Bersahabat dengan Glaukoma

Mata adalah jendela tubuh dan jiwa kita. Lewat mata kita menangkap segala hal di luar kita secara visual. Lewat mata pula, orang lain bisa melihat ke dalam diri kita. Lepas dari kawan-kawan tuna netra yang dianugerahi pengganti berupa indra peraba dan perasa yang luar biasa peka; bisakah kau bayangkan, kehilangan penglihatan yang telah melekat di tubuh kita sejak lahir?

Glaucoma (glaukoma) mungkin tidak sepopuler kanker, tapi dia telah menjadi penyebab kebutaan terbesar kedua di dunia setelah katarak. Kedatangannya sering tidak disadari. Tahu-tahu tekanan bola mata tinggi, lalu perlahan saraf dan retina rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Terlahir di keluarga dengan riwayat glaukoma, membuat kami anak-anak Bapak harus lebih waspada. Ayah kami kehilangan penglihatan di usia menjelang 70. Bapak tidak ingin anak-anaknya mengalami hal yang sama.

Mengenali glaukoma lebih dini.

Glaukoma bisa terjadi pada siapa saja. Penjelasan tentang glaukoma dapat dibaca di sini. Intinya, glaukoma adalah gangguan penglihatan yang ditandai dengan kerusakan saraf akibat tekanan bola mata. Penyebabnya ada beberapa, baik akibat produksi cairan mata yang berlebihan, maupun akibat terhalangnya saluran pembuangan cairan tersebut. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, di antaranya adalah mengukur tekanan bola mata. Jika tekanan bola mata sudah di atas 20mmHg, maka harus diwaspadai.

Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang berisiko tinggi terkena glaukoma. Di antaranya berusia 40 tahun ke atas, memiliki riwayat glaukoma dalam keluarga, rabun jauh, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Gejala awal yang dirasakan bisa mirip rabun jauh (penglihatan kabur), sering pusing/migrain, kadang sampai mual. Selain itu ketika melihat cahaya (misalnya lampu), tampak lingkaran bayangan di sekeliling cahaya.

Tidak boleh lagi latihan yang begini-begini 🙂

Bersahabat dengan glaukoma.

Seperti ketika ada hal lain yang tidak bekerja semestinya di tubuh kita, ada beberapa hal yang harus dihindari pasien glaukoma (atau yang beresiko mengalami glaukoma). Karena kerusakan saraf atau retina akibat glaukoma tidak dapat diperbaiki, yang bisa dilakukan adalah mencegah kerusakan itu, yaitu dengan mencegah tekanan bola mata menjadi tinggi.

Bagi kami yang sudah terdiagnosa dengan tekanan bola mata tinggi (elevated IOP), juga yang sudah positif glaukoma, tidak ada pilihan selain bersahabat dengan (gejala) glaukoma. Dokter yang memeriksaku menyarankan untuk disiplin meneteskan obat tetes mata, rajin kontrol tekanan bola mata, berhenti mengkonsumsi kopi dan coklat. Terakhir (dan yang terberat bagiku) adalah berhenti berlatih inversion dalam beryoga. Bagaimana ndak berat, inversion (handstand dan headstand) adalah salah satu yang membuat aku tertarik berlatih yoga pada awalnya. Tapi hidup adalah tentang pilihan dan konsekuensi. Toh yoga bukan hanya tentang jungkir balik, masih banyak hal yang bisa digali dan dilatih. Kalau melakukan hal menyenangkan tapi tidak baik untuk tubuh, itu jadinya bukan yoga lagi, karena bertentangan dengan prinsip ‘ahimsa‘ (tidak menyakiti diri sendiri ataupun orang lain).

***

Januari adalah Glaucoma Awareness Month. Ini hari terakhir, masih Januari, dan tidak pernah ada kata terlambat untuk ajakan baik. Mari kenali resiko dan tanda-tanda glaukoma, dan deteksi gangguan mata lebih dini. Jangan biarkan glaukoma diam-diam mencuri penglihatan kita.

Advertisements

Perlawanan.

Tidak bisa tidak. Aku harus lari.
‘Pintu Gerbang’ akan dibuka besok pagi. Orang-orang akan berduyun-duyun keluar, memanfaatkan kesempatan sekali dalam seminggu untuk terhubung dengan dunia luar. Aku bisa saja mencoba menyelinap di antara mereka. Mungkin ini justru kesempatan terbaik.
Tapi tidak. Para penjaga dengan anjing-anjing besarnya pasti siap berjaga. Aku tidak bisa mengambil resiko itu.

Lewat tengah malam. Sekarang, atau terlambat. Aku menyelinap keluar lewat pintu belakang dengan sesenyap mungkin.
“Hey! Mau ke mana?” sebuah suara mengejutkanku.
Itu perempuan tua yang tinggal di sebelah rumah. Kenapa dia masih berkeliaran di luar pada jam segini?
“Tidak ke mana-mana, Bu. Saya tidak bisa tidur. Gerah di dalam. Ingin menghirup udara segar sebentar,” jawabku, “Ibu sendiri mau ke mana?”
“Aku baru selesai mengecek barang dagangan yang mau dibarter di kota besok pa… eh, nanti, haha. Sebentar lagi dermaga akan ramai. Tapi aku tidak ikut pergi. Sudah tua. Biar anak-anak saja.”
Huh, syukurlah. Semoga dia tidak bohong. Semoga dia bukan mata-mata. Dia mengucapkan ‘selamat tinggal’ lalu pergi.

Perahu-perahu kecil sudah siap di tepi dermaga. Sialan. Seorang penjaga berkeliling menuntun seekor anjing. Rupanya mereka waspada lebih pagi. Berapa orang kira-kira yang mereka tugaskan sweeping sebelum dermaga buka? Apakah mereka sempat ketemu si ibu tua tadi?
Penjaga itu berjalan menjauh ke arah barat. Bagus. Perahuku ada di sudut timur sini. Kupandang langit yang gelap tanpa bulan. Juga tanpa awan. Kalau aku nekat berangkat sekarang, akankah dia melihat gerak-gerikku? Akankah dia mendengar kecipak air oleh dayungku? Lalu mengejarku?
Masa bodoh. Aku harus pergi sekarang. Perlahan kudorong perahu kecilku. Tanpa suara. Aku naik, lalu kudayung menjauh dari sudut teluk. Tidak ada suara yang menunjukkan ada orang yang mendengar atau melihatku. Kudengar percapakan lirih dan gonggong kecil anjing. Orang pertama (yang sebenarnya kedua setelah aku) yang akan pergi pagi ini sudah datang.

Dermaga seberang sudah lebih sibuk. Inilah bedanya kota dan desa. Apalagi ‘desa’ yang sengaja menutup diri, seperti tempat tinggal kami. Kudekati sebuah Vimana yang dikendarai seorang wanita. Kursi utama di bagian tengah masih kosong. Dua bangku kecil tambahan di kanan kiri juga kosong.
“Selamat pagi, Nona. Bolehkah saya menumpang?” tanyaku.
“Silakan,” jawabnya, “ada seorang pria yang akan menumpang juga.”
Rupanya sudah ada penumpang, seorang laki-laki sudah siap naik di bangku tambahan kiri. Aku melihat ke bangku tambahan kanan yang hanya kerangka besi, tidak ada bantalan. Pengemudi itu sepertinya mengerti yang kupikirkan. “Silakan duduk di tengah, tidak apa-apa. Penumpang utama saya menunggu di jalan. Kalau Anda harus turun setelah itu, terpaksa harus pindah ke bangku kanan. Tapi kalau Anda sudah turun sebelum dia naik, silakan saja duduk di tengah.”
Aku naik sambil mengucapkan terima kasih. Memang begitu. Vimana sebenarnya melayani penumpang yang sudah memesan. Tapi karena terbatasnya jumlah Vimana, sementara banyak penumpang yang membutuhkan, bangku-bangku kecil tambahan yang jelas tidak nyaman, menjadi pilihan penumpang-penumpang dadakan. Untunglah aku turun sebelum kendaraan itu tiba di tempat penumpang utama menunggu. Sekali lagi kuucapkan terima kasih, lalu melompat turun.
Berikutnya aku harus mencari rumah kecil yang akan melindungiku. Rumah itu milik perempuan muda yang tinggal hanya bersama dua anaknya yang masih kecil. Sebenarnya aku tidak mau membahayakan hidup mereka, tapi mereka berkeras untuk menerimaku. Dan aku tidak punya pilihan lain.
Dia menyambutku dengan hangat. Dua anaknya juga langsung menyalamiku. Yang kecil bahkan minta gendong, yang langsung kululuskan.
Mungkin ini ide bagus. Para penjaga itu tidak diperkenankan menyakiti anak-anak dan perempuan. Mereka aman. Dan aku aman. Ugh. Aku merasa jahat, menggunakan mereka sebagai perisai hidup. Dalam hati aku ngilu. Aku juga perempuan, dan peraturan itu tidak berlaku untukku.

Hari baru menjelang sore, kami baru selesai makan siang, ketika sebuah truk berhenti di depan rumah. Aku memandang perempuan muda tuan rumahku. Dia hanya ganti memandangku, membiarkan aku mengambil keputusan.
Anak-anak tidak perlu melihat kekerasan. Aku tidak ingin membuat para penjaga itu turun mendobrak dan berteriak-teriak mencariku. Kuletakkan sendok dan garpu, meneguk sedikit air putih, lalu keluar ke halaman. Para penumpang truk sudah turun. Tidak sebanyak yang kubayangkan. Tapi ada satu yang kuduga pasti datang. Pemimpin mereka. Wajahnya dingin dan bengis. Tanpa kata-kata dia mengarahkan bayonet di ujung senapannya ke dadaku. Aku mengangkat tangan. Ujung bayonet itu pasti tajam dan bisa menusuk menembus dadaku. Tapi dia tidak berkilat. Justru dioles semacam gemuk tebal. Apa mereka pikir, butuh pelumas agar bayonet itu licin menembus dagingku?
Dua orang penjaga mendekatiku. Seorang memegang kedua tanganku erat di belakang punggungku. Aku tidak berusaha melawan. Aku ingin tahu dulu apa yang mereka mau. Penjaga yang satu lagi mengambil gemuk dari ujung bayonet dengan ujung jari telunjuknya, lalu mengoleskan gemuk itu ke dahiku, “Jangan bergerak,” katanya. Dari tadi aku tidak bergerak, batinku.
Tidak lama kemudian wajahku telah pekat hitam oleh gemuk. Gemuk yang tampaknya hanya sedikit itu, menutup sempurna wajahku. Sekarang apa?
Si Pemimpin menarik senapannya, memandang angkuh kepadaku, “Setelah ini kamu akan kami lepas ke Hutan. Kamu punya waktu tiga hari untuk mengumpulkan…”
Yang mereka sebut ‘Hutan’ adalah tempat gelap penuh rawa dan binatang buas. Tidak ada bekal. Aku harus mencari cara sendiri untuk bertahan hidup, dan keluar membawa apa yang mereka inginkan. Tentu saja ini omong kosong. Tak seorang pun yang dilepas di Hutan berhasil keluar hidup-hidup.
Aku tidak mendengar lagi lanjutannya. Alarm berbunyi. Ini sudah Senin pagi. Aku harus bangun dan menyiapkan potato wedges yang kujanjikan untuk sarapan anak-anak.

Yang Terekam dari ‘Doa untuk Darmanto Jatman’

Aku sendiri tidak mengenal beliau secara pribadi; ketemu pun belum pernah. Namun masih terkesan suara beliau di radio, ketika masih sehat dulu. Nama beliau sebagai sastrawan, budayawan, penyair, memberi arti yang besar bagi kehidupan sastra di Semarang.

Sabtu tanggal 20 Januari 2018 lalu, digelar acara ‘Do’a untuk Darmanto Jatman’ di beranda Kantor Suara Merdeka. Mengenang, mengirim doa, dan mengantarkan kepergian beliau seminggu sebelumnya. Sebuah keistimewaan, menjadi bagian dari acara ini, bersama para tokoh sastra Semarang dan bahkan nasional; sahabat-sahabat Pak Darmanto. Sesungguhnya aku merasa kecil, berada di antara Emha Ainun Najib, Prie GS, Sosiawan Leak, Timur Sinar Suprabana, Handry TM, dan tokoh sastra Semarang lainnya.

(Terima kasih Suara Merdeka.)

Mendengarkan ‘kenangan’ dari mereka yang pernah (dan masih) dekat dengan Pak Darmanto Jatman, satu hal yang kutangkap, bahwa setiap orang punya sisi baik dan sisi buruk. Namun kenanglah yang baik, simpanlah yang baik, lanjutkan yang baik.

Seperti puisi ‘Sekarang Bahwa Aku Merasa Tua’ yang kubawakan bagian awalnya bersama Ibit Sukma, walau kata-katanya mbeling dan suasananya riang, namun aku menangkap sebuah pengakuan tentang keakuan yang ternyata adalah sebuah kelemahan; juga sanjungan serta terima kasih atas kekuatan kesetiaan yang menghidupkan.

.

Hal yang juga menjadi catatan bagiku, adalah kemuliaan Ibu Mur, garwa  Pak Darmanto Jatman yang setia mendampingi dalam susah dan senang, sampai saat penghabisan. Aku malu.


Semoga pemikiran-pemikiran brilian Darmanto Jatman dapat tetap menginspirasi pelaku sastra di mana saja, juga pelaku kehidupan di masa kapan saja.

Sugeng tindak, Pak.

Menguji Iman Dengan “Origin”

Judul: Origin
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Double Day, New York

versi Indonesia:
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno, REinitha Amalia Lasmana, Dyah Agustine
516 halaman
PT. Bentang Pustaka, November 2017

.

I

Dulu, di awal kelas satu SMP (sekarang disebut kelas tujuh), aku ingat di pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, kami mempelajari tentang keberadaan Tuhan. Tentang kesadaran manusia akan sebuah kekuatan di balik kehidupan. Siapakah dia yang ada sebelum semesta ini ada? Siapakah yang menciptakan semua?

Lalu di pelajaran Fisika (lupa kelas berapa) dibahas tentang berbagai teori terbentuknya galaksi; bintang, planet, satelit. Di pelajaran Biologi (kalau ndak salah kelas 1 SMA) dibahas tentang Teori Darwin versus Lamarck.

Semua berujung di pelajaran Agama; Tuhan menciptakan semesta dan seluruh makhluk penghuninya.

.

II

Edmond Kirsch, miliarder, ahli komputer, futuris, dan ateis; berencana mengumumkan penemuannya  yang mengungkap tentang asal-usul (dan akhir) kehidupan di hadapan ratusan tamu, dan disiarkan untuk disaksikan jutaan pemirsa di seluruh dunia. Robert Langdon, ahli kode dan simbol, dosennya di masa kuliah, diundang sebagai salah satu tamu dalam acara itu.

.

Dari mana asal kita? Ke mana kita akan pergi?

“Ilmuwan dan spiritualis sering menggunakan kosakata berbeda untuk menjelaskan misteri-misteri jagat raya yang persis sama. Konfliknya sering kali menyangkut semantik, bukan substansi.” (Robert Langdon) – (Hal. 66).

Di awal cerita, Edmond Kirsch menemui tiga pemuka agama dunia (Uskup Valdespino – Katholik, Syed al-Fadl – Islam, Rabi Köves – Yehoda) untuk menceritakan penemuannya, sebelum pengumuman kepada dunia. Reaksi ketiganya setelah mendengar paparan singkat Edmon, terus terang, membuat penasaran. Apa kiranya penemuan itu, yang akan segera diumumkan, yang katanya berpotensi menghancurkan iman pemeluk agama-agama di dunia?

Benarkah sebegitu meresahkan hingga Edmond Kirsch harus dibunuh, agar pengumumannya urung? Lalu kenapa dua dari tiga pemuka agama itu juga mati terbunuh?

Kehadiran Putra Mahkota Spanyol yang bertunangan dengan Ambra Vidal, pengelola museum tempat Kirsch menyiarkan penemuannya, menyajikan alternatif tokoh untuk diduga menjadi pelaku pembunuhan Kirsch.

.

Ada banyak narasi yang bagiku tidak terlalu menarik, sebenarnya bisa di-skip tapi tentu saja tidak karena aku tidak mau kehilangan detail yang mungkin memengaruhi jalan cerita. Deskripsi detail tentang karya dan ruang yang begitu banyak, sebagian memang menjadi kunci pemecahan teka-teki dalam cerita. Sebagian sisanya barangkali memang perlu dihadirkan, sebagai, uhm, pelengkap?

Ada hal yang mengusik tentang bagaimana Robert Langdon dan Ambra Vidal dengan begitu mudahnya menemukan kata sandi untuk mengaktifkan komputer utama yang akan digunakan untuk menayangkan presentasi Kirsch. Tidak, bukan tanpa halangan dari pihak yang masih kabur agar mereka gagal menuntaskan keinginan Kirsch untuk mengumumkan penemuannya. Tapi semua halangan bisa dilalui dengan mudah, berkat Winston, komputer cerdas bikinan Kirsch. Dan hampir tidak ada kesulitan memecahkan simbol dan kode untuk menemukannya. Tidak ada salah tuju. Tidak ada salah tafsir. Langsung ketemu, dan benar. Ini terasa, tidak enak.

Ada penasaran lanjutan ketika akhirnya penemuan Kirch berhasil diumumkan. Juga tentang respon dunia yang diceritakan sepintas. Halo. Kenapa para Pemuka agama itu begitu resah dengan penemuan seperti itu? Atau ilmuku yang tidak sampai? Atau aku mulai kehilangan ketuhanan sehingga menganggapnya ‘biasa’?

Tapi kengerian sesungguhnya bukan tentang penemuan Kirsch yang diumumkan itu. Satu hal, yang bahkan Kirsch sendiri tidak (sempat) tahu. Dan seperti biasa ketika kita menemu twist di akhir cerita, kita merasa penulis ‘menipu’ pembaca sejak awal cerita.

.

Pola adalah rangkaian yang teratur dan dapat dibedakan. …Kode harus lebih dari sekedar membentuk pola–kode harus membawa data dan menyampaikan makna. – (Hal. 485).

Jangan Jadi #JempolMurahan

Membagi berita, kutipan, foto, gambar, artikel bohong dari sumber yang tidak jelas; tanpa klarifikasi tanpa cek dan ricek; berarti ikut menyebar fitnah. Situ ndak takut dosa? (Maaf ya, habisnya dari pengalaman selama ini, yang sering nyebar konten hoax juga hobi ngomongin surga-neraka pahala-dosa).

Apa-apa yang jelekin orang menarik untuk disebarkan. Bikin diri merasa lebih baik dari orang lain. Padahal yang namanya melihat kejelekan sendiri bak ‘ngilo githoke dhewe‘. Susah!

Katanya dapat info ‘dari saudaraku di Surabaya’. Sudah cek saudaranya dapat dari mana? Sudah coba cari sendiri berita/artikel penyeimbang?

Katanya ini info dari ‘DR. SOLIKIN ahli politik’. Sudah cek dia itu siapa? Suaminya dr. Siti?

Ayolah, pinteran sedikit. Ndak perlu banyak piknik, yang penting banyak tanya (pada orang yang keilmuannya bisa dipertanggungjawabkan), banyak baca (jangan bacaan sampah tapinya). Sampah dan racun bertebaran di internet. Pilah pilih mana yang menyehatkan mana yang merusak.

*ilustrasi diambil dengan ijin dari daenggasing.com

Ayolah, tahan jempolnya kalau gatel mau share hal-hal yang belum jelas, meskipun kelihatan heboh dan bakal menarik respon banyak orang.

Ayolah, jangan jadi #JempolMurahan!

Artikel #jempolMurahan lain dari Tukang Loenpia:

1. Jangan Jadikan Jempolmu Murahan

2. Jangan Jadi Bagian Jempol Murahan

3. Apakah Jempol Murahan?

4. Biar Jempolmu Nggak Jadi #JempolMurahan

5. Jempolmu Kadaluarsa

6. Nggak Mau Jempol Murahan?

7. Kamu Kaum Jempol Murahan?

8. Cek Sebelum Share

9. Musuh Baru di Media Sosial

10. Tentang Jempol Murahan dan Echo Chamber

Calo

*Dimuat di Jagad Jawa SOLOPOS, Kamis, 26 Oktober 2017

Rudy nglebokake amplop saka Pak Rohmat ing jero tase.

“Mugi lancar nggih Pak. Supados keng putra enggal saged makarya kanthi ayem. Panjenengan ugi lega…”

“Ya Mas. Dadi wong tuwa pancen ora bisa cul-culan, nadyan bocah wis rampung anggone sekolah. Dhuwit sak mono kanggo aku akeh banget. Anggonku nglumpukake saka kana kene. Ning yen kanggo bocah, aku ora bakal etungan.”

“Kasinggihan Pak. Panjenengan tuladha tumrap kula, anggenipun ndhukung lare mboten ngangge wates.”

“Yakin isa ketampa ta Mas?”

“Tepangan kula punika tiyang penting wonten Pemda Pak. Sak mangertos kula pikantuk jatah nanging kula inggih mboten mangertos, pinten kursi. Lha punika kula cepet-cepetan ndhaptaraken Mbak Mia. Mugi-mugi tasih katut…”

“Yen ora katut?”

“Menawi dereng katut, kula konduraken sedaya beya ingkang sampun panjenengan paringaken kula.”

“Yen ketampa aku kudu nggenepi?”

Rudy mung manthuk sambi mesem. Pak Rohmat ngunjal ambegan.

***

Loro. Kalah cacak menang cacak. Continue reading

circle….

seperti helai sakura yang gugur satu persatu di wajahku

setiap kecup lembut dan bisik lirih

meletakkan aku kembali

pada masa ketika senyum dan sedikit kata memberi lebih banyak makna

waktu mengajariku merawat rindu

menjaga cinta….