“Bowo!” (2)

Terkait:
Bowo #1
Bowo #3
Bowo #4
Bowo #5
Bowo #6

*harap dibaca sambil menyanyikan ‘hardest thing’-nya 98degrees :D*

Kami sedang bermain cross dot di pergantian jam mata kuliah. Aku membalikkan kursi ke belakang sehingga berhadapan dengannya. Kami sudah bosan dengan deret 4 dan sekarang mencoba deret 5. Ranti menang terus. Dan itu membuatnya tersenyum terus. Dan itu membuat aku ingin tersenyum bersamanya. Melihat senyumnya yang tak dibuat-buat, tak dimanis-maniskan, tak dicantik-cantikkan.

Dia memang tidak cantik. Tidak jelek juga. Manis mungkin, dengan segala kepolosannya. Ketika gadis lain memoles wajahnya dengan berbagai warna, dia biarkan coklat gelap yang seolah menjadi kebanggaannya terpapar kepada siapa saja.

“Hey, ngelamun! Ayo giliranmu”

“Aku ga ngelamun. Mikir ini. Kalah terus, lama-lama aku jadi bosen”

Kuletakkan pensilku di samping kertas strimin di hadapan kami.

“Udah nih?”

“Iya, aku ngaku kalah”

“Jadi aku dapet es krim?”

“Ya”

“Conello?”

“Apa aja?”

Dia tersenyum lebar, bahagia.

Kemaren Desi melihat aku dan Rizal sedang makan es krim di kantin. Dan dengan gaya manjanya berkata.”Ih… es krim… mau dong…”

Aku bilang padanya, “Beli aja sendiri, tu di depan”.

Untuk Ranti, sebenarnya tanpa minta pun aku ingin belikan. Tapi dia bukan model yang mau diberi hadiah. Aku tahu. Jadi aku tantang dia main cross dot, dengan taruhan es krim. Dan aku sengaja mengalah, karena aku ingin pulang kuliah nanti aku bisa membelikannya es krim, dan makan bersamanya sambil berjalan ke halte tempat dia akan menunggu bis yang akan membawanya kembali ke kos-nya.

Pernah suatu hari aku menawari untuk mengantarnya pulang.

“Aneh kali Wo, kosmu cuma beberapa blok dari sini, tapi musti nganter aku dulu ke sana”

“Kalau pas kita kuliah di Kampus C, boleh?”

Dia cuma tertawa.

***

Siapa bilang laki-laki itu kuat? Dalam banyak hal laki-laki lemah. Atau barangkali aku saja yang seperti ini. Aku membiarkan kepengecutanku menghalangiku membiarkan perasaanku pada Ranti tumbuh lebih jauh lagi. Aku sudah cukup melihat Kak Reny menangis karena akhirnya harus menyerah pada Papi dan Mami soal Mas Surono. Aku tidak ingin Ranti mengalaminya. Aku tidak yakin Mami mau punya besan pensiunan guru SD di daerah pelosok.

Aku bisa saja nekat dan berjuang demi cinta, seperti Romeo dan Juliet. Ah, dongeng banget. Tapi kupikir, kalau belum terlanjur terjadi, biarlah tak usah terjadi. Tak perlu mengambil resiko seseorang harus tersakiti.

Jadi sore itu… Di bangku beton di bawah pohon di depan perpustakaan, untuk ke sekian kalinya aku duduk di samping Ranti. Dia yang biasanya ramai kali ini sepi. Sibuk sendiri dengan kalkulator dan tugas MT-1 nya yang tak kunjung nol.

“Apa yang salah ya?”, keluhnya.

“Udah, tulis aja Mx=0”

Dia menghela nafas, “Kalau aku cek tiga kali lagi masih belum nol, aku akan pertimbangkan saranmu”

“Atau kamu ganti kertas aja, dan ulang dari awal”

Ranti memandangku, tersenyum. Lalu meremas hasil kerjanya dan melempar ke tempat sampah.

Aku terbelalak melihat yang baru saja diperbuatnya.

“Kau benar”, katanya, “kadang lebih baik begitu. Meneliti dan mencari di mana kesalahannya supaya bisa diperbaiki, malah lebih susah”

Aku seperti menemukan momen untuk mengatakan yang aku pikirkan.

“Itu benar sekali, Ran. Karenanya aku tidak ingin membiarkan sesuatu berjalan ke arah yang tidak diinginkan, lalu kita menyadarinya setelah jauh di tengah perjalanan. Terlambat untuk balik, tapi berhenti jadi menyakitkan”

“Maksud kamu apa, Wo?”

Teriris rasanya melihat ketakmengertian di matanya. Kepolosan tanpa basa-basi yang selama ini selalu ada di sana. Yang meluluhkan tapi aku tahu aku akan hancur karena harus meninggalkannya…

“Aku tidak mau berpura-pura tidak tahu apa yang kita rasakan. Aku tahu kamu tidak menuntut janji atau kata-kata. Aku tahu kamu nyaman dengan perasaan yang cukup kita saling tahu tanpa harus diutarakan”

Kulihat matanya menanti. Mungkin dia berpikir akhirnya aku akan menyatakan cinta padanya. Oh Tuhan, ini menambah perihku melukainya.

“Kamu mau ngomong apa Wo?”

Aku menelan ludah. Dan melihat binar matanya meredup demi melihat ekspresiku yang bukan menunjukkan kebahagiaan atau harapan.

“Aku minta maaf. Tapi kurasa… aku… belum siap dekat dengan perempuan”.

It’s the hardest thing I’ll ever have to do
To look you in the eye and tell you i don’t love you
It’s the hardest thing I’ll ever have to lie
To show no emotion when you start to cry
I can’t let you see, what you mean to me
When my hands are tied, wad my hearts not free
We’re not meant to be

It’s the hardest thing I’ll ever have to do
To turn around and walk away
Pretending i don’t love you

*mau tamat atau bersambung lagi?*

4 thoughts on ““Bowo!” (2)

  1. Salam
    Bersambung dong say tak perlu happy ending tapi bikin sesuatu yang mengejutkkan, ntar aku baca habis balik kampung ya..Oh ya waktu kuliah gw lebih suka magnum tuh daripada conello..
    Cu ya..salam buat your fams..mohin maaf lahir bathin..😉

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s