Catatan Kecil Seusai Hotel Mumbai

(foto dipinjam dari imdb.com)

==================

Aku sebenarnya tidak suka nonton film yang berdarah-darah dan mengandung kekerasan. Soalnya, biar sudah menutup mata, mendengar suaranya pun kadang tetap tergambar adegannya. Kadang malah lebih ngeri dari yang ditampilkan. Tapi kalau tembak-tembakan masih sanggup lah aku berani-beranikan.

Sejak menit awal, pikiranku sudah seluruhnya terpaku pada filmnya. Benar-benar tidak teringat hal lain. Kecemasan demi kecemasan hadir. Terus dan baru berhenti di akhir cerita.

Usai menonton, rasanya banyak sekali yang ingin kuungkapkan tentang film ini. Satu dua cuitan tidak akan cukup, sehingga kupikir kesanku akan lebih tersampaikan dengan tulisan di blog. Tapi sesampai di draft, aku jadi tidak bisa berkata-kata…

Yang ada hanya kelebat adegan demi adegan yang masih menggoreskan kesedihan.

Remaja-remaja muslim dari keluarga miskin, yang dicuci otak dan ditanamkan dalam hati mereka kebencian pada kaum ‘kafir’ dan ‘orang-orang kaya yang serakah’. Dikobarkan dalam jiwa mereka keinginan ber-‘jihad’ dengan membunuh ‘musuh’ mereka itu, rela jika harus mati karena yakin Allah menyiapkan surga untuk mereka. Dan pada mereka dijanjikan bayaran yang akan diberikan oleh ‘pimpinan’ kepada keluarga mereka — yang miskin.

***

Penembakan membabi buta di tempat-tempat umum. Stasiun kereta. Jalanan. Hotel.

Di Hotel Taj, yang menjadi setting utama film ini, para staf dapur dan restoran yang sebenarnya bisa menyelamatkan diri, memilih tinggal dan menemani, menjaga, dan berusaha menyelamatkan para tamu. Termasuk di antara para pelayan restoran itu, Arjun, seorang pria Sikh, yang sejak kecil tidak pernah melepas pagri/turban di kepalanya ketika keluar rumah karena dalam Sikh itu merupakan simbol kemuliaan, rela melepas turbannya untuk menolong tamu yang tertembak. Dia ditunggu dengan cemas oleh istrinya yang menggendong anak pertama dan mengandung anak kedua mereka.

Semua yang berkumpul dan berusaha menyelamatkan diri, tidak peduli asal-usul, ras, agama.

Polisi-polisi pemberani tetap maju dengan bekal latihan dan persenjataan yang minim.

Keyakinan salah satu pelaku goyah ketika menelpon keluarganya dan mengetahui janji bayaran belum ditunaikan.

Setitik rasa kemanusiaan muncul mendengar Al-Fatihah yang dilantunkan salah satu sandera.

***

Berangkat dari manakah remaja-remaja ini? Keimanan? Kemiskinan? Seyakin apa mereka dengan janji surga, bahkan janji bayaran di dunia? Apa penggerak terkuat sehingga mereka sanggup melakukan penembakan massal?

Mereka menjadi korban keyakinan akan jihad, bersama-sama dengan mereka yang mati tertembak, sementara otak kekacauan itu belum tersentuh.

Kemanusiaan ditepikan.

***

Kadang aku cemas ketika melihat intoleransi sekecil apa pun disekitar kita. Baru beberapa hari yang lalu aku mendengar langsung dari mulut seorang anak kecil, ‘tidak boleh berteman dengan orang Kristen.’ Entah dari mana dia mendapat kalimat itu, orang tua, guru, teman? Sebuah kalimat yang jika terus dibiarkan tertanam, bukan tidak mungkin menjadi bibit kebencian yang bisa disulut dan terbakar kapan saja. Apakah aku berlebihan?

Advertisements

NASI PADANG DAN LIDAHKU

‘Di Padang susah cari nasi padang’

Tiga hari di Padang beberapa waktu yang lalu, teman-teman antusias mencoba kuliner asli Padang. Warung makan yang di Jawa (mungkin juga di tempat lain di luar Padang) selalu ditambahkan judul ‘RM PADANG’ atau setidaknya ‘masakan Padang’.

Warung pertama nemu aja yang kelewatan dalam perjalanan dari Bandara menuju kota, judulnya Minang -Jawa. Di antara piring kecil yang disajikan di meja, ada pecel dan urap. Walaupun masakan Padang tapi cita rasanya kok njawani. Jebul yang punya itu walaupun lahir dan besar di Padang, bapaknya orang Sukoharjo.

Warung Padang kedua rekomendasi teman, nama warungnya sama dengan Warung Padang yang ada di Jakarta dan Semarang: Pagi Sore, buka sejak 1947. Lucunya, si pemilik mengaku tidak buka cabang. Kami datang ketika warung hampir tutup dan menu habis-habisan. Rasanya sedikit berbeda dengan yang sebelumnya, tapi tidak setajam yang kukhawatirkan.

Warung berikutnya, yang katanya must visit kalau ke Padang: Soto Simpang Karya. Enak, mirip Tauto Pekalongan. Lupa moto sotonya.

.

Jadi bagaimana pendapatku tentang kuliner Padang yang sempat dicoba?

Biasa saja. Maksudku, enak. Ya enak seperti seharusnya makanan yang dijual di warung dan rumah makan. Tapi aku tidak mengerti apa yang membuat kita ‘harus mencoba’.

Pada dasarnya aku bukan penggemar masakan Padang. Doyan, tapi bukan suka. Kalau ada pilihan lain (bisa masakan Jawa atau Amerika atau mana saja) aku akan cenderung pilih yang lain. Apakah merasakan masakan asli Padang mengubah selera? Tidak.

Aku tidak pernah memuja makanan. Selama enak dimakan ya ditelan. Kecuali yang parah tidak enaknya, atau memang sejak awal aku tidak doyan.

.

“Jadi kamu nggak menikmati kulineran Padang, Mbak?”

Biasa saja. Rasanya seperti makan pagi, siang, sore yang kulakukan setiap hari.

“Kok bisa siiih… Aku tuh beberapa hari di Padang rasanya belum terpuaskan lho kulineran! Emang kamu ni ndak suka makanan kok ya mbak, makanya langsing…!”

Ya ndak gitu amat. Aku suka makan, tapi tidak memuja makanan. Makan ya karena perlu makan. Kalau bisa makan ‘enak’ ya syukur alhamdulillah, tapi tetep ndak bisa makan lebih dari yang dibutuhkan…

Aku lebih menyesal karena tidak sempat mengunjungi tempat-tempat ikonik di Padang dan sekitarnya. Dan masih tidak bisa mengerti kenapa ada yang ‘terpaksa’ ikut ke pantai dan berakhir duduk di warung sambil minum es degan, ogah turun menginjak pantai dan membasah di pecahan ombak…

Paling tidak, aku sudah merasakan angkot ikonik kota Padang yang sound systemnya tidak kalah dengan kamar karaoke Inul Vista.

.

Semalam di akhir kelas yoga, beberapa member berkomentar, “Enak ya, kalau kaya Mbak Latree, badannya enteng. Pakai jins jadinya bagus, mau gerak aja apa enak.”

Kataku, “Jauhi dulu nasi padang.”

Dan mereka mengerang.

Aku dan Ketakutan (akan) Dokter Gigi

Seingatku, awalnya aku tidak punya masalah pergi ke dokter gigi. Hingga pada suatu saat, aku TK atau mungkin kelas 1 SD, diajak ibuku ke rumah sakit untuk mencabut gigi gerahamku. Antriannya penuh, Bapak Petugas dengan sabar menanyai setiap pengunjung. Sudah pernah periksa? Kira-kira kapan? Lalu dengan sabar membuka kartu periksa satu persatu di setiap box tahun dan bulan. Belum ada kartu periksa, dan pengarsipan masih sangat manual.

Setelah pemandangan yang membosankan itu, namaku dipanggil. Masuk ke ruang periksa, aku diminta duduk di kursi kayu seperti bangku sekolah itu. Seorang petugas mendekat, menempelkan kapas dingin ke gusiku, lalu mencabut gigiku.

Langit serasa runtuh. Aku masih bisa merasakan sakit yang luar biasa, merambat dari gusi ke kepala dan seluruh tubuhku. Entah biusnya kurang atau bagaimana…

.

Pada masa-masa selanjutnya, aku sebisa mungkin menghindari dokter gigi. Cabut gigi sendiri, digoyang-goyang diongkek dipuntir. Hasilnya deretan gigi yang pating besasik jauh dari rapi. Pada titik Bapak mengira aku telah selesai berganti gigi, Bapak mengirim aku ke dokter gigi untuk merapikan gigi. Memakai kawat. Tetap bukan kunjungan yang kunikmati. Yang dirapikan gigi atas saja, padahal yang bawah juga zigzag. Tapi karena dana yang terbatas, mungkin pertimbangannya gigi atas yang lebih tampak, jadi itu saja yang dirapikan. Setahun pakai kawat, lalu dilepas. Badala, ternyata masih ada satu gigi seri yang belum ganti. Di antara gigi yang sudah dirapikan Bu drg. Joyo, satu gigi melesak ke dalam. Bapak sudah tidak mau keluar biaya merapikan gigi lagi.

.

Kunjungan dokter gigi berikutnya terjadi jauh bertahun berikutnya ketika gigi geraham bawah kanan mulai bolong. Itu setelah melahirkan anak kembarku, meski tidak ingat kapan tepatnya. Aku cuma ingat dokter gigi yang kukunjungi adalah dekat rumah kontrakan dulu. Bolongnya lumayan parah. “Kenapa terlambat sekali periksanya,” tanya Bu Dokter. Karena saya takut ke dokter gigi, tentu saja, jawabku. Meski lubangnya sudah cukup parah, Bu Dokter masih menyetujui opsi merawat ketimbang mencabut.

Di perjalanan, tambalannya lepas, gigi makin habis, sampai tinggal akar. Aku masih bertahan tidak berkunjung ke dokter gigi, sampai kemudian gusiku mulai infeksi. Sakitnya bukan main.

Terpaksa, lagi, aku ke dokter gigi. Kuingat itu sekitar beberapa bulan setelah melahirkan Aik. Dokter yang lain, yang sepi. Karena drg. Umi yang menambal gigiku dulu antriannya bisa sampai 30 pasien sehari. Bisa sampai pukul 12 malam. Dokter Susi memarahi aku, “Gigi busuk kaya gini kok dipelihara.” Ciut benar nyaliku. Aku diberi obat, dijadwalkan cabut. Jangan tanya ketakutan yang kurasakan. Ini cabut (akar) geraham dewasa. Teringat aku akan langit runtuh waktu kecil dulu.

Tindakan membersihkan tunggak itu sungguh depressing. Bu Dokter bukan hanya memakai masker dan sarung tangan karet, tapi juga goggle. Di dadaku dipasang celemek plastik. Semua itu untuk menapis darah yang mungkin menyiprat, katanya. Betapa seramnya!

Sepanjang tindakan yang berlangsung lebih dari satu jam, Bu Dokter beberapa kali mengeluhkan sulitnya mengambil akar gigiku yang sudah fraktur. Gusiku harus dibedah, pecahan akarnya diambil satu-persatu. Lagi-lagi menegurku yang terlambat periksa, menanamkan rasa bersalah tiada habisnya. Aku sangat bersyukur ketika akhirnya semua itu selesai.

.

Setelah itu aku tetap (bahkan makin) rajin menyikat gigi. Bukan hanya setiap kali mandi, tapi juga sebelum tidur. Ternyata masih saja ada gigi berlubang lagi di geraham belakang sisi yang lain. Aku lupa di mana menambal lubangnya. Yang jelas tambalan itu tidak bertahan lama karena kemudian gigiku pecah. Pecahannya lepas sendiri secuil demi secuil. Dan kejadian gigi tinggal akar pun berulang.

Traumaku pada cabut geraham belum hilang. Berkali-kali gusiku meradang bahkan sampai berdarah. Setiap kali aku hanya memperbanyak minum vitamin C dan memastikan gigiku bersih. Berhasil? Tidak. Sekali lagi aku harus menyerah pada dokter gigi.

Kali ini aku memilih periksa di RS. Elisabeth Semarang. Ada dua dokter yang praktik pagi, yang satu putri, masih muda, cantik dan ramah. Dia yang mencabut gigi susu Aik yang tumbuh sanggar (gigi dewasa tumbuh tapi gigi susu masih kukuh). Satu lagi putra, dari namanya kubayangkan lebih senior, drg. Darto. Aku memilih dia dengan pertimbangan, pengalamannya lebih banyak dan, tenaganya lebih besar untuk mencabut gigiku yang mungkin stubborn.

Bayangku tentang usia dokternya tidak meleset terlalu jauh, tapi tentang penampilannya jauh dari yang kubayangkan. Bukan dokter tua yang kaku dan galak. Tapi ramah dan sabar. Penuh senyum dan suaranya lembut.

Di kunjungan pertama, gusiku masih infeksi radang dan bengkak. Aku hanya diberi obat dan disuruh kembali jika sudah tidak sakit lagi. Setidaknya tiga hari setelah kunjungan itu. Aku benar-benar datang lagi di hari ketiga.

“Masih sakit?”

“Tidak.”

“Sudah kempes?”

“Sudah.”

“Jadi cabut?”

“Jadi, Dok. Saya takut, tapi saya tidak mau sakit-sakit lagi.”

Aku duduk di kursi periksa.

“Sudah pernah cabut sebelumnya?”

“Sudah, Dok. Hampir satu jam lamanya. Makanya saya takut mau cabut lagi.”

Pak Dokter tersenyum, “Yang ini kayanya gampang kok, ndak akan terlalu lama.” Dia hanya pakai masker dan sarung tangan karet. Tanpa goggle.

Suntik anestesinya tidak sakit sama sekali. Cuma cekit-cekit seperti digigit semut. Yang sakit adalah ingatanku tentang tindakan cabut gigi sebelumnya. Maka ketika dokter mulai mengeluarkan ‘linggis’ untuk menggali akar gigiku, aku memejamkan mata. Bernapas ujjay sebisanya.

Tidak sampai lima menit kemudian, “Sudah,” kata dokternya.

“Sudah?”

“Sudah, kumur pelan lalu gigit kapasnya ya…”

.

Sudah. Begitu saja. Tumpukan trauma bertahun-tahun di kepalaku, runtuh seketika.

Kenapa tidak semua dokter gigi seperti dia?

.

Ada janji tambahan pada diriku sendiri setelah ini. Tidak cukup rajin sikat gigi. Harus rajin periksa ke dokter gigi walau tidak ada keluhan. Tidak perlu tunggu  lubang kecil membesar sampai parah.

Ada keinginan menabung untuk merapikan gigi. Tapi kupikir-pikir, ketika tabungan terkumpul cukup mungkin aku sudah pensiun. Apa masih efektif pasang kawat gigi?

Aib

Sejak awal aku memang sudah datang dengan aib.

Aib. Di desa ini perempuan akan segera menikah setelah lulus SMA. Bahkan setelah lulus SMP, kalau tidak melanjutkan ke SMA. Aku menikahi laki-laki desa ini saat usiaku hampir 25, usia ketika perempuan-perempuan lain sudah punya dua tiga anak.

Aib. Di desa ini perempuan harus merantau dan bekerja. Para suami yang tinggal di rumah mengolah sawah. Aku memilih berhenti belerja setelah menikah, dan membiarkan suamiku bekerja mencari nafkah.

Aib. Di desa ini perempuan yang habis melahirkan meminum jamu-jamu, memakai param dan pilis di jidatnya. Lalu setiap hari kerjanya hanya menyusui si bayi. Semua cuci popok dan memandikan bayi adalah tugas neneknya. Aku menolak minum jamu dan mengoleskan param dan pilis. Aku melarang nenek bayiku mencucikan apa pun, juga terus-terusan menggendong bayiku. Aku minggat ketika peringatanku tidak dihiraukan.

Aib. Di sini bayi-bayi baru lahir langsung disuapi pisang atau biskuit mari dicampur air. Aku menentang keras siapa pun yang akan menyuapkan selain air susuku sampai habis masa ASI ekslusif. Katanya bayiku menangis karena lapar. Kubilang aku akan kasih makan kalau bayiku bisa bilang ‘aku lapar.’

Aib. Di sini bayi berumur satu tahun dipasangi perhiasan lengkap mulai cincin, gelang, dan kalung, juga anting untuk yang perempuan. Aku menolak memasang apa pun. Aku dianggap bikin malu karena keluarga kami jadi tampak miskin di mata orang sedesa.

Aib. Karena kemudian aku hamil anak kembar. Di sini punya bayi kembar adalah kutukan, pembawa sengsara, pembawa sial. Setiap orang berusaha menghibur dengan berkata, “Jangan malu, jangan sedih. Manusia hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan.” Gila. Tuhan memberiku anugerah ganda tapi aku diperlakukan seolah sedang menerima musibah.

Aib. Karena kemudian aku melahirkan anak istimewa yang mereka bilang tidak normal. Aku melihat sendiri, di desa ini seorang anak berkebutuhan khusus yang mengidap epilepsi bunuh diri karena dikucilkan, dianggap gila dan semua orang takut tertular.

Ada masa aku mencoba menahan diri untuk tidak membuat lebih banyak aib. Mencoba beradaptasi dengan apa-apa yang masih bisa aku jalani. Tapi aku lelah. Aku tidak peduli lagi jika segala aku membawa lebih banyak aib bagi mereka, sedang sebenarnya aku melakukan yang terbaik untuk diriku dan anak-anakku.

Mimpi 25 Tahun: Mariah Carey Live In Concert – Lumbini Borobudur

I’ve been waiting for 25 years for this moment! Yaaa… karena di kunjungan Mbak Mariah ke Indonesia sebelumnya aku belum bisa menyisihkan rejeki untuk beli tiketnya..

Pardon the wrinkling dress 😀

Sejak release jadwal konsernya di bulan April lalu, tanpa babibu langsung book dua tiket festival. kenapa festival? Yang pertama karena paling murah (😂). Yang kedua dan justru alasan utamanya, supaya bisa berinteraksi lebih dekat dan bisa jejingkrakan pas lagu ngebeat. I knew she would sing ‘Honey’ and ‘Heart Breaker’! Tidak terbayang kalau duduk di platinum atau bahkan VVIP. Tidak bisa bergerak, harus duduk manis, cuma bisa goyang jempol dan ketuk-ketuk kaki 😑

Awalnya browsing aja mau beli tiket di mana. Nemu beberapa toko tiket online. Harganya bikin cegukan. Untung mbak Ibit teliti melihat posternya. Penjualan resmi tiketnya di tiketapasaja.com. Harganya masuk akal.

Karena ndak yakin bisa langsung pulang seusai nonton konser, aku memesan sebuah homestay sederhana tidak jauh dari lokasi. Kurang dari 500 meter, supaya bisa jalan kaki berangkat dan pulang nonton konser. Di Desa Borobudur yang sudah menjadi desa wisata, memang banyak pilihan homestay sederhana.

Open gate untuk penukaran tiket sudah dibuka sejak pukul 15.00. Tapi pada jam itu hujan turun walau tidak terlalu deras. Baru sekitar setengah jam kemudian reda. Aku sempat mbatin, ini panitianya apa ndak pakai pawang hujan?

lebih banyak penonton cowoknya!

 

Alhamdulillah bisa foto bareng dengan (yang mirip) Mariah Carey… hiburan selama menunggu open gate 😀


Sehabis tukar tiket, tampak sudah banyak yang berdiri di depan gate sejak pukul. Padahal open gate panggungnya pukul 18, dan itu pun masih menunggu hingga Mariah muncul pukul 20 lewat. Untung rajin latihan penguatan kaki dengan yoga 😁

Seneng lihat Mariah Carey berdamai dengan dirinya. Badannya sudah bagus lagi (untuk usianya, dan mengingat riwayat perjuangannya dengan bentuk badannya), tidak memaksakan diri lipsync untuk nada tinggi dan lebih memilih improvisasi. Panggungnya mungkin kurang wah (untuk sekelas Mimi), tapi sound systemnya lumayan buat kupingku. Lighting dan band dan penari dan penyanyi latarnya keren. Penontonnya apalagi. Banyakan laki daripada perempuannya, dan hapal semua lagu, ikut nyanyi terus. Aku takjub!

Ada hal lain yang lebih bikin takjub. Ngobrol-ngobrol dengan sesama penunggu open gate di pintu festival, ada sekeluarga berisi ayah ibu dan dua anak, yang hanya tahu beberapa lagu Mariah Carey tapi datang nonton, ‘Pengin tahu aja kaya apa konsernya.’ Doh! Dan karena di area festival aku berdiri lumayan agak belakang, sesekali aku iseng memperhatikan yang duduk di kursi SVVIP. Selama pertunjukan banyak banget yang ndak konsen sama Mbak Mariah. Ada yang sibuk main HP. Diam bengong tampak bosan. Dan ada yang tidur. Woooy… what did you come here for?

Meskipun sempat gerimis rintik sebentar sebelum pertunjukan mulai, yang bikin panggung basah dan licin dan Mariah harus sangat hati-hati berjalan dengan high heels-nya, sepanjang pertunjukan hujan menahan diri, dan baru turun dini hingga pagi hari. Pakai pawang hujan mungkin ya. Sakti pun.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, termasuk Danang Sukendro, orang tersenyum, dekat

Setelah menunggu berbulan-bulan ditambah beberapa jam, satu setengah jam lebih yang diberikan Mariah Carey serasa kurang. Ikut bernyanyi sepanjang pertunjukan belum juga puas. Harusnya kemarin nonton yang di KL juga, jadi bisa puas bahagianya ya….

Tandus.

Musim kering di puncak kering. Hutan jati meranggas, menggugurkan daun-daun, setia menunggu hujan turun. Siang terik berdebu. Tanpa angin. Tapi Mbah Nah menutup semua pintu dan jendela. Kera-kera mulai turun bukit mencari makan di rumah-rumah penduduk. Mbah Nah takut.

Sedikit lebih turun dari kaki bukit, dua saudara peripean duduk di teras, sambil memangku anak mereka yang belum genap selapan dan hanya selisih dua minggu. Puji istri Eko. Fitri istri Dwi, adik Eko. Mbah Wujil ketiban durian runtuh, tampa putu dua sekaligus, laki-laki semua.

“Anakku ni kayanya ga puas nyusu aku, Yu. Masih nangis terus walau udah diteteki kanan kiri. Untung Mamak sudah siap botol dan susu formula.”

“Ya sama. Ini juga gitu. Udah diteteki, udah ditambahi susu formula, masih nangis juga. Kayanya minta maem.”

“Lah mbok dikasih maem,” kata Mbah Wujil.

“Tapi kata bidan, kalau belum enam bulan belum boleh dikasih maem, Mak,” kata Fitri.

“Kenapa katanya, kok harus nunggu enam bulan? Bojomu dulu belum puput juga sudah tak suapi. Lihat sekarang gedenya gagah rosa begitu.”

“Wah ya ndak tahu. Pokoknya gitu. Biar sehat, sampai enam bulan diteteki thok. Kalau bisa jangan disambung susu dot.”

“Ya karepmu. Dikandhani wong tuwek kok ngeyel.”

“Ya kan ini sudah disambung, Mak, pakai dot dan susu yang Mamak beliin…. Nanti kalau masih nangis terus, boleh deh Mamak kasih maem.”

.

Bayi itu bisanya menangis. Pipis. Eek. Sumuk. Minta digendong. Digigit semut. Lapar. Nangis. Dan bayi lapar itu makanannya susu. Bukan tajin. Bukan pisang. Bukaan biskuit mari digerus dicampur air.

Bayi udah diteteki masih nangis mungkin karena pengin ngempeng dan nyaman dipeluk. Mungkin belum kenyang karena belum cukup nyusu. Belum tentu air susu emaknya kurang. Bisa jadi ngemutnya ndak pas jadi susunya ndak ngalir lancar. Bisa jadi anaknya males ngenyut. Kalau tetekmu sampai mbangkaki keras dan bajumu basah oleh tetesan air susu tak terminum, bagaimana bisa kamu bilang susumu kurang?

Bayi itu bisanya menangis. Kalau dia langsung ngomong nanti emaknya pingsan. Dan seandainya bisa ngomong, mereka mungkin akan bilang, ‘Mak, aku mau nyusu, netek yang banyak. Aku ndak mau maem pisang!’

.

Apakah tandus bukit dan kampung ini, akan terus menjaga ketandusan pikir orang-orang yang tinggal di sana?