Ini adalah Tamparan untuk Kesombongan Arjuna

Membaca tulisan Agung Hima meninggalkan satu pertanyaan di kepalaku, kenapa Durna menolak Adipati Karna menjadi muridnya? Penasaran, aku bertanya kepada Bapak. Dan jawabannya jauh dari yang kuduga.

Bapak memperoleh pengetahuannya tentang cerita Mahabharata dari membaca cerita versi Wayang Purwa, dan mungkin ini yang membuat beda dengan yang ditulis mas Agung. Menurut cerita Bapak, bukan Adipati Karna yang ditolak menjadi murid Durna lalu membuat patung Sang Resi. Tapi Palgunadi, Raja Kerajaan Paranggelung.

Dan akhirnya sekali lagi aku mendapat dongeng asik dari Bapak. Bapak sempat kesulitan mengingat beberapa detail,  tapi akhirnya terlengkapi juga beberapa potongan yang hilang. Begini yang didongengkan Bapak kepadaku….

*****************************

Arjuna memandang pria tegap yang berada di hadapannya. Palgunadi raja Paranggelung, yang telah dengan jumawa menantangnya adu ketrampilan memanah. Matanya tajam tanpa keraguan. Suaranya mantab tanpa ketakutan. Hanya ada kepercayaan diri yang meliputi seluruh penampilannya di hadapan Arjuna.

Tak ada alasan bagi Arjuna untuk menolak tantangannya. Tidak karena merasa takut kalah, atau pula karena merasa dilecehkan. Dia adalah pemanah terbaik di dunia, seperti yang dikatakan gurunya, dan akan dihadapinya tantangan dari siapa saja yang datang kepadanya.

Disaksikan angin, di hadapan langit, di depan pengawasan matahari, keduanya merentang busur dan mencabut anak panah dari sarungnya. Melesatkan mereka ke berbagai benda, dari yang mati hingga yang hidup, dari yang diam hingga yang bergerak, dari yang berjalan hingga yang terbang, dari yang kecil hingga yang besar…

Dan inilah kenyataan yang harus diterima Arjuna, kekalahannya. Ternyata bukan dia yang terbaik, karena Palgunadi melakukannya lebih baik.

“Kau membuatku terkejut, Ki Sanak. Kuterima keunggulanmu. Jika kau tak keberatan, boleh aku tahu dari mana kau dapatkan semua kehebatanmu?”, tanya Arjuna tak kuasa menahan penasarannya.

“Resi Durna”, jawab Palgunadi singkat, yang dilanjutkannya dengan memberi salam dan undur diri, secepat kilat memacu kudanya pergi meninggalkan Arjuna yang patah hati.

***

“Aku tidak mempunyai murid bernama Palgunadi. Kau tahu aku hanya menjadi guru bagi Pandawa dan Kurawa”, itulah jawaban Sang Resi ketika Arjuna menggugat keadilan beliau, “Jadi tidak semestinya kau mengatakan aku telah berlaku tidak adil, dengan memberikan ilmu memanah lebih sempurna kepada orang lain selain dirimu”

“Apakah Guru menganggap aku telah berbohong tentang pria ini?”

“Tidak. Pergilah. Cukup kau tahu bahwa aku sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan”

Arjuna undur dengan masih membawa kegelisahan.

***

Palgunadi bersimpuh di hadapan Resi Durna, tunduk.

“Aku ingat kau telah datang padaku di masa lalu, memohon untuk diijinkan berguru kepadaku”, kata Resi Durna.

“Nuwun inggih, kanjeng Begawan”

“Dan aku sudah mengatakan ‘tidak’ kepadamu, dan kau juga sudah tahu kenapa”

“Sendika dhawuh”

“Bisa kau jelaskan kepadaku tentang pengakuanmu kepada Arjuna?”

“Nuwun gunging pangaksami. Hamba bukan bermaksud berbohong atau merendahkan Kanjeng Begawan. Sekembali hamba dari sini bertahun lalu, tidak diterima permohonan hamba untuk menimba ilmu, hamba pulang dan membuat patung Kanjeng Begawan. Hamba bayangkan patung itu adalah Kanjeng Begawan sendiri, yang membimbing hamba mempelajari segala ilmu memanah. Hamba berlatih tiap hari di hadapan patung tersebut, seolah di hadapan Kanjeng Begawan. Mohon maaf jika yang hamba lakukan itu adalah sebuah kesalahan”

Resi Durna menghela  nafas berat, dan panjang seolah tak akan ada habisnya. Janji setia baktinya kepada Astina dan Amarta, yang tidak mengijinkannya menurunkan ilmu selain kepada Kurawa dan Pandawa. Bahkan meskipun dia tahu banyak ksatria berbakat dan berdaya di luar sana.

Apa yang telah dilakukan Palgunadi adalah hal yang luar biasa. Kemauannya yang keras yang hanya bersandar pada guru imajinasi telah mewujudkan hasil yang melampaui Arjuna dengan kehadiran guru yang nyata. Ada rasa bersalah menggelayuti hati Sang Resi karena kenyataan ini.

“Kau telah melakukan kesalahan dengan mengaku kepada Arjuna bahwa kau adalah muridku”

“Mohon beribu ampun, Kanjeng Begawan”

“Begitu besarkah keinginanmu untuk menjadi muridku?”

“Hamba tidak mampu melukiskannya”

“Aku sudah melihatnya, dan kurasa aku akan meluluskannya kini”

Palgunadi terdongak, tak percaya bahwa setelah sekian lama, akhirnya permohonannya dikabulkan.

“Hanya saja aku ingin melihat satu hal lagi, untuk membuktikan kuatnya keinginanmu”

“Apakah gerangan itu, Kanjeng Guru?”

“Aku ingin kau potong ibu jari tangan kananmu, dan berikan kepadaku”

Permintaan ganjil dari seorang Durna, tapi adalah kehormatan untuk menjadi muridnya. Benar-benar muridnya, bukan hanya murid dari patung dirinya. Tanpa ragu Palgunadi memotong dan menyerahkan ibu jari tangan kanannya…

***

Arjuna mengulurkan tangan kanannya penuh takzim, Durna meletakkan potongan ibu jari Palgunadi di samping ibu jari Arjuna. Menyatukannya. Dan kini berjumlah enam jari tangan kanan Arjuna.

“Jangan bertanya apa-apa”, kata Durna, “tapi kau boleh yakin kali ini, kau akan bisa mengalahkan Palgunadi”

Dan Arjuna diam seribu bahasa. Setelah ini dia akan balik menantang Palgunadi, mengembalikan nama dan harga dirinya yang sempat terluka sebagai pemanah terbaik di dunia.

***

Disaksikan angin, di hadapan langit, di depan pengawasan matahari, keduanya merentang busur dan mencabut anak panah dari sarungnya. Melesatkan mereka ke berbagai benda, dari yang mati hingga yang hidup, dari yang diam hingga yang bergerak, dari yang berjalan hingga yang terbang, dari yang kecil hingga yang besar…

Tapi Palgunadi telah kehilangan ibu jarinya, yang berarti pula telah kehilangan sebagian kemampuan memanahnya, berpindah ke tangan Arjuna. Dan Arjuna telah menetapkan sasaran tambahan untuk adu kali ini, dada masing-masing sebagai sasaran terakhir.

Palgunadi tersungkur, dengan anak panah Arjuna tertancap di dadanya.

***

Anggraini bersimpuh di samping tubuh suaminya. Luka hatinya menghiasi pucat wajah ayunya. Air mata yang mengalir menambah kecantikannya. Isak dan guncangan tubuhnya menambah pesona kelembutannya yang rapuh. Arjuna memandang penuh takjub keindahan yang ada di hadapannya.

“Pergilah, Arjuna. Kau sudah dapatkan yang kau inginkan. Tidak akan ada lagi yang menandingimu”

“Anggraini. Suamimu sendiri sudah setuju dengan persyaratan yang aku ajukan. Ini adalah kesepakatan kami berdua, sama dengan tanding sebelumnya ketika dia mendatangiku. Aku tidak mau kau menyalahkanku”

“Aku tahu. Jadi pergilah sekarang”

“Tidak. Aku minta maaf karena telah membuatmu berduka karena kepergiannya. Ijinkanlah aku menjadikanmu istriku, agar terobati lukamu”

“Kau bajingan berwajah tampan, Arjuna. Apa yang membuatmu berpikir aku akan menyerahkan diriku pada pembunuh suamiku?”

“Aku tidak membunuhnya. Kami bertanding, dan siapa saja bisa terbunuh. Bisa juga aku”

“Bicaralah apa saja. Kau tetap orang yang menyebabkan kematian suamiku”

“Semua yang hidup akan mati. Hanya sebab, waktu dan tempat yang menjadi misteri. Aku menganggap ini jalan takdir, bagimu untuk kumiliki”

Arjuna mendekat dan menyentuh lengan Anggraini. Anggraini mengibaskan lengannya, membiarkan Arjuna terkejut. Belum pernah sebelumnya, seorang wanita bertahan atas pesonanya. Tapi wanita ini menolaknya…

Arjuna hendak mencoba meraih lagi, namun Anggraini telah mencabut patrem*) dari bagian depan bebatan setagennya, dan menusukkannya ke ulu hatinya sendiri. Seketika tubuhnya tersungkur di atas tubuh suaminya, menyerahkan seluruh kesetiaan, hingga ajal.

*)patrem: keris kecil yang biasa digunakan oleh wanita.

Advertisements

9 thoughts on “Ini adalah Tamparan untuk Kesombongan Arjuna

  1. @abdee: makasih linknya mas. sudah aku kunjungi semua. mereka hebat hebat ya… *lingsem*
    @easy: wah, pasti kalau bapak-bapak kita ketemu bakalan cocok nih!
    @h4rs: udah selesai belum?
    @mlandhing: kalo udah ketemu aku pinjem ya budhe…
    @mas wino: katur wangsul. masa sih halus? sebenernya gayaku malah celelekan mas. mungkin karena ini tentang wayang, kebawa karena kebayangnya klemak klemeknya arjuna itu… hehehe…

  2. seperti budhe mlandhing, aku juga jadi kangen komik wayang.
    ck, sekarang adanya manga, wayang jepang.

    eh La, makanya petinggi2 kita juga banyak yg nggasruh, kalo menginginkan sesuatu. lha wong, dapat pelajaran dari pewayangan juga kok. lakon wae (pandawa) isa kaya ngono, hehe…
    belum lagi drupadi yang dibuat royokan, haha…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s