please deh, Cin (2): pertemuan pertama

Aku bertemu Sam untuk pertama kalinya pada peluncuran novel pertamaku yang tak terlalu sukses.
Entah apa yang salah waktu itu. Woro-woro tentang acara itu sebenarnya sudah cukup lama sebelum hari H nya. Dan sudah cukup luas juga. Aku mengaharapkan penggemar cerpenku datang, setidaknya beberapa puluh. Tapi ruangan lobi hotel tempat launching itu sepi lengang hanya diisi beberapa undangan, teman dan kenalan. Dan beberapa penggemar, tapi tak sebanyak yang kuharapkan.
Lalu datang pria jangkung itu, membawa satu exemplar novelku dan meminta tanda tangan.
“Ceritanya menyentuh sekali, Menyelinap di Celah Sepi”, katanya
“Oh ya? Anda sudah baca sampai selesai?”
“Belum, tapi bisa saya bayangkan. Kau lihai sekali menggambarkan suasana yang teduh tenang, sunyi tak bersuara. Seperti lukisan surealis”
Aku tak mengerti banyak tentang aliran lukisan. Tapi lukisan surealis yang aku tahu, mungkin satu-satunya, adalah lukisan Salvador Dali tentang jam karet yang tersampir di sana-sini. Bukan seperti gambaran suasana novelku sama sekali.
“Terima kasih. Saya hanya berusaha menciptakan suasana ngelangut”
“Dan itulah yang dilakukan pelukis surealis. Kau berhasil”
“Uhmmm saya tak tahu tentang banyak tentang lukisan, sebenarnya”
“Tak apa, kau ahli dalam tulisan. Itu sudah cukup”
Aku menandatangani bukunya, dia mengucapkan terima kasih, lalu berlalu. Tidak benar-benar berlalu. Karena setelah beberapa langkah kemudian dia sempat menoleh padaku, tersenyum dan mengangguk pelan, baru kemudian benar-benar berlalu.
Dengan sedikitnya pengunjung launchingku, aku bisa mengingat orang itu. Dan entah kenapa aku berterima kasih karena dia telah datang. Ketika kau butuh banyak orang, dan yang datang tak sebanyak yang kau harapkan, kehadiran satu orang saja menjadi sangat berarti.
Aku pulang dari launching dengan agak lesu dan tak bersemangat. Reta, editorku tampak tak kalah lesunya. Rizal yang mewakili pihak penerbit juga agak kecewa. Semua tidak berjalan seperti seharusnya. Well, atau mungkin ini yang seharusnya? Aku berharap pembaca cerpenku akan penasaran bagaimana kalau aku menulis novel. Tapi aku tidak melihat sambutan yang menggembirakan.

***

Hari-hari selanjutnya berusaha kulalui dengan sebiasa mungkin. Aku alihkan kekecewaanku dengan berkonsentrasi pada murid-muridku. Aku benar-benar ingin istirahat dari aktivitas menulis. Aku perlu jeda. Aku sadar bahwa aku baru mulai, dan tak ada yang memulai dengan langkah besar. Tapi aku tak bisa memungkiri kekecewaanku. Waktu luangku, yang biasanya kupakai untuk tak tik tuk di keyboard komputer, kutambahkan kepada waktu bacaku.
Aku ingin lihat bagaimana cara bertutur yang disukai orang. Sehingga bukunya bisa terjual banyak, atau bahkan jadi best seller. Temanya? Settingnya? Gaya bicaranya? Tapi ini justru semakin menyiksa. Aku semakin merasa tak bisa apa-apa.
Terima kenyataan, Cin. Menulis cerpen berbeda dengan novel. Kau biasa bertutur ringkas, sedang novel butuh rentang waktu bercerita lebih panjang.
Oh, aku butuh pelarian. Tapi apa? Tak ada hal yang bisa memberiku keasyikan. Orang lain akan berjalan-jalan dengan suami atau kekasih. Ke mal, nonton, makan malam yang romantis.
Jauh. Aku tak punya keduanya. Kepergian Hans karena kecelakaan dua tahun yang lalu masih menyisakan luka. Belum ada yang bisa menggantikannya.
Seharusnya aku bisa memanfaatkan keterpurukanku ini untuk menulis sesuatu yang menyedihkan. Tapi aku takut ia berkelanjutan dan aku tak bisa mengakhirinya.

***

Aku berjalan di ruang dan waktu Salvador Dali. Sebuah tanah lapang yang sepi, gersang, suram. Jam karet yang tersampir di sana sini. Aku menyentuh satu yang paling besar, yang tersampir di ranting pohon kering. Aku bayangkan dia lentur dan bisa kutarik tarik seperti karet betulan. Tapi aku kaget sekali mendapatinya sangat keras, dan memang bentuknya pletat-pletot seperti itu. Dan semua jam yang bertebaran di lukisan itu begitu. Tapi anehnya mereka berdetak. Tadinya aku hanya mendengar satu, tapi lama-lama dua, tiga, dan semuanya. Detaknya makin keras, keras, keras, keras… hingga aku menutup kedua telingaku. Tapi detaknya mengiringi debar jantungku. Gelombang suara keduanya bertemu pada titik yang tepat, sehingga menjadi semakin kuat dan semakin keras.
Aku terbangun berkeringat.

***

Minggu pagi yang cerah. Secangkir kopi dan koran di teras samping rumah.
Setelah buka sana buka sini, aku berhenti di referensi buku. Novelku. Novelku? Kupikir tak ada yang mau membaca, dan ternyata seseorang menulis referensinya?
Penuh penasaran aku membacanya. Bagaimana orang memandang tulisanku? Gila. Bahasa orang ini menjual sekali. Bikin penasaran. Bahkan aku sendiri tak percaya dia sedang bercerita tentang bukuku. Dia membuat tulisanku terlihat begitu hebat.
Kulirik siapa yeng menulis resensinya: R Sambodo, wartawan.
OK. Dia memang pemain kata-kata.

***

Handphoneku berbunyi. Dari Rizal, penerbit novelku.
“Ya?”
“Apa yang terjadi ya?”
“Apa?”
“Tiba-tiba penjualan novelmu naik”
“Aha?”
“Kita akan lihat nanti. Barangkali kita perlu mencetak lagi”
“Kau jangan membuatku bermimpi, Zal”
“Ayo kita bermimpi bersama…. Ok, Aku akan mengabarimu lagi kalau ada perkembangan”
“Ok, thanks'”
Penjualan novelku naik?

Selesai jam pelajaran aku segera membereskan buku-buku di mejaku. Ada beberapa pekerjaan siswa yang harus kuperiksa. Peduli setan, mereka bisa menunggu. Tapi tidak rasa penasaranku. Aku bergegas pergi ke toko buku, tempat yang beberapa waktu ini kuhindari karena tak sanggup menanggung sakit hati melihat bukuku tak dilirik orang.

Oh Tuhan.
Bukuku dipasang di tengah, berjajar dengan buku-buku lain, yang oleh pihak toko buku dimasukkan kategori ‘Buku Pilihan’.
Tiba-tiba tubuhku terasa hangat oleh kegembiraan. Bukan. Aku bukan hanya gembira. Aku bahagia. Aku melihat beberapa orang sedang membuka-buka novelku. Dan ada satu yang sudah membawanya ke kasir. Aku mendekat ke arah mereka. Mengambil satu dan ikut membuka-buka. Aku merasa seperti orang gila. Aku yang menulisnya. Aku tahu setiap kalimatnya. Tapi aku membaca. Kulompat-lompat setiap beberapa halaman. Tidak ada yang berubah. Hei. Apa yang kupikirkan? Tentu saja tidak ada. Semua masih persis seperti ketika pertama kali buku ini diluncurkan. Tapi kenapa tiba-tiba dia menjadi menarik? Aku tak tahu, aku tak tahu…
Aku menutup buku itu dan meletakkannya. Setengah berlari aku meninggalkan toko itu. Diriku dipenuhi oleh terlalu banyak kegirangan. Meluap. Kalau aku tetap di sana aku bisa benar-benar disangka orang gila. Karena aku ingin tertawa.

Begitu sampai di rumah, itulah yang kulakukan. Aku melempar tasku ke kasur, dan menjatuhkan diri terlentang di sampingnya. Lalu tertawa sekeras-kerasnya.

terkait:
please deh cin (1)
please deh cin (3): terjebak di kericuhan
please deh cin (4): percakapan di pagi hari
please deh cin (5): cinta aku dan sam
please deh cin (6): istri sam
please deh cin (7): sang pengembara
please deh cin (8): the end is the beginning is the end is the beginning

Advertisements

12 thoughts on “please deh, Cin (2): pertemuan pertama

  1. Harapan mu Latri?
    Semoga dech kesampaian.
    Aku gag biasa baca novel di monitor.
    Mataku lekas lelah.
    Jd hanya seadanya saja…
    Paling2 cerpennya aku print, lalu dibaca sambil tidur2an
    lebih bisa MEESAPI

  2. @ichanx dan hanggadamai: ini 100% khayalan
    @purplenote: termasuk judul novelnya adalah khayalan, jadi kalo sampai nemu di toko buku, kabari aku 😀
    @mas kopdang: kamu horor banget, ketemuan sama mereka kok di alamnya om dali
    @khairuddin, setiap orang punya cara menikmati sendiri-sendiri, tks
    @riri: biasa aja kok… (sok merendah)
    @febra: iya nih!
    @sofianblue: senang anda betah di sini, tapi jangan lupa pulang. silakan datang kembali!

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s