Menujumu dan Nol Koma Dua Derajat Menyimpang ke Selatan.

Kereta bergerak pelan meninggalkan stasiun awal, sedikit demi sedikit menambah kecepatan. Besok pagi sekitar waktu subuh dia akan berhenti di stasiun akhir. Aku akan punya sedikitnya empat jam sebelum pertemuan yang dijadwalkan. Dan tentu saja semalaman di atas kereta untuk memikirkan apa yang akan kulakukan. Karena aku tahu sekeras apa pun aku mencoba, atau sesantai apa pun, aku tidak akan bisa tidur.

Satu stasiun terdekat terlewati. Aku senang bisa melewatkan waktu dengan berlambat-lambat menyantap nasi ayam cepat saji yang kubeli sebelum naik ke gerbong. Kali terakhir aku naik kereta, menu yang ditawarkan oleh petugas resto menyedihkan. Terpaksa kutelan. Sebagian karena lapar, dan sisanya karena ibuku selalu mengingatkan untuk tidak membuang makanan.

Sekarang apa?

Membuka ponsel. Main game. Cek sosmed di jam yang mulai sepi. Mataku lelah. Membuka buku tidak membantu. Bagaimana kau berharap bisa tidur dengan lampu yang begini benderang? Kupejam mata dan kututup pula dengan selimut. Derak roda kereta di atas rel terdengar seperti suara semen pembungkus ingatan di kepala yang meretak. Tidak. Jangan sekarang. Jangan pernah.

***

“Selamat pagi,” bisikmu lirih.

Tirai jendela sedikit terbuka, membiarkan sebagian sinar matahari mengurangi kegelapan di dalam kamar.

“Masih ngantuk?”

“Hmm…”

“Kamu mau sarapan sekarang apa nanti?”

“Bisa nggak sih kamu nggak usah mikirin mau makan apa? Di bawah banyak orang jual makanan.”

“Aku ndak mau kamu kelaparan.”

“Aku nggak gampang lapar.”

“Mungkin kamu harus kukuras sekali lagi….”

***

Stasiun ketiga. Aku lapar. Gerbong resto hanya berjarak satu gerbong. Tapi membayangkan menunya malah bikin perutku makin sedih. Aku minum beberapa teguk teh manis kemasan botol paketan nasi ayam tadi. Kutekan bantal ke perut agar terasa hangat. Ibu di sebelahku punya keripik kentang yang diselipkan di kantong kursi. Tidurnya nyenyak. Kalau kuambil apa dia akan terbangun?

Uhm. Kantong plastik dan keripik kentang adalah makhluk yang berisik. Aku memilih memejamkan mata lagi.

***

Bunyi Microwave selesai memanaskan lauk. Dia sibuk. Dan aku hanya duduk menikmati teh yang sudah lebih dulu diseduh.

“Aku mau bantu nyiapin sarapan.”

“Ini sudah hampir selesai kok. Nasinya sudah matang. Tinggal mindahin lauk ke mangkok.”

Aku turun dari kursi membuka kulkas.

“Cari apa?”

“Siapa tahu kamu menyimpan perempuan lain di sini.”

Dan aku dapat kecupan kecil di pipi.

Aku menemukan mangga. Kukupas dan kupotong sebisaku.

“Nggak rapi motongnya. Kalau kamu terganggu jangan lihat. Merem aja. Kalau mau makan nanti aku suapin,” kataku.

Tapi dia meraih garpu dan mulai makan sepotong demi sepotong.

***

Stasiun keempat baru saja dilewati. Sepertinya aku sempat tertidur sebentar. Lumayan. Duduk dalam keadaan sadar – dan sesekali terlelap – selama berjam-jam sungguh tidak nyaman. Bahkan dengan reclining seat, selimut dan bantal. Harusnya aku bawa bantal leher. Mungkin bisa bikin lebih nyaman. Mungkin juga tidak.

Aku berdiri meluruskan punggung dan  kaki. Berjalan ke toilet bukan karena ingin buang air kecil, hanya karena supaya sendi-sendiku bergerak. Semua penumpang diam. Tidur. Satu dua sibuk dengan ponsel. Kau tahu. Walaupun sebenarnya tidak ingin kencing, tapi begitu masuk ke toilet, kecuali toiletnya jorok, kandung kemihmu otomatis mengendorkan sumbat.

Aku sengaja berdiri di bordes sebentar sebelum kembali ke tempat duduk. Ibu di bangku sebelah belum berubah letak.

***

“Aku mau beli microwave untuk di rumah.”

“Beli lah.”

“Jadi aku bisa beli makanan beku-bekuan, atau beli di warung sore hari. Pagi tinggal manas-manasin.”

“Atau kamu bisa menyimpan sisa masakan di freezer dan dimakan lagi beberapa hari kemudian supaya ndak bosan.”

“Aku beli microwave supaya nggak perlu masak.”

Dia tersenyum melanjutkan makan.

“Makanan di pesawat itu nget-ngetan bukan?”

“Iya.”

“Dipanasi pakai microwave juga?”

“Iya.”

“Kok nggak enak?”

“Bukan microwave yang bikin masakan enak atau ndak enak. Tapi tergantung apa yang dimasukkan.”

“Semua yang kamu masukkan ke microwave enak.”

“Karena aku yang masak.”

“Boleh nggak aku tinggal di sini terus?”

***

Kereta melambat memasuki stasiun kelima. Hari sudah hampir pagi. Aku belum tahu apa yang akan kulakukan sesampai di stasiun akhir nanti. Aku kesal dengan ingatan yang merembes dari kepalaku sepanjang perjalanan.

Kuraih ponsel yang sudah kudiamkan semalaman. Aku tidak tahu ini ide bagus atau bukan. Aku bahkan tidak yakin pesan ini akan sampai. Atau diperhatikan.

hai. aku perjalanan ke kotamu. satu stasiun lagi. aku harus menunggu sampai pukul sepuluh. mungkin kamu mau menemani aku sarapan di stasiun.

***

“Maaf ya, aku tidak bisa mengantar ke bandara.”

“Iya. Gapapa.”

“Nanti aku temani menunggu taksi di bawah.”

“Iya.”

“Barang-barangmu sudah siap?”

“Sudah.”

Aku memeluk dia sekali lagi. Tidak ingin kulepas. Aku tidak ingin beres-beres. Aku tidak ingin pergi dari sini. Dia melepaskan pelukanku pelan.

“Boleh aku tinggalkan sikat gigi di sini?” tanyaku.

“Tentu. Akan kusimpan supaya kamu tidak perlu bawa lagi kalau mau ke sini.”

“Kamu ingin aku ke sini lagi?”

“Aku menanti kamu ke sini lagi.”

***

Perjalanan hampir berakhir. Sebentar lagi kereta memasuki stasiun terakhir.

Seperti takut kehabisan waktu, segala kenangan tumpah sekaligus. Malam-malam. Dan pagi-pagi. Dan siang-siang. Semua waktu yang terlewati bersama. Berulang. Seperti tak ingin henti. Namun tiba-tiba hilang.

Tidak ada penjelasan. Pesan-pesan yang sampai tapi tak terbalas. Panggilan-panggilan yang tidak berjawab. Pertanyaan-pertanyaan yang terabaikan. Pernah terpikir untuk tiba-tiba saja datang, apa pun yang kutemui aku sudah siap dengan jawaban, ‘saya mau ambil sikat gigi.’ Tapi tidak pernah kulakukan. Setelah beberapa bulan akhirnya aku berhenti. Menyumpahi sikapnya yang kuanggap pengecut. Menghibur diri dengan bersyukur bahwa aku dijauhkan dari laki-laki brengsek. Tapi tentu saja aku sadar aku membohongi diri sendiri. Tangis yang tersembunyi itu butuh waktu sangat lama untuk berhenti.

Kereta berhenti. Sebuah pesan masuk.

Aku tunggu di pintu keluar utara. Kamu bisa mandi dan istirahat di apartemen sambil menunggu acaramu mulai.

ikan di stasiun

Rush

 

IMG_7845

Anakku cuma Aik. Danang menitipkan aku dan Aik di sebuah hotel. Atau mungkin apartemen. Kami berbagi kamar dengan seorang Ibu dan anak perempuannya. Sore menjelang malam, seorang pria dibawa masuk ke kamar kami dan dibaringkan di ranjangku. Ada balutan perban di beberapa bagian tubuhnya, dan infus terpasang di lengannya.

“Apa?” tanyaku. Perempuan yang mengantar laki-laki itu menjawab, “Dia baru saja menjalani operasi. Dia akan tinggal di sini sambil menunggu operasi berikutnya.”

“Tapi ini kamar saya.”

“Ini rumah sakit, dan kamar penuh. Anda yang masih sehat masa tidak mau berbagi ruang dengan yang kondisinya gawat?”

Perempuan itu pergi. Aku bertanya kepada ibu di ranjang sebelahku, “Rumah sakit?” Dia hanya tersenyum sambil menggeleng.

Apa-apaan ini?

Aik sedang bermain iPad bersama anak perempuan itu. Aku mengendap keluar kamar, melongok ke kedua arah lorong. Sepi. Aku beranikan diri berjalan keluar ke satu arah. Ada wastafel di ujung lorong. Tiba-tiba sebuah tangan menerobos pintu di samping wastafel, langsung menarik keran wastafel sampai lepas. Terdengar suara wanita tertawa keras melengking. Pintu terbuka, dan keluarlah wanita pemilik tangan itu, tinggi kurus dan berambut merah. Dia menatapku tajam. Aku kamitenggengen tidak bisa bergerak. Dia tertawa lalu lari entah ke mana. Air dari bekas keran di wastafel tidak mengalir, entah kenapa.

Buru-buru aku kembali ke kamar. Aik masih bermain bersama temannya. Si ibu duduk diam saja di ranjangnya. Laki-laki yang habis operasi tidur di ranjangku. Aku menelpon Danang. Sekali, dua kali. Baru diangkat.

“Ini bukan hotel, ini rumah sakit.”

“Rumah sakit apa?”

“Ada orang yang baru selesai operasi dibaringkan di kasurku. Ada perempuan berambut api mencabut keran wastafel di ujung lorong.”

“Kamu ngomong apa sih?”

“Kamu harus cepat ke sini! Segera!”

Perempuan di ranjang sebelah melihat semua kesibukanku tanpa komentar. Pria yang berbaring di ranjangku membuka mata, berkata lirih, “Ya, lebih baik kalian pergi, meskipun aku tidak yakin mereka akan diam saja.”

“Apa maksudmu? Mereka siapa?”

“Mereka mengincar ginjal anakmu.”

Aku bergidik, “Mereka siapa?”

Laki-laki itu tidak menjawab, memejamkan matanya lagi.

Aku mengemasi tas lalu menggandeng Aik keluar kamar. Kartu ATM BRI aku selipkan di saku celana, supaya nanti tidak ribet harus buka dompet kalau mau tarik uang setelah keluar hotel — atau rumah sakit atau apa pun nama tempat ini.

“Ke?” tanya Aik.

“Pergi.”

“Pergi ke?”

“Belum tahu.”

“Pad Aik?”

“Di tas Mami. Biar Aik tidak berat membawanya, ayo lari.”

“Lari ke?”

Aku tidak menjawab. Aik kugandeng berjalan setengah lari menuruni tangga darurat. Aik menghitung anak tangga dengan suara keras. “Sixty one, sixty two, banyak sekalli!”

Tangga darurat berakhir di pintu samping gedung. Kudorong dengan bahu karena satu tanganku memegang tas dan tangan yang lain menggandeng Aik. “Berat. Ugh,” Aik membantu mendorong walau bagiku tampak hanya menempelkan telapak tangannya di pintu.

Di samping depan bangunan ada mesin ATM, tanganku sudah hampir meraih pintu ketika seorang laki-laki mendahului membuka pintu sambil tersenyum sinis  kepadaku. Aku mundur selangkah, mengambil kartu di saku. Damn. Kartunya tertekuk. Ini kartu ATM apa kartu nama? Sambil menunggu laki-laki itu selesai aku terpaksa membuka tas, mengambil dompet, mengambil kartu lain sambil menyimpan kartu BNI yang rusak.

“Pad Aik,” Aik  melihat padnya di tas.

“Nanti.”

“Di rumah?”

Aku tidak menjawab, karena tidak yakin kami mau ke mana. Aku mencoba menelpon Danang lagi. Nada sibuk. Laki-laki itu keluar, aku menarik uang di jumlah maksimal penarikan.

“Ayo kita pergi,” kataku sambil menarik Aik.

“Ke?”

“Belum tahu.”

“Naik?”

“Taksi.”

“Ke?”

Aku tidak menunggu taksi di lobi. Kalau masuk lobi, mungkin aku malah tidak akan bisa pergi dari sini. Masih setengah berlari aku mengajak Aik keluar area gedung. Kulambaikan tangan ke taksi yang kebetulan lewat di sudut seberang jalan.

“Aik duduk depan.”

“Tidak. Aik duduk sama Mami.”

“Tidak boleh duduk depan?”

“Tidak.”

Kami duduk. Taksi jalan.

“Ke mana, Bu?”

“Keluar dari mimpi ini, Pak.”

Catatan Kecil Seusai Hotel Mumbai

(foto dipinjam dari imdb.com)

==================

Aku sebenarnya tidak suka nonton film yang berdarah-darah dan mengandung kekerasan. Soalnya, biar sudah menutup mata, mendengar suaranya pun kadang tetap tergambar adegannya. Kadang malah lebih ngeri dari yang ditampilkan. Tapi kalau tembak-tembakan masih sanggup lah aku berani-beranikan.

Sejak menit awal, pikiranku sudah seluruhnya terpaku pada filmnya. Benar-benar tidak teringat hal lain. Kecemasan demi kecemasan hadir. Terus dan baru berhenti di akhir cerita.

Usai menonton, rasanya banyak sekali yang ingin kuungkapkan tentang film ini. Satu dua cuitan tidak akan cukup, sehingga kupikir kesanku akan lebih tersampaikan dengan tulisan di blog. Tapi sesampai di draft, aku jadi tidak bisa berkata-kata…

Yang ada hanya kelebat adegan demi adegan yang masih menggoreskan kesedihan.

Remaja-remaja muslim dari keluarga miskin, yang dicuci otak dan ditanamkan dalam hati mereka kebencian pada kaum ‘kafir’ dan ‘orang-orang kaya yang serakah’. Dikobarkan dalam jiwa mereka keinginan ber-‘jihad’ dengan membunuh ‘musuh’ mereka itu, rela jika harus mati karena yakin Allah menyiapkan surga untuk mereka. Dan pada mereka dijanjikan bayaran yang akan diberikan oleh ‘pimpinan’ kepada keluarga mereka — yang miskin.

***

Penembakan membabi buta di tempat-tempat umum. Stasiun kereta. Jalanan. Hotel.

Di Hotel Taj, yang menjadi setting utama film ini, para staf dapur dan restoran yang sebenarnya bisa menyelamatkan diri, memilih tinggal dan menemani, menjaga, dan berusaha menyelamatkan para tamu. Termasuk di antara para pelayan restoran itu, Arjun, seorang pria Sikh, yang sejak kecil tidak pernah melepas pagri/turban di kepalanya ketika keluar rumah karena dalam Sikh itu merupakan simbol kemuliaan, rela melepas turbannya untuk menolong tamu yang tertembak. Dia ditunggu dengan cemas oleh istrinya yang menggendong anak pertama dan mengandung anak kedua mereka.

Semua yang berkumpul dan berusaha menyelamatkan diri, tidak peduli asal-usul, ras, agama.

Polisi-polisi pemberani tetap maju dengan bekal latihan dan persenjataan yang minim.

Keyakinan salah satu pelaku goyah ketika menelpon keluarganya dan mengetahui janji bayaran belum ditunaikan.

Setitik rasa kemanusiaan muncul mendengar Al-Fatihah yang dilantunkan salah satu sandera.

***

Berangkat dari manakah remaja-remaja ini? Keimanan? Kemiskinan? Seyakin apa mereka dengan janji surga, bahkan janji bayaran di dunia? Apa penggerak terkuat sehingga mereka sanggup melakukan penembakan massal?

Mereka menjadi korban keyakinan akan jihad, bersama-sama dengan mereka yang mati tertembak, sementara otak kekacauan itu belum tersentuh.

Kemanusiaan ditepikan.

***

Kadang aku cemas ketika melihat intoleransi sekecil apa pun disekitar kita. Baru beberapa hari yang lalu aku mendengar langsung dari mulut seorang anak kecil, ‘tidak boleh berteman dengan orang Kristen.’ Entah dari mana dia mendapat kalimat itu, orang tua, guru, teman? Sebuah kalimat yang jika terus dibiarkan tertanam, bukan tidak mungkin menjadi bibit kebencian yang bisa disulut dan terbakar kapan saja. Apakah aku berlebihan?

NASI PADANG DAN LIDAHKU

‘Di Padang susah cari nasi padang’

Tiga hari di Padang beberapa waktu yang lalu, teman-teman antusias mencoba kuliner asli Padang. Warung makan yang di Jawa (mungkin juga di tempat lain di luar Padang) selalu ditambahkan judul ‘RM PADANG’ atau setidaknya ‘masakan Padang’.

Warung pertama nemu aja yang kelewatan dalam perjalanan dari Bandara menuju kota, judulnya Minang -Jawa. Di antara piring kecil yang disajikan di meja, ada pecel dan urap. Walaupun masakan Padang tapi cita rasanya kok njawani. Jebul yang punya itu walaupun lahir dan besar di Padang, bapaknya orang Sukoharjo.

Warung Padang kedua rekomendasi teman, nama warungnya sama dengan Warung Padang yang ada di Jakarta dan Semarang: Pagi Sore, buka sejak 1947. Lucunya, si pemilik mengaku tidak buka cabang. Kami datang ketika warung hampir tutup dan menu habis-habisan. Rasanya sedikit berbeda dengan yang sebelumnya, tapi tidak setajam yang kukhawatirkan.

Warung berikutnya, yang katanya must visit kalau ke Padang: Soto Simpang Karya. Enak, mirip Tauto Pekalongan. Lupa moto sotonya.

.

Jadi bagaimana pendapatku tentang kuliner Padang yang sempat dicoba?

Biasa saja. Maksudku, enak. Ya enak seperti seharusnya makanan yang dijual di warung dan rumah makan. Tapi aku tidak mengerti apa yang membuat kita ‘harus mencoba’.

Pada dasarnya aku bukan penggemar masakan Padang. Doyan, tapi bukan suka. Kalau ada pilihan lain (bisa masakan Jawa atau Amerika atau mana saja) aku akan cenderung pilih yang lain. Apakah merasakan masakan asli Padang mengubah selera? Tidak.

Aku tidak pernah memuja makanan. Selama enak dimakan ya ditelan. Kecuali yang parah tidak enaknya, atau memang sejak awal aku tidak doyan.

.

“Jadi kamu nggak menikmati kulineran Padang, Mbak?”

Biasa saja. Rasanya seperti makan pagi, siang, sore yang kulakukan setiap hari.

“Kok bisa siiih… Aku tuh beberapa hari di Padang rasanya belum terpuaskan lho kulineran! Emang kamu ni ndak suka makanan kok ya mbak, makanya langsing…!”

Ya ndak gitu amat. Aku suka makan, tapi tidak memuja makanan. Makan ya karena perlu makan. Kalau bisa makan ‘enak’ ya syukur alhamdulillah, tapi tetep ndak bisa makan lebih dari yang dibutuhkan…

Aku lebih menyesal karena tidak sempat mengunjungi tempat-tempat ikonik di Padang dan sekitarnya. Dan masih tidak bisa mengerti kenapa ada yang ‘terpaksa’ ikut ke pantai dan berakhir duduk di warung sambil minum es degan, ogah turun menginjak pantai dan membasah di pecahan ombak…

Paling tidak, aku sudah merasakan angkot ikonik kota Padang yang sound systemnya tidak kalah dengan kamar karaoke Inul Vista.

.

Semalam di akhir kelas yoga, beberapa member berkomentar, “Enak ya, kalau kaya Mbak Latree, badannya enteng. Pakai jins jadinya bagus, mau gerak aja apa enak.”

Kataku, “Jauhi dulu nasi padang.”

Dan mereka mengerang.

Aku dan Ketakutan (akan) Dokter Gigi

Seingatku, awalnya aku tidak punya masalah pergi ke dokter gigi. Hingga pada suatu saat, aku TK atau mungkin kelas 1 SD, diajak ibuku ke rumah sakit untuk mencabut gigi gerahamku. Antriannya penuh, Bapak Petugas dengan sabar menanyai setiap pengunjung. Sudah pernah periksa? Kira-kira kapan? Lalu dengan sabar membuka kartu periksa satu persatu di setiap box tahun dan bulan. Belum ada kartu periksa, dan pengarsipan masih sangat manual.

Setelah pemandangan yang membosankan itu, namaku dipanggil. Masuk ke ruang periksa, aku diminta duduk di kursi kayu seperti bangku sekolah itu. Seorang petugas mendekat, menempelkan kapas dingin ke gusiku, lalu mencabut gigiku.

Langit serasa runtuh. Aku masih bisa merasakan sakit yang luar biasa, merambat dari gusi ke kepala dan seluruh tubuhku. Entah biusnya kurang atau bagaimana…

.

Pada masa-masa selanjutnya, aku sebisa mungkin menghindari dokter gigi. Cabut gigi sendiri, digoyang-goyang diongkek dipuntir. Hasilnya deretan gigi yang pating besasik jauh dari rapi. Pada titik Bapak mengira aku telah selesai berganti gigi, Bapak mengirim aku ke dokter gigi untuk merapikan gigi. Memakai kawat. Tetap bukan kunjungan yang kunikmati. Yang dirapikan gigi atas saja, padahal yang bawah juga zigzag. Tapi karena dana yang terbatas, mungkin pertimbangannya gigi atas yang lebih tampak, jadi itu saja yang dirapikan. Setahun pakai kawat, lalu dilepas. Badala, ternyata masih ada satu gigi seri yang belum ganti. Di antara gigi yang sudah dirapikan Bu drg. Joyo, satu gigi melesak ke dalam. Bapak sudah tidak mau keluar biaya merapikan gigi lagi.

.

Kunjungan dokter gigi berikutnya terjadi jauh bertahun berikutnya ketika gigi geraham bawah kanan mulai bolong. Itu setelah melahirkan anak kembarku, meski tidak ingat kapan tepatnya. Aku cuma ingat dokter gigi yang kukunjungi adalah dekat rumah kontrakan dulu. Bolongnya lumayan parah. “Kenapa terlambat sekali periksanya,” tanya Bu Dokter. Karena saya takut ke dokter gigi, tentu saja, jawabku. Meski lubangnya sudah cukup parah, Bu Dokter masih menyetujui opsi merawat ketimbang mencabut.

Di perjalanan, tambalannya lepas, gigi makin habis, sampai tinggal akar. Aku masih bertahan tidak berkunjung ke dokter gigi, sampai kemudian gusiku mulai infeksi. Sakitnya bukan main.

Terpaksa, lagi, aku ke dokter gigi. Kuingat itu sekitar beberapa bulan setelah melahirkan Aik. Dokter yang lain, yang sepi. Karena drg. Umi yang menambal gigiku dulu antriannya bisa sampai 30 pasien sehari. Bisa sampai pukul 12 malam. Dokter Susi memarahi aku, “Gigi busuk kaya gini kok dipelihara.” Ciut benar nyaliku. Aku diberi obat, dijadwalkan cabut. Jangan tanya ketakutan yang kurasakan. Ini cabut (akar) geraham dewasa. Teringat aku akan langit runtuh waktu kecil dulu.

Tindakan membersihkan tunggak itu sungguh depressing. Bu Dokter bukan hanya memakai masker dan sarung tangan karet, tapi juga goggle. Di dadaku dipasang celemek plastik. Semua itu untuk menapis darah yang mungkin menyiprat, katanya. Betapa seramnya!

Sepanjang tindakan yang berlangsung lebih dari satu jam, Bu Dokter beberapa kali mengeluhkan sulitnya mengambil akar gigiku yang sudah fraktur. Gusiku harus dibedah, pecahan akarnya diambil satu-persatu. Lagi-lagi menegurku yang terlambat periksa, menanamkan rasa bersalah tiada habisnya. Aku sangat bersyukur ketika akhirnya semua itu selesai.

.

Setelah itu aku tetap (bahkan makin) rajin menyikat gigi. Bukan hanya setiap kali mandi, tapi juga sebelum tidur. Ternyata masih saja ada gigi berlubang lagi di geraham belakang sisi yang lain. Aku lupa di mana menambal lubangnya. Yang jelas tambalan itu tidak bertahan lama karena kemudian gigiku pecah. Pecahannya lepas sendiri secuil demi secuil. Dan kejadian gigi tinggal akar pun berulang.

Traumaku pada cabut geraham belum hilang. Berkali-kali gusiku meradang bahkan sampai berdarah. Setiap kali aku hanya memperbanyak minum vitamin C dan memastikan gigiku bersih. Berhasil? Tidak. Sekali lagi aku harus menyerah pada dokter gigi.

Kali ini aku memilih periksa di RS. Elisabeth Semarang. Ada dua dokter yang praktik pagi, yang satu putri, masih muda, cantik dan ramah. Dia yang mencabut gigi susu Aik yang tumbuh sanggar (gigi dewasa tumbuh tapi gigi susu masih kukuh). Satu lagi putra, dari namanya kubayangkan lebih senior, drg. Darto. Aku memilih dia dengan pertimbangan, pengalamannya lebih banyak dan, tenaganya lebih besar untuk mencabut gigiku yang mungkin stubborn.

Bayangku tentang usia dokternya tidak meleset terlalu jauh, tapi tentang penampilannya jauh dari yang kubayangkan. Bukan dokter tua yang kaku dan galak. Tapi ramah dan sabar. Penuh senyum dan suaranya lembut.

Di kunjungan pertama, gusiku masih infeksi radang dan bengkak. Aku hanya diberi obat dan disuruh kembali jika sudah tidak sakit lagi. Setidaknya tiga hari setelah kunjungan itu. Aku benar-benar datang lagi di hari ketiga.

“Masih sakit?”

“Tidak.”

“Sudah kempes?”

“Sudah.”

“Jadi cabut?”

“Jadi, Dok. Saya takut, tapi saya tidak mau sakit-sakit lagi.”

Aku duduk di kursi periksa.

“Sudah pernah cabut sebelumnya?”

“Sudah, Dok. Hampir satu jam lamanya. Makanya saya takut mau cabut lagi.”

Pak Dokter tersenyum, “Yang ini kayanya gampang kok, ndak akan terlalu lama.” Dia hanya pakai masker dan sarung tangan karet. Tanpa goggle.

Suntik anestesinya tidak sakit sama sekali. Cuma cekit-cekit seperti digigit semut. Yang sakit adalah ingatanku tentang tindakan cabut gigi sebelumnya. Maka ketika dokter mulai mengeluarkan ‘linggis’ untuk menggali akar gigiku, aku memejamkan mata. Bernapas ujjay sebisanya.

Tidak sampai lima menit kemudian, “Sudah,” kata dokternya.

“Sudah?”

“Sudah, kumur pelan lalu gigit kapasnya ya…”

.

Sudah. Begitu saja. Tumpukan trauma bertahun-tahun di kepalaku, runtuh seketika.

Kenapa tidak semua dokter gigi seperti dia?

.

Ada janji tambahan pada diriku sendiri setelah ini. Tidak cukup rajin sikat gigi. Harus rajin periksa ke dokter gigi walau tidak ada keluhan. Tidak perlu tunggu  lubang kecil membesar sampai parah.

Ada keinginan menabung untuk merapikan gigi. Tapi kupikir-pikir, ketika tabungan terkumpul cukup mungkin aku sudah pensiun. Apa masih efektif pasang kawat gigi?

Aib

Sejak awal aku memang sudah datang dengan aib.

Aib. Di desa ini perempuan akan segera menikah setelah lulus SMA. Bahkan setelah lulus SMP, kalau tidak melanjutkan ke SMA. Aku menikahi laki-laki desa ini saat usiaku hampir 25, usia ketika perempuan-perempuan lain sudah punya dua tiga anak.

Aib. Di desa ini perempuan harus merantau dan bekerja. Para suami yang tinggal di rumah mengolah sawah. Aku memilih berhenti belerja setelah menikah, dan membiarkan suamiku bekerja mencari nafkah.

Aib. Di desa ini perempuan yang habis melahirkan meminum jamu-jamu, memakai param dan pilis di jidatnya. Lalu setiap hari kerjanya hanya menyusui si bayi. Semua cuci popok dan memandikan bayi adalah tugas neneknya. Aku menolak minum jamu dan mengoleskan param dan pilis. Aku melarang nenek bayiku mencucikan apa pun, juga terus-terusan menggendong bayiku. Aku minggat ketika peringatanku tidak dihiraukan.

Aib. Di sini bayi-bayi baru lahir langsung disuapi pisang atau biskuit mari dicampur air. Aku menentang keras siapa pun yang akan menyuapkan selain air susuku sampai habis masa ASI ekslusif. Katanya bayiku menangis karena lapar. Kubilang aku akan kasih makan kalau bayiku bisa bilang ‘aku lapar.’

Aib. Di sini bayi berumur satu tahun dipasangi perhiasan lengkap mulai cincin, gelang, dan kalung, juga anting untuk yang perempuan. Aku menolak memasang apa pun. Aku dianggap bikin malu karena keluarga kami jadi tampak miskin di mata orang sedesa.

Aib. Karena kemudian aku hamil anak kembar. Di sini punya bayi kembar adalah kutukan, pembawa sengsara, pembawa sial. Setiap orang berusaha menghibur dengan berkata, “Jangan malu, jangan sedih. Manusia hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan.” Gila. Tuhan memberiku anugerah ganda tapi aku diperlakukan seolah sedang menerima musibah.

Aib. Karena kemudian aku melahirkan anak istimewa yang mereka bilang tidak normal. Aku melihat sendiri, di desa ini seorang anak berkebutuhan khusus yang mengidap epilepsi bunuh diri karena dikucilkan, dianggap gila dan semua orang takut tertular.

Ada masa aku mencoba menahan diri untuk tidak membuat lebih banyak aib. Mencoba beradaptasi dengan apa-apa yang masih bisa aku jalani. Tapi aku lelah. Aku tidak peduli lagi jika segala aku membawa lebih banyak aib bagi mereka, sedang sebenarnya aku melakukan yang terbaik untuk diriku dan anak-anakku.