Mesin mobil mati.

Kau memandangku, aku memandangmu.
‘Sudah?’ tanyaku
‘Sudah’
‘Belum’
Kau menghela nafas. Lalu seperti biasa membuang muka ke arah jalan, menyandarkan badan. Menarik-narik bibir dengan tangan kananmu, sementara tangan yang lain menggenggam persneling seolah tak kau biarkan dia bergerak sendiri.
Aku bosan melihatmu begitu, dan aku menaikkan kedua kakiku, memeluk dengkulku. Tapi ah, tidak nyaman banget, jadi kuturunkan lagi dan aku ikut-ikutan membuang pandangan ke arah lain.
Diam.
Ok, kau mendekatkan wajah dan mengecup pipi kananku. lalu apa, kau berharap aku pergi setelah itu?
‘Aku belum mau turun’.
Aku masih ingin lebih lama bersamamu. Kenapa waktu seperti berlari kalau kita sedang bersama?
Kau mendekatkan wajah lagi dan mengecup keningku, ‘Turunlah. Masih ada waktu lagi’
Aku menarik diri dan bersandar lagi. Tapi kali ini kau menghadap ke arahku, menatap penuh permohonan supaya aku meninggalkanmu.
Baiklah, tak enak juga bersamamu dalam suasana beku.
Aku melihat ke arah luar. Di warung itu dua orang sedang minum es teh dan sepertinya sedang menunggu pesanannya datang. Tepat di seberang jalan seseorang sedang berdiri menatap tepat ke arah mobil. Dan kulirik ke spion tampak pengemudi mobil di belakang juga sedang menatap ke depan, ke arah mobil kita.
Ah… bagaimana ini? Tidak bisa. Aku benar-benar harus pergi. Tapi… ah mbuh lah. Mungkin belum waktunya.
Aku ulurkan tangan dan kau sambut lantas kau kecup. Kutarik kau mendekat dan menyerahkan pipimu. Tak tepat, sayang. Kupingmu yang berada di depanku. Lembut kupegang dagumu untuk mendapatkan pipi. Tapi… ah, tanggung amat. Sedikit tambahan sudut putar dan bibirmulah beradu dengan milikku.
Diam, jangan mundur, karena kini erat kupegang dagumu. Bukan kecupan, entah apa merasukiku, aku mencium dalam. Sekilas. Ingin kuperpanjang tapi akhirnya kulepaskan. Membiarkan kita berdua kebingungan. Tak sanggup berkata.

Kau memandangku, aku memandangmu.
Sudah, kali ini benar-benar sudah, walau tak akan kukatakan.
Dan kubuka pintu lalu turun. Tanpa berkata-kata meninggalkanmu yang juga terdiam tak bicara. Aku berjalan cepet secepat degup jantungku yang memburu. Bertanya-tanya apa yang kau pikirkan dan rasakan.
Ah, mbuh lah….

10 thoughts on “Mesin mobil mati.

  1. Opening derpennya dah menarik. Bikin penasaran pembaca untuk menuntaskan pembacaannya! Namun sayang, terlalu terburu-buru dalam menuliskannya. Hingga endingnya jadi nggak enak banget!

  2. @easy: maap😀
    @ulan: pasti deh tuduhan ini lagi😛
    @qizink: iya nih mas, baru terasa waktu baca lagi. udah kadung dipublish. habisnya, terbawa suasana mereka yang kehabisan waktu itu sih (ngeles!)
    @herry: masa sih? baru gitu aja. tunggu aja yang lebig dagdigdugder!!

  3. @warmorning: jelas bukan. niup yang laen😀
    @iwan: mungkin, yang jelas bukan padaku.
    @yella: emakku, ’68😀
    @achoey: ayo buruan dicari bidadari berjilbab putihnya!

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s