</p>
<p>Tuk pernah mengeluhkan perubahan yang terjadi pada anaknya itu kepada Dhe To, tetangga terdekat dengan rumahnya. Kata Tuk, Rim berubah menjadi seperti itu sejak cintanya ditolak oleh Kus, putra Pak Lurah yang saat ini sedang kuliah di Solo.</p>
<p>Sejak kejadian hilangnya dia selama tiga hari itu, orang hampir tidak pernah lagi melihat Rim keluar rumah.</p>
<p>***</p>
<p>Net dan Jan duduk di lincak depan rumah Mbah Mis. Mbah Mis duduk di <em>rolakan</em>, bersandar pada tiang. Mereka baru saja pulang dari melayat ke rumah Tuk. Banyak yang ingin mereka bicarakan. Tapi ketiganya terlalu takut salah bicara.</p>
<p>“Apa <em>Njenengan</em> juga menduga seperti saya Mbah?” Jan membuka suara.</p>
<p>“Menduga apa? Aku tidak berani menduga apa-apa. Kalau kulahirkan jadi pembicaraan tapi ternyata keliru, malah nanti aku yang kesalahan.”</p>
<p>“Ah, Mbah. Ini antara kita saja. Kita <em>ngudarasa</em> saja, sekedar supaya tidak <em>mbedhedheg</em> dalam hati.”</p>
<p>Net menyambung, “Terus terang saya agak merinding kalau memikirkan hal ini. Tadi pagi ketika saya memandikan bayi itu, badan saya gemetaran. Padahal belum pernah saya begitu sebelumnya. Saya juga tidak berani komentar apa-apa. Rim juga diam saja tidak bisa ditanya. Saya hanya sempat menanyakan ke Lik Tuk kapan lahirnya, kapan meninggalnya.”</p>
<p>“Apa kata Tuk?” tanya Mbah Mis.</p>
<p>“Ya, seperti yang dibicarakan orang-orang tadi. Beberapa saat menjelang maghrib Lik Tuk mendengar suara orang mengetuk pintu rumahnya. Tapi ketika ditengok tidak ada siapa-siapa. Selain itu dia juga mendengar suara beberapa orang yang ribut seperti sedang bergegas melakukan sesuatu, tapi tidak jelas dari mana arah datangnya suara. Dia bahkan sudah mengelilingi rumah berkali-kali. Ketika suara-suara itu hilang, Rim keluar dari kamar membawa mayat bayinya itu&#8230;”</p>
<p>“Jadi, berarti Rim selama ini memang hamil ya? Kita tidak tahu saja, karena memang dia tidak pernah keluar rumah. Sekarang ini, kurang lebih sekitar sembilan bulan sejak kejadian dia hilang tiga hari itu. Iya bukan?” tanya Mbah Mis.</p>
<p>“Mbah, apa bisa manusia punya anak dari makhluk halus?” tanya Jan.</p>
<p>“Hush! Amit-amit jabang bayi. Astaghfirullah. Naudzubillah naudzubillah naudzubillah! Hati-hati kalau bicara  Jan. Wallahu a’lam. Aku tidak tahu.”</p>
<p>“Mbah ini bagaimana? Jadi kenapa Mbah mengajak kita menghitung waktu antara kejadian itu dengan sekarang? Ya pasti itu yang terlintas di kepala saya to Mbah!”</p>
<p>“Sst&#8230; sudah-sudah. Aku tidak mau membicarakan hal ini. Kalian pulang saja sana. Tidak baik menggunjingkan kejadian kematian.”</p>
<p>Jan dan Net berdiri pamit meninggalkan Mbah Mis.</p>
<p>***</p>
<p>Lebaran hari ke tujuh, enam bulan sejak meninggalnya bayi Rim. Nok berencana untuk berangkat ke Jakarta lagi besok. Sore ini dia menyempatkan diri mampir ke rumah Tuk yang hampir terlupa olehnya untuk disungkemi.</p>
<p>Tuk mempersilakan Nok masuk. Nok menyalami Tuk, mengucapkan kalimat ‘maaf lahir batin’ lalu duduk di bangku.</p>
<p>“Maaf Nok. Tidak ada apa-apa. Aku tidak sempat mencari suguhan buat lebaran. Ah, sebenarnya sempat juga, belum tenang memikirkan Rim”</p>
<p>“Rim? Oh iya, saya tidak lihat Rim. Saya mau lahir batin sama dia juga kalau boleh Lik. Di mana dia?”</p>
<p>Tiba-tiba Tuk terisak tertahan.</p>
<p>“Aku tidak tahu apa salah kami Nok, kenapa kejadian seperti ini menimpa Rim lagi.”</p>
<p>“Kejadian apa Lik?”</p>
<p>“Rim hilang lagi Nok, kamu tidak tahu?”</p>
<p>“Tidak Lik. Kapan hilangnya? Kenapa tidak ada yang membantu mencari? Yang saya ingat, dulu Rim pernah hilang tapi tiba-tiba pulang sendiri. Lah kali ini kejadiannya gimana? Kok ngga ada orang cerita?”</p>
<p>Tuk mengusap air matanya, “Hari ini sudah tepat empat puluh hari, Nok”</p>
<p>Nok terkejut bukan kepalang, “Empat puluh hari? Berarti kejadiannya sebelum puasa?”</p>
<p>Tuk mengangguk, “Aku hanya menunggu dia pulang Nok. Dulu dia pergi tiga hari. Sekarang sudah empat puluh hari. Aku tidak tahu masih berapa lama lagi, tapi aku yakin dia akan pulang.”</p>
<p>“Lik Tuk ini bagaimana? Apa Lik tidak khawatir terjadi apa-apa dengan Rim? Dia itu gadis Lik!”</p>
<p>“Aku mengerti kekhawatiranmu, Nok. Tapi aku yakin kamu tidak mengerti apa yang kurasakan. Aku tidak meminta kamu mengerti kok. Biar aku saja yang menjalani semua ini.”</p>
<p>Nok memang tidak habis pikir. Tapi Tuk benar, dia juga tidak bisa mengerti benar apa yang dirasakan Tuk. Jadi dia memilih untuk pamit, “Semoga Rim lekas pulang Lik. Saya pamit, besok mau berangkat dagang lagi ke Jakarta. Doakan saya selamat.”</p>
<p>“Ya Nok. Terima kasih. <em>Donga dinonga</em> ya”</p>
<p>***</p>
<p>Tuk mengantar Nok sampai ke pagar lalu menutup pintu. Air matanya mulai mengalir lagi ketika dia memasuki kamar Rim. Sambil terisak tertahan dia duduk di kasur Rim.</p>
<p>Saat dia menyadari Rim hamil tahun lalu, dengan mudah dia membuat cerita ‘Rim hilang dibawa jin’. Warga desa ini masih sangat percaya hal-hal tahyul dan mistis. Tuk sengaja menyuruh Rim bersembunyi di dalam rumah. Semua orang percaya bahwa Rim memang hilang dan menyebar mencari ke hutan, tidak ada satu pun yang mencari di dalam rumah. Sebenarnya dia ingin Rim ‘hilang’ lebih lama lagi. Tapi setelah tiga hari, Rim sudah tidak tahan dan mengancam akan berteriak. Terpaksa Tuk menerima tawaran Rim untuk membiarkan dia ‘pulang’. Setidaknya dia sudah berhasil membuat orang berpikir bahwa bayi yang dilahirkan Rim adalah anak genderuwo. Lebih baik begitu.</p>
<p>Kali ini sebenarnya Tuk ingin memakai cara itu lagi. Tapi Rim tidak bisa lagi diajak tawar-menawar. Dia tidak mau lagi pura-pura hilang. Dia tidak mau lagi disuruh mengurung diri di rumah. Dia mengancam akan memperlihatkan diri dan membiarkan orang tahu dia hamil. Dia akan menceritakan siapa bapak bayi di perutnya, yang juga bapak bayinya yang mati enam bulan lalu. Bapak yang membekap hidung dan mulut bayi itu hingga mati. Rim benar-benar sudah tidak peduli aib. Ancaman bunuh dari Tuk tidak mempan lagi. Bahkan ketika Tuk mengacungkan arit di hadapannya, Rim malah menyodorkan lehernya.</p>
<p>“Bunuh saja. Bunuh saja aku Pak! Aku lebih baik mati daripada hidup seperti ini!”</p>
<p>Tuk kalap. Walaupun jarak rumahnya dengan tetangga terdekatnya tidak kurang dari dua ratus meter, dia khawatir teriakan Rim akan semakin keras. Atau barangkali apes ada orang lewat. Dan arit itu pun terayun.</p>
<p>Untuk waktu yang cukup lama, entah sampai kapan, dia tidak akan mendekati grumbul di pojok selatan ladangnya, tempat dia mengubur Rim. Dia akan melepas rindu pada Rim di sini saja, di kamarnya&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/829/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/829/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/829/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=829&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/24/genderuwo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>walau kau sakiti aku tetap cinta, walau kau siksa aku tetap rindu&#8230;.</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/22/walau-kau-sakiti-aku-tetap-cinta-walau-kau-siksa-aku-tetap-rindu/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/22/walau-kau-sakiti-aku-tetap-cinta-walau-kau-siksa-aku-tetap-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 03:36:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[piano]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Ungu – Dilema Cinta
Seberapa salahkah diriku
Hingga kau sakiti aku begitu menusukku
Inikah caramu membalas
Aku yang selalu ada saat kau terluka
Seberapa hinanya diriku
Hingga kau ludahi semua yang ku beri untukmu
Tak ada satu pun perasaan yang mampu membuatku begitu terluka
Namun ku terlanjur mencintai dirimu
Terlambat bagiku pergi darimu
Bagiku terlalu indah perasaan itu
Tak mudah untukku menjauh darimu
Telah ku coba segala [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=827&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Ungu – Dilema Cinta</strong></p>
<p>Seberapa salahkah diriku<br />
Hingga kau sakiti aku begitu menusukku<br />
Inikah caramu membalas<br />
Aku yang selalu ada saat kau terluka</p>
<p>Seberapa hinanya diriku<br />
Hingga kau ludahi semua yang ku beri untukmu<br />
Tak ada satu pun perasaan yang mampu membuatku begitu terluka</p>
<p>Namun ku terlanjur mencintai dirimu<br />
Terlambat bagiku pergi darimu<br />
Bagiku terlalu indah perasaan itu<br />
Tak mudah untukku menjauh darimu</p>
<p>Telah ku coba segala cara<br />
‘Tuk bahagiakan kamu<br />
Merebut hatimu<br />
Namun tak semudah yang ku bayangkan<br />
Bila kau tak inginkan ku ’tuk di sisimu</p>
<p>Tak pernah kurasakan sebelumnya<br />
Menginginkan dirinya hingga ku tak kuasa<br />
Meyakini hatiku bahwa ku mampu berlalu</p>
<p>Namun ku terlanjur mencintai dirimu<br />
Terlambat bagiku pergi darimu<br />
Bagiku terlalu indah perasaan itu<br />
Tak mudah untukku menjauh darimu</p>
<p>Namun ku terlanjur mencintai dirimu<br />
Terlambat bagiku pergi darimu<br />
Bagiku terlalu indah perasaan itu<br />
Tak mudah untukku menjauh darimu</p>
<p>****<br />
<span style="font-size:xx-small;">pak *e** di E*****, pengen deh ketemu njenengan lagi.  iringi aku nyanyi lagu ini gitu&#8230;</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/827/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/827/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/827/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/827/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/827/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/827/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/827/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/827/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/827/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/827/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=827&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/22/walau-kau-sakiti-aku-tetap-cinta-walau-kau-siksa-aku-tetap-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Loenpia Ultah Ke-4</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/15/loenpian-ultah-ke-4/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/15/loenpian-ultah-ke-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 03:35:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[*sebuah postingan jujur seorang anggota bau kencur*
Selamat Ulang tahun&#8230;
Loenpia Hebat:
- Force
- 1000 Buku
- Kegiatan sosial
Loenpia Ngambang:
- di mana posisi kita di Semarang?
- sudahkah kita bisa ngumbulke Semarang?
Loenpia Tanda Tanya:
- komunitas blogger katanya. tapi yang aktif ngeblog hanya sebagian saja&#8230;
Loenpia Lucu:
- milis obat duka
hah&#8230;

NGERI THOK NDHA&#8230;!!!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=821&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>*sebuah postingan jujur seorang anggota bau kencur*</p>
<p>Selamat Ulang tahun&#8230;</p>
<p>Loenpia Hebat:<br />
- Force<br />
- 1000 Buku<br />
- Kegiatan sosial</p>
<p>Loenpia Ngambang:<br />
- di mana posisi kita di Semarang?<br />
- sudahkah kita bisa ngumbulke Semarang?</p>
<p>Loenpia Tanda Tanya:<br />
- komunitas blogger katanya. tapi yang aktif ngeblog hanya sebagian saja&#8230;</p>
<p>Loenpia Lucu:<br />
- milis obat duka</p>
<p>hah&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-825" title="4th" src="http://katadanrasa.files.wordpress.com/2009/10/4th.png?w=208&#038;h=341" alt="4th" width="208" height="341" /></p>
<p style="text-align:center;">NGERI THOK NDHA&#8230;!!!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/821/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/821/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/821/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=821&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/15/loenpian-ultah-ke-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://katadanrasa.files.wordpress.com/2009/10/4th.png" medium="image">
			<media:title type="html">4th</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>wis kejeron&#8230;.</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/10/wis-kejeron/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/10/wis-kejeron/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 21:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[kata hati]]></category>
		<category><![CDATA[poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/10/wis-kejeron/</guid>
		<description><![CDATA[tak ranggeh ora tekan
banjur kepiye anggonku arep mbuang?
wis kesuwen
tak kerok ora ilang
kelet ngoyot ngethel
wis kebacut
tresna iki wisa
tanpa tamba
ora marakake mati
amung agawe
mati
rasa
lan iku luwih nyiksa&#8230;.
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=820&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>tak ranggeh ora tekan<br />
banjur kepiye anggonku arep mbuang?</p>
<p>wis kesuwen<br />
tak kerok ora ilang<br />
kelet ngoyot ngethel</p>
<p>wis kebacut</p>
<p>tresna iki wisa<br />
tanpa tamba<br />
ora marakake mati<br />
amung agawe<br />
mati<br />
rasa</p>
<p>lan iku luwih nyiksa&#8230;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/820/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/820/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/820/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=820&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/10/10/wis-kejeron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Wine&#8230;.</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/25/the-wine/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/25/the-wine/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 11:38:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/?p=811</guid>
		<description><![CDATA[




Berdua kita termangu di depan pintu.
“Kita masuk atau tidak?” tanyaku.
“Aku ragu,” jawabmu.
Lalu untuk beberapa lama kita berdiam saja di situ membisu.
“Kurasa tidak mengapa kita masuk,” katamu memecah bisu.
“Sungguh?” aku tidak tahu apakah aku senang atau bertambah ragu. Kau tampak seperti tidak yakin juga.
“Ya, asal kita yakin kita bisa menjaga diri di dalam sana”
Maka perlahan kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=811&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div class="mceTemp">
<dl class="wp-caption alignleft">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-812" title="2GlassWineRed" src="http://katadanrasa.files.wordpress.com/2009/09/2glasswinered.jpg?w=172&#038;h=300" alt="2 glasses of red wine" width="172" height="300" /></dt>
</dl>
</div>
<p>Berdua kita termangu di depan pintu.</p>
<p>“Kita masuk atau tidak?” tanyaku.<br />
“Aku ragu,” jawabmu.<br />
Lalu untuk beberapa lama kita berdiam saja di situ membisu.<br />
“Kurasa tidak mengapa kita masuk,” katamu memecah bisu.<br />
“Sungguh?” aku tidak tahu apakah aku senang atau bertambah ragu. Kau tampak seperti tidak yakin juga.<br />
“Ya, asal kita yakin kita bisa menjaga diri di dalam sana”</p>
<p>Maka perlahan kita melangkahkan kaki. Merasa gamang dan asing di dunia yang bukan punya kita.<br />
“Kita… apakah menurutmu kita telah menjadi salah satu di antara mereka?” tanyaku, karena aku sebenarnya tidak seberani itu menjadi begitu.<br />
“Bukan. Berada di tengah mereka bukan berarti kita telah menjadi seperti mereka”<br />
“Tapi kita bergerak seperti mereka”<br />
“Gerakan yang sama tak selalu bermakna sama. Jika kulambaikan tangan di atas kepalaku, mungkin aku sedang memanggil seorang di kejauhan. Mungkin pula sebenarnya aku sedang mengucapkan selamat jalan.”<span id="more-811"></span></p>
<p>Kubiarkan kau raih tangan dan menuntunku. Aku sama sekali belum pernah ke sini. Demi Tuhan. Dulu aku pernah menapakkan selangkah kaki tapi lantas kabur melarikan diri. Hiruk-pikuk dan aromanya membuatku ngeri. Kau yang pernah. Sebentar, katamu. Dengan seorang yang telah terbiasa. Tapi katamu kau tidak nyaman bersamanya, dan pergi meninggalkannya.</p>
<p>Oh well, setidaknya kau tahu jalannya. Jadi aku menurut saja. Aku percaya padamu, aku percaya. Kau selalu menunjukkan kau bisa dipercaya.</p>
<p>Di dekat sebuah meja kau berhenti, “Kita duduk di sini saja.”<br />
Aku menurut.<br />
“Kau mau memesan?” tanyamu.<br />
“Aku tak tahu harus memesan apa. Di sini ada apa?”<br />
Seorang datang membawa daftar apa yang bisa dipesan. Aku menelan ludah. Tidak ada yang bisa kupesan.<br />
“Dua red wine,” katamu. Dan pergilah dia mengambil yang kau minta.<br />
“Tapi… aku… aku tidak bisa…”<br />
“Psstt…. Jangan khawatir. Memesannya bukan berarti meminumnya. Kita harus memesan sesuatu supaya bisa duduk di sini.”<br />
“Baiklah.”</p>
<p>Dan suara-suara mulai terdengar biasa di telinga. Belum ternikmati, namun tidak lagi menyakit. Aroma-aroma mulai tercium terbiasa di hidung kita. Belum ternikmati, namun tidak lagi menusuk.</p>
<p>Dua gelas anggur di meja, tepat di depan kita.<br />
“Kenapa kau tidak mau?” kau menyentuh satu dan bertanya kepadaku.<br />
“Bukankah… itu… tidak boleh?”<br />
“Jadi belum pernah?”<br />
Aku menggeleng.<br />
“Tidak ingin mencoba?”<br />
“Please. Bukankah tadi kau berjanji kita hanya akan memesannya supaya kita boleh duduk di sini?”<br />
Akhirnya kau letakkan kembali. Dan kembali berdua kita hanya memandang ke sekeliling ruangan. Lalu saling berpandang. Membuang lagi. Begitu berulangkali.</p>
<p>Entah kenapa tiba-tiba aku ingin mambaui aroma wine itu. Kuraih dan kubawa ke depan hidungku. Aku tersengal. Tubuhku bergoyang, wine di dalam gelas itu tertumpah sedikit ke bajuku.<br />
Sigap kau meraihnya dari tanganku dan meletakkannya di meja. Lalu mengambil tisu dan mengeringkan tumpahan wine di bajuku.<br />
“Tidak akan bisa hilang,” aku panik.<br />
“Pssst…. Jangan panik. Lama-lama akan hilang. Lagi pula, tumpahnya di tempat yang agak terlipat. Kalau kau berdiri dan berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa, orang tidak akan memperhatikan ke sana. Jadi bersikaplah seperti biasa.”<br />
Kuatur nafasku dan berusaha seolah tidak terjadi apa-apa.<br />
“Baunya menyengat, tapi manis, harum, atau… apa namanya?”<br />
“Kenapa meributkan apa namanya? Kau tidak pernah peduli itu merah atau jingga, hijau atau biru muda. Kau akan ambil sepanjang kau suka”<br />
“E… Aku hanya… belum pernah membau yang seperti ini sebelumnya.”<br />
Kau raih gelasmu, kau baui, lalu kaucicip sedikit isinya.<br />
Mulutku sudah ternganga ingin melarang. Tapi kau sudah hentikan.<br />
“Kau sudah menyecapnya.”<br />
Kau mengangguk.<br />
“Katamu…”<br />
“Hanya menyecap.”<br />
“Enakkah?”<br />
Kau mengangkat alis.<br />
“Pahit?”<br />
Kau menggeleng.<br />
“Manis?”<br />
“Manis dan yang lain.”<br />
“Apa?”<br />
“Aku tidak tahu namanya.”<br />
Penasaran, aku pun mencoba. Mungkin hanya setetes dua. Mulutku terbakar, tapi bukan tersakiti. Kerongkonganku hangat.<br />
“Mungkin ini tidak berbahaya, asal kita tidak menandaskannya,” kataku.<br />
“Menurutmu begitu?”<br />
Aku meneguk sedikit lebih mantap. Kepalaku serasa dipenuhi kembang api. Kehangatan bukan lagi di kerongkongan, tapi menjalar ke sekujur badan.</p>
<p>Lalu detik merambat merangkaikan setiap percakapan, menautkan seteguk demi seteguk wine di hadapan. Dan setiap teguk menghadirkan sensasi lebih. Aku merasa diayun gelombang. Di ombang-ambing perasaan. Dibuai kenyamanan berlebihan.</p>
<p>***</p>
<p>Kubuka mata perlahan, meringis menahan kepala yang sakit bukan main. Berusaha bangun tapi kepalaku seperti terekat dengan meja. Dadaku seperti dihimpit stoom walls. Sekujur tubuhku seperti daging tanpa tulang.</p>
<p>Suara-suara memekakkan telinga. Menghantam jantung. Frekwensi tinggi beramplitudo besar. Aroma-aroma membuatku mual dan ingin muntah. Kilat cahaya aneka warna bergantian mengiris-iris mata. Dalam tak berdaya kulihat orang-orang masih saja bergerak sambil tertawa. Dan kau&#8230; kau&#8230; kau di mana?</p>
<p>Tiba-tiba tubuhku tegak, serasa hilang menemukan kau tak ada. Aku sendirian. Kukais sisa tenaga untuk berdiri. Seperti membawa rantai berbola besi sepuluh kilogram aku berjalan ke sana kemari. Terhuyung, dikasihani, dimaki.</p>
<p>“Ada yang melihat orang yang tadi bersamaku? Di mana dia? Orang yang memesan anggur merah untuk kami berdua? Di mana dia? Ada yang melihat? Ada yang melihat? Di mana dia?”</p>
<p>Aku merasa sudah berteriak, tapi tampaknya bagi mereka aku tak bersuara. Hanya tatapan tidak mengerti yang membuatku semakin tidak mengerti. Hingga orang yang membawakan anggur  kami menuntunku duduk kembali di meja kita.</p>
<p>“Istirahatlah, Anda boleh pergi meninggalkan tempat ini jika merasa lebih baik nanti,” katanya.<br />
“Orang yang tadi bersamaku, yang memesan anggur yang kau bawakan, di mana dia?” tanyaku.<br />
“Maaf, saya tidak tahu,” dan dia berlalu, kembali sibuk membawakan ini itu untuk para tamu.</p>
<p>Kujatuhkan lagi kepala di meja memejam mata. Aku ingin menangis tapi tidak bisa. Ke mana perginya air mata?<br />
Suara-suara menjadi indah. Denting gelas menjadi bunyi triangle. Detak sepatu adalah bunyi castanet. Desah dan bisik menjelma suara maracas. Gelak tawa seolah choir. Percakapan membentuk lagu. Lalu irama menggandeng nada dan kata merasukiku.</p>
<p><em>Seorang lahir<br />
Seorang mati<br />
Seorang lahir<br />
Seorang mati<br />
Seorang lahir<br />
Seorang mati</em></p>
<p>Aku terbuai.</p>
<p>Kulirik gelasku yang telah benar-benar kosong. Kulirik gelasmu yang masih sedikit bersisa. Kuraih dan biar kuhabiskan.<br />
Kuteguk. Oh, !@#$%^&amp;*. Ternyata gelasmu berisi sirup cocopandan.</p>
<p><span style="font-size:xx-small;">*gambar dipinjam tanpa ijin dari <a href="http://www.dscwellness.com/">sini</a>*</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/811/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/811/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/811/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=811&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/25/the-wine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://katadanrasa.files.wordpress.com/2009/09/2glasswinered.jpg?w=172" medium="image">
			<media:title type="html">2GlassWineRed</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>aku ini dusta</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/10/aku-ini-dusta/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/10/aku-ini-dusta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 03:35:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[kata hati]]></category>
		<category><![CDATA[poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/10/aku-ini-dusta/</guid>
		<description><![CDATA[bapak,
akankah kau maafkan?
atau kau akan malu aku adalah anakmu?
kejujuran yang kau ajarkan
telah membusuk di ujung lidahku
karma yang kau ceritakan
dia akan menimpaku
aku ini sampah
ibu,
akankah kau ampuni?
atau kau akan jijik melihatku lagi?
kesetiaan yang kau ajarkan
telah berjamur di sudut hatiku
ketegaran yang kau tanamkan
dia telah meninggalkanku
aku tersungkur di hadapan kalian
membawa air mata merendam kaki kita
tapi bagaimana aku harus bercerita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=810&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>bapak,<br />
akankah kau maafkan?<br />
atau kau akan malu aku adalah anakmu?<br />
kejujuran yang kau ajarkan<br />
telah membusuk di ujung lidahku<br />
karma yang kau ceritakan<br />
dia akan menimpaku</p>
<p>aku ini sampah<br />
ibu,<br />
akankah kau ampuni?<br />
atau kau akan jijik melihatku lagi?<br />
kesetiaan yang kau ajarkan<br />
telah berjamur di sudut hatiku<br />
ketegaran yang kau tanamkan<br />
dia telah meninggalkanku</p>
<p>aku tersungkur di hadapan kalian<br />
membawa air mata merendam kaki kita<br />
tapi bagaimana aku harus bercerita kenapa?<br />
darah yang lambah-lambah ini<br />
adalah hasil perbuatanku sendiri<br />
tapi bagaimana aku berharap kalian iba?</p>
<p>sakit ini mulai tak tertanggungkan<br />
beban ini mulai tak tertahankan<br />
tapi bagaimana aku berani teriakkan nama kalian untuk kuatkan<br />
sedang aku lah penjahat yang sedang terazab?</p>
<p>bapak<br />
ibu<br />
dengan penuh rasa malu<br />
masih kuberanikan diri<br />
memohon<br />
basuhlah aku.</p>
<p>*belum lagi idul fitri*</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/810/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/810/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/810/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=810&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/10/aku-ini-dusta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bola salju itu&#8230;.</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/04/bola-salju-itu/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/04/bola-salju-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Sep 2009 09:49:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[aku menggelinding di dalamnya
perlahan
bermula di atas bukit
bermula kecil
rolling
rolling
rolling
like a coaster
memicu gairah
memacu adrenalin
berteriak
tertawa
kita bersama, karena kudengar engkau
rolling
rolling
rolling
like a coaster
membesar
besar
sekali
lalu kusadari aku berguling dalam sepi
hanya gemuruh dalam gelombang nada rendah meninggi
merendah lagi
kupanggil kau tiada
ku berteriak kau tak jawab
ku menjerit
&#8230;.
sepi
rolling
rolling
rolling
it&#8217;s not a coaster
menuruni bukit yang terjal berbatu
yang mencuat di antara tebalnya salju
rolling
rolling
rolling
I am alone
semakin cepat
cepat
sekali
berhenti terhantam di dinding [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=808&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>aku menggelinding di dalamnya<br />
perlahan<br />
bermula di atas bukit<br />
bermula kecil</p>
<p>rolling<br />
rolling<br />
rolling<br />
like a coaster</p>
<p>memicu gairah<br />
memacu adrenalin<br />
berteriak<br />
tertawa<br />
kita bersama, karena kudengar engkau</p>
<p>rolling<br />
rolling<br />
rolling<br />
like a coaster</p>
<p>membesar<br />
besar<br />
sekali</p>
<p>lalu kusadari aku berguling dalam sepi<br />
hanya gemuruh dalam gelombang nada rendah meninggi<br />
merendah lagi<br />
kupanggil kau tiada<br />
ku berteriak kau tak jawab<br />
ku menjerit<br />
&#8230;.<br />
sepi</p>
<p>rolling<br />
rolling<br />
rolling<br />
it&#8217;s not a coaster</p>
<p>menuruni bukit yang terjal berbatu<br />
yang mencuat di antara tebalnya salju</p>
<p>rolling<br />
rolling<br />
rolling<br />
I am alone</p>
<p>semakin cepat<br />
cepat<br />
sekali</p>
<p>berhenti terhantam di dinding tebing<br />
berkeping<br />
bola salju itu</p>
<p>aku hancur bersamanya<br />
masih kulihat kau di tengah perjalanan yang kutempuh<br />
sedang berjalan kembali ke arah dari mana mula kau gulingkan<br />
bola salju itu</p>
<p>lalu kusadari kau tidak pernah berguling bersamaku<br />
kau hanya membawa sebatang tongkat kayu<br />
menggiring</p>
<p>bola salju itu<br />
yang aku berguling di dalamnya<br />
menuju kehancuran<br />
kau tinggalkan<br />
sendirian.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/808/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/808/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/808/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=808&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/09/04/bola-salju-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>mulut-mulut terkunci&#8230;.</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/08/31/mulut-mulut-terkunci/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/08/31/mulut-mulut-terkunci/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 01:36:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/2009/08/31/mulut-mulut-terkunci/</guid>
		<description><![CDATA[benak-benak memendam rahasia
hati-hati memendam rasa
&#8230;.
aku dicacah
ditusuk
dirajam
dihempas
&#8230;.
mata-mata menangis
hati-hati menjerit
&#8230;.
benak-benak berdalih
mulut-mulut berdusta
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=806&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>benak-benak memendam rahasia<br />
hati-hati memendam rasa</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>aku dicacah<br />
ditusuk<br />
dirajam<br />
dihempas</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>mata-mata menangis<br />
hati-hati menjerit</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>benak-benak berdalih<br />
mulut-mulut berdusta</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/806/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/806/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/806/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/806/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/806/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/806/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/806/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/806/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/806/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/806/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=806&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/08/31/mulut-mulut-terkunci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>kucium bau ramadhan</title>
		<link>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/08/21/kucium-bau-ramadhan/</link>
		<comments>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/08/21/kucium-bau-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 16:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>latree</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://katadanrasa.wordpress.com/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[wanginya menusuk
aromanya menggairahkan

selamat menjalankan ibadah bulan ramadhan *)
semoga dijauhkan dari kesia-siaan&#8230;




*)bagi yang menjalankan
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=803&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">wanginya menusuk</p>
<p style="text-align:center;">aromanya menggairahkan</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-804" title="marhaban-1" src="http://katadanrasa.files.wordpress.com/2009/08/marhaban-1.jpg?w=300&#038;h=341" alt="marhaban-1" width="300" height="341" /></p>
<p style="text-align:center;">selamat menjalankan ibadah bulan ramadhan *)</p>
<p style="text-align:center;">semoga dijauhkan dari kesia-siaan&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><em><br />
</em><br />
<span style="font-size:xx-small;"><br />
</span></p>
<div style="text-align:center;"><span style="font-size:xx-small;"><em>*)bagi yang menjalankan</em></span></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/katadanrasa.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/katadanrasa.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/katadanrasa.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/katadanrasa.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/katadanrasa.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/katadanrasa.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/katadanrasa.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/katadanrasa.wordpress.com/803/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/katadanrasa.wordpress.com/803/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/katadanrasa.wordpress.com/803/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=katadanrasa.wordpress.com&blog=6360372&post=803&subd=katadanrasa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://katadanrasa.wordpress.com/2009/08/21/kucium-bau-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">latree</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://katadanrasa.files.wordpress.com/2009/08/marhaban-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">marhaban-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>