Ini permintaan Bapak (1)

Katanya dia hebat…
“Semua penyakit bisa disembuhkan”, kata Bapak sambil menghela nafas berat lagi.
“Kalo ada yang bilang bisa menyembuhkan segala macam penyakit dengan satu cara, itu tidak masuk akal, Pak”, aku masih mencoba mengajak Bapak berfikir rasional.
“Aku mau mencoba, mungkin ini kesempatan terakhirku. Kita tidak tahu doa siapa yang Allah kabulkan..”
Tubuh Bapak tampak melemah lagi. Lalu perlahan dia merebahkan diri di bale-bale bambu, yang tidak pernah ditinggalkannya selama tiga bulan terakhir ini. Aku membantunya membetulkan letak kepalanya di bantal, lalu menyelimutinya.
“Hh…” Bapak menepiskan tangannya. Selimutnya kubuka lagi. Mungkin bapak sedang merasa gerah.
Kubiarkan Bapak tertidur miring, masih berbantal kedua telapak tangannya lagi. Aku sungguh iba melihatnya, sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apa-apa. Dokter sudah angkat tangan. Kanker paru-paru yang menggerogoti Bapak sudah masuk stadium lanjut. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi.

***
Kubopong Bapak memasuki mobil Carry yang kusewa dari Pak Rodhi. Mamak mengikutiku dari belakang, membawa bekal pakaian dan makanan seadanya. Sebenarnya Pak Rodhi hanya minta ongkos bensin dan upah sopir. Tapi aku tetap memaksa membayar sewanya, yang akhirnya dia luluskan, meskipun dengan diskon besar-besaran: separuh dari harga sewa biasanya.
Kabarnya, memang Tabib yang akan kami datangi ini tidak minta ongkos. Hanya dua ribu rupiah sebagai syarat. Tapi di luar, warga memasang kotak amal yang harus diisi calon pasien, sebagai syarat untuk mengambil nomor antrian. Besarnya memang tidak ditentukan, suka rela seikhlasnya. Rata-rata mengisi sepuluh sampai limapuluh ribu rupiah.
Selain itu, ada ongkos parkir. Dan selama di sana kami juga harus membeli makan. Kami tidak tahu juga harus berada di sana berapa hari. Kabar terakhir yang kubaca di koran, antrinya sudah ratusan, ada yang sudah menginap dua hari. Mungkin kami harus menginap di rumah penduduk sekitar, dan itu pasti juga membutuhkan ongkos sewa.
Jadi kemarin aku memberanikan diri menghadap atasanku, meminjam uang.
“Berapa yang kau butuhkan?”
“Saya juga tidak yakin, pak. Kalau diperbolehkan, saya ingin pinjam dua juta”, jawabku. Lalu kujelaskan padanya tentang biaya-biaya yang mungkin harus kukeluarkan.
“Jika nanti sisa, akan langsung saya kembalikan. Sedang yang terpakai, akan saya kembalikan, saya angsur, Bapak potong saja dari uang gaji saya”, tak lupa kutambahkan.
Pak Firdaus menggeleng.
“Aku percaya kau akan mengangsur berapa pun yang kau pinjam, Pram. Tapi apa sudah kau pikirkan lagi, keputusanmu membawa Bapakmu ke sana?”
Aku mengangguk.
“Perjalanan ke sana tidak dekat, tidak singkat. Sedang fisik Bapakmu sudah begitu lemah. Belum lagi… Ah. Aku heran kamu percaya begituan”, beliau menggeleng lagi.
Aku menghela nafas, “Saya sendiri tidak terlalu percaya, Pak. Kalau ditanya apa saya percaya Bapak bisa disembuhkan oleh Tabib itu, saya akan jawab ‘tidak’. Dan kalau pun sembuh alhamdulillah, itu atas ijin Allah. Tapi dokter sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Berada di rumah sakit dengan berbagai obat dimasukkan ke tubuh Bapak juga tidak akan menyembuhkan. Mungkin memang bisa sedikit memperpanjang usia Bapak, memberikan rasa nyaman. Tapi, saya tidak tahu harus cari ke mana biayanya”
“Jadi kenapa kamu mau juga mengantarkan Bapakmu ke sana?”
“Hanya demi memenuhi keinginan Bapak. Saya… merasa…”, tenggorokanku tercekat sesaat,”usia Bapak tidak lama lagi. Jika ini adalah usaha terakhir yang ingin Bapak saya coba, saya merasa harus meluluskannya. Karena jika dia meninggal tanpa bisa melakukannya, mungkin saya akan dipersalahkan. Kalau toh pengobatan yang akan dijalani Bapak ini tidak berhasil, toh saya sudah memberikan yang Bapak saya inginkan. Lagipula, cara penyembuhannya hanya dengan meminum air yang dibacakan doa. Saya rasa itu bukan syirik. Kalau caranya meragukan dan memungkinkan ada syirik, saya tidak akan penuhi keinginan Bapak saya”
Pak Firdaus tampaknya mengerti alasanku.
Aku tahu, gajiku sebagai OB di kantor ini tidak seberapa. Tapi alhamdulillah karyawan di sini baik, dan hampir semuanya selalu bermurah hati memberiku selembar dua lembar setiap kali aku membantu mereka. Dan untungnya aku belum menikah, sehingga belum ada jiwa yang harus kutanggung hidupnya. Jadi penghasilanku bisa kupakai sepenuhnya untuk Bapak dan Mamak. Jika nanti aku harus mengangsur pinjamanku kepada Pak Firdaus, mungkin aku harus mencari pekerjaan sambilan sepulang kantor, tapi aku siap untuk itu.
Jadi dengan dua juta itulah kami berangkat. Perjalanan Purwodadi Gresik mungkin makan waktu seharian. Apalagi aku sudah wanti-wanti kepada Pak Makmur, yang menyupiri mobil yang kami sewa, untuk pelan-pelan saja, mengingat kondisi Bapak yang teramat lemah. Kejutan karena rem mendadak atau jalan berlubang mungkin membuatnya tidak nyaman. Aku tidak mau.
“Mudah-mudahan kali ini berhasil ya, Pram”, kata Mamak sambil mengelus rambut Bapak yang tidur di pangkuannya di bangku tengah.
Aku yang duduk di sebelah sopir menengok ke belakang, tersenyum kepadanya, dan mengangguk, “Mudah-mudahan, Mak”.
Dan kami pun memulai perjalanan yang bagiku seperti menuju negeri antah berantah ini…

Advertisements

9 thoughts on “Ini permintaan Bapak (1)

  1. memang Indonesia negeri antah berantah, banyak yang dilakukan gak rasional. Tokh kesembuhan bukan manusia yang memberikan. ada-ada aja syetan menyesatkan umat manusia…..

  2. Sesuatu yang memang banyak orang negeri ini alami. Tapi teruslah berusaha sesuai jalan yg dibenarkan oleh agama walau untuk sebuah kesembuhan penyakit

    Salam …

  3. @edy: lanjutannya udah tuh
    @abdee: ponari itu di lamongan apa jpmbang ya?
    @omiyan: aku juga…
    @rice2gold: tapi kalo pakenya air yang dibacain doa, itu boleh dianggap rugyah ngga sih?
    @udinkoxx: sekarang gimana kabarnya?
    @aribicara: terima kasih..

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s