Dinding yang Retak di Bulan Januari

*dari puisi Galih Pandu Adi dengan judul yang sama*

Tidak bisa kupastikan kapan aku mulai menyadari ada retakan di dinding itu. Sejak itu aku mulai mendengar suara-suara. Kadang seperti dengung yang  mengganggu dan menyakiti telinga. Kadang kata-kata terdengar begitu keras dan jelas, namun aku tidak mengerti apa yang dibicarakan, siapa yang bicara. Aku tidak yakin berapa orang yang sedang bicara. Satu, dua, tiga, atau lebih?

Yang jelas aku merasa retakan itu semakin lebar seiring waktu. Suara-suara semakin jelas kudengar. Setiap kali mendengar suara dari celah retakan itu aku terisap ke ruang yang kosong dan hampa. Melewati lorong-lorong. Terombang-ambing dalam perasaan tak menentu.

Peristiwa-peristiwa berlompatan dari alur waktu hidupku. Masa kanak-kanak yang tertawa dan menangis. Melompat ke masa remaja yang hancur dan romantis. Ke masa kini yang diam memendam.

Akhir-akhir ini aku mulai bisa melihat  ke balik celah retakan. Mulanya hanya bayangan-bayangan berkelebatan. Lalu mulai tampak sosok-sosok. Yang kecil, agak besar, besar. Aku berusaha memadukan apa yang kulihat dengan yang kudengar. Tapi tidak bisa. Tidak pas. Kenapa ketika sosok anak kecil bergerak, justru terdengar teriakan kasar? Kenapa ketika tampak sosok besar jumpalitan, justru terdengar isakan perempuan?

***

25 Januari 2015.

Reno sudah menyiapkan makan malam yang manis untuk memperingati hari pernikahan keduanya dengan Tyas. Dia tahu gangguan jiwa yang dialami kekasihnya, akibat berbagai trauma masa kecil. Itu tidak pernah mengurangi rasa cintanya, bahkan menumbuhsuburkan. Dia yakin kehadirannya akan menjadikan hidup Tyas lebih baik.

“Maafkan aku, Tyas, maafkan…”

Jasad Tyas membujur di ranjang, sebotol pil tidur masih terbuka. Sebuah buku harian mengisahkan penderitaan. Setelah pernikahan, semua trauma masa kecilnya kembali. Satu persatu.

MFF 2 th

Silit Pitik

Hari ini aku ingin pulang cepat. Tepat. Aku sholat ashar sebelum setengah empat, agar bisa teng-go.

Keluar dari musholla lantai tiga aku berpapasan dengan Rida, keluar dari kamar mandi yang terletak di samping musholla sambil membenahi jilbabnya. Di pintu masuk ruangan aku berpapasan dengan Wati. “Pulang yuk Ti!” kataku sambil tersenyum manis.

Eh dia melengos sambil mecucu. Apa salahku?

Pukul 15.27, aku membereskan tas. Kalau turun lewat tangga aku akan sampai di depan mesin absensi tepat pukul 15.30.

“Kamu habis dari kamar mandi?” tanya Widha, yang mejanya bersebelahan denganku.

“Aku habis sholat. Kenapa?”

“Wati ngomel-ngomel, dia jadi ketinggalan bus jemputan karena kamu lama di kamar mandi, padahal dia kebelet pipis. Hahaha…!”

“Heh, aku cuma sebentar, lalu sholat. Itu ada anak ruangan sebelah yang masuk setelah aku.”

“Ya pokoknya Wati lihatnya kamu yang masuk kamar mandi, dan ditengok berkali-kali ga selesai-selesai,” Widha melet.

Huh. Dasar silit pitik.

Pulang adalah.

pintu bergembok palang

Pulang adalah serangkaian desah. Debu yang menyelimuti permukaan seisi rumah seluas setengah blok perumahan tempat kami tinggal. Hanya ada jalur tapak kaki setiap hari, dari pintu depan, ke depan tivi, ke meja makan, ke ruang sholat, ke dapur, ke kamar mandi, ke pintu belakang. Menyambung dari satu titik ke titik yang lain membentuk jaring. Entah kapan terakhir kali dibersihkan. Mungkin terakhir kali aku pulang.

Pulang adalah bak cuci piring yang berlumut. Air di satu bak bersih, di bak yang lain berminyak, dan beberapa sisa makanan. Simbah masih setia dengan cara mencuci perabotan ala jaman dulu. Sabuni, celup di satu air bilas, bilas sekali lagi. Masih belum merasa perlu membilas dengan air mengalir. Masih merasa cukup dengan selalu mengganti air sehari sekali tidak peduli dipakai cuci berapa kali, atau seberapa sering perlu mencuci baknya.

Aku sering mencuri bilas cuci di padasan, yang segera kuisi penuh lagi setelahnya. Mencuri. Karena bagi Simbah, padasan adalah wadah suci tempat mengambil air wudlu. Bukan untuk cuci tangan sebelum dan sesudah makan. Bukan untuk membilas asah-asahan, apalagi mengguyur celana anakku yang terkena ompol.

***

Pagi-pagi Simbah berkata, “Nasinya sudah kupanaskan.” Aku mengangguk saja meski agak bingung, kenapa nasi harus dipanaskan, jika dimasak dengan panci penanak nasi elektrik yang sekaligus penghangat?

Selesai menggoreng lauk cepat saji aku membuka si panci ajaib, dan terkuar bau basi.

“Mbah, apa semalam kabelnya dicabut?”

“Iya, pagi ini barusan taktancepke lagi. Dipanaskan.”

Kalau tidak ada kami, Simbah masak nasi untuk dirinya seorang dengan mentim di panci kecil, memakai tungku kecil. Dia membiarkan aku meletakkan kompor gas di meja dapur, juga rice cooker, yang hanya dipakai jika aku pulang.

Simbah terlanjur memedomani hemat energi, mematikan semua lampu dan semua piranti listrik yang tidak diperlukan. Maka seperti biasa sebelum tidur, Simbah mematikan semua lampu (yang sebagian hanya  menyala jika aku pulang) kecuali lampu teras, juga mencabut kabel tivi. Dan kabel rice cooker. Aku lupa belum memberi tahu, atau sudah tapi Simbah yang lupa, bahwa nasi bisa tahan sehari semalam di dalamnya, tapi harus terus terhubung listrik.

Kubuang nasi yang masih setengah panci. Menanak lagi. Dan menyuapi anakku yang sudah kelaparan dengan tiga potong bolu marmer dan segelas susu.

***

Pulang adalah memasuki wilayah nyaris bebas sinyal telepon seluler. Sesekali SMS masuk dan bisa terbalas. Tapi bisa menelpon atau menerima telpon adalah berkah, terlebih lagi jika bisa berinternet.

Kadang hal itu menyenangkan, membebaskan diri dari denting-denting notifikasi. Tapi kadang membuat sunyi.

Pulang adalah sekian banyak pintu dengan masing-masing sekian banyak pengaman yang harus dilepaskan pagi hari ketika ingin membiarkan udara dan cahaya masuk ke rumah. Dan harus dipasang kembali setiap senja datang, atau setiap rumah hendak ditinggalkan. Beberapa pintu tidak merasakan bongkar pasang pengaman itu jika aku tidak pulang.

Pulang adalah sesaat memecah keheningan yang menjadi sahabat rumah besar dan lengang ini. Untuk kemudian aku pulang ke rumahku sendiri, yang kecil namun riuh.

“Pamit Mbah…”

Simbah melambaikan tangan sampai mobil menghilang di tikungan, hingga kututup jendela yang tadi kubiarkan terbuka.

Meninggalkan Simbah dan rumah. Entah mana dari keduanya yang lebih kesepian.

Perempuan yang Memaku Kakinya di Lantai Ruang Tamu

paku kaki

ilustrasi olehku sendiri

Perempuan itu sudah lama menjual mobilnya. Sebuah city car buatan Korea, yang biasa dia bawa pergi bekerja. Yang menjadi semacam kamar berjalan baginya. Di dalamnya ada baju ganti, handuk, sepatu, sabun, bedak, hand body lotion, sisir, sandal. Ada tas kecil berisi piranti make up lengkap. Ada botol minum yang dia isi dengan air galon setiap pagi ketika berangkat dari rumah, dan sore di kantor. Ada tempat sampah. Ada sekotak tisu. Ada tas kecil berisi buku dan piranti sketsa.

Dia juga sudah menjual motornya. Sebuah motor bebek  manual 125 cc, yang seringnya hanya dipakai untuk ke warung atau ke mana perlu di sekitar rumah. Sesekali dibawanya juga pergi bekerja, ketika merasa tak banyak yang perlu dibawa, atau dia musti buru-buru. Continue reading

bebal

setelah libur yang begitu lama, akhirnya kutemui lagi rindu-rindu. sesendok mie ayam. sepotong gerakan senam. kenikmatan dunia. tapi seperti katamu, semua hanyalah tamba kangen.

tuhan mungkin kelak akan menyediakan ruang senam dan mie ayam di surga. dan di sana juga akan ada engkau. karena di dunia aku tidak bisa mencicipimu seperti mie ayam atau senam. karena tak ada tamba kangen jika itu tentangmu.

barangkali aku telah kebas luka. terlanjur percaya waktu akan bekerja. sementara setiap detik tak henti jungkir balik kubunuh waktu. membunuh diriku. bukankah sebelum ke surga, orang harus mati terlebih dahulu?

Operasi

Seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 14 November 2014

Seperti dimuat di Tabloid Cempaka edisi 14 November 2014

Pukul delapan malam lewat sedikit. Suster baru saja menyuntikkan lagi satu ampul Torasic untuk meredakan nyeri di perutku. Malam kedua aku berbaring di ranjang rumah sakit, dan masih belum tahu apa yang terjadi pada diriku. Hari ini kuisi dengan serangkaian pengambilan foto rontgent, USG dan pengambilan sampel. Dan sekarang aku masih menunggu nasib.

Foto dan hasil lab sudah keluar. Suster sudah menelpon dokter. Malam ini Dokter akan mengusahakan datang. Kau sebaiknya datang, Dok.

Hasil lain dari telpon Dokter, setelah selang infus, satu selang lain disusupkan melalui hidungku menuju lambung. Untuk mengurangi kembung dan mencegah muntah. Aku tidak muntah lagi kemudian, memang. Cairan kuning mengalir sendiri lewat selang itu, ditampung di plastik yang dipasang di ujungnya. Tapi perutku tetap kembung, dan menggembung, dan sakit.

Terbayang lagi ekspresi dokter jaga UGD yang terkejut – kalau bukan shock – memeriksa perutku. Tuhan, kalau dokter saja sampai tidak bisa menyembunyikan rasa ngeri, bagaimana aku harus menenangkan diri?

Pukul sepuluh lewat dua puluh, Dokter datang membawa hasil rontgen. Menunjukkan padaku gambar usus yang membengkak sebesar lengan. Dokter menjelaskan. Aku mendengarkan, sambil mencoba mengabaikan sakit yang kembali mulai datang. Pereda nyeri yang disuntikkan perawat tadi mulai kehilangan kendali.

Pasti ada sumbatan. Tapi belum bisa dipastikan di sebelah mana. Jalan satu-satunya harus dibedah, Dokter harus melihat langsung, karena tidak bisa terlihat dari foto. Perutku mendadak seperti diinjak kuda. Continue reading

Aku adalah Celana Pensil Bunga-bunga

Flowering branches Royalty Free Stock Vector Art Illustration

gambar dari iStockPhoto

Apa yang kau bayangkan tentang celana pensil bunga-bunga?

Kau tidak akan menemuinya di bioskop. Mungkin bisa. Tapi jarang. Sangat jarang.

Film bioskop bisa membuatmu tertawa, menangis diam-diam, menjerit ketakutan. Tapi itu cuma gambar dan suara rekaman. Dan saat kita nonton semua lampu dimatikan. Kita tidak bisa melihat reaksi orang-orang. Ya, orang yang menonton ataupun orang yang bercerita.

“Film itu. Itu cerita kan? Cerita yang disampaikan. Lalu sebenarnya siapa yang menyampaikan cerita film? Aktor dan aktrisnya? Sutradaranya? Mereka tidak bisa melihat bagaimana respon kita, para penontonnya, melihat cerita yang disajikan. Dan kita tidak bisa melihat ekpresi mereka atas respon kita. Tidak secara langsung. Apa asyiknya?”

Dia lebih suka menonton stand up comedy. Pertunjukan di mana penonton berhadapan langsung dengan penutur cerita. Mereka bisa melihat respon kita. Dan kita bisa melihat respon mereka melihat respon kita. Kita bahkan bisa menyahut kalimat-kalimat mereka dengan kata-kata kita. Menunjukkan kita suka, tidak suka; memancing supaya keluar lebih banyak pemancing tawa. Tawa saja.

“Aku suka melihat para comic menertawakan kita, menertawakan kehidupan sehari-hari di dekat kita. Hal-hal sepele yang kadang tidak pernah terlintas di kepala.”

Bukan berarti dia hanya suka tertawa dan tidak peduli dengan segala persoalan dunia. Bukan berarti dia tidak peka, tidak bisa berduka. Dia bisa menjadi begitu sentimentil dengan caranya sendiri.

“Jika kita bisa menyikapi persoalan dengan tertawa, kenapa harus dibikin berlinang air mata? Bersedih itu menyakiti jiwa. Percayalah, selalu ada sisi kesedihan yang bisa kita pandang lucu. Agak sulit menemukannya. Tapi kalau kita rajin melatihnya, pasti bisa.” Continue reading