Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (2)

rangkaian cerita:
episode 1
episode 3
episode 4

Kuingat lagi enam bulan yang lalu, tepat di hari ulang tahun Ayah, kedua orang tuaku membawaku ke rumah sakit di seberang jalan itu. Kata Ibu, pagi itu gerimis dan beku. Aku tidak tahu, aku sedang tidak sadarkan diri.

Masa-masa itu aku menderita insomnia. Berminggu-minggu aku tidak bisa tidur tertekan masalah yang membebaniku. Pergi ke dokter hanya memberi solusi yang harusnya bisa kutemukan sendiri: obat tidur. Memang akhirnya aku bisa tidur, tapi hati dan jiwaku tetap tidak tenang.

Malam sebelum pagi aku di bawa ke rumah sakit itu, aku merasa bosan dengan obat tidurku. Pukul sembilan aku sudah masuk kamar, dan Ibu mengira aku langsung pergi tidur. Tidak, aku belum minum obat tidurku. Aku mencoba memejam mata tanpa bantuannya. Tapi hingga lewat tengah malam aku tidak berhasil.

Frustasiku menjadi, aku menelan setengah botol sisa obat tidurku.  Aku berharap aku bisa tidur selamanya, tak perlu bangun lagi. Sehingga aku tidak perlu minum obat tidur setiap hari.

Tapi entah bagaimana, rupanya aku lupa mengunci pintu kamarku. Pagi sekitar jam enam Ibuku masuk ke kamar, karena curiga kenapa aku yang biasanya sudah bangun sebelum subuh, belum terdengar bangun melakukan sesuatu. Dan dia menemukanku tertidur pulas tidak bisa dibangunkan, masih memeluk botol obat tidurku yang kosong. Dan ya, ibu berteriak-teriak memanggil Ayah dengan panik luar biasa– begitu cerita Ayah.

Jadi dokter ‘menghidupkan’ aku lagi. Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit, aku pulang dalam keadaan frustasi yang lebih berat.

Ibu mengajakku mengisi hari dengan berbagai aktivitas yang menurutnya bisa menghiburku. Berjalan-jalan ke banyak tempat yang tenang dan indah. Bermain tennis. Berkebun. Ke salon. Ke mall. Les musik. Mengaji. Aku ikut saja, karena bagiku ikut atau tidak sama sekali tidak ada bedanya: hidupku tetap kosong.

***

Sekitar dua bulan setelah itu, tepat di hari ulang tahun Ibu, lagi-lagi aku dibawa ke rumah sakit itu. Kali ini Ibu bersama Pak Tarmo, supir kami, karena Ayah sedang dinas ke luar kota. Dan paniknya, katanya, melebihi waktu sebelumnya.

Kupandangi lagi pergelangan tangan kiriku. Masih ada bekas sayatan itu. Luka yang kubikin dengan menorehkan pisau silet kepunyaan Pak Tarmo. Aku hampir berhasil menghabisi nyawaku, kalau saja Pak Tarmo tidak tiba-tiba sadar pisau cukur antiknya itu terbuka dan siletnya tidak ada. Entah dari mana dia mendapat petunjuk, akulah yang pertama kali terlintas di benaknya. Dia segera berlari dan mendobrak kamarku tanpa mengecek apakah pintunya dikunci atau tidak.

Katanya, darahku mengalir berceceran di kasur dan lantai. Juga di mobil di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Tapi aku tidak tahu itu benar atau tidak. Ketika aku kembali dari rumah sakit, kamarku bersih. Kasur dan spreiku baru. Lapisan jok mobil juga diganti baru.Tapi tidak jiwaku, aku masih terbelenggu.

*bersambung*

Advertisements

3 thoughts on “Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (2)

  1. Salam
    halow Mba…iam back..duh asyik, pas kesini pas ada cerita keren..ditunggu lanjutanya..
    Duh Mbak ini jago ya bikin penasaran…
    *jangan pake lama yak…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s