kau bukanlah matahari seperti yang kuharapkan

yang bersinar terang. yang mencerahkan pandangan. dan memberi kehangatan.

kau bukanlah bulan seperti yang kau katakan. yang bercahaya teduh. yang menebarkan kelembutan. dan memancarkan keindahan.

kau bukanlah bintang seperti yang kukhayalkan. yang mengerling di kejauhan. yang bertabur di gelap malam. dan menemani saat aku kesepian.

dulu mungkin serasa. ketika berjuta ucap manis mengalir. dan kata indah berurai. menebarkan bunga di udara. memenuhi dada dengan cinta. membuat hati berdesir mengingatmu. membuat jantung berpacu membayangkanmu. membuat darah deras mengalir memikirkanmu.

apa tah lagi bertemu. yang seolah menghentikan waktu. melenyapkan segala yang ada di sekeliling. hanya kau menatap mataku. hanya kau menggenggam tanganku. dan setiap kata yang keluar dari mulut kita, bak syair bersahut memanjakan telinga. senyummu mencerahkan dunia. tawamu menghamburkan warna. candamu melenyapkan semua duka.

degup jantung seirama berpadu cerita. mengalun menggema membahana. mengambang kita melayang di udara. menuju langit menembus mega. melukis bianglala.

di manakah kini ia, bianglala itu? aku terjatuh dari ketinggian khayalanku. terhempas sendiri. di mana kau? tak kulihat jatuh bersamaku. tak pula kau ada di atas sana. lenyap seolah tak bersisa.

kau adalah meteor. yang datang sekilas menyilaukan pandangan. dengan cahaya putih keperakan. berselubung merah jingga menembus atmosfer. menghempas aku. dan meninggalkan kawah menganga, pedihnya luka.

aku mendapati diriku terbangun dari mimpi indah. dalam keadaan berharap bahwa aku sedang bermimpi buruk. mencubit diri sendiri untuk mengetahui apakah ini nyata? tak berguna. tak kurasakan sakitnya. tenggelam ia oleh kepedihan hatiku ditinggalkanmu.

aku mendapati diriku bertanya-tanya. mengapa kau bisa? sedang aku selalu merasa kau lah segalanya. yang terbayang di setiap detak jantung. dan tercium aroma di setiap hela nafas. dan terbayang di setiap langkah kaki. yang terlukis di setiap tempat yang kulihat. sedang tersenyum, sedang tertawa, sedang bernyanyi, sedang bercanda, sedang merenung, sedang menunduk, sedang mengangguk, sedang menggeleng, sedang mendongak… haruskah kusebutkan juga satu per satu?

karena kuingat semuanya. setiap gerakmu. aroma tubuhmu. irama langkahmu. suaramu. tawamu. decakmu. kerlingmu. jagamu. tidurmu.

pelukmu. ciummu.

yang terpedih menyiksaku.

aku terdiam tak mampu berkata-kata. ketika tak pula kau biarkan aku bertanya. sedang tak kau jelaskan kenapa. katamu bukan salahku. bukan salahmu. lantas salah siapa? bukan salah siapa-siapa?  kalau begitu apa? juga bukan apa-apa?

tidakkah hanya karena kau enggan bertanggung jawab, akan hancurnya mimpi yang kaubiarkan kubangun karenamu? bukankah hanya karena enggan merasa bersalah karena membiarkan ibamu melenakanku?

aku menatap punggungmu. yang semakin jauh meninggalkanku yang remuk. sendiri. tak kau peduli siapa yang akan menemaniku. aku tak tahu adakah yang sedang menunggumu…

dulu aku memujamu. kini aku ingin memakimu. tapi sungguh lidahku ini terlalu kelu, bibirku ini terlalu kaku, untuk dapat bersama mengucapkan kata. karena aku tak tahu harus berkata apa.

aku memandang langit. benda langit apa lagi yang kuharapkan mengisi hari? masihkah ada yang bisa menjadi teman bumi, yang sendiri?

aku menutup pintu. tidak, tak kubutuhkan siapapun saat ini. biarkan aku sendiri.

17 thoughts on “kau bukanlah matahari seperti yang kuharapkan

  1. @maskopdang: biar kata jalangkung, kalo ditemeni ya namanya bukan sendiri to…
    @iway: ngga… ngga.. pokoknya nggga. udah tutup
    @hanggadamai: tu dia yang sedang dicari
    @achoey: tertutup sudah pintu… pintu hatiku…
    halah, jangan nyebutin penyanyi atau lagu, gak tahan ni pasti langsung nyanyi😀
    @septy: tunggu aja sampai lumutan, aku keluar masuk lewat pintu belakang😛

  2. Hehehehe… Puisinya sepertinya menyiratkan patah hati…

    Am I right?… well, onething for sure, patah tumbuh, hilang berganti… Jadi yang sudah menghilang biarlah dia pergi.. tutup pintu, dan sambuat kedatangan “mentari” baru keesokan harinya…

    Setiap kali matahari tenggelam… dia tidak pernah lupa untuk terbit kembali diufuk timur..

    Halahhhh…🙂

    (mbak sich ngajakin puisi2-an jadinya responnya gini dech, hehehe…)

    salam,
    Silly

  3. @raara: sama2…
    @husmul: gitu deh! suasana hati? serem!
    @meyla: enjoy aja…
    @h4rs: kalo masih di bumi, ya akhirnya ketemu juga setelah masing2 berjalan separuh keliling bumi
    @manon: Latree, kau bukan matahari seperti yang kuharapkan😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s