please deh, Cin (3): terjebak di kericuhan

Panas sekali siang menjelang sore ini. Dengan langkah cepat aku menuju halte. Sebenarnya ini akan membuatku semakin berkeringat, tapi aku tak mau lama-lama di bawah matahari yang menyengat. Map yang kutudungkan di atas kepalaku hanya sedikit membantu. Matahari sudah agak condong ke barat, arah yang kutuju. Jadi jika aku benar-benar melindungi wajahku dari matahari, mapnya harus menutupi mataku, dan aku mungkin akan menabrak seseorang atau sesuatu.
Halte dipenuhi anak sekolah yang akan pulang. Berebut sedikit keteduhan sambil menunggu kendaraan yang akan membawa mereka pulang, atau mungkin mau mampir jalan-jalan. Aku sendiri sedang tak ingin ke mana-mana. Hari ini lelah sekali, mengoreksi pekerjaan siswa yang sedang masa ulangan umum akhir semester.
Dari arah barat kudengar suara riuh, yang ternyata adalah sekumpulan mahasiswa yang sedang berdemo. Ya Tuhan, banyak sekali. Berbaris merentangkan spanduk dan mengacungkan papan dengan berbagai tulisan seruan.

Dengarkan suara kami.
Lihatlah dengan hati.
Rakyat menjerit.
Turunkan harga.
Jangan jadikan kami lebih menderita.

Seorang yang berkacamata memegang megaphone dan meneriakkan tuntutan mereka.
Kata-kata yang terdengar putus asa. Meminta pemerintah mengurungkan menaikkan harga BBM. Aku sendiri tidak suka dengan kenaikan BBM. Ongkos angkutan pasti naik, dan juga harga semua barang. Sedangkan gajiku sebagai guru di sekolah swasta masih seperti semula. Tapi di negara tetangga harga BBM sudah di atas harga di Indonesia. Kupikir kita harus terbiasa berhenti disubsidi. Menyesuaikan pemakaian dengan daya beli. Tapi entahlah, mungkin rejekiku masih bisa sedikit mengejar kenaikan harga yang terjadi sehingga bisa mengatakan ini. Sedang di luar sana kurasa banyak yang benar-benar tak bisa menyesuaikan diri.

Tiba-tiba barisan demo itu buyar. Teriakan-teriakan terdengar. Aku tak tahu dari mana datangnya, sepasukan polisi anti huru-hara bergerak seperti anak panah menusuk, dari arah tegak lurus barisan.

“Apa yang terjadi?” tanyaku, entah pada siapa.
“Ada yang melempar polisinya” jawab seorang anak berseragam SMA di sebelahku.

Barisan itu bergerak ke arahku, cepat dan tak terkendali. Pasukan polisi yang tadi lurus menembus ke tengah barisan itu, tiba-tiba terbelah. Satu mendesak ke arah menjauhiku, dan yang satunya ke arahku, seperti sengaja memecah barisan demonstran.

Mahasiswa itu begitu banyak aku tak bisa memperkirakan jumlahnya. Ratusan. Mungkin seribu lebih. Yang terdesak ke arahku seperti mencoba melawan. Mendorong pasukan polisi, mencoba tetap bersatu dengan teman-temannya yang didesak ke arah lain. Tapi polisi anti huru-hara adalah orang-orang terlatih. Jumlah mereka lebih sedikit, tapi mereka membawa perisai dan pentungan, dan bekal latihan untuk menghadapi hal-hal seperti ini.

Barisan mahasiswa terus terdorong, dan makin lama makin dekat ke arahku. Beberapa bahkan sudah menyenggolku. Aku mundur dan memeluk tasku erat. Aku terlalu terpana hingga tak menyadari bahwa di hadapanku kini sudah penuh demonstran. Beberapa calon penumpang sudah pergi meninggalkan halte dan menjauh dari kericuhan.

Terlambat. Aku dan beberapa orang terjebak di halte, terdesak tertabrak-tabrak. Teriakan-teriakan semakin keras, memekakkan telinga, tak terkendali, dan aku tak bisa menangkap sama sekali. Aku melihat batu dan botol seperti beterbangan di udara, tadinya ke arah polisi yang masih satu kesatuan. Tapi ketika polisi terus terpecah secara sistematik memecah belah barisan, lemparan batu dan botol itu menjadi berubah ke segala arah.

PLETAK!!
Satu lemparan batu menyasar ke kepalaku. Sakit bukan main. Tas dan mapku kontan terlepas. Kuraba kepalaku dan terasa basah darah yang membuat habis hatiku. Aku kehilangan kendali. Hilang keseimbangan. Pandanganku berkunang. Aku bisa merasakan badanku terhuyung ke depan belakang dan mencoba mencari pegangan. Suara-suara di sekelilingku yang tadinya riuh rendah tiba-tiba hilang.

“Tolong, saya…. oh…”,aku bahkan tak sanggup bersuara, dan tiba-tiba segalanya gelap gulita.

***
Aku terbangun dalam kesunyian. Mataku terbuka perlahan, tapi buru-buru kututup lagi karena tak tahan oleh silau lampu dan putih di segala arah. Lampu? Putih?

Cepat kubuka mataku lagi, mengerjap beberapa kali hingga terbiasa. Seperti yang sekejap terlintas di kepalaku. Aku di rumah sakit. Sebuah sentuhan lembut di tanganku mengejutkanku. Aku tak menyadari kehadiran seseorang di sampingku. Menoleh dengan tiba-tiba ke arahnya membuat kepalaku berdenyut kuat hingga aku meringis dan memeganginya.

“Kau akan baik-baik saja”, katanya.

Tak mau merasakan nyeri lagi, aku menoleh perlahan ke arahnya. Seorang laki-laki berwajah tirus yang tersenyum lembut padaku. Rambutnya yang sedikit gondrong dan acak-acakan menutup dahinya.

“Saya…. apa…”
“Tenanglah, Kau terkena lemparan batu nyasar saat ada demo tadi siang. Tapi kau sudah di rumah sakit sekarang. Semua akan baik-baik saja.”
“Apakah ini sudah malam?”
“Sekitar jam tujuh. Kau pingsan cukup lama. Mmmm.. hampir empat jam kurasa”

Empat jam. Seumur hidup aku belum pernah pingsan. Dan sekalinya pingsan, empat jam. Tiba-tiba aku teringat tas dan mapku. Tanpa sadar aku membuat gerakan mengejutkan yang lagi-lagi membuat kepalaku seperti dihantam.

“Aduh!!”
“Ssst.. tenanglah. Berbaringlah dulu. Trauma kepalamu cukup hebat, tapi kata dokter kau akan baik-baik saja. Kau hanya perlu cukup istirahat”
“Tasku…”
“Ada, sudah kuselamatkan. Juga mapnya”
“Terima kasih. Apakah aku bisa pulang sekarang?”
“Sekarang? Kau mungkin perlu beberapa hari dirawat di sini”
“Oh no. Tidak mungkin. Tidak bisa. Murid-muridku sedang tes. Aku harus mendampingi mereka. Aku harus masuk besok, aku….”
“Cin, tenanglah. Besok pagi-pagi aku akan menghubungi pihak sekolahmu, dan aku yakin mereka lebih suka kau beristirahat hingga pulih”

Aku tertegun. Dia memanggilku ‘Cin’. Itu bukan namaku. Maksudku, itu namaku. Tapi namaku sebenarnya adalah Laras Anggraini. Sedangkan Cin Larasati adalah nama samaranku di setiap cerpen, dan di novelku.

“Kenapa kau memanggilku begitu? Dari mana kau tahu… aku.. kau… Oh, apa kita pernah bertemu? Ya, pernah. Di mana? Kapan? Aku…”
Kepalaku didera nyeri lagi. Pria itu meletakkan jarinya di bibirku.

“Ssst… Istirahatlah, kita bicarakan ini setelah kau agak baikan, ok?”
Aku ingin protes, tapi kurasa aku pingsan lagi.

terkait:
please deh cin (1)
please deh cin (2):pertemuan pertama
please deh cin (4): percakapan di pagi hari
please deh cin (5): cinta aku dan sam
please deh cin (6): istri sam
please deh cin (7): sang pengembara
please deh cin (8): the end is the beginning is the end is the beginning

Advertisements

3 thoughts on “please deh, Cin (3): terjebak di kericuhan

  1. ini masih flashback-nya cin atau udah kembali ke saat sekarang ya **garuk-garuk agak bingung**
    kirain cin tuh dari cinta ternyata …. cin ajah 😀

  2. wah kirain tasnya udah dibawa kabur… gak taunya udah diselamatin toh… masih banyak juga orang jujur di negeri ini toh…
    *manggut2 sok ngerti
    😛

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s