Ini Permintaan Bapak (3-habis)

Ini Permintaan Bapak (1)
Ini Permintaan Bapak (2)

Hari sudah siang, adzan dhuhur baru saja selesai dikumandangkan. Matahari mestinya sudah berada tepat di atas kepala. Tapi mendung memayungi kami yang berdesakan di halaman rumah Pak Kyai sang tabib sedari subuh hari. Mamak menyewa tikar dari pemilik rumah tempat kami menginap untuk lambaran Bapak ikut mengantri. Bapak harus ikut berdesakan, sedangkan dia tidak mungkin kuat berdiri. Jika antrian sudah mulai maju, aku mengangkat Bapak, lalu Mamak menggeser sedikit tikarnya.
Aku tidak tahu apakah ini baik atau buruk. Dalam keadaan tidak ada Tabib ini, dan semua pasiennya yang mengantri di sini, apakah tikar ini akan tetap disewakan, atau boleh dipinjam saja dan dibayar dengan ucapan terima kasih dan senyuman?
Bapak mengambil tayamum lalu mengerjakan sholat dhuhur sambil tiduran. Aku akan mengerjakannya jamak dengan Ashar saja nanti.
“Sudah sampai nomor berapa, Pram?”, tanya Bapak selesai sholat.
“1641”
“Masih lama? Aku nomor berapa?”
“1662”
“Jadi masih berapa lagi?”
“Dua puluh satu orang lagi, Pak. Kurang sedikit”
Ini sudah entah ke berapa kali Bapak bertanya selama kami mengantri. Berulang kali aku memberitahukan nomor antrian Bapak, tapi tetap saja dia menanyakan lagi dan lagi. Dan tetap kujawab saja setiap kali.
“Aku sudah bisa melihat pintu rumahnya, Pram. Sebentar lagi giliranku”, Bapak tersenyum penuh pengharapan.
“Ya, Pak”
Seseorang mendesak punggungku. Aku menoleh ke arahnya, tapi tidak berkata apa-apa. Dia balas memandangku dengan muka marah.
“Kenapa, Bu?”, tanyaku akhirnya.
“Maju, Mas. Itu lho yang di depan sudah maju”
“Bu, belum ada pasien yang masuk lagi. Maju sejengkal, hanya karena ada yang bergeser sedikit. Sabarlah Bu. Nanti kalo ada yang masuk, kita maju lagi”
“Mas, kita antri begini memang majunya sejengkal-sejengkal. Kalo ada kesempatan sejengkal kita tidak maju, nanti kita keduluan”
“Tidak mungkin lah Bu. Kita kan sudah ambil nomor antrian. Kita juga akan masuk waktu dipanggil sesuai nomor antrian. Tidak ada gunanya desak-desakan dulu-duluan”
Seorang Ibu yang berdiri di sebelah Ibu itu tiba-tiba ikut menimpali, “Lha kalo gitu ngapain Mas ikut desak-desakan di sini? Kenapa enggak duduk saja di rumah tetangga sana, adem. Nanti kalau dipanggil nomornya baru datang”
Orang-orang ini mulai menguap kesabarannya. Aku juga.
“Karena kalau saya berada jauh dari sini, saya akan kesulitan masuk ketika nomor Bapak saya dipanggil, karena tidak akan dapat jalan, penuh dengan orang-orang yang tidak percaya dengan urutan nomor antrian”
“Ya sudah, kalau memang sudah gabung di antrian ini ya harus mau maju sedikit-sedikit”
“Bu, tolonglah lihat Bapak saya. Agak repot kalau kami harus bergeser sejengkal demi sejengkal”
“Salah siapa ngantri pakai tiduran begitu”, celetuk seorang Bapak.
“Iya nih, menuh-menuhi tempat saja. Setikar begitu dipakai sendiri. Harusnya itu bisa dipakai berdiri tiga orang”, timpal yang lain. Tiba-tiba semua orang ikut bicara.
Astaghfirullahaladzim.
“Bapak saya sakit, keras, parah. Jangankan untuk berdiri antri berdesakan begini, duduk pun sudah tidak mampu. Mengantri berbaring begini sudah cukup berat buat Bapak”, aku mencoba menjelaskan.
“Kalau mau sembuh ya memang harus mau susah dulu. Ini kan juga salah satu bentuk laku prihatin kalau mau berobat ke Pak Kyai. Ya jangan mau enak saja”, kata Ibu yang tadi mendesakku.
“1642!” terdengar adik Pak Kyai berteriak melalui megaphonenya memanggil nomor berikutnya.
“Maju… maju… maju..”
Aku bersiap mengangkat Bapak, Mamak bersiap menggeser tikarnya. Tapi orang-orang di belakangku benar-benar tidak sabaran. Aku di dorong ketika sedang berjongkok hendak mengangkat Bapak.
“Maju Mas! Itu sudah ada yang masuk lagi. Katanya kalau sudah ada yang masuk mau geser. Ayo buruan!” kata yang lain entah yang mana.
“Bu! Tolong lihat. Saya sedang mau mengangkat Bapak, tidak semudah kita yang masih sehat untuk bergeser”, jawabku.
“Aah… ini ni yang menghambat antrian!”, teriak seseorang dari belakang.
Ya Allah, di mana letak perbuatanku yang menghambat antrian? Kenapa orang-orang ini tidak mau bersabar lagi, yang katanya menjadi laku prihatin?
Detik setelah itu benar-benar tidak bisa ku mengerti. Orang-orang di belakangku seperti terbakar api. Mendorong tanpa melihat apa yang ada di depannya. Aku tersungkur di atas tubuh Bapak. Mamak yang juga sedang jongkok hendak menggeser tikar, terjengkang.
“Astaghfirullah!”, teriak Mamak.
“Bu! Semuanya! Tolong berhenti mendorong. Saya jatuh menindih yang sakit!!” teriakku. Bapak mengerang.
Tapi teriakanku seolah tidak terdengar, tenggelam oleh riuh ketidak sabaran di belakang kami. Dorongan bukan berhenti tapi justru semakin menjadi. Yang ada aku justru merasakan beberapa tubuh mulai berjatuhan menindih aku dan Bapak dan Mamak.
“Tolong! Hentikan!!” teriakku.
Mamak menangis. Ibu-ibu yang menindihku juga mulai berteriak-teriak tidak karuan.
Bapak mengerang panjang.
***
Kami pulang dengan berteman senyap. Pak Makmur menyetir tanpa bicara sepatah kata pun. Aku duduk di sebelahnya seperti ketika berangkat kemarin. Memandang kosong ke jalan. Pak Makmur telah melepas jok tengah dan menumpuknya di atas jok belakang, supaya Bapak bisa berbaring lurus di lantai mobil di kabin belakang. Mamak masih terus terisak duduk di sampingnya.
Uang dari Pak Firdaus masih tersisa satu juta lebih sedikit. Mungkin aku masih harus membeli bensin satu kali lagi nanti. Tapi kurasa, selain itu aku masih harus memakai sebagian lagi dari uang yang kupinjam itu.
Untuk pemakaman Bapak.

Advertisements

16 thoughts on “Ini Permintaan Bapak (3-habis)

  1. sedih.
    tapi begitulah yang sering terjadi di masyarakat..
    saat kesabaran sudah tak lagi dimiliki..
    yang ada hanya emosi.. dan hanya mementingkan diri sendiri…

    semoga bapak tenang disana

  2. keegoisan memang nggga pernah menghasilkan sesuatu yg baik…
    mbak L aku bener2 terharu deh baca cerpenmu yang satu ini
    karena memang sudah banyak kejadian nyata spt ini ..

  3. Innalillahi …….

    aku ikut bersedih atas duka ini. smoga bapak tenang disana dan diterima semua amalnya dan juga di ampuni segala dosanya. Amin …

    Sbuah gambaran yang memang sangat menyedihkan dan smoga saja tdk ada lagi korban

    Salam …

  4. @edo, abdee, naufalazia: ya… sepertinya bikin ending begini lebih mudah. sadis tenan aku ini 😦
    @easy: insya Allah, permintaan terakhirnya sudah dituruti…
    @warm: kita tidak selalu mendapatkan yang kita inginkan
    @farcham: cup cup cup…
    @anny: betul sekali…
    @rice2gold: maaf, salut apanya mas?
    @nina, aribicara: ini kan memang terilhami kisah nyata, mudah2an tidak terjadi lagi…

  5. @nino: ponari dukun cilik dari jombang…
    @dheminto: hmm… someday, maybe… 🙂
    @masNug: maaf, sama sekali ga bermaksud mengingatkan pada almarhum Bapak…
    @ndoro seten: panjenengan juga begitu pada si ponang pastinya…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s