Ghibah Manten

Hari pernikahan adalah titik awal perjalanan mengarungi pernikahan. Perayaan dalam bentuk apa pun, sekedar akad dan selamatan dengan tetangga kanan kiri, atau resepsi mewah di gedung megah, mestinya menjadi hari penuh kebahagiaan bagi sang pengantin.

Tamu undangan adalah orang-orang yang dipercaya untuk ikut berbagi kebahagiaan, dan menambah kebahagiaan dengan restu dan doa dari mereka. Tapi.

Sering terdengar kutipan lucu tapi benar, “Mau sesempurna apa pun kamu merencanakan resepsi pernikahan, pasti orang akan menemukan kekurangan.” Begitu jamaknya, sampai seperti jadi kesepakatan umum.

Seorang teman menambahkan, dari semua hal yang berpotensi jadi bahan ghibah, makanan adalah yang paling utama. Jadi fokus aja di sana. Siapin makanan yang enak dan banyak. Kalau lidahnya sudah dimanjakan, semoga kelu untuk membicarakan hal-hal lain.

a woman walking through a gate with white curtains

***

Sayangnya, resepsi dan semua uba rampe-nya bukan satu-satunya hal yang mengundang ghibah. Sosok mempelai juga bisa jadi bahan. Mempelai pria yang terlalu tua. Mempelai wanita yang ternyata istri kedua. Hamil duluan. Hamil duluan lalu menikah dengan lelaki yang bukan bapak si bayi.

“Aku kaget dapat undangan nikah. Baru tau ternyata dia sudah cerai.”

“Iya, padahal anak-anaknya masih kecil, kok cerai, ya. Apa nggak kasihan anaknya? Trus cepet banget sekarang nikah lagi.”

“Nikahnya sama itu, pula.”

***

Oh people. Mind your own lives.

PEREMPUAN

1.

Kelahirannya tak jarang disesali, karena orang tuanya (ayah, kakek, nenek) lebih suka punya cucu laki-laki. Seorang teman bercerita betapa stress dirinya dulu, ketika anak pertamanya perempuan dan mertuanya tidak terlalu bergembira menyambut. Mereka ingin cucu laki-laki. Lalu temanku itu berusaha supaya anak keduanya laki-laki. Ikut program di spesialis kandungan. Dihitung kapan jadwal harus berhubungan, makanan apa yang harus dan tidak boleh dikonsumsi. Lalu lelah. Untunglah ketika dia pasrah, akhirnya Allah mengaruniai anak laki-laki.

Bagaimana jika ternyata anak keduanya perempuan lagi?

2.

Budaya patriarki menanamkan pada perempuan sejak kecil, bahwa tugas-tugas rumah seperti menyapu, memasak, mencuci baju; adalah kewajiban perempuan. Termasuk nanti setelah dewasa dan menikah, mengurus anak dan suami adalah kewajibannya semata. Suami, harus dilayani apa pun maunya. Tabu bagi suami mengerjakan pekerjaan rumah.

Ada istilah dalam Bahasa Jawa yang menyebut perempuan sebagai ‘kanca wingking’. Teman di belakang. Yang lebih popular adalah ‘perempuan itu tugasnya seputar dapur, sumur, kasur.’ Masak, cuci-cuci, dan ‘melayani suami’ yang ingin melepaskan hasrat seksual. Seolah perempuan sendiri tidak punya hak untuk menikmati aktivitas hubungan badan, sehingga harus siap kapan pun suami ingin, bahkan ketika istri kelelahan mengurus dapur dan sumur. Seolah perempuan tidak punya hak untuk bersenang-senang, beraktualisasi, dan mengembangkan diri.

3.

Rahim adalah karunia dengan tanggung jawab yang luar biasa. Dimulai dengan menstruasi dan segala kenikmatannya. Emosi dan rasa tubuh yang tak karuan bahkan sebelum menstruasi dimulai dan selama berlangsungnya. Sakit punggung, payudara kemeng, perut kram, diare, anemia. Dijauhi karena najisnya.

Tak sedikit yang mendapat tambahan penderitaan dengan tumbuhnya benda asing di rahimnya. Mium, kista. Menstruasinya bisa jadi lebih banyak, lebih lama hampir tanpa henti, lebih sakit.

Cuti haid dianggap ngadi-adi. Mengeluh sakit dibilang manja. Dan seringnya yang menganggap enteng derita haid adalah laki-laki: manusia yang tidak punya rahim. Dimintain tolong beli pembalut malu. Dulu, entah malu karena apa. Seolah pembalut adalah barang aib. Bahkan ketika perempuan sendiri yang beli, harus dimasukkan ke tas plastik hitam atau pokoknya tidak boleh kelihatan. Sekarang laki-laki menemu alasan baru untuk malu dititipi beli pembalut.

4.

Hamil adalah karunia dengan tanggung jawab yang luar biasa. Segala perubahan hormon dan bentuk tubuh mengacau emosi, memicu pegal, lelah. Masa ngidam yang mual, muntah, lemas. Tak jarang disertai hipertensi dan diabetes yang muncul sementara. Makin besar kandungan makin susah bergerak, berdiri salah, duduk salah, tidur miring salah, tidur mlumah begah. Gerah. Ketawa atau batuk sedikit terkencing.

Belum lagi kehamilan dengan resiko tinggi. Yang bayinya kembar, yang bayinya tumbuh di luar rahim, yang plasentanya di bawah, yang kandungannya lemah. Yang ibunya punya kondisi khusus yang membahayakan.

Melahirkan adalah perjuangan hidup dan mati. Kesakitan yang tidak bisa diceritakan. Lelah yang tidak terperi. Belum lagi kelahiran yang sulit. Yang bayinya sungsang, yang bayinya terlilit tali pusat, yang pinggulnya sempit, yang pre eklamsia.

Perempuan menikah yang tidak kunjung hamil jadi bahan pembicaraan. Orang-orang sekitar mulai dari keluarga, tetangga, sampai teman tak henti bertanya kenapa belum hamil.

Padanya tuduhan mandul pertama disematkan. Banyak laki-laki yang menganggap perempuan seperti ini sebagai sebuah kesialan. Mereka sendiri enggan memeriksakan diri, tidak percaya bahwa kemungkinan laki-lakinya yang bermasalah.

5.

Kanker serviks dan payudara adalah dua di antara penyakit pembunuh perempuan yang paling tinggi. Sering terlambat terdeteksi. Banyak yang tertolong dengan mengangkat bagian tubuh yang terkena kanker. Lalu laki-laki yang tidak punya hati berkata, ‘Perempuan sudah tidak berguna lagi kalau tidak punya rahim atau payudara.”

Menteri Kesehatan mengumumkan bahwa vaksin kanker serviks akan dijadikan sebagai salah satu vaksin wajib nasional. Berita yang disambut gembira oleh perempuan.

Tapi masih ada saja komentar negatif dari laki-laki, menganggap kewajiban vaksin adalah sebentuk penjajahan dan mencari keuntungan finansial semata. Manusia yang tidak punya serviks. Bahkan mungkin tidak tahu serviks itu apa.

6.

Pencegahan kehamilan masih lebih banyak dibebankan pada perempuan. Suntik, implant, pil, IUD. Kecuali IUD, semuanya adalah manipulasi hormon. Tubuh yang dimanipulasi, tentu tidak alami lagi. Selalu ada efek buruk yang menyertai. Bahkan IUD yang bekerja mekanis, dia ditanamkan di dalam tubuh. Membuat haid lebih deras. Bukan hal yang  menyenangkan.

Sementara laki-laki, menolak vasektomi karena merasa kehilangan kejantanan. Pakai kondom pun enggan karena rasanya jadi tidak enak saat berhubungan. Betapa oh betapa. Menyuruh perempuan menanggung segala ketidaknyamanan tubuh sepanjang hari setiap hari karena pemakaian alat kontrasepsi, demi agar laki-laki tetap merasa enak menyambut ejakulasi.

***

Seorang gay (laki-laki) menceritakan bagaimana dia ikut memanfaatkan pembalut untuk kenyamanannya pada situasi tertentu. Seorang dokter yang cuitannya dibaca puluhan ribu orang mengatakan cerita itu membuat dia overthinking ketika akan membelikan pembalut untuk istrinya, sambil mengolok pilihan si laki-laki gay.

Banyak laki-laki merespon setuju. Yang sejak awal tidak mau makin tidak mau. Yang sudah mau jadi mikir ‘duh gimana kalau nanti aku beliin pembalut buat istri malah dikira gay.’

Sedihnya, ada perempuan yang setuju pendapat itu. Bahwa laki-laki yang membelikan pembalut untuk perempuan dekatnya (istri, ibu, saudara, teman) adalah hal memalukan. Bahwa perempuan tidak perlu merepotkan laki-laki untuk urusan beli pembalut. Sudah tahu siklus, bisa bersiap, blablabla.

Dengan semua hal yang harus dihadapi perempuan soal rahimnya, kenapa laki-laki merasa turun harga diri hanya karena membelikan pembalut? Bukankah membantu orang lain yang sedang berkesusahan justru adalah perbuatan mulia, yang membuat dia makin mulia?

Kenapa ada perempuan yang setuju bahkan membela?

Bertiga

Ibu pernah bilang, jika ada hal buruk yang terjadi pada tiga anak perempuannya, maka aku akan menjadi yang paling kuat.

Aku tidak tahu hal buruk apa yang menurut Ibu bakal mungkin terjadi pada kami. Tapi. Aku akan jadi yang paling kuat?

Kakak tertuaku, sangat kuat beragama. Dia lahir dalam keadaan Bapak dan Ibu sedang merintis hidup. Dia mengalami sehari-hari makan bulgur, yang kata Bapak, itu adalah pakan babi. Dia orang berkemauan paling keras di rumah. Juga pejuang keras.

Kakak keduaku, tak sedikit beda menelan kemiskinan di masa kecilnya. Dia sangat rasional. Segala sesuatu dinalar dengan logika. Penuh perhitungan. Penuh analisa. Penuh antisipasi. Memperjuangkan hidupnya untuk jauh dari kepedihan.

Aku. Tidak taat beragama. Sering tidak rasional. Aku percaya apa pun yang aku mau. Hanya yang aku mau. Sebenarnya aku justru merasa, aku sebagai bungsu perempuan menyimpan sikap cengeng. Ndableg. Di mana letak kekuatanku?

Yang kupahami, apa yang buruk bagi seseorang belum tentu buruk bagi orang lain. Tapi selalu ada keadaan yang, mau dilihat dari sudut apa pun, tetap buruk bagi siapa saja. Sampai hilang harapan, hilang akal, tak tahu apa yang harus dilakukan. Kita bertanya pada orang lain, tapi jawaban apa pun tidak memuaskan. Bahkan tidak cukup melegakan. Berada di titik jenuh lelah, mungkin yang terlihat hanya pasrah. Tekanan yang berat membuat diri ingin melarikan diri, tapi terikat oleh nurani.

Aku tidak mengerti kenapa Ibu membicarakan hal buruk. Kenapa pula yang dia bicarakan hanya anak perempuan. Mungkin Ibu yakin anak laki-laki pasti kuat. Mungkin karena seumur hidupnya begitu banyak hal buruk. No. No. No. Jangan menganggap aku berpikir negatif. Juga jangan berpikir negatif tentang Ibu (atau Bapak). Aku bersyukur kami berhasil melalui banyak hal bersama, hingga hari ini. Berusaha mengenang hal-hal indah, tapi, hal buruk tidak mudah dilupakan.

Aku tidak ingin ada hal buruk terjadi di hidup kami, sebesar apa pun kami mewarisi kekuatan Ibu menghadapi cobaan hidup. Aku hanya ingin, jika sesuatu benar-benar terjadi pada (salah satu dari) kami, kami akan tetap saling menjaga. Bahkan jika kami tidak tahu harus berbuat apa, yang penting kami tetap ada, bersama.

(tak ada) sesal

lalu aku terlempar lagi ke depan keangkuhan itu. harga diriku di depan penolakan. keinginan berdiri tegak dan menunjukkan aku berharga, mematahkan segala bantahan. benarkah aku pemenang?

perjalanan menunjukkan pertempuran tak pernah usai. setiap saat aku harus selalu lagi dan lagi berusaha tegar. kekuatan dari penderitaan. benarkah aku pemenang?

entah siapa kini yang lebih menyesal. memaafkan tidak semudah melukai. tidak semua luka bisa disembuhkan. yang kusesali adalah kebodohan. merasa lebih berharga memenangkan pertempuran, ketika seharusnya ada pelukan menanti penuh harapan.

luka di sana luka di sini. luka yang telah membuat orang yang kukasihi mati. hidupku mendadak hilang arti.

aku merasa kering. dan di kemarau ini, entah sampai kapan aku sanggup bertahan.