Hening di sepanjang perjalanan….

Kugenggam tanganmu tak ingin kulepaskan. Karena hari telah berlalu begitu cepatnya, dan melewatinya bersamamu membuatnya tak terasa….

Berbulan berharap akan sebuah pertemuan, bersabar dalam penantian. Telah kudapati waktu akhirnya aku bersamamu. Walau hanya sesaat duduk di sampingmu, berbicara tentang hal tak tentu. Menghirup teh yang tak terkecap rasanya oleh lidahku, karena aku lebih menikmati wajahmu..

Menumpahkan rindu yang lama tertahan. Melimpahkan rasa yang tak pernah terungkapkan. Hanya mengalir bersama setiap perkataan, dihayati bersama setiap tatapan, diresapi tanpa sedetik terlewatkan. Oh waktu, masihkah kau berpihak padaku?

“Kenapa waktu begitu cepat berlalu?”, tanyamu.

Karena kita telah begitu lama menunggu. Dan seolah yang kita miliki ini tak akan pernah cukup untuk membayar penantian itu. Karena kita tak tahu bagaimana melewati waktu, hingga dapat tercurahkan semua dendam selama aku jauh darimu…

Taksi telah berhenti di depan terminal 1A. Kau tuntun aku turun dan berjalan di selasarnya.

“Masih ada tiga puluh menit sebelum kau harus check in”, katamu.

Dan aku, seperti juga kau, tak akan membiarkan waktu itu hilang tak berguna. Aku masih ingin bersamamu. Aku belum ingin meninggalkanmu. Aku…. tak pernah ingin meninggalkanmu. Jadi kubiarkan kepalaku rebah di dadamu. Terdiam tanpa kata. Karena kata tak akan bisa mewakili perasaan kita. Kebahagiaan yang telah tereguk beberapa saat lalu. Ketakrelaan hati membiarkannya usai. Kegundahan hati terbayang berbulan penantian lagi…

“Kau harus pergi”, katamu.

Dan aku hanya bisa menatap matamu. Yang menghujam jauh ke dalam lubuk hatiku. Melebihi keindahan semua kata yang ada di dunia. Mengatakan betapa dalam perasaan yang kau punya. Dan tak pernah kau minta aku berkata kau pun telah mengetahuinya, bahwa aku merasakan yang sama.

Kau raih kepalaku, dan kau kecup lembut keningku.

“Terbanglah, sayang. Kau akan bawa sebagian diriku bersamamu”, katamu.

Dan sebagian diriku kutinggalkan bersamamu.

Berlari aku meninggalkanmu, atau aku akan terpaku tak pernah sanggup meninggalkanmu. Melambai kepadamu yang tak henti menatapku hingga pandangan tak lagi sanggup beradu.

Telah kau penuhi hatiku hari ini, akan kusimpan setiap detik kenangan kebersamaan. Menjadi pegangan jika nanti kembali aku dihempas kerinduan. Karena entah kapan, kita bisa lepaskan rindu dendam…

*Bandara Soekarno Hatta, 2 Nopember 2008*

Advertisements

14 thoughts on “Hening di sepanjang perjalanan….

  1. Perpisahan emang terkadang pahit dan getir, tapi tersenyumlah akan mengingat suatu saat nanti akan ada pertemuan lagi:) bandara soekarno hatta memang memberikan begitu banyak rasa sedih and kegembiraan bagi manusia-manusia yang beraktifitas di dalam nya ya….hmmm….love it and hate it…

  2. Pingback: mari berbincang tentang apa saja…

  3. kalau kata papa, rindu itu membuat perasaan kita semakin menyatu..
    membuat kita merasakan semakin kita membutuhkan arti kehadiran seseorang

  4. @roni: harapan akan pertemuan agak menghibur..
    @achoey: mmm…
    @warmorning, uni, easy: tull!!
    @novnov: lha wis, gimana lagi?
    @abdee: beneran?
    @yogi: sudah
    @nina: kalo ga ada rindu jadi hambar kan?
    @septy: kalo aku tetep minta diantar
    @achoey lagi: al fatihah.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s