aku ingin….

aku ingin pecel

aku ingin salad buah

aku ingin jus semangka

aku ingin kamu….

 

aku ingin oreo

aku ingin donat coklat

aku ingin pizza

aku ingin kamu….

 

aku ingin terbang

aku ingin berlayar

aku ingin melakukan perjalanan

aku ingin kamu….

 

aku tidak ingin apa apa

aku cuma ingin kamu….

24 jam….

Tidak ada ucapan selamat malam. Tidak ada ucapan selamat pagi. Tidak ada apa pun yang berkesan. 
Aku punya banyak waktu semalam sebelum akhirnya tidur sedikit lewat pukul sebelas. Novel yang kubawa selesai kubaca. Iya, yang kubilang kubaca dua lembar demi dua lembar, seperti Intisari di tasmu. Novel itu bercerita tentang banyak rahasia. Dan praduga yang tumbuh karena keengganan bicara. Oleh malu. Oleh rasa tak perlu. Oleh ego.

Betapa asumsi bisa membunuhmu perlahan. Atau tiba-tiba. ‘Aku tidak pernah mengira bahwa….’ Seharusnya jangan pernah mengira! Tapi bagaimana, jika tanya tak berjawab, dan juga tak ada pertanda?

Ini waktu yang persis dengan semalam. Ketika kuputuskan meletakkan buku. Berhenti menunggu. Atau setidaknya melanjutkan lagi besok pagi. Keputusan yang persis dengan semalam. Berhenti menunggu, atau melanjutkan menunggu lagi esok hari.

Aku jeri. Apa yang kutunggu?

The Great Wall

Aku bukan penulis review film. Juga bukan (dan ini salah satu alasan) pengamat film sejati. Sebatas penikmat sambil lalu yang bahkan kadang susah mengingat nama Scarlet Johansen (yang tiba-tiba sekarang jadi mudah diingat karena ternyata suamiku ngefans. Selera yang bagus, Mas).

Kemarin mau diajak nonton The Great Wall simply karena yang main Matt Damon. Belum baca sinopsis, belum nonton trailer. Sama sekali ndak punya bayangan apalagi ekspektasi.

***

the-great-wall-movie-matt-damon

Gambar diambil dari sini

The Great Wall di film ini, dibangun bukan untuk menahan serangan bangsa Mongol, tapi melindungi Negara dari serangan Taotie. Taotie adalah monster serupa dinosaurus yang menjadi lambang ketamakan manusia, menyerang setiap 60 tahun sekali. Pasukan khusus dilatih untuk menghadapi serangan monster ini.

William (Matt Damon) dan Tovar (Pedro Pascal) dua orang tentara bayaran yang sedang dalam perjalanan mencari serbuk hitam, bertarung dengan seekor Taotie dan berhasil melumpuhkannya. Tak lama kemudian mereka bertemu dan ditahan oleh tentara Tiongkok dan dibawa ke markas. Kaki Taotie yang ditemukan bersama mereka menimbulkan tanda tanya besar bagi Jendral Wu (Eddie Peng), Komandan Lin (Jing Tian), Penasehat Wang (Andy Lau) dan segenap pasukannya. Mustahil menebas kaki Taotie begitu saja dengan pedang. William dan Tovar dianggap berbohong dan hendak dijatuhi hukuman mati. Tak seorang pun boleh pergi membawa rahasia dari Great Wall.

Belum jadi hukuman dilaksanakan, gerombolan Taotei menyerang lebih cepat dari yang diperkirakan. Kedua tawanan akhirnya dibawa naik ke atas Great Wall dan dijaga oleh seorang prajurit, sementara pasukan bertempur menghadapi Taotie. Tak diduga, Taotie yang menyerang kali ini telah berevolusi dan menjadi lebih cerdas dari yang menyerang 60 tahun sebelumnya. Prajurit yang ditugaskan menjaga tawanan terpaksa abai karena menghadapi seekor Taotie yang berhasil naik ke tembok. Ballard (Willem Dafoe) seorang kulit putih yang tampaknya telah lama menjadi penghuni Great Wall, membebaskan William dan Tovar. Keduanya ikut bertarung melawan Taotie untuk bertahan  hidup. Mereka berhasil membuat petinggi pasukan terkesan. Serangan pertama musim ini berhasil digagalkan, pasukan Taotie mundur.

Dari sini bisa ditebak kelanjutan jalan cerita. Tinggal tebakannya benar atau salah, haha.

***

Film ini seperti dongeng. Kisah dan plotnya tidak terlalu istimewa. Kabarnya, Zhang Yimou sang sutradara dianggap gagal membuat penonton terkesan, mengingat anggaran besar untuk film ini. Karena aku tidak punya harapan apa-apa ketika berangkat nonton, aku tidak punya apa-apa pula untuk dikeluhkan.

Kemegahan kolosal yang disajikan cukup memukau (aku). Aku membayangkan apakah benar tentara Tiongkok di masa lalu berseragam begitu gagah dan indah. Adegan pertarungannya indah. Aku paling ndak tahan lihat adegan sabetan pedang dan darah-darah. Jadi meskipun di beberapa bagian sempat tutup mata, tapi secara keseluruhan aku menyaksikan.

Akting Matt dan Pedro asik. Eman sebenarnya, Andy tidak banyak beraksi dengan kungfunya. Naik pangkat ya, dari petarung ke penasehat. Memang terlihat tenang dan bijak, dapat lah. Tapi tetap saja eman….

Yang sedikit kurang, menurutku, adalah akting Jing Tian sebagai Komandan Lin. Maksudku. Seorang wanita muda yang menjadi komandan pasukan khusus berjumlah ribuan, walau secara fisik halus tapi karakter ‘kuat’-nya tetap harus nampak. Jing kurang kuat. Bayangkan Angelina Jolie sebagai Maleficent, atau Tomb Raider. Eh, kejauhan ya?

Lumayan lah buat hiburan. Tapi aku tetep pengin nonton Passengers. Atau The Arrival.

Ternyata golf itu menyenangkan!

Setelah sekian tahun bertahan terhadap ajakan suami untuk bermain golf, akhirnya aku luluh juga. Hari ini, seharian aku berlatih, dan ternyata menyenangkan!

Pertama-tama ajar titis.


nyamar jadi bendera hole ⛳️

begini lebih gampang..

hampir!

Well. Ndak papa beda hobi sama suami. Ndak papa juga ndak bisa mengikuti. Kita cuma harus tahu cara bersenang-senang biar semua hepi. Ya kan?

the struggle is real

aku bisa naik ke atas batu ini dengan sekali pull up, lalu lompat dan duduk di atas batu. tapi kata suamiku, cara naik seperti itu terlihat gampang dan kurang dramatis untuk difoto. jadi dia mengarahkan gaya memanjat yang terlihat ‘kerja keras’ ini.

sebenarnya, di balik naik dengan pull up (yang terlihat gampang itu), ada banyak kerja keras yang justru dilakukan jauh sebelumnya. yang tidak bisa terlihat dalam gambar. tidak, bukan kerja keras khusus untuk bisa naik ke batu dengan mudah. tapi kebetulan membuat naik ke batu ini jadi mudah. cara memanjat yang terlihat sulit ini buatku ya sama saja. tapi bagi yang melihat, bisa kelihatan bagaimana aku berjuang.

sayangnya, kebanyakan orang hanya fokus pada apa yang bisa dilihat. sebuah pencapaian yang tidak menyajikan sejarah perjuangan terlihat ujug-ujug dan kurang berharga. maka jangan heran ketika kepada kita dihadapkan berbagai drama proses perjuangan, lalu ditutup dengan success story yang, sebenarnya ndak sukses sukses amat. tapi karena sebelumnya kita (terpaksa atau tanpa sengaja) mengikuti rentetan kisah perjuangan, maka tampak itu sebagai sebuah pencapaian besar. mereka yang bekerja sungguh-sungguh dalam sunyi, terabaikan karena dia tidak pintar mencuri perhatian sejak awal. dan sering hasil kerja mereka pun tidak banyak diketahui. atau kurang dihargai.

***

ini soal pandai-pandainya kita mengemas cerita. bagus buat marketing. come on, setiap kita butuh menjual diri. dan setiap cara jualan, menyesuaikan pasar sasaran. no?

lugut….

kita telah kehabisan gairah dan rasa ingin tahu

jika masih ada sentuh

padaku tinggal rindu yang teraniaya

segala yang lembut telah berubah menjadi lugut

Arab Gila!

Aku rindu pacarku yang Arab tapi mengajariku Bahasa Belanda.

***

Dia bicara padaku dengan Bahasa Inggris. Sesekali membiarkanku menjawab dengan Bahasa Indonesia, tapi ketika aku mulai panjang dan rumit dia akan, “English please.”

That’s good. Because both our English are limited. But it is also a little bit frustrating. Ketika aku ndak ngerti apa Bahasa Inggrisnya, lalu bicara Bahasa Indonesia, dan dia makin ndak ngerti. Dan berakhir dengan lambaian tangan, “Whatever!”

Aku menuliskan namaku dengan huruf Arab, dan dia sangat bangga aku bisa. Aku tidak bisa Bahasa Arab selain ana-anta huwa-hiya hadza-hadzihi dan beberapa kata benda di sekitar kita seperti buku dan meja dan kawan-kawannya. Tapi pacar Arabku sama sekali tidak ingin mengajariku Bahasa Arab. “Too complicated. I’d rather spend my time with you doing something else.” Yeah, me too, Honey. Lucunya, sesekali dia bicara padaku dalam Bahasa Belanda. Karena dia pernah sekolah di Belanda. Aku buta, jadi tidak bisa mengukur pula seberapa fasih Bahasa Belanda-nya. Dia bertanya apa aku mau belajar Bahasa Belanda yang katanya tidak serumit Bahasa Arab, aku tidak tertarik. “I’d rather spend my time with you doing something else,” kataku.

***

Aku -biasanya- takut gelap. Rasanya ruangan jadi sempit, dingin, dan bikin sesak dada. Makanya aku tidak pernah suka pergi ke gua. Segala piknik berbau gua sama sekali tidak menarik bagiku. Itu bukan refreshing. Itu stressing.

Tapi pacar Arab-ku membuatku suka gelap. Dia membuat gelap menjadi berwarna, dan hangat. Aku melihat   dan merasakan apa-apa yang tak nampak. Wajah tampan dan cambang halusnya -yang segera jadi panjang jika dia lupa atau malas bercukur dua hari saja- bisa kulihat dalam gelap. Juga kedalamannya. Sentuhan lebih peka menggantikan mata. Mungkin begitulah orang–orang buta melihat.

Aku tidak suka ruangan ber-AC, tidak tahan dingin. Aku bisa berakhir terus bersin-bersin dengan hidung berair.

Tapi pacar Arab-ku membuat ruangan ber-AC nyaman. “I’ll show you how to find warmth in aircond room.”

Lalu dia menanggalkan seluruh pakaian kami, dan menarik aku dalam peluknya.

“Masih dingin,” kataku.

“You’re a beginner.”

Lalu dia membawaku ke kasur, membaringkan kami berdua, menarik selimut menutup tubuh kami dengan sempurna.

“It’s dark,” kataku.

“You don’t need to see. Feel me.”

Pagi hari aku mendapati selimut kami sudah terjatuh ke lantai, dan kami berkeringat.

***

Aku rindu pacar Arab-ku. Tapi dia punya pacar di Arab. Yang sudah dia janjikan akan dia nikahi.

“There’s noway you’re gonna marry me, right?”

“Of course there is. If you would come with me to Arab.”

“And what about your girl friend?”

“I can marry you both.”

“Enak aja!”

“Yes of course, enak!”

“No it’s not enak!”

“But you said enak?”

“Nooooo! I meant it’s not enak!”

“Yes it is! Why…”

“Whatever!”

***

Aku tidak mau ikut ke Arab. Menikah dengan pacar Arab-ku. Lalu harus pakai cadar ke mana-mana. Dan sebenarnya tidak bebas ke mana-mana. Apalagi harus berbagi dengan pacar Arab-nya. Mana tahan.

Jadi kubiarkan dia pulang ke Arab, kembali bekerja ke perusahaan minyak yang membiayainya bersekolah di Indonesia.

“Kenapa sih kamu sekolah di Indonesia? Bukan ke Inggris, atau Amerika?”‘

“So I can meet you.”

“Yeah. And then leave me.”

“You don’t want to come with me.”

“You don’t want to stay.”

“I can’t stay.”

“I can’t go.”

***

Aku rindu pacar Arabku. Terakhir dia bicara padaku lewat Skype. Video call. Wajahnya tampan maksimal. Esok paginya akan menikah.

“I love you,” katanya.

“I know.”

“But…”

“I know.”

Lama kami diam. Membiarkan kamera tetap menyampaikan wajah kami.

“I hope you are happy,” kataku.

“I hope you are too.”

“I am when you are.”

He kissed me good bye. Then gone forever. Segala hal yang menghubungkan kami diputus. Aku yang minta.

***

Aku rindu pacarku yang Arab tapi mengajariku Bahasa Belanda.

Yaa habibie… Wat doe je nu? Ik mis je.