oleh-oleh dari temanggung #3: seniman gagal

takanajuo.jpg

Apa yang pertama kali tersirat melihat gambar ini?

Aku sendiri waktu pertama kali masuk juga agak bingung, atau kagum mungkin. Interior dindingnya dari anyaman gedheg — anyaman bambu, bukan seperti robot gedheg itu. Udah gitu dicat warna-warni berpola. Tapi polanya ganjil. Sebenarnya kalau pengin mudah, tinggal diurutkan lompat dua-dua atau empat – empat, sehingga polanya ganjil-ganjil genap-genap. Tapi ini tidak, rumit.

Lalu di dindingnya digantung banyak lukisan foto yang sepertinya menggunakan pensil arang. Ada juga yang  pake pensil super empuk, mungkin yang 4B. Ada beberapa yang aku bisa mengatakan itu foto siapa, karena aku yakin itu gambar artis. Ada beberapa yang aku sama sekali tidak mengenali, karena mungkin memang bukan orang terkenal. Tapi anehnya, lukisan itu tidak benar-benar terasa nyata. Hanya terasa ada ciri tertentu yang membuat aku mengenalinya. Misalnya, Teuku Umar dengan topi khasnya.

Tahu ini tempat apa?

Rumah makan padang. Di Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung, dekat dengan Kantor Kecamatan.

Si empunya adalah perempuan Padang asli kurasa. Bicaranya itu lho, kentara. Tapi kenapa interior warungnya begini ya? Kupikir anak ibu ini pasti sedang atau telah kuliah di seni rupa, dan interior warung itu adalah hasil perbuatannya.

Tapi sesaat kemudian, muncul sang suami. Gondrong. Khas gaya pelukis jaman dulu. Penampilannya nyentrik. Dia membawa keluar panci berisi masakan yang kemudian diletakkannya di depan.

Miris.

Entah kenapa aku merasa, dia adalah seorang seniman gagal.

Aku punya kenalan seperti itu. Mas Udin namanya. Sekolah di jurusan seni rupa. Setelah lulus ngenger di galeri seorang pelukis tekenal, tapi berakhir dengan disuruh pergi karena dinilai tidak berkembang. Katanya dia kurang ulet, kemauannya kurang keras, kurang fokus dan lamban bekerja.
Akhirnya dia pulang kampung, menikah, dan buka warung kelontong kecil-kecilan. Tapi aku masih bisa merasakan sisa-sisa obsesinya menjadi pelukis. Rambutnya yang tetap gondrong, dan berbagai coretan sejak jaman kuliahnya, yang di tempel di sana-sini di dinding warungnya.

Sebenarnya, melukis itu dari jiwa kan? Kenapa ada orang yang merasa dirinya punya jiwa melukis, tapi kenyataanya dia tidak berhasil? Atau orang-orang seperti itu telah salah menilai dirinya, dan hanya menuruti obsesinya? Atau sebenarnya punya jiwa tapi tak bisa menghidupkannya? Atau keadaan lain memaksanya?

Aku sendiri pernah punya angan-angan jadi pelukis. Bapak telah ‘memercikkan’ banyak cat ke tubuh dan pikiranku. Aku daftar kuliah di UGM dengan khayalan tiap pulang kuliah aku akan nongkrong di galerinya mas Tejo. Mbak-mbakku pun udah mbayangin itu bakal terjadi. Ternyata aku malah keterima di UNDIP, dan kesibukan kuliah dan pacaran telah membuat minatku pada melukis menguap begitu saja…. Bekal berbagai macam cat dan berbagai ukuran kuas dari Bapak sesekali masih kumainkan. Tapi hasilnya selalu melayang diambil teman. Dan semua perkakas itu, berakhir dengan kuwariskan kepada tetanggaku yang hobi melukis. Itu terjadi ketika aku mulai sibuk dengan anak dan merasa tak ada waktu untuk corat-coret kuas….

Tiba-tiba aku merasa aku tak ubahnya mas Udin, yang gak fokus dan gak pernah bersungguh-sungguh memperjuangkan sebuah angan-angan. Tiba-tiba aku terdampar jadi blogger gadungan….

9 thoughts on “oleh-oleh dari temanggung #3: seniman gagal

  1. ha..? itu interior rumah makan padang ?

    eniwei..adakah seniman gagal ? aku pikir jiwa seni tuh gak diukur dg kesuksesan menggelar pameran seni.

    sense of art kan gak harus selalu disalurkan dan tersalurkan dengan menjadi seniman.

  2. seniman gagal, hanya sebuah istilahku sendiri untuk yang punya jiwa seni tapi (karena alasan apapun) tak berhasil beraktualisasi.

    jiwa seni tidak diukur dengan kesuksesan menggelar pameran

    iya. pameran hanya salah satu bentuk aktualisasi. tapi kalau sama sekali tidak ada aktualisasi?
    ketika sense of art ada dalam diri seseorang, dan tidak tersalurkan, maka it remains that way, dan orang itu tidak bisa disebut seniman –hanya seseorang yang berjiwa seni.
    sama sekali tidak masalah jika orang tersebut memang tidak ingin jadi seniman…. misalnya aku.
    *narsis mode: on*

  3. gagal karena masih mikirin urusan perut dan tetek bengeknya, mangkanya salut juga sama seniman yang dah masa bodo sama kebutuhannya, pokoknya berkreasi dan kreasi

    lha kamu merasa seniman tho hehhehehe, kirain seniwati

  4. @khay: bukan gitu, malah anak2 yang corat coret…. tembok!
    @iway: aku bukan dua-duanya. cuma orang yang sok berjiwa seni hehe…
    @mlandhing: menurutku pelukis wannabe… lukisannya sama sekali ga hidup, asli
    @laporan: iya juga…
    @doc wong: ngomong apa sih….. aku ga bisa bahasa prancis.

  5. suatu gambar yang tidak bisa diungkapkan dengan kata2..
    suatu goresan tinta tanpa tau apa yang dilukis..
    bener2 perpaduan khas antara pikiran dan tangan
    *gak liat gambar, langsung comment*😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s