A Simple (Taboo) Way to Make Everyone’s Day


Di Kantin Staf Bandara Changi, semacam pujasera dengan gerai-gerai halal dan non halal; tempat para pekerja makan pagi, siang, petang, ada berbagai pilihan hidangan Tiongkok, India, juga Indonesia (Kantin Padang yang tidak jual rendang…). Banyak hal menarik yang kulihat di sana. Salah satunya rak tempat mengembalikan nampan ini.

Setiap pengunjung yang selesai makan, diharapkan mengembalikan nampan berisi piring dan gelas yang telah mereka pakai, bukan meninggalkannya di meja. Petugas kebersihan mengambil peralatan kotor dari rak ini, bukan datang ke meja satu per satu. Mereka mendatangi meja hanya untuk mengelap.

***

Return your trays, that’s the way to make everyone’s day.

Kembalikan nampan Anda, agar semua bahagia.

Sekilas sederhana. Tapi ini benar. Petugas kebersihan tidak terlau sibuk. Pengunjung berikutnya bisa langsung menempati meja yang kosong, tanpa harus menunggu ada yang menyingkirkan alat makan yang usai dipakai.

Di rumah, aku membiasakan anak-anak untuk membawa piring ke bak cuci, setiap kali selesai makan. Sekarang setelah mereka makin besar, mereka harus mencuci sendiri piring mereka. That’s how you make everyone’s day. Ini hal sederhana yang sangat membantu menjaga rumah tetap bersih dan rapi.

Tapi pernah aku dibikin terpana karena hal ini. Aku ditegur karena telah membuat anak-anakku melakukan hal yang tabu. Laki-laki membawa piring kotor ke dapur — apalagi sampai mencuci. Dan aku waktu itu benar-benar ternganga. Di mana letak ‘tabu’-nya ikut menjaga kebersihan rumah dengan cara sederhana seperti itu? Oh, mengapa sekedar isah-isah harus jadi kewajiban perempuan dan hal memalukan bagi laki-laki?

***

Aku bersyukur bahwa Bapak dan Ibuk tidak pernah menganggap demikian. Di rumah kami, semua bertanggung jawab atas segala pekerjaan rumah. Siapa saja boleh (harus) melakukan apa saja yang diperlukan. Mengurus cucian (pakaian), cuci piring dan perabotan, nyapu-ngepel, masak. Tidak ada pekerjaan laki atau perempuan. Aku telah terlalu sempit melihat, hanya ke dalam rumah kami, dan mengira memang begitulah yang berlaku di semua rumah.

Apa ini bagian dari budaya patriarki?

It Only Hurts if You Love….

Kucing Inne mati karena tabrak lari di depan rumahnya. Inne menjerit sampai tetangga-tetangga keluar melihat ada apa. Setelah mereka tahu yang terjadi, inilah yang keluar dari mulut mereka: ah, cuma kucing…

Kucingku mati karena wabah distemper. Bahkan meskipun sudah kubawa ke dokter hewan dan dirawat di klinik. Aku menangis. Seorang kawanku tertawa dan menganggapku konyol dan berlebihan. Mungkin cuma sopan santun yang mencegah dia mengatakan aku bodoh atau gila, karena telah menghabiskan uang untuk mengobati kucing yang akhirnya toh mati juga.

***

Kau bisa berkata, “Ah, gitu aja…,”

Tapi tak akan sakit kalau tak cinta.

Detak Detak

Buat Ultah MFF

Sketsa oleh Edmalia

Pukul 06.08.59.

Dunia berputar seperti biasa. Orang-orang bergerak seperti tidak akan terjadi apa-apa. Matahari masih terbit di pagi hari, setelah dibangunkan oleh kokok ayam jago milik Wak Adul. Bi Rum masih berjualan bubur sayur di teras rumahnya yang reyot. Si Kembar Utin Itin masih berangkat sekolah sambil bergandeng tangan dan berjalan setengah melompat riang.

Mereka tidak tahu detak-detak yang kuhitung mundur sejak enam jam delapan menit lima puluh sembilan detik yang lalu. Jam dinding doorprize jalan sehat 17-an dua tahun yang lalu masih bekerja dengan baik dan akurat, baru dua kali ganti baterai. Gambarnya yang pudar mendadak menggambar wajah entah lelaki entah perempuan, muram namun keras dan mengintimidasi. Setiap detak jarumnya mengingatkan aku untuk bersiap. Aku keluar rumah dan berjalan dengan langkah sewajar mungkin. Tersenyum sekilas pada ibu kosku,  Tante Lusi, yang berjemur sambil memangku Dudung, kucingnya. Aku tidak ingin terlihat mencurigakan.

Saatnya segera tiba. Kuperiksa lagi ranselku. Memastikan benda itu sudah berada di sana dengan aman. Aku sudah merancangnya berhari-hari dengan teliti. Kusimpan dengan hati-hati, jangan sampai salah kejadian karena keteledoran. Di angkutan umum aku memilih duduk tidak berdesakan dengan penumpang lain. Ranselku tidak boleh terhimpit sembarangan.

Pukul 07.23.42.

Matahari mulai tinggi. Udara mulai panas. Jalanan sibuk oleh lalu lalang kendaraan dan manusia berbagai bentuk dan ukuran. Aku melebur di keramaian meredam detak jantung yang semakin tidak karuan. Kulangkahkan kaki mendekat ke kafe yang kutuju. Perlahan membuka pintu. Masih sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di beberapa meja tersebar.

Aku mendekat ke bar. Sang barista berhenti menggoyang shakernya. Matanya menatap tajam padaku. Hampir saja aku berhenti karena kehilangan tenaga. Tapi aku berhasil menguasai diri dan tetap berjalan menujunya.

Kuletakkan ranselku di lantai. Kubuka perlahan dan kukeluarkan box yang sudah kusiapkan tadi pagi.

“Selama bertahun mengerjakan hal ini untuk banyak orang, aku tidak pernah mencurahkan tenaga pikiran sebanyak untuk yang satu ini. Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan. Aku tidak pernah menganggap salah, perempuan bicara duluan. Aku akan terima apa pun sikapmu setelah ini. Tapi aku tidak mau hanya terus menunggu dan menyiksa diri.”

Kusodorkan box itu. Dia membuka tanpa kata-kata. Sebuah kue ulang tahun berbentuk kamera DSLR sedetilnya, karena kutahu selain kopi dia juga penggila fotografi.

“Selamat ulang tahun, Bar. Aku mencintaimu. Bolehkah aku menjadi kekasihmu?”

====================

Postingan yang terlambat untuk ulang tahun ke-3 Monday Flash Fiction 

Karena Kau Lubang, Bukan Keledai

  
I.

Ketika setahun yang lalu aku divonis harus operasi karena usus yang mluntir dan lengket, itu mengerikan sekaligus melegakan. Mengerikan saat melihat hasil x-Ray keadaan perutku (dan karenanya masuk akal bagaimana sakit yang ditimbulkan) dan hasil foto ususku yang diambil dengan HP dokterku saat operasi berlangsung. Melegakan karena itu adalah jawaban dari penderitaan bertahun-tahun di mana aku didagnosa maag (yang ternyata bukan). Oh, dan menakjubkan bahwa hal seperti itu bisa terjadi.

II.

Beberapa orang dengan serius menasehatiku untuk berhenti beryoga, karena menganggap itulah penyebab lengket ususku. Yang lain mengingatkan untuk tidak terlambat makan karena menganggap itulah penyebabnya: perut kosong, tidak ada makanan yang lewat, usus merapat. 

Sebagai pasien yang didiagnosa ‘maag kronis’ selama bertahun-tahun tentu saja aku sudah mewaspadai segala penyebab kambuhnya. Tidak telat makan, tidak pedas, tidak asam, tidak soda. Makanya aku selalu heran, separah apa kerusakan lambungku sampai sebegitu parah tiap bulan kambuh padahal sudah dijaga sebisa mungkin. Dan sungguh aku tidak nemu penjelasan ilmiah tentang beryoga dapat menyebabkan usus mluntir…

III.

Kata dokter, lengket karena adhesi bisa terjadi lagi tapi bisa dicegah. Banyak olah raga dan mengkonsumsi vitamin E. Olahraga yang dilakukan pun harus yang variatif, yang memungkinkan posisi perut dinamis tidak statis. Lari, misalnya, meskipun keras dan melelahkan tapi posisi tubuh/perut tegak terus. Dokter menyarankan berenang. Atau latihan di gym dengan berbagai alat. Atau pilates. Atau yoga. Supaya ada variasi posisi tubuh; tegak, miring, berbaring. Jadi bagaimana yoga yang disarankan oleh dokter untuk mencegah terjadinya adhesi usus, justru menjadi penyebab adhesi?

IV. 

Muntah dan kembung bukan melulu disebabkan telat makan lalu maag kambuh. Tapi juga oleh sakit ‘sesederhana’ masuk angin dan kecapekan.

V.

Tidak ada orang yang ingin sakit. Kamu tidak tahu apa yang dilalui orang lain — dan trauma yang mungkin dialami; tidak cukup untuk mengatakan seseorang telah lalai menjaga kesehatan dan membiarkan diri jatuh ke lubang yang sama. 

VI.

Orang mungkin perlu mengalami ‘bagaima rasanya’ untuk berhenti asal bicara.

Banyu

Cerita cekak iki dipasang ing Jagad Jawa, Solopos, 29 Oktober 2015

==============================================

  
Dina iki aku bali rada gasik timbang biyasane. Jam lima wis tekan ngomah. Bu Citro, tangga ngarep omah nganti nyemantakke, “Kadingaren sampun kondur, Jeng?”

Sajake Bu Citro uga lagi bali saka lelungan, nembe nutup pager. “Kula bibar saking dalemipun Pak Juri. Nyuwun tulung badhe ndhudhuk sumur. Sampun asat saestu. Kala wau kula tumbas toya galonan kangge asah-asah. Sedinten dereng adus.” Bu Citro ngguyu sedhih.

“Katuran mundhut toya saking keran kula lho, Eyang. “

“Ah, sampun. Mangke sumur panjenengan malah kasatan kados gadhahan kula…”

Aku ora kepenak arep neruske rembugan. Aku pamit mlebu. Continue reading

Yang Lucu tentang Kata-kata Lucu Bahasa Indonesia VS Malaysia

Pernahkah mendengar tentang bagaimana kata-kata Bahasa Indonesia, menjadi lucu ketika diterjemahkan ke dalam Bahasa Malaysia? Search saja deh, pasti nemu banyak.

Seorang teman yang asli Malaysia saat ini sedang hamil. Aku langsung teringat tentang ‘Rumah Sakit Korban Lelaki’. Dia malah bertanya, itu rumah sakit apa? Aku jelaskan aku baca lupa entah di mana, bahwa ada beberapa kata Malaysia yang terdengar lucu ketika disepadankan dengan makna yang sama di Bahasa Indonesia. Seperti putar (Ind) yang menjadi pusing (Mal). Padahal dalam Bahasa Idonesia, pusing itu sakit kepala. Juga bersenang-senang (Ind) yang dalam Bahasa Malaysia menjadi berseronok. Sedang dalam Bahasa Indonesia, seronok itu berkonotasi ‘saru’. Termasuk Rumah Sakit Bersalin yang (katanya) dalam Bahasa Malaysia adalah Rumah Sakit Korban Lelaki.

Ternyata dia belum pernah dengar ada istilah Rumah Sakit Korban Lelaki untuk menyebut Rumah Sakit Bersalin. Menurut dia, tidak ada sebutan khusus untuk Rumah Sakit yang khusus melayani ibu melahirkan. Yang ada Maternity Clinic. Ini justru bikin dia penasaran, bagaimana bisa beredar kata-kata lucu itu di kalangan orang Indonesia.

Kemarin, dalam keadaan hamil muda yang lemas karena masih ngidam dan belum bisa makan, dia menyapaku dengan tawa melalui chat. Akhirnya dia tahu dari mana istilah itu muncul.

Jadi ceritanya begini. Di Kuala Lumpur, ada Hospital Kuala Lumpur (HKL) atau Rumah Sakit Kuala Lumpur (RSKL). Di sekitar rumah sakit tersebut banyak tinggal pekerja asal Indonesia. Mereka membawa istri-istri mereka yang akan melahirkan ke HKL. Nah, dari situlah beredar lelucon di kalangan pekerja Indonesia, bahwa RSKL adalah singkatan dari Rumah Sakit Korban Lelaki.

Kawanku sih menganggap ini sekedar sebuah lelucon, dan menurut dia memang lucu. Tapi tidak sedikit pula orang Malaysia yang menganggap lelucon ini kurang ajar. Iya sih, mestinya ndak perlu kesal dengan lelucon ini. Yang tersinggung itu mungkin sense of humor-nya kurang. Kurang piknik…

Nah lo. Kok bisa kata-kata ini disebarkan sebagai kata Bahasa Malaysia, padahal awalnya beredar di lingkungan orang-orang Indonesia? Lucu? Ya memang lucu, namanya juga lelucon. Lucu karena lelucon, bukan lucu karena itu kata-kata Bahasa Malaysia.

***
Betapa sering kita mengamini apa saja yang beredar di internet, menganggap semua cerita adalah fakta dan benar. Ndak terlalu gawat kalau sekedar lelucon. Sayangnya banyak juga yang menyebar berita palsu dan fitnah. Yang membaca juga iya-iya aja, malas mengecek kebenaran. Bawaannya tersinggung lalu menyerang tidak karuan. Nah, ini jauh lebih lucu.

Dover: Kegetiran Dunia Imigran Gelap

Dover 

Gustaaf Peek

Amsterdam, Em. Querido’s Uitgeverij. 2008.

Alih bahasa: Gabriella Felicia, Maria Leisa Adelia, Meggy Soedjatmiko, Miranda Sapardan, Sri Zuliati, Tyas DM, Vini Widianingsih, Widjajanti Dharmowijono, Zahroh Nuriah.

Gramedia Pustaka Utama, 2015.

dover

===========

Membaca Dover adalah membaca kegetiran dunia imigran gelap. Mimpi dan angan-angan akan hidup yang lebih baik di negara lain, meninggalkan kepedihan masa lalu di negara asal. Tony yang dari Indonesia. Bas yang dari Afrika. Ayline yang entah dari mana. Menjadi bahan perahan tangan-tangan jahat yang menjanjikan harapan. Abdu yang memperdagangkan perempuan. Bernard pengacara bangkrut yang beralih urusan mencarikan jalan pelarian. Tuan Chow yang masih sedikit punya perasaan.

Buku ini dibuka dengan kejadian tenggelamnya kapal yang mengangkut 58 penumpang imigran gelap dengan menggantikan muatan yang dilaporkan sebagai tomat, dari Rotterdam (Belanda) ke Dover (Inggris). Hampir seluruh penumpang mati karena keracunan karbondioksida. Hanya dua yang selamat.

Dover dituturkan bergantian oleh tokoh-tokohnya, dalam lompatan ruang dan waktu. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari masa kini ke masa lalu dan kembali ke masa kini.

Kelihaian Gustaaf menciptakan penggalan-penggalan kisah, kemudian menjalinnya dalam jejaring yang berkaitan, menjadikan novel ini jauh dari membosankan. Setiap bagian kisah seolah adalah cerita tersendiri. Dituturkan oleh tokoh yang berbeda, memiliki alur dan twist masing-masing. Namun semuanya padu menyusun keseluruhan cerita. Kita seperti diajak terayun terombang-ambing ke sana kemari, tapi menikmati.

Di beberapa bagian penuturan tentang kejadian yang sama dilakukan oleh dua tokoh dan terasa seperti pengulangan yang sedikit mubadzir.

Salah satu bagian menarik dari Dover adalah latar belakang Tony, tokoh utamanya, yang adalah imigran gelap asal Indonesia. Gustaaf menceritakan dengan baik detil kejadian kerusuhan Mei 1998. Kisah Tony adalah rekaan, tapi Gustaaf mereka kisah dengan bertanggung jawab, tidak lepas dari fakta bersejarah yang terjadi.

Rentang kisah yang cukup lama (dimulai dari masa kecil Tony hingga awal 2000-an) memberi ruang yang cukup longgar bagi tiap tokoh untuk bertutur tentang dirinya. Gustaaf telah cukup memberikan flash back  bagi pembaca untuk memahami keterkaitan masa lalu dan masa kini masing-masing tokoh, maupun keterkaitan antar tokoh. Meskipun begitu, masih terdapat bagian-bagian ‘gelap’ yang mungkin menimbulkan pertanyaan bagi pembaca. Sebaliknya, terdapat juga bagian-bagian yang terasa tidak penting untuk jalannya kisah.

Sebagai sebuah novel terjemahan, Dover cukup luwes dan nyaman dibaca. Barangkali karena dia adalah penyair. Gustaaf menyajikan kepedihan yang dijalani tokoh-tokohnya dengan indah namun tetap pilu. Kalimat-kalimat yang pendek dan tenang, sanggup mengalirkan keriuhan tanpa berisik. Bahkan pada bagian-bagian yang terasa ‘kejam’ dan ‘ngeri’, Gustaaf bercerita kepada kita dengan halus.

Kita dapat terus membaca sambil sesekali menutup buku, menahan napas, lalu melanjutkan lagi. Setiap bab adalah kegelisahan dan kecemasan yang dirasakan tokoh—tokohnya. Kekejaman pemerintah. Kekejaman hakim-hakim sosial di masyarakat. Masa lalu yang gelap. Bahkan kegelisahan tentang cinta.

Di akhir cerita yang tragis dari masing-masing tokoh, terasa seolah Gustaaf menusukkan pisau ke jantung pembaca dengan perlahan, sambil mendongeng tentang khayalan penuh keindahan. Sakit. Tapi indah. Dan kita menelannya penuh rasa terima kasih.

(Dimuat di Harian Solo Pos, 30 Agustus 2015)