Hari yang Aneh

Disclaimer: Tulisan ini murni berisi curhat. Ku. Panjang. Apa adanya tanpa basa-basi. Tidak dibentuk prosa atau puisi.

Pagi ini aku memulai hari dengan ‘crash’. Dalam perjalanan berangkat ke kantor , ketika melewati tikungan di turunan Jl S Parman, aku mendengar suara benturan di bagian belakang kiri. Suamiku mengira itu hanya guguran batu yang menjatuhi mobil kami, karena di tepi kiri jalan yang kami lewati memang lereng berbatu yang kadang-kadang gugur. Tapi aku melihat dari spion kiri ada motor dan penumpangnya terguling.
Rupanya benar ada motor yang jatuh..
Aku menunggu di mobil yang berhenti sekitar 50 meter dari tempat jatuhnya motor, dan terhalang tikungan, jadi tidak bisa lihat. Tapi pengendara motornya luka, cukup parah. Kata suamiku ada darah.* Jadi itu dua alasan aku tidak mengambil gambarnya* Suamiku sendiri tidak sempat ikut menolong karena ketika sampai di sana, korban sudah diangkat dan dibawa ke rumah sakit oleh pengendara sebuah pick up yang kebetulan lewat.
Rupanya Pak Muchtar, si pengendara motor itu, berusaha menyalip dari kiri, namun sebelum berhasil, mobil kami agak menepi sehingga dia kehabisan space dan akhirnya terserempet, lalu jatuh.
Lepas siapa yang salah dalam insiden itu, kami ikut ke rumah sakit dan menunggui si bapak di UGD. Pak Polisi sempat mengatakan ‘ada korban jiwa’ yang langsung kami asumsikan si korban meninggal. Perasaanku (dan kurasa suamiku juga) tidak karuan, shock. Tapi beberapa menit kemudian dokter memberi keterangan bahwa korban sadar dan stabil, hanya mungkin perlu dirawat jalan. Alhamdulillah.
Karena ada luka cukup parah di bagian kepala, dokter harus melakukan observasi selama dua jam untuk memastikan tidak terjadi trauma otak. Selama dua jam itu pula aku dan suami menemani Bu Muchtar dan suaminya di ruang tunggu.
Bu Muchtar sempat membuatku terharu, karena ketika pertama kali ketemu, yang diucapkannya adalah, “Gimana, apa kami harus mengganti biaya perbaikan mobil Panjenengan?”.
Bagi pihak korban kecelakaan, hal itu mungkin menjadi kekhawatiran. Tapi pasti kalau bisa jangan. Dan yang lebih penting diutamakan adalah penanganan si korban, kalau bisa menuntut ganti biaya buat mereka sendiri dari pihak seberang.
Alhamdulillah Pak Muchtar hanya mengalami luka luar dan mendapatkan beberapa jahitan. Setelah dipastikan kondisinya stabil, beliau diperbolehkan pulang.
Acara selanjutnya adalah berurusan dengan polisi. Karena SIM dan STNK suami ditahan, juga motor Pak Muchtar. Di sinilah anehnya. Meskipun kedua pihak sudah menyatakan ‘damai’ dan menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan, STNK dan SIM suamiku tetep ditahan.
Pak Polisi bilang: Meskipun sudah ada penyelesaian secara damai, tapi Bapak tetap telah melakukan kesalahan. Ini sesuai dengan KUHP bab bla bla bla pasal bla bla bla yang menyatakan Bapak telah melakukan kelalaian yang menyebabkan orang lain tidak dapat bekerja. Bapak bisa dikenai kurungan bla bla bla atau denda bla bla bla…
Dia menunjukkan yang barusan dia baca kepada suamiku, tapi langsung ditutup dan dijawab oleh suamiku: saya tidak merasa melakukan kelalaian. Motornya yang menyalip dari kiri dan saya tidak dengan sengaja menyerempet.
Pak Polisi bilang lagi: namanya lalai itu memang tidak sengaja, Pak. Dan kalau terjadi kecelakaan di jalan, kendaraan yang lebih besar adalah yang menjadi pihak yang bersalah.
GITU YA???
Suamiku dipanggil masuk ke ruangan lagi, lalu keluar dan bertanya padaku: kamu bawa cash berapa?
Pssst…Pssst… Pssst. Pak Polisi minta ^))ribu rupiah. Tapi suamiku berhasil menawarnya menjadi #))ribu saja, dan kami boleh pulang membawa SIM dan STNK yang tadi ditahan.

Saudara-saudara sekalian… Karena kita hidup di Indonesia, yang lalu lintasnya left oriented, sangat berbahaya dan tidak dianjurkan menyalib dari kiri. Beneran. Harus extra hati-hati kalaupun terpaksa melakukannya. Tapi kalau bisa, jangan deh….

Terima kasih pada pengemudi mobil pick up putih yang telah mengantar Pak Muchtar ke Rumah Sakit. Sayang kita tidak sempat ketemu.
Terima kasih kepada Pak muchtar dan Bu Muchtar yang menganggap ini memang musibah buat kami, dan tidak menuntut apa-apa.
Terima kasih kepada dokter dan para perawat yang sudah merawat pak Muchtar.

Aku ingin bisa mengucapkan: Terima kasih kepada Pak Polisi yang telah membantu kami menyelesaikan masalah ini.
Tapi maaf Pak Polisi, saya tidak bisa, karena kami masih merasa Anda justru mengail di keruhnya air kami……..

Advertisements

28 thoughts on “Hari yang Aneh

  1. wah polisi ke pancen njelei…

    bahkan mbahku pernah ngomong anak cucunya ga ada yang bloeh jadi cucu,, konon katanya waktu jaman belanda, mbahku itu jadi supir, jadi ya musuhnya polisi, penjajahan lewat, sebelum jadi pengusaha sukses beliau mulai dari jadi tukan g tambal ban,, dari jadi tukang tambalpun udah di palakin ma polisi… mungkin beliau terlalu sakit ati ma polisi…
    sayang aku ga sempat bertemu dengan eyangku yang katanya pekerja keras itu, beliau meninggal waktu aku masih di perut ibu, soalnya jarak antara aku dan mbah jauh skali, mbah dan bapak ajah udah jauh.,, mbehku lahiran 1909, bapak 1961 aku 1992..

    loh malah curhat??hhe..

  2. Pantas aja kalo dulu ada survei yg menyebutkan Lembaga Polisi adalah Lembaga terkorup 🙂 Pake duit baru beres. Heran juga, padahal 2 pihak sudah berdamai, kok masih diproses ya?

  3. its hard to say im sorry, memang
    begitulah sang pangayom masyarakat,
    kadang malah lebih parah dari lintah darat !
    sabar ya bu, yg penting endingnya bisa pulang kerumah masing-masing,

    ..

  4. Wah padahal kalu saya bonceng temen saya, dy suka nyalip lwat kiri, uhm bhaya y ?

    menanggapi pak polisi :
    begitulah polantas era kini, enggak keruh ato bening tetep aja suka mengail.
    hwehe9x

  5. @nino: iya dek….. pertama. ngga semua polisi begitu sih, tapi yang kemaren itu kebetulan begitu… jamaah lagi, sak unit 😛
    @triplezet&warm: imagenya memang udah gitu ya. pasti ada sih yang enggak, belum ketemu aja 😀
    @mbakmaya: salam kenal kembali
    @gbongiovi: iya, bahaya. jangan diulangi lagi ya nak…
    @depz: sibuk cari isi maksudnya? 😀
    @wempi: beruntungnya warga palembang….
    @evi: susah diubah ya mbak…

  6. kenapa ga ada skrinsyut foto pak polisi ? 😀

    sampe kapanpun ya begitulah wajah2 dunia polisi kita. bukannya mengayomi masyarakat tapi justru menilang uang rakyat

  7. @lintang: weh… sudah pernah survey to? hehe…
    @pasti ada yang mengalami juga sebulan yang lalu, entah siapa di mana haha…
    @easy: ga berani lah… takut dikira mencemarkan nama yang sudah cemar baik

  8. Syukurlah La..tidak terjadi apa2…
    Polisi?? Ya gitulah…. (tp aku juga senang dengan cara ‘damai’ ini, tidak repot dan menghemat waktu)
    Maav telat berkunjung… | baru renovasi blog, lantaran kemaren database error

  9. wuih, kok sampe gak tau kalo ada motor nyerempet mbak? Tapi emang sejak dulu kalopun udah damai dari ekdua belah pihak pasti pihak ketiga selalu tidak menginginkan hal itu. Pihak ketiga adalah polisi. Kalo mengutip kata-kata suporter sepakbola ada lagunya loh : POLISI MEMANG MUSUH BANGSA!

    Suaminya hebat, dari 600ribu bisa ditawar 300ribu kwkwkwk. Kalo belanja di malioboro bisa dapet banyak tuh kalo pinter nawar.

  10. @khay: makasih khay. iya nih, dari kemaren aku ngeklik blogmu lagi error katanya. udah baik sekarang? nti aku cek deh…
    @uni: iya uni, makasih
    @phery: ya… ngga semua polisi kali…
    @rice2gold: semoga…

  11. Mba Latree 🙂

    Hari ini aku dapat warning dari ulasan ini 🙂

    Jujur saja aku kadang suka ugal2an di Jalan, yg ngebut lach dan kadang juga nyalib lewat kiri yg sebenernya di larang yach 🙂

    Besok harus lebih hati2 nich 😀

    Salam 🙂

  12. @abdee: yuk, ditunggu postingannya…
    @dheminto: panas lagi, ga ada ACnya pula 😛
    @aribicara: 🙂 hati-hati ya nak…
    @ogi: tapi polisi yang baek jangan dibenci ya…

  13. Padahal aku tiap hari sepanjang jalan ngantor nyalip dari kiri…. , pernah ambil jalan kanan malah berantem ama pengendara sedan…. Bingung!

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s