BAPAK

Seingatku Bapak adalah orang paling gesit sedunia. Dia jago pingpong, sekaligus jago badminton. Suatu perpaduan yang aneh, karena teknik keduanya sangat berlainan. Pingpong tak perlu banyak tenaga, sedang badminton sebaliknya. Pingpong lebih ke memantulkan dengan mengarahkan, badminton benar-benar memukul. Pemain pingpong akan kesulitan menyeberangkan shuttlecock melewati net, dan pemain badminton akan melemparkan bola pingpong jauh melampui ujung meja. Tapi Bapak tidak, Bapak bisa dua-duanya. Aku hanya bisa pingpong, tidak berhasil menguasai keduanya seperti Bapak.

Bapak paling gesit sedunia. Masih kuingat ketika Bapak berlari mengejar bola tennis ke sana kemari. Melambungkannya, memukulnya, dan tertawa baik dia berhasil atau mengacaukannya. Melepaskan penat dengan berteriak, berlari, memukul, menghajar, melompat, dan bahkan berguling di tengah lapangan.

Bapak paling cerdas sedunia. Nilai ijazahnya bagus semua, kecuali seni suara. Kata Bapak, ketika ujian baca not balok, hanya ‘matematika’nya yang bekerja. Dia membaca dengan tepat setiap sebutan dan ketukan nadanya, tapi salah nembak nadanya. Pengetahuannya sedunia. Dan selalu ingin lebih tahu. Dia menyebut dirinya orang yang belajar secara horizontal… tidak vertikal. Dia belajar banyak hal, tidak terpaku pada satu hal. Tapi katanya, itu membuat Bapak tidak benar-benar memahami secara mendalam tentang satu hal.

Bapak paling tenang sedunia. Aku hanya bisa mengingat satu dua marahnya. Bapak hampir tidak pernah marah. Hanya ketika marah, Bapak akan sanggup membuat semua orang gemetar, atau kaku hingga tak sanggup berkata-kata. Bapak selalu menasehatiku dengan benar-benar menasehati, tanpa nada menyalahkan atau menghakimi. Memilih saat berdua saja sehingga tidak membuatku merasa malu atau dipermalukan karena terlihat salah di depan orang lain.

Bapak pekerja keras sedunia. Sebagai guru Bapak sempat mengajar di 9 sekolah negeri dan swasta. Bapak berangkat jam setengah enam dengan vespa hijaunya, ke SMA di kecamatan tetangga. Lalu jam-jam siang hingga malamnya untuk sekolah-sekolah di kecamatan tempat kami tinggal. Dan Bapak baru akan pulang jam sembilan, untuk melanjutkan dengan melukis, ketika dia masih punya tenaga. Di akhir tahun ajaran, Bapak akan menulis mengisi Ijazah murid-murid yang akan lulus, demi sekian rupiah perlembarnya. Hingga larut malam. Tidak boleh salah, dan tulisan Bapak sangat indah…

Bapak paling indah sedunia. Aku masih ingat malam-malam ketika Bapak duduk memegang palet dan kuas, menghadapi kanvas di atas tripodnya. Mencoretkan cat minyak, melukis. Aku duduk di sebelahnya menunggui, tanpa berkata. Atau Bapak akan memberikanku sepotong triplek sisa gergajian Pakde Surad, dan kuas kecil serta sedikit cat minyak. Dan aku berlagak seperti Bapak, melukis dengan gayanya. Mencoret, memandang, menyapu, memandang lagi. Lalu pura-pura puas dengan hasil lukisanku, lalu menjualnya, seperti yang Bapak lakukan. Aku sedih karena semua lukisan Bapak dijual, meskipun memang Bapak melukis untuk menjualnya. Tapi tak ada yang bisa kusimpan dari kenangan Bapak sebagai pelukis…

Bapak paling indah sedunia. Kami sering duduk di atas tikar di halaman di malam bulan purnama, atau bahkan ketika tak ada bulan sama sekali. Bapak pendongeng terindah. Dongengnya dari yang lucu sampai yang sendu. Tentang binatang, orang, wayang. Semua dongeng dan kisahnya selalu membuat aku terdiam, terpaku, terpesona. Bapak mengajariku 11 tembang macapat. Dan setiap tembangnya, diceritakan maknanya, atau kisah di belakangnya. Aku paling ingat tembang Asmaradana yang Bapak ajarkan padaku, yang mengisahkan Damarwulan yang sekarat setelah bertarung dengan Minakjingga. Aku bahkan masih bisa menembangkannya untukmu, saat ini juga.

Bapak paling disiplin sedunia. Yang tak pernah membiarkan kami meninggalkan sholat. Yang selalu mengingatkan untuk mengaji, belajar. (Maafkan aku Bapak, karena aku bukan anak yang rajin belajar…) Yang tak pernah bosan mengingatkan: sholat shubuhmu Ndhuk… dijaga.. jangan sampai kesiangan….

Saat ini jika kupandangi Bapak, trenyuh saja yang ada. Kemampuan pandangan matanya jauh dari sempurna, dan lebih dekat kepada buta, karena terkena glaukoma yang sudah sangat parah. Berjalan lambat ke mana-mana, bukan karena tak lagi bertenaga, tapi karena Bapak tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarnya. Beberapa bulan yang lalu orang tak akan terlalu bisa melihat kesulitannya. Tapi akhir-akhir ini, Bapak sudah tak bisa lepas dari tongkatnya. Bukan untuk menyangga tubuhnya, tapi untuk meraba apa yang akan dipijaknya….

Pagi ini ketika aku mengantar Bapak menunggu bis yang akan membawanya pulang setelah menginap semalam di rumahku, si kondektur berteriak, “Gak pake lama! Gak pake lama!”. Ingin kumaki rasanya. Tak dilihatkah aku menuntun Bapak yang tertatih, berusaha menyusul Ibu yang sudah lebih dulu berada di atas bis. Aku bahkan tak sempat menyalami dan mencium tangannya…

Apa yang bisa kuberikan pada Bapak. Yang telah membuatku seperti sekarang. Dengan segala jungkir-baliknya. Seakan tak akan pernah cukup apapun yang kulakukan untuk membalas pengorbanan Bapak. Segala prihatin yang dilaluinya. Dan aku merasa tak pernah bisa menjadi orang tua sehebat Bapak…

Aku hanya berusaha memberikan apa yang Bapak inginkan saat ini, selagi aku bisa memenuhinya. Hal-hal sepele yang mungkin serasa mengada-ada dan merepotkan. Minta dibelikan ini atau itu, minta diajak ke sana atau ke sana. Sama sekali bukan apa-apa.

Bagaimana aku berterima kasih, Bapak?

Advertisements

20 thoughts on “BAPAK

  1. wah, bapak yang asik!

    aku pernah ngincipi main pingpong, ternyata memalukan. tanganku lebih sip megang raket badminton. kalo maen badminton malah aku bisa tangan kanan/kiri. beda dg mbakku yg lebih oke maen tennis lapangan, kalo maen badminton kok nyangkut terus di net. hehe.

    btw kamu doyan olah raga itu ternyata faktor turunan yah? aku juga suka olah raga, olah raga favoritku formula one dan motogp 😀

    betul Mi, harusnya kutambahkan. Bapak paling asik sedunia…

  2. La,
    Di masa-masa senja mereka spt ini…
    Di masa-masa ketika tubuh, hati, pikiran, tak lagi bisa mengikuti gegap gempita dunia…
    Hanya kalian, anak cucunya, yang masih berharga.
    Berada di antara kalian adalah segalanya.
    Minta ini minta itu hanyalah penghalus bahasa mereka.
    Makanan tak lagi nikmat…
    Pemandangan tak lagi indah…
    Kenikmatan dunia tlah memudar..
    Karena Tuhan memang tengah mempersiapkan mereka untuk meninggalkannya…
    Berusahalah untuk sebisa mungkin mendampingi mereka.
    Selagi masih bisa!
    Selagi masih ada!
    Karena Nabi tlah bersabda, jangankan lagi harta, bahkan jiwa kalian anak-anaknya menjadi hak mereka!

    La,
    Jangan pernah putus berdoa, “Allohummaghfirli wa li walidayya warhamhuma kama robbayaani shoghiro”
    Suatu saat kau akan merasa
    Duniamu runtuh karena kehilangan mereka

    *not headache*

    thanks, prince.

  3. berterimakasih dengan cara menjadi dirimu sendiri, itu sudah lebih dari cukup, karena melihatmu tersenyum di jalan yang kau pilih, lebih dari segalanya bagi beliau 🙂 titip salam saja buat bapak yang hebat itu !

    setidaknya Bapak melihat anaknya ‘jadi’, sehingga pengorbanannya terasa tidak sia-sia. ingin terus memberi lebih kepada Bapak, meski tak akan pernah cukup

  4. selagi bisa berdekat-dekat jangan sampai menjauh dari bapak, hanya menyisakan penyesalan 😦 **bapakku sudah almarhum beberapa tahun yang lalu**

  5. Di luar negeri, hari bapak akan diperingati tanggal 15 Juni.
    Saya benar-benar melihat Anda sebagai anak yang berbakti.
    Apapun yang sudah kita lakukan pada orang tua kita, rasanya tidak akan cukup untuk bisa membalas cinta mereka. Karena itu cinta kita kepada anak-anak kita merupakan perwujudan kasih sayang terhadap orang tua juga. Bahkan ada yang bilang lebih sayang cucu daripada sayang anak. Karena si kakek-nenek juga bisa melihat cinta yang anaknya berikan pada cucu-cucunya.
    Saya juga selalu berusaha membalas cinta orang tua meskipun saya jauh dari mereka. Terima kasih karena sudah mengingatkan dengan tulisan yang penuh cinta.
    Oh ya…salam kenal juga.


    saya hanya mencoba menjadi anak berbakti, meski merasa masih jauh dari itu.

  6. Pingback: » aku VS ibu random thoughts of La

  7. Pingback: » asmaradana*) random thoughts of La

  8. salam hangat buat bapak (kata belia u, ia di panggil pak sungko di bali.)

    saya pernah diajari melukis orang. beda wajah cowok dan cewek itu ada pada jidatnya….

  9. Wow…kisah tentang seorang bapak yang luar biasa…:(

    jadi ingat sebuah lagu :
    oh dear Dad, can you see me now..?
    I am my own, like you somehow..
    I wait up in the dark, for you speak to me..

  10. Pingback: aku VS ibu « kata dan rasa

  11. Pingback: kata dan rasa

  12. Pingback: ibu vs aku « kata dan rasa

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s