Acaranya dilaksanakan tanggal 26 Maret 2010 lalu, di lobi perpustakaan IKIP PGRI Semarang. Reportase yang sangat telat.

Teman-teman dari Jurusan Sastra Bahasa Indonesia telah sangat berbaik hati dengan menyelenggarakan diskusi tentang buku sederhanaku itu. Terimakasih pada Bapak Ahmad Rifai dan mas-mas serta mbak-mbak HMJ.
Sebenarnya, adalah suatu hal yang menggrogikan, duduk di depan mahasiswa sastra. Apalagi diminta bicara. Memangnya aku ini apa? Tapi alhamdulillah groginya makin lama makin ilang, terkikis kePDan yang memang aslinya selalu berlebihan *JDHOG!*
Sebagai nara sumber adalah dua dosen di sana, Bapak Harjito dan Ibu Nazla. Menurut Pak Harjito, cerpen-cerpenku punya kekuatan di cara penuturan yang mengalir; bicara detil; dan suspense yang dibangun. Tapi seperti kata banyak ‘pengamat’ yang lain, banyak paragraf boros yang seharusnya dibuang saja. … Terima kasih Pak Jito. Saya menunggu lebih banyak masukan dari Anda.
Ibu (Mbak aja kali… masih muda banget) Nazla beda lagi. Menurut beliau, bukuku itu, ibarat makanan, adalah cemilan. Ringan, tapi menggemukkan. Mau dibilang filosofis kok kesannya berat, padahal di dalamnya sebenarnya banyak filosofi yang diangkat dari kejadian sehari-hari.
Hah Mbak… kata-kata itupun rasanya berat buatku

Audiens diskusi itu, adalah mahasiswa Jurusan Sastra Bahasa Indonesia, aku lupa tanya semester berapa. Mungkin memang diwajibkan datang oleh pak dosen, tapi nyatanya pak dosen sendiri kaget karena yang datang lebih banyak dari yang diharapkan. Oh ya?
Sungguh menyebalkan (menyenangkan) bahwa pertanyaan dari peserta diskusi akhirnya lebih banyak justru ditujukan padaku, dan bukan pada para nara sumber.
Bagaimana proses kreatif terbitnya buku ini?
Bagaimana trik-triknya supaya tidak macet ketika menulis cerpen?
Dari mana ide-idenya muncul?
Katanya ngga suka baca tulisan sastra, tapi kok bisa nulis?
Tidaa..k! Jawabanku pasti ngaco dan ga jelas. Tapi aku paling suka pertanyaan ini: Ada kata-ata jorok ngga di buku itu?
Bwahahaha..! Lha emang kenapa? Aku bingung juga, jawaban apa yang diharapkan. Kalau ada kata joroknya ngga jadi beli? Atau justru kalau ngga ada kata joroknya malah ngga jadi beli?
Jorok or not is in our mind, ya ngga. Tapi kataku sih, aku tidak jorok..
***
Harapanku sih, selain membantu menggelitik minat baca para mahasiswa yang menurut Mbak Nazla masih harus dikatrol lagi, diskusi kemaren itu juga bisa memicu para mahasiswa sastra untuk rajin menulis dan memperkaya dunia sastra Indonesia. Seperti harapan Pak Jito.
Dan above it all, semoga bermanfaat buat banyak pihak.