Rumit (2)

sambungan dari ini

Keesokan harinya, aku melihat berkas yang diangkut Mbak Eva belum berubah posisi. Masih bersih juga belum ada tanda-tanda dipegang atau dibuka-buka. Aku sudah selesai dengan berkas terakhir yang kupegang kemarin sore.

Mbak Eva duduk di depan komputernya, tapi hanya sedang mengobrol dengan Mbak Desi di sebelahnya. Pak Irwan duduk di mejanya, bersebarangan dengan meja Mbak Eva dan Mbak Desi.

“Mbak, mana lagi yang harus kukerjakan? Ini yang aku pegang kemarin sudah selesai”

Mbak Eva menjawab tanpa memandang ke arahku.

“Sudah, tidak usah. Biar aku saja yang kerjakan”

Geledek menyambarku.

“Maksud Mbak apa? Aku kira Mbak cuma mau membantu mengerjakan sebagian, supaya nanti kita tinggal menggabungkan”

“Tidak usah, kelamaan. Nanti malah susah menggabungkannya”

“Sama sekali tidak, Mbak. Pekerjaan ini jelas lebih cepat dikerjakan oleh dua orang daripada sendirian. Kalau masing-masing kita bisa satu berkas satu jam, dengan dikerjakan dua orang satu jam bisa dua berkas”

Andre yang duduk agak jauh di sebelah Mbak Desi menyahut,”Menggabungkan dua file yang formatnya persis sama itu gampang, Va”

Mbak Eva memutar kursinya, menghadap aku, lalu bicara kepadaku dengan nada keras, dan aku yakin bisa terdengar oleh seisi ruangan, termasuk Pak Irwan.

“Tidak usah. Lihat, kamu tidak selesai-selesai mengerjakannya. Aku tidak tahu selama ini kamu ngapain aja. Tinggal saja semua berkasnya di sini. Aku sudah copy filenya darimu. Kamu kerjakan yang lain saja”

Pak Irwan rupanya membaca keributan yang terjadi dan mendekat, “Ada apa ini?”

Aku mencoba menjelaskan duduk perkaranya, bahwa pekerjaan yang ditugaskan Pak Irwan kepadaku diambil alih oleh Mbak Eva

“Jadi Mbak Eva sudah mengerjakan sebagian lagi?”, tanya Pak Irwan.

“Dia baru mencopy filenya dari saya dan membawa berkasnya kemari. Saya memberi warna merah untuk bagian yang belum dikerjakan dan menghitamkan yang sudah. File yang dicopy Mbak Eva masih persis sama seperti kemarin saat dia mencopynya. Yang di saya sudah bertambah banyak warna hitamnya”

Tidak akan kubiarkan Mbak Eva menambahkan lagi bicara kerasnya. Kulihat dia agak tergagap mendengarku. Sebelum dia berkata-kata lagi, Pak Irwan menarik tanganku ke mejanya.

“Kamu bantu-bantu Pak Romi mengerjakan laporan kabupaten saja”

“Baik, Pak”

***

Prinsipnya sama. Hanya ini laporan dari kabupaten, dengan data yang lebih banyak. Sialnya, laporan sebelumnya bukan Yessy yang mengerjakan. Rumus hitungannya kuperhatikan tidak sesuai dengan yang dijelaskan Yessy, Jadi aku membangunnya dari awal lagi.

“Aku tidak tahu siapa yang mengerjakannya dulu. Kelihatannya di sini cuma langsung diketik angka sesuai laporan mereka. Padahal cara hitung mereka banyak yang masih keliru”, jelas Pak Romi.

Untungnya aku tidak mengerjakannya sendirian, tapi dibagi dua dengan Pak Romi. Harusnya data laporan instansi bisa dibagi dua seperti ini kalau mau cepat dan ringan. Ah, sudahlah. Aku tidak peduli lagi dengan Mbak Eva. Diam-diam aku bersumpah dalam hati, kalau dia ada kesulitan dengan olah datanya, jangan harap aku mau bantu…

***

Siang ini aku makan siang bareng Yessy. Aku tidak tahan untuk tidak menceritakan insiden yang terjadi.

“Dasar orang itu. Kamu hati-hati kalau sama dia, Mbak”

“Setelah kejadian kemarin, tidak usah kau ingatkan pun aku pasti hati-hati”

“Apa dia bisa mengerjakan laporan itu?”

“Memang kenapa? Toh rumusnya sudah kamu buatkan, dia tinggal masukkan datanya saja”

“Apa kemarin-kemarin kamu juga asal masukin tanpa ngecek lagi?”

“Ya… aku cek sih..”

“Dia belum pernah megang laporan begituan. Aku bahkan ragu dia mengerti prinsip perhitungannya”

“Tapi mungkin dia berani ambil alih karena dia tahu dia tinggal masukkan angka saja”

Yessy mengangkat bahu, “Mungkin. Yang bagianmu sendiri bagaimana? Kamu harus bangun sistem hitungnya lagi dari awal dong”

“Enggak dari awal banget. Aku cuma modif yang sudah kamu buat”

“Cerdas”

“Kamu pikir aku bodoh?”

Kami tertawa, dan pembicaraan beralih ke rencana pernikahan Yessy.

***

Tinggal dua lagi. Pak Romi juga katanya tinggal menyelesaikan satu berkas lagi. Kalau hari ini selesai menginput, mungkin Pak Romi butuh satu dua hari untuk menyelaraskan pekerjaan kami.

Mbak Eva? Entah. Aku perhatikan sejak hari itu memang dia tidak beranjak dari depan komputer. Begitu serius mengerjakan berkas-berkas yang dibajaknya dariku. Sepertinya dia tidak ada kesulitan.

Ups, ternyata aku salah.

Mbak Eva mendatangiku membawa secarik kertas.

“Dik Catur, aku mau tanya sesuatu”

“Apa, Mbak?”

Dia meletakkan kertas yang dibawanya di hadapanku. Di situ dia menggambar kolom-kolom seperti di format laporan yang sedang kami kerjakan.

“Bagaimana sih bikin rumus perhitungan untuk kolom ini?”

Aku meraih kertasnya, berpura-pura mencermati coretannya. Tapi sebenarnya aku sedang bertanya-tanya. Masalah apa yang sedang dihadapi mbakku ini dalam menginput data. Wajahnya tampak terlipat-lipat, dahinya berkerut.

“Ini begini, Mbak”

Aku mengulang lagi penjelasan dari Yessy.

“Kalau prinsipnya aku tahu. Tapi aku bingung bagaimana memasang tanda-tandanya di kotaknya”

“Lho, kan sudah dibikin Yessy, Mbak. Mbak Eva tinggal masukkan angka saja di kotak yang ini, yang ini, yang ini, dan yang ini”, kataku sambil menunjuk kotak-kotak input.

“Iya, harusnya. Tapi tadi aku masukkan angka di sini”

Di kotak formulanya.

“Angka dari mana itu?”

“Angka dari laporan instansi”

Aku terdiam sejenak. Bencana. Rumus yang panjang bukan main seperti ular naga itu ditimpa ketikan angka.

“Mbak sudah cek, apakah hitungan dari instansi itu sudah benar?”

“Aku ngga tahu”

Sebenarnya, kalau rumus itu tidak ditimpa, justru sekalian bisa untuk mengecek betul atau tidaknya hitungan pada laporan instansi. Tapi kalau rumusnya hilang…

“Angka di sheet satu dan sheet dua jadi tidak sama. Aku runut satu persatu selama dua hari ini, tapi ngga ketemu di mana errornya”, katanya lagi.

Sudah pasti. Kalau aku juga mending mengerjakan dari awal lagi, daripada harus meneliti. Bisa mabuk.

Aku teringat lagi janjiku pada diri sendiri untuk tidak peduli kalau Mbak Eva mengalami kesulitan mengerjakan laporan ini. Tapi waktu itu aku tidak membayangkan itu benar-benar akan terjadi. Setelah konflik yang cukup memanaskan hati dan suasana itu, tadinya, aku yakin kalau pun mengalami kesulitan, Mbak Eva tidak akan bertanya padaku. Mungkin kepada Andre, atau Pak Romi.

Tapi lihatlah, dia dengan wajah memelasnya datang kepadaku membawa coret-coretan ini. Kalau dia masih menyisakan sedikit saja rasa angkuhnya, barangkali, jika dia mau bertanya pun paling tidak aku yang akan dipanggil mendekat ke komputernya untuk menjelaskan. Ini, malah dia yang ‘menghadap’ kepadaku.

Pasti butuh jiwa super besar untuk sanggup melakukannya. Aku sendiri belum tentu bisa. Kalau sudah begini, masa aku bisa menepati janjiku? Itu hanya akan membuatku lebih buruk dari persangkaanku tentang Mbak Eva. Malu.

Akhirnya aku berdiri, “Kita langsung praktek saja di komputer Mbak Eva. Kalau pakai coret-coretan begini agak susah membayangkannya”

Mbak Eva mengangguk dan mengikutiku berjalan ke arah mejanya.

Lihat Mbak, aku ini harmless. Sama sekali bukan ancaman. Jadi baik-baiklah denganku. Kita berteman dan bekerja sama, lebih enak daripada bersengketa…

Semarang, 25 Oktober 2006

Advertisements

6 thoughts on “Rumit (2)

  1. “Kita berteman dan bekerja sama, lebih enak daripada bersengketa” >> setuju sekali… semoga banyak ‘Mbak Eva’2 di luar sana yang membaca cerita ini La..

  2. @Fa: mudah-mudahan 😀
    @septy: halah, sukanya yang hepi en
    @adinata: ya monggo
    @easy: suka yang sad end ya… iya ih, aku lagi kesambet jadinya bikin yang hepi end 😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s