pendam

IMG_8647

yang sekian ratus purnama mengendap di kedalaman

menjelma kepedihan di permukaan

mata remaja itu begitu lugu

luka ditimbun satu persatu hingga beribu

kata-katanya tak kuasa bersuara

hanya jerit dalam hampa

masa, oh, masa

bila kau ijinkan segalanya terbuka?

rajam

DSC_4120

aku belum kebal akan sesal. bukan soal aku sendiri, tapi soal orang yang paling kukasihi. sesalku akan sembilan dan sembilan lagi bulan, yang mungkin tidak akan pernah terbayar meskipun aku diberi kesempatan sembilan kehidupan.

hidup tidak pernah benar-benar baik saja. atau hidup tidak pernah tidak baik-baik saja. aku sudah belajar memutar-mutar sudut pandang, lalu menemukan yang paling nyaman. kadang masih saja aku kembali ke sudut lama. menekur lagi. kadang tanpa sengaja. sesekali karena aku ingin mengenang sesal, agar tak ada lagi kesalahan kedua.

semesta memanjakanku dengan cara yang tidak terduga. melindungiku dengan tabir yang tak terkira.

.

jadi bagaimana denganmu?

kurasa aku baru saja menyadari, bahwa semua yang kau lakukan ternyata pedih sejak awal. kau telah melemparkan diri ke tengah lapangan rajam, sambil mengira akulah yang akan menjadi sasaran. tidak, sayang. aku telah merajam diriku sendiri hingga kebal. hujaman pedih darimu hanya akan mental.

.

lihatlah dirimu. di mana gemerlap yang coba kau tunjukkan dulu? mungkin akhirnya waktu berhasil menunjukkan padamu, bahwa beberapa keindahan sebenarnya semu. beberapa harapan sebenarnya angan. mungkin saat ini kau berada tepat di tempat aku berpijak sepuluh tahun yang lalu. lalu perlahan kau menutup diri, agar tak seorang melihat bahwa sebenarnya perlahan kau meredup.

ah, tidak. maksudku, bahwa sebenarnya kau tidak juga kunjung cemerlang. segala yang pernah kau anggap berbinar itu tak pernah ada. tak ada yang benar-benar bisa kau banggakan. tak ada apa pun yang bisa kau tunjukkan untuk membuat aku cemburu atau sekedar iri. bukan begitu?

.

aku duduk di biduk kecil yang mengayun di danau yang tenang. aku telah pernah tenggelam ke dasarnya yang paling dalam. tersedak, hampir mati. tapi di sinilah aku sekarang. hidup. menyimpan kegelapan di kedalaman, menyesap ketenangan di permukaan.

unconcsiousness

jauh di dasar

di bawah sadar

telah mengerak perasaan bersalah

entah siapa yang telah kita lukai

kau, aku, atau orang yang menyimpan kita dalam setiap rapal doa

 

jauh di dasar

di bawah sadar

telah mengerak sebuah harapan

untuk dapat memperbaiki

benar, salah, telah menjadi entah yang perih namun memabukkan

 

bukankah sebenarnya kita tak punya kenangan selain luka?

waktu telah menumpukkan debu, menutup ingatan

bukankah kita telah menjadi jiwa yang benar-benar berbeda?

lalu mengapa kita mencoba membaca luka sebagai bahagia?

 

tak ada

tak ada

tak ada

satu dua tiga

berkecambah

lalu punah.

Menujumu dan Nol Koma Dua Derajat Menyimpang ke Selatan.

Kereta bergerak pelan meninggalkan stasiun awal, sedikit demi sedikit menambah kecepatan. Besok pagi sekitar waktu subuh dia akan berhenti di stasiun akhir. Aku akan punya sedikitnya empat jam sebelum pertemuan yang dijadwalkan. Dan tentu saja semalaman di atas kereta untuk memikirkan apa yang akan kulakukan. Karena aku tahu sekeras apa pun aku mencoba, atau sesantai apa pun, aku tidak akan bisa tidur.

Satu stasiun terdekat terlewati. Aku senang bisa melewatkan waktu dengan berlambat-lambat menyantap nasi ayam cepat saji yang kubeli sebelum naik ke gerbong. Kali terakhir aku naik kereta, menu yang ditawarkan oleh petugas resto menyedihkan. Terpaksa kutelan. Sebagian karena lapar, dan sisanya karena ibuku selalu mengingatkan untuk tidak membuang makanan.

Sekarang apa?

Membuka ponsel. Main game. Cek sosmed di jam yang mulai sepi. Mataku lelah. Membuka buku tidak membantu. Bagaimana kau berharap bisa tidur dengan lampu yang begini benderang? Kupejam mata dan kututup pula dengan selimut. Derak roda kereta di atas rel terdengar seperti suara semen pembungkus ingatan di kepala yang meretak. Tidak. Jangan sekarang. Jangan pernah.

***

“Selamat pagi,” bisikmu lirih.

Tirai jendela sedikit terbuka, membiarkan sebagian sinar matahari mengurangi kegelapan di dalam kamar.

“Masih ngantuk?”

“Hmm…”

“Kamu mau sarapan sekarang apa nanti?”

“Bisa nggak sih kamu nggak usah mikirin mau makan apa? Di bawah banyak orang jual makanan.”

“Aku ndak mau kamu kelaparan.”

“Aku nggak gampang lapar.”

“Mungkin kamu harus kukuras sekali lagi….”

***

Stasiun ketiga. Aku lapar. Gerbong resto hanya berjarak satu gerbong. Tapi membayangkan menunya malah bikin perutku makin sedih. Aku minum beberapa teguk teh manis kemasan botol paketan nasi ayam tadi. Kutekan bantal ke perut agar terasa hangat. Ibu di sebelahku punya keripik kentang yang diselipkan di kantong kursi. Tidurnya nyenyak. Kalau kuambil apa dia akan terbangun?

Uhm. Kantong plastik dan keripik kentang adalah makhluk yang berisik. Aku memilih memejamkan mata lagi.

***

Bunyi Microwave selesai memanaskan lauk. Dia sibuk. Dan aku hanya duduk menikmati teh yang sudah lebih dulu diseduh.

“Aku mau bantu nyiapin sarapan.”

“Ini sudah hampir selesai kok. Nasinya sudah matang. Tinggal mindahin lauk ke mangkok.”

Aku turun dari kursi membuka kulkas.

“Cari apa?”

“Siapa tahu kamu menyimpan perempuan lain di sini.”

Dan aku dapat kecupan kecil di pipi.

Aku menemukan mangga. Kukupas dan kupotong sebisaku.

“Nggak rapi motongnya. Kalau kamu terganggu jangan lihat. Merem aja. Kalau mau makan nanti aku suapin,” kataku.

Tapi dia meraih garpu dan mulai makan sepotong demi sepotong.

***

Stasiun keempat baru saja dilewati. Sepertinya aku sempat tertidur sebentar. Lumayan. Duduk dalam keadaan sadar – dan sesekali terlelap – selama berjam-jam sungguh tidak nyaman. Bahkan dengan reclining seat, selimut dan bantal. Harusnya aku bawa bantal leher. Mungkin bisa bikin lebih nyaman. Mungkin juga tidak.

Aku berdiri meluruskan punggung dan  kaki. Berjalan ke toilet bukan karena ingin buang air kecil, hanya karena supaya sendi-sendiku bergerak. Semua penumpang diam. Tidur. Satu dua sibuk dengan ponsel. Kau tahu. Walaupun sebenarnya tidak ingin kencing, tapi begitu masuk ke toilet, kecuali toiletnya jorok, kandung kemihmu otomatis mengendorkan sumbat.

Aku sengaja berdiri di bordes sebentar sebelum kembali ke tempat duduk. Ibu di bangku sebelah belum berubah letak.

***

“Aku mau beli microwave untuk di rumah.”

“Beli lah.”

“Jadi aku bisa beli makanan beku-bekuan, atau beli di warung sore hari. Pagi tinggal manas-manasin.”

“Atau kamu bisa menyimpan sisa masakan di freezer dan dimakan lagi beberapa hari kemudian supaya ndak bosan.”

“Aku beli microwave supaya nggak perlu masak.”

Dia tersenyum melanjutkan makan.

“Makanan di pesawat itu nget-ngetan bukan?”

“Iya.”

“Dipanasi pakai microwave juga?”

“Iya.”

“Kok nggak enak?”

“Bukan microwave yang bikin masakan enak atau ndak enak. Tapi tergantung apa yang dimasukkan.”

“Semua yang kamu masukkan ke microwave enak.”

“Karena aku yang masak.”

“Boleh nggak aku tinggal di sini terus?”

***

Kereta melambat memasuki stasiun kelima. Hari sudah hampir pagi. Aku belum tahu apa yang akan kulakukan sesampai di stasiun akhir nanti. Aku kesal dengan ingatan yang merembes dari kepalaku sepanjang perjalanan.

Kuraih ponsel yang sudah kudiamkan semalaman. Aku tidak tahu ini ide bagus atau bukan. Aku bahkan tidak yakin pesan ini akan sampai. Atau diperhatikan.

hai. aku perjalanan ke kotamu. satu stasiun lagi. aku harus menunggu sampai pukul sepuluh. mungkin kamu mau menemani aku sarapan di stasiun.

***

“Maaf ya, aku tidak bisa mengantar ke bandara.”

“Iya. Gapapa.”

“Nanti aku temani menunggu taksi di bawah.”

“Iya.”

“Barang-barangmu sudah siap?”

“Sudah.”

Aku memeluk dia sekali lagi. Tidak ingin kulepas. Aku tidak ingin beres-beres. Aku tidak ingin pergi dari sini. Dia melepaskan pelukanku pelan.

“Boleh aku tinggalkan sikat gigi di sini?” tanyaku.

“Tentu. Akan kusimpan supaya kamu tidak perlu bawa lagi kalau mau ke sini.”

“Kamu ingin aku ke sini lagi?”

“Aku menanti kamu ke sini lagi.”

***

Perjalanan hampir berakhir. Sebentar lagi kereta memasuki stasiun terakhir.

Seperti takut kehabisan waktu, segala kenangan tumpah sekaligus. Malam-malam. Dan pagi-pagi. Dan siang-siang. Semua waktu yang terlewati bersama. Berulang. Seperti tak ingin henti. Namun tiba-tiba hilang.

Tidak ada penjelasan. Pesan-pesan yang sampai tapi tak terbalas. Panggilan-panggilan yang tidak berjawab. Pertanyaan-pertanyaan yang terabaikan. Pernah terpikir untuk tiba-tiba saja datang, apa pun yang kutemui aku sudah siap dengan jawaban, ‘saya mau ambil sikat gigi.’ Tapi tidak pernah kulakukan. Setelah beberapa bulan akhirnya aku berhenti. Menyumpahi sikapnya yang kuanggap pengecut. Menghibur diri dengan bersyukur bahwa aku dijauhkan dari laki-laki brengsek. Tapi tentu saja aku sadar aku membohongi diri sendiri. Tangis yang tersembunyi itu butuh waktu sangat lama untuk berhenti.

Kereta berhenti. Sebuah pesan masuk.

Aku tunggu di pintu keluar utara. Kamu bisa mandi dan istirahat di apartemen sambil menunggu acaramu mulai.

ikan di stasiun

Rush

 

IMG_7845

Anakku cuma Aik. Danang menitipkan aku dan Aik di sebuah hotel. Atau mungkin apartemen. Kami berbagi kamar dengan seorang Ibu dan anak perempuannya. Sore menjelang malam, seorang pria dibawa masuk ke kamar kami dan dibaringkan di ranjangku. Ada balutan perban di beberapa bagian tubuhnya, dan infus terpasang di lengannya.

“Apa?” tanyaku. Perempuan yang mengantar laki-laki itu menjawab, “Dia baru saja menjalani operasi. Dia akan tinggal di sini sambil menunggu operasi berikutnya.”

“Tapi ini kamar saya.”

“Ini rumah sakit, dan kamar penuh. Anda yang masih sehat masa tidak mau berbagi ruang dengan yang kondisinya gawat?”

Perempuan itu pergi. Aku bertanya kepada ibu di ranjang sebelahku, “Rumah sakit?” Dia hanya tersenyum sambil menggeleng.

Apa-apaan ini?

Aik sedang bermain iPad bersama anak perempuan itu. Aku mengendap keluar kamar, melongok ke kedua arah lorong. Sepi. Aku beranikan diri berjalan keluar ke satu arah. Ada wastafel di ujung lorong. Tiba-tiba sebuah tangan menerobos pintu di samping wastafel, langsung menarik keran wastafel sampai lepas. Terdengar suara wanita tertawa keras melengking. Pintu terbuka, dan keluarlah wanita pemilik tangan itu, tinggi kurus dan berambut merah. Dia menatapku tajam. Aku kamitenggengen tidak bisa bergerak. Dia tertawa lalu lari entah ke mana. Air dari bekas keran di wastafel tidak mengalir, entah kenapa.

Buru-buru aku kembali ke kamar. Aik masih bermain bersama temannya. Si ibu duduk diam saja di ranjangnya. Laki-laki yang habis operasi tidur di ranjangku. Aku menelpon Danang. Sekali, dua kali. Baru diangkat.

“Ini bukan hotel, ini rumah sakit.”

“Rumah sakit apa?”

“Ada orang yang baru selesai operasi dibaringkan di kasurku. Ada perempuan berambut api mencabut keran wastafel di ujung lorong.”

“Kamu ngomong apa sih?”

“Kamu harus cepat ke sini! Segera!”

Perempuan di ranjang sebelah melihat semua kesibukanku tanpa komentar. Pria yang berbaring di ranjangku membuka mata, berkata lirih, “Ya, lebih baik kalian pergi, meskipun aku tidak yakin mereka akan diam saja.”

“Apa maksudmu? Mereka siapa?”

“Mereka mengincar ginjal anakmu.”

Aku bergidik, “Mereka siapa?”

Laki-laki itu tidak menjawab, memejamkan matanya lagi.

Aku mengemasi tas lalu menggandeng Aik keluar kamar. Kartu ATM BRI aku selipkan di saku celana, supaya nanti tidak ribet harus buka dompet kalau mau tarik uang setelah keluar hotel — atau rumah sakit atau apa pun nama tempat ini.

“Ke?” tanya Aik.

“Pergi.”

“Pergi ke?”

“Belum tahu.”

“Pad Aik?”

“Di tas Mami. Biar Aik tidak berat membawanya, ayo lari.”

“Lari ke?”

Aku tidak menjawab. Aik kugandeng berjalan setengah lari menuruni tangga darurat. Aik menghitung anak tangga dengan suara keras. “Sixty one, sixty two, banyak sekalli!”

Tangga darurat berakhir di pintu samping gedung. Kudorong dengan bahu karena satu tanganku memegang tas dan tangan yang lain menggandeng Aik. “Berat. Ugh,” Aik membantu mendorong walau bagiku tampak hanya menempelkan telapak tangannya di pintu.

Di samping depan bangunan ada mesin ATM, tanganku sudah hampir meraih pintu ketika seorang laki-laki mendahului membuka pintu sambil tersenyum sinis  kepadaku. Aku mundur selangkah, mengambil kartu di saku. Damn. Kartunya tertekuk. Ini kartu ATM apa kartu nama? Sambil menunggu laki-laki itu selesai aku terpaksa membuka tas, mengambil dompet, mengambil kartu lain sambil menyimpan kartu BNI yang rusak.

“Pad Aik,” Aik  melihat padnya di tas.

“Nanti.”

“Di rumah?”

Aku tidak menjawab, karena tidak yakin kami mau ke mana. Aku mencoba menelpon Danang lagi. Nada sibuk. Laki-laki itu keluar, aku menarik uang di jumlah maksimal penarikan.

“Ayo kita pergi,” kataku sambil menarik Aik.

“Ke?”

“Belum tahu.”

“Naik?”

“Taksi.”

“Ke?”

Aku tidak menunggu taksi di lobi. Kalau masuk lobi, mungkin aku malah tidak akan bisa pergi dari sini. Masih setengah berlari aku mengajak Aik keluar area gedung. Kulambaikan tangan ke taksi yang kebetulan lewat di sudut seberang jalan.

“Aik duduk depan.”

“Tidak. Aik duduk sama Mami.”

“Tidak boleh duduk depan?”

“Tidak.”

Kami duduk. Taksi jalan.

“Ke mana, Bu?”

“Keluar dari mimpi ini, Pak.”

Catatan Kecil Seusai Hotel Mumbai

(foto dipinjam dari imdb.com)

==================

Aku sebenarnya tidak suka nonton film yang berdarah-darah dan mengandung kekerasan. Soalnya, biar sudah menutup mata, mendengar suaranya pun kadang tetap tergambar adegannya. Kadang malah lebih ngeri dari yang ditampilkan. Tapi kalau tembak-tembakan masih sanggup lah aku berani-beranikan.

Sejak menit awal, pikiranku sudah seluruhnya terpaku pada filmnya. Benar-benar tidak teringat hal lain. Kecemasan demi kecemasan hadir. Terus dan baru berhenti di akhir cerita.

Usai menonton, rasanya banyak sekali yang ingin kuungkapkan tentang film ini. Satu dua cuitan tidak akan cukup, sehingga kupikir kesanku akan lebih tersampaikan dengan tulisan di blog. Tapi sesampai di draft, aku jadi tidak bisa berkata-kata…

Yang ada hanya kelebat adegan demi adegan yang masih menggoreskan kesedihan.

Remaja-remaja muslim dari keluarga miskin, yang dicuci otak dan ditanamkan dalam hati mereka kebencian pada kaum ‘kafir’ dan ‘orang-orang kaya yang serakah’. Dikobarkan dalam jiwa mereka keinginan ber-‘jihad’ dengan membunuh ‘musuh’ mereka itu, rela jika harus mati karena yakin Allah menyiapkan surga untuk mereka. Dan pada mereka dijanjikan bayaran yang akan diberikan oleh ‘pimpinan’ kepada keluarga mereka — yang miskin.

***

Penembakan membabi buta di tempat-tempat umum. Stasiun kereta. Jalanan. Hotel.

Di Hotel Taj, yang menjadi setting utama film ini, para staf dapur dan restoran yang sebenarnya bisa menyelamatkan diri, memilih tinggal dan menemani, menjaga, dan berusaha menyelamatkan para tamu. Termasuk di antara para pelayan restoran itu, Arjun, seorang pria Sikh, yang sejak kecil tidak pernah melepas pagri/turban di kepalanya ketika keluar rumah karena dalam Sikh itu merupakan simbol kemuliaan, rela melepas turbannya untuk menolong tamu yang tertembak. Dia ditunggu dengan cemas oleh istrinya yang menggendong anak pertama dan mengandung anak kedua mereka.

Semua yang berkumpul dan berusaha menyelamatkan diri, tidak peduli asal-usul, ras, agama.

Polisi-polisi pemberani tetap maju dengan bekal latihan dan persenjataan yang minim.

Keyakinan salah satu pelaku goyah ketika menelpon keluarganya dan mengetahui janji bayaran belum ditunaikan.

Setitik rasa kemanusiaan muncul mendengar Al-Fatihah yang dilantunkan salah satu sandera.

***

Berangkat dari manakah remaja-remaja ini? Keimanan? Kemiskinan? Seyakin apa mereka dengan janji surga, bahkan janji bayaran di dunia? Apa penggerak terkuat sehingga mereka sanggup melakukan penembakan massal?

Mereka menjadi korban keyakinan akan jihad, bersama-sama dengan mereka yang mati tertembak, sementara otak kekacauan itu belum tersentuh.

Kemanusiaan ditepikan.

***

Kadang aku cemas ketika melihat intoleransi sekecil apa pun disekitar kita. Baru beberapa hari yang lalu aku mendengar langsung dari mulut seorang anak kecil, ‘tidak boleh berteman dengan orang Kristen.’ Entah dari mana dia mendapat kalimat itu, orang tua, guru, teman? Sebuah kalimat yang jika terus dibiarkan tertanam, bukan tidak mungkin menjadi bibit kebencian yang bisa disulut dan terbakar kapan saja. Apakah aku berlebihan?