(tak ada) sesal

lalu aku terlempar lagi ke depan keangkuhan itu. harga diriku di depan penolakan. keinginan berdiri tegak dan menunjukkan aku berharga, mematahkan segala bantahan. benarkah aku pemenang?

perjalanan menunjukkan pertempuran tak pernah usai. setiap saat aku harus selalu lagi dan lagi berusaha tegar. kekuatan dari penderitaan. benarkah aku pemenang?

entah siapa kini yang lebih menyesal. memaafkan tidak semudah melukai. tidak semua luka bisa disembuhkan. yang kusesali adalah kebodohan. merasa lebih berharga memenangkan pertempuran, ketika seharusnya ada pelukan menanti penuh harapan.

luka di sana luka di sini. luka yang telah membuat orang yang kukasihi mati. hidupku mendadak hilang arti.

aku merasa kering. dan di kemarau ini, entah sampai kapan aku sanggup bertahan.

 

pendam

IMG_8647

yang sekian ratus purnama mengendap di kedalaman

menjelma kepedihan di permukaan

mata remaja itu begitu lugu

luka ditimbun satu persatu hingga beribu

kata-katanya tak kuasa bersuara

hanya jerit dalam hampa

masa, oh, masa

bila kau ijinkan segalanya terbuka?

rajam

DSC_4120

aku belum kebal akan sesal. bukan soal aku sendiri, tapi soal orang yang paling kukasihi. sesalku akan sembilan dan sembilan lagi bulan, yang mungkin tidak akan pernah terbayar meskipun aku diberi kesempatan sembilan kehidupan.

hidup tidak pernah benar-benar baik saja. atau hidup tidak pernah tidak baik-baik saja. aku sudah belajar memutar-mutar sudut pandang, lalu menemukan yang paling nyaman. kadang masih saja aku kembali ke sudut lama. menekur lagi. kadang tanpa sengaja. sesekali karena aku ingin mengenang sesal, agar tak ada lagi kesalahan kedua.

semesta memanjakanku dengan cara yang tidak terduga. melindungiku dengan tabir yang tak terkira.

.

jadi bagaimana denganmu?

kurasa aku baru saja menyadari, bahwa semua yang kau lakukan ternyata pedih sejak awal. kau telah melemparkan diri ke tengah lapangan rajam, sambil mengira akulah yang akan menjadi sasaran. tidak, sayang. aku telah merajam diriku sendiri hingga kebal. hujaman pedih darimu hanya akan mental.

.

lihatlah dirimu. di mana gemerlap yang coba kau tunjukkan dulu? mungkin akhirnya waktu berhasil menunjukkan padamu, bahwa beberapa keindahan sebenarnya semu. beberapa harapan sebenarnya angan. mungkin saat ini kau berada tepat di tempat aku berpijak sepuluh tahun yang lalu. lalu perlahan kau menutup diri, agar tak seorang melihat bahwa sebenarnya perlahan kau meredup.

ah, tidak. maksudku, bahwa sebenarnya kau tidak juga kunjung cemerlang. segala yang pernah kau anggap berbinar itu tak pernah ada. tak ada yang benar-benar bisa kau banggakan. tak ada apa pun yang bisa kau tunjukkan untuk membuat aku cemburu atau sekedar iri. bukan begitu?

.

aku duduk di biduk kecil yang mengayun di danau yang tenang. aku telah pernah tenggelam ke dasarnya yang paling dalam. tersedak, hampir mati. tapi di sinilah aku sekarang. hidup. menyimpan kegelapan di kedalaman, menyesap ketenangan di permukaan.

unconcsiousness

jauh di dasar

di bawah sadar

telah mengerak perasaan bersalah

entah siapa yang telah kita lukai

kau, aku, atau orang yang menyimpan kita dalam setiap rapal doa

 

jauh di dasar

di bawah sadar

telah mengerak sebuah harapan

untuk dapat memperbaiki

benar, salah, telah menjadi entah yang perih namun memabukkan

 

bukankah sebenarnya kita tak punya kenangan selain luka?

waktu telah menumpukkan debu, menutup ingatan

bukankah kita telah menjadi jiwa yang benar-benar berbeda?

lalu mengapa kita mencoba membaca luka sebagai bahagia?

 

tak ada

tak ada

tak ada

satu dua tiga

berkecambah

lalu punah.