Hari yang Aneh (2)

*tulisan ini lanjutan dari cerita kemarin, tapi yang ini dibentuk lain. ‘aku’ adalah gabungan antara aku+suamiku*

Aku baru saja melangkah keluar dari kantor polisi. Mereka habis menodongku untuk perbuatan yang, setidaknya menurutku sendiri, bukanlah kesalahanku. Mereka mencoba menyodorkan buku KUHP yang sudah agak kumal. Mungkin karena terlalu seringnya dibuka dan dipelajari pasal-pasal mana yang bisa mereka gunakan untuk menjerat korban…. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Seperti tidak pedulinya aku pada pasal-pasal UUD 1945 yang sudah berkali-kali diamandemen. Juga semua pasal di semua Undang-undang yang menjadi dasar setiap kegiatan yang berjalan di kantorku.
Well, bukan benar-benar tidak peduli. Cuma aku punya kesulitan untuk memahami yang namanya pasal-pasal. Bahasanya terlalu tinggi buat otakku yang terbatas kemampuan verbalnya ini. Jadi ketika dibacakan padaku pasal-pasal yang bisa menjeratku itu, aku menepisnya pelan dan berkata, “Sudah, sekarang Bapak mau berapa?”
Kata mereka, sesuai pasalnya aku harus dikurung enam bulan penjara atau membayar 600 ribu rupiah. Aku tidak tahu apakah yang mereka tuduhkan padaku itu delik aduan atau bukan. Kata mereka sih bukan. Lagi pula aku, lagi-lagi menurutku, tidak bersalah. Aku bisa saja menelepon temanku yang pernah kuliah di fakultas hukum, tapi aku sudah lelah setengah harian dihadapkan pada permasalahan kecelakaan ini. Aku hanya ingin segera keluar dari kantor polisi yang panas ini, membawa pulang SIM dan STNKku. Jadi aku bisa segera ke kantor dan membereskan banyak masalah yang harusnya sudah kuselesaikan pagi-pagi tadi.
Kujatuhkan enampuluh lembar lima ribuan ke meja. Sebenarnya aku punya satu bendel, jumlahnya 500 ribu. Yang dua ratus ribu sudah kucabut dan kumasukkan ke saku celanaku. Aku bisa saja memberinya tiga lembar ratusan ribu yang masih ada di dompetku. Tapi itu mungkin kurang membuat tebal dompetnya.
“Ini untuk Bapak. Dan saya sudah membayar biaya pengobatan korban. Tidak ada lagi”, kataku.
Si polisi diam, memasukkan uangnya ke laci. Aku bahkan tidak diberi tanda terima atau kuitansi.
“Dan”, tambahku, ”Bapak jangan minta sepeser pun lagi dari pengendara sepeda motornya. Berikan padanya STNK dan SIM, juga kunci motornya”
Dia mengangguk, “Ya ya, Pak. Jangan khawatir”

***

Kota lama benar-benar panas. Tidak ada angin berhembus, hanya sengatan matahari yang membakar ubun-ubunku. Dan jalan sempit di depan kantor polisi ini benar-benar padat. Aku agak kesulitan menyeberang menuju mobilku.
Tiba-tiba seorang ibu mendekatiku, bersamanya ada seorang Bapak yang kuduga adalah suaminya, yang sedang menyunggi seorang anak laki-laki berumur enam tahunan, yang kuduga adalah anaknya.
“Maaf, Pak. Kantor Dinas Sosial di mana ya?”, tanya si Ibu.
“Ibu naik bis aja dari sini. Nanti minta berhenti di depan kantor walikotaa. Semua Dinas kota berkantor di komplek itu”, jawabku.
“Bis yang mana?”
“Semua bis yang lewat di sini, lewat depan Balai Kota. Ada perlu apa memangnya Bu?”
Dia menunjukkan surat pengantar dari kepolisian yang dipegangnya. Disitu diterangkan bahwa ibu itu kehabisan bekal dan butuh ongkos untuk pulang ke Jakarta.
Aku kembalikan padanya, dan sekali lagi menyarankan untuk naik bis, karena kalau jalan kaki agak jauh, apalagi hari sedang sangat panas.
“Terima kasih. Kami jalan kaki saja. Tidak punya ongkos”, lalu mereka pergi meninggalkanku.
Aku perhatikan mereka berjalan, dan berhenti sebentar, bertanya kepada tukang parkir di depan apotik.
“Ngapain mereka, Pak?”, tanyaku pada tukang parkir itu ketika dia mau mulai membantu aku keluar dari tempat aku parkir.
“Nanya jalan ke Dinas Sosial. Katanya kehabisan uang. Kasihan”
Aku mengulurkan selembar ribuan, lalu menjalankan mobilku. Aku berhenti di samping keluarga itu dan menyuruh mereka masuk.
“Mari saya antar sampai kantor Dinas Sosial, kebetulan saya mau lewat sana”
Ketiganya masuk.
“Ibu dari mana?”, tanyaku.
Dia mengaku datang dari Jakarta. Ke Semarang mencari Ibu si perempuan, yang berarti mertua si laki-laki. Kabar terakhir dia berdagang sayur di Pasar Johar. Sudah empat hari mereka ngubek-ubek pasar, dan tadi pagi mereka bertemu dengan teman Ibu mereka itu. Katanya orang yang mereka cari sudah sekitar sebulan yang lalu pindah ke Majalengka.
“Jadi empat hari ini tidur di mana?”, tanyaku.
“Di mana aja. Di emper-emper. Kasihan anak saya, kalau pas hujan kedinginan…”
Aku tidak bisa melihat, tapi aku mendengar ‘snif snif’, kurasa ibu itu menangis.
Kutawarkan kepada anaknya seplastik tempe goreng yang tadi pagi kubeli di kafe rumah sakit untuk mengganjal perut, aku baru makan satu. Diambilnya dari tanganku. Dari spion kulihat mata anak itu berbinar-binar, seperti sudah beberapa hari tidak makan.
“Terima kasih, Om”, katanya.
“Terima kasih”, kata Bapaknya, “Dua hari ini dia terpaksa meminta-minta di pasar untuk makan dia sendiri. Kami mengais sampah. Kalau orang dewasa mungkin masih bisa menahan lapar dan lelah, tapi anak kami…”
Bisa kulihat si Bapak masih menahan diri untuk tidak mengambil apa yang dipegang anaknya. Tapi si Ibu sepertinya juga sangat kelaparan dan segera mengambil satu lalu ikut makan.
Tanpa kutanya mereka bercerita, bahwa Ibu yang mereka cari itu telah ‘melarikan diri’ dari mereka, menikah dengan laki-laki yang tidak mereka setujui. Karena berbulan-bulan tidak ada kabar, mereka cemas dengan keadaannya dan berusaha mencarinya. Yang ada mereka sendiri terlunta-lunta dan yang dicari sudah entah ke mana.
Si perempuan tidak tahan dan mengajak suaminya untuk pulang saja kembali ke Jakarta. Mereka tida tahu harus minta bantuan ke mana, jadi mereka ke kantor polisi. Tapi ternyata polisi hanya bisa menyarankan mereka untuk minta bantuan ke Dinas Sosial. Betapa ironisnya. Aku baru saja membayar pungli 300 ribu untuk menebus SIM dan STNKku, tapi mereka hanya memberi selembar surat pernyataan pada keluarga malang ini…
Kami sudah sampai di Balaikota. Kubiarkan mereka turun sendiri.
“Maaf Pak, Bu. Saya cuma bisa mengantar sampai sini. Nanti tanya lagi aja pada pegawai yang ada di sana”
“Iya Om, terima kasih”
Kuulurkan uang sekedarnya, “Buat beli makan adik”, kataku.
“Terima kasih Om, terima kasih”, kata mereka lagi.
Aku keluar dari komplek perkantoran Balai Kota, tapi masih sempat melihat dari spion, mereka bertanya kepada seseorang berseragam keki di depan kantor, dan menunjukkan surat pengantar yang mereka bawa. Aku pernah mendengar cerita-cerita tentang orang yang mengaku kehabisan uang dan minta bantuan ongkos untuk pulang. Kurasa aku pernah bertemu yang seperti itu, dan memberikan lima ribu. Tapi kalau kau melihat mata anak itu ketika dia melihat tempe yang kuberikan padanya tadi, kau pasti sepaham denganku. Mereka benar-benar sedang dalam masalah.
Semoga mereka bisa kembali ke rumah mereka dan melanjutkan hidup sebagaimana sebelumnya hari-hari mereka…

Advertisements

17 thoughts on “Hari yang Aneh (2)

  1. dua cerita dengan dua ironi yang berbeda “kelas”, kelelahan demi kelelahan yg terus menerus melanda bangsa ini seolah tak berujung dan tak memiliki solusi….

  2. ah…sungguh kontras, sementara yang satu bersuka cita dan cenderung berlebihan masih berdiri kekar rela menengadahkan tangannya di atas kesengsaraan orang lain, sedang yang lain dalam nestapa masih tetap kukuh tanpa bermaksud “meminta-minta”

  3. hari2 datang dan pergi … (desah lagu Gito Rollis alm
    hari esok bukan hari ini … (lagu siapa ya …

    itulah romantika kehidupan …
    suka dan duka kehidupan …
    suka atau tak suka, itulah roda kehidupan …

    kutunggu … hari aneh ke3 (salam …

  4. emang polisi njelei…

    saking keselnya karena harus sidang di kebumen (50km dari pwr), aku sidang pake celana pendek dan sendal jepit.

    pak hakim;”menurut kamu, pantes ga kamu pakai pakaian seperti itu ke persidanagan?/

    nino;(muka innocent)”kenapa nggak, kan ga ada undang undangnya!!”

  5. KAlau temenku pernah gara2 masalah yg seperti itu, temenku sengaja kasih duitnya ke Polisi pakai uang recehan ada 500an banyak juga yang ratusan, dan diitung didepan Polisi itu :D, Polisi itu akhirnya Marah dan merasa tersinggung, tapi karena banyak orang yach dengan rasa malu tuh Polisi mau ngitung juga, Hahahahahahahahaahhaha…..

    Sekali2 biar KapoXXX 😀

  6. Kejamnya kehidupan kota. benar juga kata sahabatku satu dasawarsa silam. Saudara yang sejati adalah UANG. bila tidak punya uang, maka tak satupun kebutuhan yg dapat dipenuhi..

    *merenung sejenak* Mudah2an mereka menemukan apa yg mereka cari

  7. saya dan kantor saya juga sering nemui orang kaya gitu mbak… daripada mbuatin surat dan dia harus ke dinsos yang jauh, akhirnya paling sering urunan buat orang tsb.

  8. @rice2gold,brencia, idana, Arya: begitulah
    @farcham: entah…
    @abrus: ngga ada sequel 3 nya 😀
    @nino, arie: that’s the idea 😉
    @khay: yuk hidup di desa saja… 🙂
    @abdee: lha ya itu… polisinya kok ya tega….

  9. kasihan mereka harus meminta-minta selama masa pencarian.
    ah mba, begitu baiknya mba dan suami 🙂

    aku malu dengan diriku sendiri, yang sering curiga dengan orang 2 seperti itu.

  10. @wempi: trus kamu beli?
    @easy: aku tahu dilemamu say, kadang memang muncul keraguan itu.. tapi yang penting niat kita, terserah mereka bohong atau tidak
    @lintang: terima kasih, sist. amin
    @warm: k e i k h l a s a n . . .
    @phery: entahlah.. aku juga ga tahu mau cari tahu ke mana…

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s