Ini Permintaan Bapak (2)

Kisah sebelumnya

Desa tempat tinggal Tabib itu sebenarnya cukup terpencil. Tapi begitu sampai di kota Gresik, semua orang bisa menunjukkan jalan ke sana. Jadi sebenarnya sama sekali tidak ada hambatan berarti kalau itu menyangkut perjalanan. Kami sempat mampir ke masjid untuk mandi dan sholat, sekaligus makan. Aku membeli nasi bungkus di warung dekat masjid, dan memakannya bersama-sama Bapak, Emak dan Pak Makmur di serambi masjid.
Ketika memasuki jalan terakhir menuju desa itu, mulai tampak kesibukan yang terjadi di sana. Mobil berbagai jenis dan model berjajar. Kami sudah tidak bisa masuk lebih jauh lagi.
“Parkir di sini saja, Mas. Di sana sudah tidak ada tempat lagi”, kata seorang warga yang sepertinya bertugas mengatur parkir.
“Tapi, Bapak saya sudah tidak bisa jalan, Pak. Masih jauh atau sudah dekat?”, tanyaku.
“Sebenarnya tidak jauh. Tapi mungkin Bapak sampeyan perlu ditandu. Sampeyan ke sana saja dulu. Daftar, ambil nomor antrian. Nanti bilang saja sama yang jaga meja tempat sampeyan ngambil nomor antrian, sampeyan perlu tandu. Mungkin sebaiknya Bapak sampeyan diistirahatkan dulu di rumah tetangga Pak Tabib. Antriannya sudah sampai seribu. Ada yang sudah menginap dua malam”
Aku menelan ludah. Tandu dan penginapan. Mudah-mudahan warga tidak mengambil keuntungan dari kesempatan ini dengan mementung orang yang datang ingin berobat.
“Terima kasih, Pak”, kataku.
Pak Makmur meyakinkan aku akan menjaga Mamak dan Bapak selama aku mengambil nomor antrian. Dia akan mencari tempat yang agak teduh supaya Bapak tidak kepanasan di mobil.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih”, hanya itu yang bisa kuucapkan. Lalu aku mulai berjalan ke arah yang ditunjukkan Bapak tukang parkir tadi.
***
Meja tempat mengambil nomor antrian itu ternyata dipasang beberapa rumah jauhnya dari rumah sang tabib. Ada seorang polisi bejaga di samping meja. Aku masukkan dua puluh ribu rupiah ke kotak yang ada di depan penjaga meja.
“Ini Mas, nomor antriannya. Nanti antrinya di sana”, kata si Embak sambil menunjuk ke arah rumah sang Tabib.
Pasien yang telah mengambil nomor antrian tampak berdesak-desakan mulai dari emper depan rumah tabib, sampai sedikit sebelum meja itu. Setelah ini mungkin akan tambah banyak lagi, dan meja ini harus maju beberapa meter lagi.
“Bukan saya yang sakit Mbak, Bapak saya. Apa Bapak saya harus saya bawa berdesakan ke sana?”, tanyaku.
“Ya iya to, Mas. Kalau nomor sampeyan dipanggil, tapi yang mau diobati belum siap, nanti bisa bikin marah antrian selanjutnya”
“Kalau sudah dibagi nomor antrian, kenapa harus berdesak-desakan seperti itu, Mbak? Nanti dipanggil urut nomornya kan?”, tanyaku lagi.
“Iya, Mas. Itu Adiknya pak Tabib sudah beli halo-halo, untuk manggil pasien urut nomornya. Kalo toh mereka masih desak-desakan, ya… mungkin biar lebih siap saja kalau nanti dipanggil”
“Kalau misalnya waktu dipanggil orangnya tidak ada, gimana Mbak?”
“Gugur, mas. Antriannya ilang, dia harus ngambil nomor antrian baru”
Kalau bukan demi Bapak, aku benar-benar tidak akan mau melakukan hal yang menurutku sia-sia ini. Tapi aku hanya berkeyakinan bahwa ini tidak akan sia-sia, jika memang ini yang dapat melegakan Bapak sebelum ajal menjemputnya…
“Eh… saya… butuh tandu, Mbak. Bapak saya sudah tidak bisa jalan. Mobil yang kami tumpangi parkir agak jauh dari sini”
Si Embak memanggil seorang pemuda yang ada di rumah sebelah.
“Mas Tono yang akan menjemput Bapak sampeyan pake tandu”, katanya kemudian.
“Terima kasih, Mbak”
Aku berlalu bersama yang disebut ‘Mas Tono’ dan seorang pemuda lagi.
“Antrian nomor berapa, Mas?”, tanya Mas Tono.
“1662”
”Kalau begitu sebaiknya cari penginapan saja dulu, jangan langsung antri di depan rumah pak Kyai. Ke sana besok saja, mungkin dua hari lagi. Tadi terakhir saya dengar nomor 1239 baru dipanggil”
“Di sini ada penginapan?” tanyaku.
“Bukan penginapan, hanya rumah warga yang boleh disewa selama menunggu giliran berobat. Nanti saya bantu cari”
“Terima kasih”, lagi-lagi hanya itu yang bisa kuucapkan. Dan aku yakin, semua bantuan yang ditawarkan di sini tidak gratis, juga tandu yang akan membawa Bapak ke tempat kami akan menginap…
***
Ini malam kedua kami menginap, kira-kira sepuluh rumah jauhnya dari rumah Pak Kyai. Selama dua malam satu hari kami di sini, aku selalu memantau sampai nomor berapa antriannya. Sepertinya dugaan Mas Tono kemarin benar.
Sebenarnya, aku ingin mengajak Bapak pulang saja, mengurungkan niat berobat. Ini karena kejadian kemarin sore. Seorang pasien meninggal di tengah antrian. Katanya karena kelelahan setelah mengantri dua hari.
“Jangan, Pram. Biar saja kita turuti keinginan Bapakmu. Kita sudah kadung sampai di sini. Nanti Bapakmu kecewa”, kata Mamak, ketika kusampaikan niatku itu padanya.
Jadi aku mengalah. Kini kami berbaring berjajar seperti bandeng yang dijajakan di pasar. Tempat kami menginap ini memang rumah sederhana, sama sederhananya dengan rumah sang Tabib, sama sederhananya dengan rumah kami. Tidak ada kamar atau tempat tidur. Kami tidur di lantai, beralas tikar. Mamak melambarkan sarung dan selembar selimut yang dia bawa di rumah, untuk tempat Bapak tidur supaya lebih hangat. Besok akan jadi hari yang berat…

Advertisements

11 thoughts on “Ini Permintaan Bapak (2)

  1. Ini benar2 kisahmu ??

    Aku ikut prihatin dan mendoakan smoga kesembuhan untuk beliau.

    Tapi kenapa tidak mencoba kerumah sakit ? dan selalu berdoalah bahwa hanya tuhan yang bisa memberikan kesembuhan kepada hamba2nyua yg sakit melalui ikhtiarnya…

    Salam …

  2. @edo: selamat penasaran, I told you I’m pretty unpredictable some times…
    @udinkoxx: thanks, insya Allah besok
    @anny: insya Allah besok sist. blogspotku http://elmanohara.blogspot.com, atau tinggal klik ‘Dandelion’ di side barku. yang itu memang tempat ngobrol ibu-ibu.. 😀
    @aribicara: insya Allah bukan, Bapakku alhamdulillah masih sehat, semoga tetap dilimpahi kesehatan.. *amin untuk doanya*

  3. ho27x,
    anak yang berbakti, istri yang setia.
    Benar2 mutiara di tengah cobaan seorang Bapak.
    Endingnya aku tahu mbak -soktahumode: ON-
    bapaknya kalo ga hidup ya meninggal.
    he27x

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s