Dul Kamdi….

‘Siapa itu Nuk? Namanya konyol banget…’, tanya Yuni.
Aku mengangkat bahu, lalu membawa paket itu ke dalam, diikuti Yuni. Sampai di ruang makan kami dihadang Endah dan Sari.
‘Please, let me go’, pintaku.
‘Kami harus tahu dulu dari siapa…’

Rumah kos ini payah. Maksudku, sebenarnya asik. Bentuknya tidak berjajar seperti kamar losmen, tapi memang berbentuk rumah. Dengan tiga kamar, ruang tamu, ruang makan, dan satu kamar mandi. Pemiliknya tidak tinggal di sini, dan memutuskan untuk menyewakan kepada kami berenam. Kami berhak menggunakan ruang-ruang di sini, seperti rumah kami sendiri.
Kami berenam asik berteman, serasa bersaudara. Saat favorit adalah ketika kami berkumpul jadi satu. Di ruang tamu, di ruang makan, di teras, atau di salah satu kamar.
Seperti siang ini.
Hari Sabtu begini biasanya sepi, pada pulang kampung. Tapi kali ini cuma Ika dan Lusi yang pulang. Ada kami berempat yang sedang nonton Oprah Winfrey ketika pintu depan diketuk. Yuni yang membuka pintu, tapi dia langsung memanggilku, karena ada kiriman paket buatku.
Inilah payahnya. Jelas-jelas paket ini buatku, tapi kami terlalu dekat sehingga yang lain merasa ikut berhak juga untuk melihat itu dari siapa dan apa isinya.
‘Plis…’, pintaku lagi.
Tapi jawabannya adalah ‘Plisss…’ yang lain, plus tiga wajah yang berakting sok melas.
Aku tunjukkan nama pengirimnya.
‘Sudah? Sekarang permisi, aku perlu waktu sendiri untuk membuka paket ini’, aku melangkah, tapi dihadang lagi oleh Sari.
‘Wait a minute. Who’s Dul Kamdi? Sounds so silly…’, katanya.
‘Dunno…’, jawabku.
‘You must know…’
‘Dunno…’
‘Kalau kamu ga yakin itu dari siapa, sebaiknya jangan dibuka sendirian’, kata Endah.
‘Ya, siapa tau isinya bom….’, tambah Yuni.
Kami memandang Yuni penuh kejengkelan, meskipun sebenarnya kami sudah hapal, ide-ide Yuni selalu konyol.
‘Pras?’, tanya Endah.
Aku menggeleng.
‘Yoyok?’, tanya Sari.
Aku menggeleng lagi.
‘Abdul Ghofar! Siapa lagi? DUL, remember?’ tebak Yuni.
Tuh kan… Endah sampai mendorong pelan kepala Yuni karena jengekelnya dengan ide konyol Yuni.
‘Yang bener aja Yun, Ghofar itu anak alim. HMI. Lihat perempuan aja ngga berani, menjaga pandangan dan nafsu…’
‘Lho, justru itu. Dia ga berani face to face, jadi dia pakailah cara ini..’
Yang lain berkata ‘Oh… iya ya…’ dan sepertinya menganggap itu masuk akal. Tapi aku tetap tersenyum saja.
‘Jadi?’, Sari memastikan padaku.
Aku mengangkat bahu lagi. Aku punya dugaan itu siapa, tapi tidak yakin juga.
‘That’s it,’ Sari tiba-tiba merebut paket itu dariku, dan membawanya ke ruang tamu. Kontan aku mengejarnya, diikuti yang lain.
‘Kita buka sama-sama, kecuali kamu ngaku ini dari siapa..’, kata Sari sambil berdiri di atas meja tamu dan mengangkat paketnya tinggi-tinggi.
Aku menyerah.

Akhirnya Sari duduk bersila di meja dan mulai membuka bungkusnya. Sebuah kotak kardus, sepertinya bekas kardus toner printer yang dibentuk ulang. Ada sepucuk surat begitu tutupnya dibuka. Aku diam, tapi dalam hati aku berharap Sari masih punya hati untuk tidak membacanya di sini.
Huh…
Surat itu diulurkannya padaku, sambil berkata, ‘Yang ini aku tidak berani’
Lalu Sari mengeluarkan isi kotak itu: setoples coklat, dan berkata, ‘tapi yang ini punya kami’
‘Terserah, tapi sisakan buatku, jangan dihabiskan’
Aku segera masuk kamar dan mengunci pintu.

zee….
aku tahu 14 februari masih lama. tapi aku tidak mau menunggu tiga bulan lagi hanya untuk mengirim coklat padamu, karena rasa sayangku tersedia buatmu sepanjang waktu
#kay.

Aku melipat surat itu dan tersenyum. Jadi memang dia. Kulempar surat itu ke kasur.  Aku tidak peduli kalau ada yang menemukannya dan membacanya. Mereka tetap tidak akan tahu itu dari siapa. Dan kalau mereka bertanya, aku tetap akan mengangkat bahu dan berkata, ‘Dunno…’

Di ruang tamu, anak-anak duduk di kursi dan belum membuka toples itu. Lebih aneh lagi, toples itu malah tergeletak di lantai. Aku memandang bertanya.
‘Kami nunggu kamu melangkahi coklatnya. Kami sudah’, Yuni menjawab pertanyaan mataku.
‘Buat apa?’, tanyaku.
‘Berjaga-jaga, siapa tahu ada peletnya. Kami ngga mau kena’, Yuni menjelaskan lagi.
‘Kecuali kamu ingin kena peletnya’, tambah Sari.
Tanpa ragu aku melangkahinya. Tidak perlu makan coklat kirimannya, aku sudah kena peletnya sejak pertama kali bertemu dulu.

Dan karena memang kami belum sarapan, coklat ini lumayan buat mengganjal perut sampai ada salah satu dari kami yang mampu mengalahkan rasa malas untuk mandi dan keluar beli makan di warung…

Terima kasih, Dul Kamdi….

Advertisements

14 thoughts on “Dul Kamdi….

  1. rajutan ceritamu makin menarik untuk dinikmati,
    ringan dan nyaman,
    dan rrr kos tiga kamar berbentuk rumah itu mengingatkan saya pada kontrakan saya di surabaya dulu, bedanya tanpa ada ruang tamu dan ruang makan 🙂

  2. dul kamdi … hebat oiii, ilmu “pelet”nya cespleng …!
    belum makan coklat … udah klepek … 3x
    kenalin dong ama dulkam-mu … aku mau pelet sari … (hihihi …)

  3. @farcham: dunno….. 😉
    @warm: thanks om
    @yangputri: makasih…
    @wenny: aku juga ga tahu.. asal tulis aja nih 😛
    @abrus: mungkin dia memang melet (menjulurkan lidah) beneran 😛
    @ahmadjazi: katanya…
    @rice2gold: dunno… 😛

  4. @idana&triplezet: thanks..
    @aribicara: 😛
    @easy: itu juga cuma kata orang, aku sendiri belum pernah melakukannya
    @uchan: cuma ingin menunjukkan bahwa tidak harus palentinan… (alasandotcom)

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s