please deh, Cin (4): percakapan di pagi hari

Keesokan harinya.

Dia menyuapkan sarapan yang disediakan rumah sakit.
“Apakah kepalamu masih nyeri?”
“Tidak terlalu”, aku tak mau menggeleng, karena itu akan membuatku merasakan nyeri itu.
“Aku akan ke sekolah dan mengabarkan keadaanmu”, dia menengok jam tangannya, “Baru jam enam. Setengah jam lagi pas ya?”
“Aku bisa menelpon kepala sekolah, tolong ambilkan handphoneku”
“Baiklah, tapi habiskan dulu sarapanmu”

Aku menelan.

“Kau tahu namaku, nama samaranku”
“Ya, dan aku tahu nama aslimu, Laras. Tapi aku lebih suka Cin”
“Apalagi yang kau tahu?”
“Tentangmu? Banyak. Aku tahu semua cerpenmu, pekerjaanmu. Semua ada di web-mu”

Dia menyuapkan satu lagi.

“Aku bahkan tahu lebih banyak dari yang tercantum di webmu. Webmu lebih banyak bercerita yang terkait dengan Menyelinap di Celah Sepi”
“Apa yang kau tahu?”
“Masa kecilmu, keseharianmu, harapanmu”
“Dari mana kau tahu semua itu?”
“Google”

Aku minum sedikit.

“Google, tentu saja. Aku tak tahu ada banyak keterangan tentang aku di internet”
“Ada beberapa, kau cukup terkenal sebagai penulis cerpen”
“Dan kau, aku sama sekali tak tahu tentangmu”, kataku.
“Aku berharap setidaknya kau tahu namaku”
“Aku hanya mulai mengingat bahwa kau adalah yang meminta tanda tanganku di launching novelku. Membuat sangat masuk akal kenapa kau memanggilku Cin”

Pria itu terdiam. Tangannya yang sudah terangkat untuk menyuapkan lagi, tiba-tiba turun. Dan mengaduk-aduk isi piring.

“Kau benar-benar tak bisa menduga siapa aku?”

Aku membaca sedikit kekecewaan di matanya.

“Maaf, aku tidak punya gambaran sama sekali”

Disuapkannya sendok terakhir yang urung barusan.

“Apakah kau tak membaca resensiku?”

Uhuk!, aku tersedak.

“Kau?”

Tersedak lagi. Dia segera mengulurkan minum.

“Kau… wartawan itu?”
“Tak ingat kah namaku?”
“R Sambodo, tentu saja ingat. Oh, kau hebat. Resensimu. Aku bahkan hampir tak percaya kau sedang membahas bukuku. Tiba-tiba saja orang memperhatikan novelku. Sam, kau adalah keajaiban yang dikirim Tuhan buatku. Eh… kau… tak keberatan kupanggil begitu?”

Yang kupanggil ‘Sam’ meletakkan piring yang sudah kosong di atas nakas di samping tempat tidur.

“Apa pun yang kau suka Cin”, dia tersenyum.
“Bagaimana kau bisa berada di sana? Di tengah demo itu. Yang… ah! Kepalaku sakit lagi mengingatnya…”
“Tak usah kau ingat. Kau di sini dan baik-baik saja. Harusnya kau tak perlu heran kenapa aku berada di sana. Aku meliput demo itu”
“Ah, ya. Tentu saja. Hantaman batu di kepalaku membuatku jadi tolol”

Sam tersenyum lagi, ah, senyum yang meneduhkan.

“Aku ingin kau mengerti satu hal. Kalau pun novelmu tiba-tiba laku, itu bukan karena resensiku, tapi karena kau memang berhak atas itu. Mungkin orang butuh waktu untuk membicarakannya, untuk menyadari kehebatan karyamu”

Aku terdiam.

“Dan satu lagi. Aku ingin kau mengerti kenapa aku bisa begitu dalam menulis resensi novelmu”
“Kenapa?”
“Karena aku mencintaimu”

Aku pasti terlihat tolol dan bodoh, melongo mendengar perkataan orang ini. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi tak tahu apa. Aku ingin marah tapi tak bisa. Ingin bertanya tapi bingung tentang apa. Aku tak bisa berkata-kata.

Sam mengangsurkan handphone yang diambilkannya dari tasku, “Kau harus menelpon kepala sekolahmu”

terkait:
please deh cin (1)
please deh cin (2):pertemuan pertama
please deh cin (3): terjebak di kericuhan
please deh cin (5): cinta aku dan sam
please deh cin (6): istri sam
please deh cin (7): sang pengembara
please deh cin (8): the end is the beginning is the end is the beginning

Advertisements

9 thoughts on “please deh, Cin (4): percakapan di pagi hari

  1. apakah ini cerita tentang sam hedi, si wartawan soccer dari malang itu?

    bukaaan… cerita ini cuma khayalan. kesamaan peristiwa dan nama hanyalah kebetulan semata…

  2. ada cerita bersemi… berseri maksudnya… panjang amir…
    habis duitku ngebaca ni diwarnet, mesti di save dulu…. hiks…

    disave dulu, diprint dulu, silakan, mana yang lebih nyaman. yang penting dibaca, terima kasih 😀

  3. too fast…. too fast…. my friend. 😆

    Sepertinya saya memang sangat bodoh memandang cinta tapi saya bisa mengandaikannya begini :

    Ada seorang laki-laki yang duduk di sebuah kedai kopi di pagi hari sebelum berangkat kerja. Dia duduk sebuah meja di pojok ruang. Tiba tiba dia memalingkan wajahnya ke arah lain dan melihat seorang wanita sedang duduk menikmati segelas kopi dengan wajah setengah tertunduk memandang layar laptop yang ada di depannya.

    Dan tiba-tiba si laki-laki itu mendapatkan satu insight. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia memiliki sebuah keyakinan kuat dalam dirinya bahwa wanita yang duduk diseberangnya itu adalah pendamping hidupnya, jodohnya, orang yang menghabiskan sisa hidup bersamanya. Dia jatuh cinta padanya.

    How come ? 😆

    Cinta sulit dilogikakan tetapi sebuah cinta yang tak masuk logika bisa dikategorikan 3 hal : (1) memang benar-benar terjadi; (2) gejala gangguan psikologis; dan (3) apakah saya bermimpi ? 🙂

    Seperti kata lagu Rod Steward :

    Have I told you lately
    that I love you
    Have I told you there’s
    no one else above you

    lately or easily or… ?? :mrgreen:

  4. Ooppss…. sori dori mori… 😆

    Saya nggak mengkritik lho…. suer bin sure. 🙂

    Saya suka ceritanya. Bagus, dan sedikit banyak menjadi personifikasi diri saya dalam bentuk alternatif. Alurnya bagus.

    Tapi…. (selalu ada tapi dari sesuatu) 😆

    Saya cuma menyorot satu sisi yang “terlalu ringkas” dari cerpen ini. Mungkin ini kelemahan umum sebuah cerpen, apapun itu, bahwa terkadang untuk mencapai akhir cerita yang diharapkan, mereka bergerak terlalu cepat dalam alur ceritanya [dan juga penyimpulannya]. Sehingga ada sebuah celah “yang tidak masuk akal” dalam penceritaannya.

    Saya juga sering menerapkan itu kalau menulis sebuah cerpen. Kalau ditulis lengkap maka bisa jadi itu bukan sebuah cerpen tapi jadi novel [atau minimal novelet]. Sementara kalau menjadi novel, maka banyak yang kurang dalam hal kelengkapan cerita dan alur yang terlalu sederhana dan satu garis saja.

    Solusinya ?

    Bikin seri ke-5, dan saya akan siap menikmatinya.

    *bilang aja suka, fer !* 😆

  5. lho lho lho… kok malah sori dori mori pake bikini..
    justru yang mengkritik itu yang diharapkan mas, bukan yang sekedar bilang “bagus”, “seru”, “menarik” dlsb…
    memang kalau empat seri ini dibaca sendiri2 akan menjadi penggalan, yang bisa dianggep cerpen yang punya cerita sendiri-sendiri. lha wong tadinya cuma mau nulis seri 1 thok! tanpa niat dipanjang-panjangin. masalahnya lama2 imajinasiku ke mana-mana dan membuat ini bukan cerpen lagi, kayanya jadi cer-pan nih (cerita panjang)…
    seri ke-5 akan segera tayang.

    sebenernya, ada beberapa orang yang mengkritik ‘keterburu-buruan’ dalam fragmen 4 ini. via sms, YM, dan ngomong langsung 😀
    jadi kesimpulan, aku memang sudah berbuat kekliruan sehingga muncul ‘tapi’ itu…

    terima kasih kritiknya, mas fertob!

    ayo ayo… siapa nyusul, kritik tulisanku……!!!!

  6. Hmmm…
    Wartawan emang pinter nulis, tp melow dan puitis juga?
    Wartawan yang ngeliput demo, trus juga menulis resensi tentang karya sastra, probabilitasnya berapa ya?

    Cara berceritanya menarik, mengalir… Tp ada beberapa latar belakang yang rasanya kurang realistis… keep on writing

    makasih masukannya…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s