Please deh, Cin (7): sang pengembara

CITRA

“Siapa dia?”, tanyaku.
“Hanya seorang wartawati junior, masih magang. Jika lolos masa percobaan, dia akan jadi wartawan tetap”
“Hebat sekali, dia sanggup menahanmu di sana sehari lagi”
“Aku hanya ingin membantu dia di titik terakhir. Kasihan kan, kalau tinggal sedikit dia tidak lolos..”
“Apakah tanpa bantuanmu dia tidak akan berhasil?”
“Aku hanya ingin memastikan”
“Baik hati sekali kau. Tentu saja. Kalau sudah jadi wartawati tetap , dengan sendirinya kalian akan seatap. Apa teman-temanmu juga sepeduli itu pada para magang?”
“Kurasa iya”
“Kau tidak yakin. Apa kau juga akan sebaik itu kalau dia laki-laki, atau perempuan tapi tidak menarik hatimu?”
“Kurasa”
“Kau tidak yakin. Apa yang kau rasa tentang dia?”

Sam terdiam sesaat. Dipegangnya kedua bahuku, dan menatapku lembut.

“Cin, kau adalah perempuan yang telah membuka hatiku kepada cinta. Cintaku padamu begitu berlimpah dan kau membuat dunia serba indah. Tiba-tiba aku menyadari bahwa ruang hatiku ini luas sekali. Dulu aku tak pernah menyadarinya. Hanya ada ruang gelap. Lalu kau masuk dan meneranginya, dan menunjukkan padaku yang sebenarnya…”
“Bahwa ruang hatimu begitu luasnya, dan kau bisa menyimpan begitu banyak rasa untuk begitu banyak orang?”
“Tidak persis begitu. Aku punya ruang khusus untukmu, yang tak akan pernah terusik, apapun yang kulakukan dengan sisa ruang yang ada. Aku berjanji”

Aku merasa mengerti kata-kata Sam. Tapi aku takut salah mengerti, dan aku merasa lebih baik diam, aku takut bila ternyata terjemahanku benar. Mungkin dengan cara itu bisa membuat Sam bahagia. Kebahagiaan yang tak bisa kuberikan….

***

FRIDA

“Aku hanya lama tidak bertemu dengannya, lalu ketika bertemu lagi dengannya, ada kebahagiaan tersendiri. Masa kau tidak pernah merasakan yang seperti itu?”
“Aku senang ketemu teman lama. Tapi belum pernah lantas flirt dengan mereka”
“Bukan flirt, Cin… Apa sih? Kami Cuma saling menanyakan kabar”
“Kabar per jam? Atau per menit? Seperti… ‘Kamu sudah makan?’ Atau… ‘Hai aku lagi bete nih, macet…’ Atau mungkin, ‘Aku mau mandi dulu, jangan ngintip ya…’ Oh Boy!”
“Dari mana sih kamu punya pemikiran ngawur begitu?”
“Ngawur? Dulu kamu melakukan itu padaku”
“Tapi aku tidak begitu dengan Frida”
“Mungkin karena dia tidak suka. Kau melakukannya dengan cara yang berbeda. Tapi intinya sama saja kan?”
“Sudahlah, toh sekarang sudah tidak lagi. Dia hanya sebentar di Jakarta. Minggu depan dia sudah harus balik ke Denpasar”
“Dan kau pasti sedih”
“Tidak”
“Tidak, karena kalian tetap dapat berhubungan walau dia pergi ke ujung dunia sekali pun. Selama masih ada satelit di atas sana”
“Bukan itu maksudku. Dia boleh pergi. Aku selalu punya kau”

Selalu begitu. Sam tidak pernah lama bersama dengan perempuan lain. Meskipun bersama mereka, dia tetap bersamaku, tak merubah apapun yang dia beri untukku. Dan ketika dia telah jenuh dengan yang lain, mereka akan dilepaskannya, sedang aku tetap dipeluknya.

***

ERIN

“Dia cuma seseorang yang butuh teman….”,kata Sam.
“Haruskah kau yang menemaninya?”
“Tidak ada yang mengharuskan, tapi aku memang bersedia”
“Dia memintamu?”
“Tidak juga, tapi dia bercerita bahwa dia butuh seseorang. Dia baru saja ditinggalkan pacarnya”
“Ya ampun. Ini cerita basi, Sam. Tempat curhat yang akhirnya jadi tempat bersandar, lama-lama jadi ketergantungan, kalau tidak ingin kukatakan kalian akhirnya pacaran”
“Aku hanya tak tega melihatnya menangis”
“Apa urusanmu? Dia itu apamu?”
“Teman”
“Sahabat?”
“Tidak bisa kubilang begitu”
“Jelas tidak. Kau baru mengenalnya beberapa bulan, sejak dia jadi admin di situ. Tiba-tiba dia menyuguhimu cerita sendu. Dan hatimu, ter-sen-tuh”
“Aku tidak tega melihat wanita menangis”
“Celakanya aku bukan wanita yang gampang menangis. Bahkan melihatmu begini aku hanya bisa bertanya: kenapa? Itulah kenapa kau sanggup melakukan ini padaku, karena aku tidak menangisâ”

Aku mulai tidak bisa menerima kenyataan betapa Sam begitu mudah jatuh cinta. Perlahan aku mulai mengerti mengapa dia bisa jatuh cinta padaku hanya karena membaca tulisanku. Aku selalu merasa perasaan Sam untukku begitu kuat, hingga kami bisa sampai ke titik pernikahan. Aku percaya keajaiban cinta. Tapi aku tak pernah tahu ada apa di balik keajaibannya…

terkait:
please deh cin (1)
please deh cin (2):pertemuan pertama
please deh cin (3): terjebak di kericuhan
please deh cin (4): percakapan di pagi hari
please deh cin (5): cinta aku dan sam
please deh cin (6): istri sam
please deh cin (8): the end is the beginning is the end is the beginning

Advertisements

15 thoughts on “Please deh, Cin (7): sang pengembara

  1. Sam mungkin bukan laki-laki yang gampang jatuh cinta. Tapi mungkin dia terlalu bersimpati [bukan berempati] sama penderitaan/pengalaman orang lain sehingga tidak sadar kalau dirinya bisa “jatuh” karena simpati itu. Karena kalau namanya simpati pasti melibatkan emosi.

    *mentari dan XL nggak* 🙂

    Aha, saya sepertinya mulai mendapat titik terang dari konflik yang ini :

    “Maafkan aku, Cin. Kau sangat mengenalku. Aku bisa mengerti jika suatu saat kau lelah denganku. Aku memang bajingan. Tapi percayalah, ke manapun aku mengembara, kepadamu juga akhirnya aku kembali”

    “Berhentilah mengembara, Sam. Kumohon. Berdiamlah di sampingku”

  2. @fa: selamat membaca
    @iway: deket2 AC aja
    @epat, nengthree, litalita: cinta itu bullshit.
    @septy, iya nih, ternyata si Sam… mudah2an hun bun mu enggak deh
    @kopdang: sst…. yang itu ga usah diceritain, rahasia kita berdua!

  3. Cinta kadang tak kenal status seseorang. Cinta datang dan pergi tanpa pernah diundang.
    Jelas saja gag bisa diundang wong cinta itu cuma perasaan kok. gag nyambung ya 🙂

  4. Please deh, Cin…
    aku cuman menghibur hati
    lantaran kau terlalu nyinyir…
    tak sadarkah kau, semua kalimatmu nyaris berujung tanda tanya dan tuduhan, jebakan dan justifikasi
    bahkan terkadang aku ragu kau ini istriku atau polisi
    c’mon…
    aku butuh seorang istri yang menyambutku dengan senyum mengembang
    kecupan ringan di pipi
    membasuh peluh kerja kerasku seharian
    aku bangga mempunya istri yang cerdas sepertimu
    tapi ketika kau terus menerus menggunakan kecerdasanmu untuk mendudukkan aku di kursi pesakitan, banggaku berubah jadi eneg
    aku membutuhkanmu
    sebagai wanita
    bukan jaksa

    *headache*

  5. @khay: sak karepmu lah!
    @prince: dan bagaimana kalau aku diam? setelah beberapa pengembaraanmu, mungkin aku hanya membutuhkan dua kata untuk kuucapkan padamu: selamat tinggal!
    @yella: katanya cinta itu kejam… mana yang bener?

  6. Hmmm… apakah ini akhir cerita cinta itu ? 🙂

    Tapi sepertinya saya masih belum menemukan resolusi konflik yang ada disini :

    Maafkan aku, Cin. Kau sangat mengenalku. Aku bisa mengerti jika suatu saat kau lelah denganku. Aku memang bajingan. Tapi percayalah, ke manapun aku mengembara, kepadamu juga akhirnya aku kembali”

    “Berhentilah mengembara, Sam. Kumohon. Berdiamlah di sampingku

    Apakah ini ada akhirnya ?

    *masih menungggu lanjutannya*

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s