circle….

seperti helai sakura yang gugur satu persatu di wajahku

setiap kecup lembut dan bisik lirih

meletakkan aku kembali

pada masa ketika senyum dan sedikit kata memberi lebih banyak makna

waktu mengajariku merawat rindu

menjaga cinta….

Advertisements

aku ingin….

aku ingin pecel

aku ingin salad buah

aku ingin jus semangka

aku ingin kamu….

 

aku ingin oreo

aku ingin donat coklat

aku ingin pizza

aku ingin kamu….

 

aku ingin terbang

aku ingin berlayar

aku ingin melakukan perjalanan

aku ingin kamu….

 

aku tidak ingin apa apa

aku cuma ingin kamu….

24 jam….

Tidak ada ucapan selamat malam. Tidak ada ucapan selamat pagi. Tidak ada apa pun yang berkesan. 
Aku punya banyak waktu semalam sebelum akhirnya tidur sedikit lewat pukul sebelas. Novel yang kubawa selesai kubaca. Iya, yang kubilang kubaca dua lembar demi dua lembar, seperti Intisari di tasmu. Novel itu bercerita tentang banyak rahasia. Dan praduga yang tumbuh karena keengganan bicara. Oleh malu. Oleh rasa tak perlu. Oleh ego.

Betapa asumsi bisa membunuhmu perlahan. Atau tiba-tiba. ‘Aku tidak pernah mengira bahwa….’ Seharusnya jangan pernah mengira! Tapi bagaimana, jika tanya tak berjawab, dan juga tak ada pertanda?

Ini waktu yang persis dengan semalam. Ketika kuputuskan meletakkan buku. Berhenti menunggu. Atau setidaknya melanjutkan lagi besok pagi. Keputusan yang persis dengan semalam. Berhenti menunggu, atau melanjutkan menunggu lagi esok hari.

Aku jeri. Apa yang kutunggu?

The Great Wall

Aku bukan penulis review film. Juga bukan (dan ini salah satu alasan) pengamat film sejati. Sebatas penikmat sambil lalu yang bahkan kadang susah mengingat nama Scarlet Johansen (yang tiba-tiba sekarang jadi mudah diingat karena ternyata suamiku ngefans. Selera yang bagus, Mas).

Kemarin mau diajak nonton The Great Wall simply karena yang main Matt Damon. Belum baca sinopsis, belum nonton trailer. Sama sekali ndak punya bayangan apalagi ekspektasi.

***

the-great-wall-movie-matt-damon

Gambar diambil dari sini

The Great Wall di film ini, dibangun bukan untuk menahan serangan bangsa Mongol, tapi melindungi Negara dari serangan Taotie. Taotie adalah monster serupa dinosaurus yang menjadi lambang ketamakan manusia, menyerang setiap 60 tahun sekali. Pasukan khusus dilatih untuk menghadapi serangan monster ini.

William (Matt Damon) dan Tovar (Pedro Pascal) dua orang tentara bayaran yang sedang dalam perjalanan mencari serbuk hitam, bertarung dengan seekor Taotie dan berhasil melumpuhkannya. Tak lama kemudian mereka bertemu dan ditahan oleh tentara Tiongkok dan dibawa ke markas. Kaki Taotie yang ditemukan bersama mereka menimbulkan tanda tanya besar bagi Jendral Wu (Eddie Peng), Komandan Lin (Jing Tian), Penasehat Wang (Andy Lau) dan segenap pasukannya. Mustahil menebas kaki Taotie begitu saja dengan pedang. William dan Tovar dianggap berbohong dan hendak dijatuhi hukuman mati. Tak seorang pun boleh pergi membawa rahasia dari Great Wall.

Belum jadi hukuman dilaksanakan, gerombolan Taotei menyerang lebih cepat dari yang diperkirakan. Kedua tawanan akhirnya dibawa naik ke atas Great Wall dan dijaga oleh seorang prajurit, sementara pasukan bertempur menghadapi Taotie. Tak diduga, Taotie yang menyerang kali ini telah berevolusi dan menjadi lebih cerdas dari yang menyerang 60 tahun sebelumnya. Prajurit yang ditugaskan menjaga tawanan terpaksa abai karena menghadapi seekor Taotie yang berhasil naik ke tembok. Ballard (Willem Dafoe) seorang kulit putih yang tampaknya telah lama menjadi penghuni Great Wall, membebaskan William dan Tovar. Keduanya ikut bertarung melawan Taotie untuk bertahan  hidup. Mereka berhasil membuat petinggi pasukan terkesan. Serangan pertama musim ini berhasil digagalkan, pasukan Taotie mundur.

Dari sini bisa ditebak kelanjutan jalan cerita. Tinggal tebakannya benar atau salah, haha.

***

Film ini seperti dongeng. Kisah dan plotnya tidak terlalu istimewa. Kabarnya, Zhang Yimou sang sutradara dianggap gagal membuat penonton terkesan, mengingat anggaran besar untuk film ini. Karena aku tidak punya harapan apa-apa ketika berangkat nonton, aku tidak punya apa-apa pula untuk dikeluhkan.

Kemegahan kolosal yang disajikan cukup memukau (aku). Aku membayangkan apakah benar tentara Tiongkok di masa lalu berseragam begitu gagah dan indah. Adegan pertarungannya indah. Aku paling ndak tahan lihat adegan sabetan pedang dan darah-darah. Jadi meskipun di beberapa bagian sempat tutup mata, tapi secara keseluruhan aku menyaksikan.

Akting Matt dan Pedro asik. Eman sebenarnya, Andy tidak banyak beraksi dengan kungfunya. Naik pangkat ya, dari petarung ke penasehat. Memang terlihat tenang dan bijak, dapat lah. Tapi tetap saja eman….

Yang sedikit kurang, menurutku, adalah akting Jing Tian sebagai Komandan Lin. Maksudku. Seorang wanita muda yang menjadi komandan pasukan khusus berjumlah ribuan, walau secara fisik halus tapi karakter ‘kuat’-nya tetap harus nampak. Jing kurang kuat. Bayangkan Angelina Jolie sebagai Maleficent, atau Tomb Raider. Eh, kejauhan ya?

Lumayan lah buat hiburan. Tapi aku tetep pengin nonton Passengers. Atau The Arrival.

Ternyata golf itu menyenangkan!

Setelah sekian tahun bertahan terhadap ajakan suami untuk bermain golf, akhirnya aku luluh juga. Hari ini, seharian aku berlatih, dan ternyata menyenangkan!

Pertama-tama ajar titis.


nyamar jadi bendera hole ⛳️

begini lebih gampang..

hampir!

Well. Ndak papa beda hobi sama suami. Ndak papa juga ndak bisa mengikuti. Kita cuma harus tahu cara bersenang-senang biar semua hepi. Ya kan?

the struggle is real

aku bisa naik ke atas batu ini dengan sekali pull up, lalu lompat dan duduk di atas batu. tapi kata suamiku, cara naik seperti itu terlihat gampang dan kurang dramatis untuk difoto. jadi dia mengarahkan gaya memanjat yang terlihat ‘kerja keras’ ini.

sebenarnya, di balik naik dengan pull up (yang terlihat gampang itu), ada banyak kerja keras yang justru dilakukan jauh sebelumnya. yang tidak bisa terlihat dalam gambar. tidak, bukan kerja keras khusus untuk bisa naik ke batu dengan mudah. tapi kebetulan membuat naik ke batu ini jadi mudah. cara memanjat yang terlihat sulit ini buatku ya sama saja. tapi bagi yang melihat, bisa kelihatan bagaimana aku berjuang.

sayangnya, kebanyakan orang hanya fokus pada apa yang bisa dilihat. sebuah pencapaian yang tidak menyajikan sejarah perjuangan terlihat ujug-ujug dan kurang berharga. maka jangan heran ketika kepada kita dihadapkan berbagai drama proses perjuangan, lalu ditutup dengan success story yang, sebenarnya ndak sukses sukses amat. tapi karena sebelumnya kita (terpaksa atau tanpa sengaja) mengikuti rentetan kisah perjuangan, maka tampak itu sebagai sebuah pencapaian besar. mereka yang bekerja sungguh-sungguh dalam sunyi, terabaikan karena dia tidak pintar mencuri perhatian sejak awal. dan sering hasil kerja mereka pun tidak banyak diketahui. atau kurang dihargai.

***

ini soal pandai-pandainya kita mengemas cerita. bagus buat marketing. come on, setiap kita butuh menjual diri. dan setiap cara jualan, menyesuaikan pasar sasaran. no?