asmaradana*)

Damarwulan tersungkur, ditinggalkan oleh Menak Jingga yang tertawa terbahak-bahak, merasa telah mengalahkan musuhnya. Tubuhnya remuk, oleh Gada Wesi Kuning yang berulang-ulang dihantamkan oleh Menak Jingga.

Dalam setengah sadarnya, terlintas lagi bayangan dirinya yang sedang mengarit rumput untuk kuda-kuda pamannya, Patih Loh Gender, dan sepupu-sepupunya Layang Seta dan Layang Kumitir. Anjasmara, putri bungsu Patih Loh Gender menghampirinya dalam langkah yang anggun menerabas rumput setinggi lutut.

“Sebaiknya Tuan Putri masuk saja, jika Paduka Patih tahu, beliau akan murka”, kata Damarwulan saat itu.

Tapi sang Puti tersenyum dan berkata, “Rama tidak akan tahu, kecuali jika kalian melapor”

Dan dari situlah semuanya bermula.

Damarwulan sudah diwanti-wanti oleh ayahnya, untuk tidak perah mengungkapkan jati dirinya kepada siapa pun. Dia hanya diperintahkan untuk mengabdi kepada kerajaan, dalam bentuk apapun yang diperintahkan oleh Patih Loh Gender. Tak ada yang tahu bahwa Patih Loh Gender adalah pamannya, adik dari ayahnya. Tidak juga pamannya sendiri, dan juga sepupu-sepupunya, termasuk Anjasmara.

Bagi mereka Damarwulan tak lebih dari seorang pemuda desa yang ingin mengabdi kepada kerajaan, dan rela menjadi pekathik, mengurus kuda-kuda di Kepatihan. Tapi Anjasmara tak pernah peduli. Hampir setiap hari dia datang menemui Damarwulan, dan membiarkan benih cinta tumbuh di antara mereka, tanpa diketahui oleh siapa-siapa.

Panggilan ‘Tuan Putri’ pun hilang, berganti dengan ‘Dinda’, dan yang dipanggil demikian akan membalas dengan manja, ‘Kakang..’

Damarwulan merasakan sentuhan lembut kekasih hatinya mengusap bahunya yang luka. Dan terdengar suara lembutnya berkata, “Bertahanlah Kakang… jangan menyerah… demi aku…”

Laki-laki luka terpuruk, mengerang merasakan kehebatan sakit yang nyata karena siksa Menak Jingga, dan perih karena dia tak akan bisa kembali bertemu dengan pujaan hatinya.

Tiba-tiba bayangan Anjasmara menghilang, berganti gelap tak terdefinisikan.

“Dinda… Dinda Anjasmara.. datanglah cintaku, walau hanya bayanganmu…”

Damarwulan merasa tak sanggup lagi bertahan. Dia akan mati, dia akan mati meninggalkan dunia, meninggalkan ayahnya yang sedang bertapa, meninggalkan Anjasmara…. Dalam lemah yang bertambah parah, terlantun dari bibirnya tembang Asmaradana, berpamit kepada kekasihnya…

anjasmara arimami
mas mirah kulaka warta
dasihmu tan wurung layon
aning kutha prabalingga
perang tanding lan urubisma
karia mukti wong ayu
pun kakang pamit palastra

Anjasmara kekasihku
permata hati, carilah berita
kekasihmu tak urung mati juga
di Kota Prabalingga
perang tanding melawan Urubisma
hiduplah mulia wanita ayu
Kakang pamit meninggalkan dunia

Dan gelaplah semua di matanya….

*)ini adalah tembang Jawa favoritku, yang diajarkan Bapak waktu aku masih SD, dan dikasih bonus dongeng kisah latar belakangnya… Barusan aku menelpon Bapak, memastikan bahwa tembangnya kunyanyikan dengan benar. Ternyata aku masih mengingatnya dengan benar. Bapak berjanji untuk mendongengi aku lagi kisah ini, besok kalau aku pulang lagi…. Ih, ga sabar pengen pulang…

Advertisements

13 thoughts on “asmaradana*)

  1. yang paling mengharukan itu justru saat damarwulan pamit untuk pergi berperang, di mana mereka berdua tahu itu perang yang tak akan pernah dimenangkan. coba simak baris terakhir dari sebuah puisi bagus yang mengisahkan ulang soal damarwulan dan anjasmara:

    “Anjasmara, adikku, tinggallah seperti dulu/ bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu/ lewat remang dan kunang-kunang/ ku lupakan wajahmu/ kau lupakan wajahku.”

    *coba googling: asmaradana + goenawan mohamad*

  2. terjemahannya kurang satu baris “aning kutha prabalingga” -> “di kota probolinggo” ?

    berarti blambangan itu luas ya, dari banyuwangi sampe probolinggo 😀

  3. @septy: coba ceritanya dibikin film oleh sutradara holywood, bisa jadi…
    @zen: thanks. udah coba tak gugel, belum berhasil
    @kesambet: berasa…
    @iway: iya, kurang sebaris. thanks. ya, menurut cerita Bapak memang begitu. btw, kamu manggung di mana?

  4. kemaren waktu ada acara ulang tahun kantor, ada wayangan semalem suntuk, kita dapet spot 2 lagu sebelum acara dimulai 😀

  5. @ubadbmarko:
    weh… berarti tembang jawa mirip dong sama sunda punya. yang ini milik jawa. ada 11 macam:
    asmarandana,
    megatruh,
    pocung,
    kinanthi,
    dhandhanggula,
    durma,
    mijil,
    pangkur,
    sinom,
    gambuh,

    wah… kurang satu apa ya.. ada yang bisa bantu?

    @iway: nembang lagi way, rekam pake henpun, trus diaplot di blog 😀

  6. @latree
    lagu macapatnya kurang maskumambang

    kalo asmaradana yang paling populer sih kayaknya ini:

    Gegaraning wong akrami
    Dudu bandha dudu rupa
    Amung ati pawitané
    Luput pisan kena pisan
    Yen gampang luwih gampang
    Yen angèl, angèl kalangkung
    Tan kena tinumbas arta

    di setiap pernikahan jawa selalu dinyanyikan karena kandungan maknanya yang begitu dalam.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s