Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (3)

rangkaian cerita:
episode 1
episode 2

episode 4

Hari ini hari ulang tahunku. Berhari-hari aku memikirkan bagaimana caranya aku bisa menyelinap keluar rumah tanpa ketahuan Ayah atau Ibu, atau Pak Tarmo, atau Mbak suti pembantu kami. Sampai tadi malam aku belum menemukan ide. Tapi kurasa kali ini keberuntungan merestui rencanaku, dan memberi jalan yang sama sekali tidak terpikirkan.

Mbak Suti sedang belanja ke tukang sayur yang tiap pagi mangkal di pojok jalan Beruang III. Ayah sedang mandi. Ibu sedang membuat kopi di dapur. Aku berjalan tanpa berjingkat sama sekali ke depan rumah.

Pak Tarmo sedang mencuci mobil di carport. Dia benar-benar menyayangi mobil Ayah seperti menyayangi anaknya sendiri. Mencucinya dengan sepenuh hati dan teliti. Pak Tarmo sedang asik membersihkan lumpur di ban belakang kiri. Aku berjalan perlahan di samping kanan mobil, keluar pagar, lalu membelok ke kiri, dan ke kiri lagi. Lalu lari keluar perumahan, dan mencegat angkot yang membawaku ke tempat ini.

Ya semudah itu. Tidak perlu rencana nrithik seperti orang mau merampok bank atau maju perang.
Kuusap perutku. Terasa lagi pedih yang menghunjamku bertubi-tubi. Terlintas lagi berbagai bayangan yang menghantuiku sepanjang waktu, sejak peristiwa itu.

***

Semua berawal dari kepergian Bang Rahman ke Amerika untuk melanjutkan kuliah. Baik aku ataupun Bang Rahman tahu, sebenarnya itu adalah usaha Ayah Bang Rahman untuk memisahkan kami, setelah sebelumnya menyetujui hubungan kami. Permasalahannya adalah sesuatu yang menurut kami tidak masuk akal, dan kekanak-kanakan, bagi orang seusia beliau, yaitu kekalahan beliau dalam membela klien, ketika bertemu dengan Ayah yang juga membela kliennya di persidangan terakhir.

Awalnya kami tidak terlalu bersedih soal kepergian Bang Rahman itu. Toh Ayahnya tidak dengan jelas menyatakan kami harus putus. Jadi kami menganggap kami memang tidak putus, dan tetap berkomunikasi dengan banyak jalan. Email, chat, telepon.

Tapi aku lantas menganggapnya bagian dari musibah, ketika bencana menghampiriku.

Hari itu aku pulang dari kantor agak malam. Aku menyetir sendiri dan semuanya terasa baik-baik saja. Tiba-tiba mesin mobilku mati di tengah jalan yang sepi. Aku sudah membuka kap mesin dan menyenter ke dalamnya tanpa tahu harus berbuat apa. Beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti, dan dua orang laki-laki turun.
“Ada apa, Non?”
“Ngga tahu ni, tiba-tiba saja mati”, aku bahkan tidak khawatir sama sekali ketika mereka mendekat. Kupikir mereka orang baik yang mau membantuku.

Tapi dugaanku keliru, satu dari mereka membekapku lalu membawaku ke dalam mobil mereka. Aku meronta sekuat tenaga tapi tidak berguna. Saat itu baru aku sadar, keduanya sedang mabuk, karena aku mencium bau alkohol yang menguar dari mulut mereka yang terbahak saat menyekapku.

Aku ditampar dan tak sadarkan diri, dan aku baru tahu apa yang mereka lakukan padaku esok hari, ketika aku sudah berada di rumah sakit…

*bersambung*

Advertisements

7 thoughts on “Haruskah Aku Bunuh Diri Berkali-kali? (3)

  1. hidup wajib dijalani
    sukses atau ndak urusan nanti
    suka atau lara adalah perjalanan
    dan tak bisa terhindarkan

    ciamik bro’

  2. @nonreni: sip!!
    @goenoeng, winmit, Fa: panjang je!! jane kalo kalian pilih mana… pendek2 tapi bersambung, atau jadi satu postingan aja sedang totalnya delapan halaman kuarto di MSWord?

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s