Damriku sayang Damriku mengecewakan

Walaupun banyak bis yang bisa membawaku ke tempat tujuan, aku tetap memilih naik Damri. Walau pun sekarang Damri AC jurusan Perumnas Banyumanik diganti yang lebih kecil aku tetap memilih naik Damri. Tidak peduli aku harus membayar lebih mahal, atau berdiri. Semua tetap terasa lebih nyaman karena pengemudi Damri tidak pernah ugal-ugalan, dan kondekturnya ramah dan sopan.
Tadi sore, seperti biasa aku pulang kantor naik Damri dari depan kantorku, sekitar pukul 16 lewat sedikit. Aku biasa turun di depan Soto Bangkong Banyumanik, dan aku tahu kapan aku harus bersiap turun. Waktu itu bis berhenti di traffic light dekat Toko ADA, dan kondektur meneriakkan “Sukun – Bangkong….!!”.
Kebetulan, menjadi kebiasaanku, jika sedang beruntung mendapat tempat duduk, maka aku membaca. Juga sore tadi. Karena aku tahu bis masih berhenti, aku menyelesaikan satu paragraf supaya tidak nanggung. Di samping itu, aku duduk dekat jendela, sehingga untuk keluar aku harus permisi dulu kepada penumpang di sebelahku.
Ketika aku sudah siap di dekat pintu belakang, lampu masih merah dan bis belum berjalan. Tapi Pak Kondektur berkata padaku,”O, pantes ga dengar, kupingnya ditutupin. Gak kasihan mbak, saya teriak-teriak gembar-gembor. Nanti kalo turunnya kebablasan, kita yang disalahin”
Aku bukannya tidak mendengar teriakan Pak Kondektur. Tapi apakah aku harus langsung mengacungkan jari dan berteriak “SAYA PAK!!” seperti ketika Bu Guru mengabsen muridnya? Atau aku harus tiba-tiba ‘mak cling’ berdiri di depan pintu untuk bersiap turun?
Tentu saja aku menutup kupingku. Karena aku memang menutup seluruh tubuh saya kecuali muka dan telapak tangan. Tapi itu tidak membuat aku jadi tidak bisa mendengar. Aku tahu Pak Kondektur lelah (Oh, saya juga, Pak). Tapi apa itu lantas membuat dia berhak mengatakan, walaupun dengan kiasan, bahwa aku tuli?
Alhamdulillah aku tidak pernah menyalahkan siapa pun jika aku kebablasan turun dari angkutan umum. Dan aku selalu berusaha untuk tidak lupa mengucapkan ‘terima kasih’ ketika turun dari angkutan apa pun yang aku naiki: bus, angkot, ojek, becak…
Tadi juga sebenarnya aku tidak lupa. Tapi aku sengaja tidak mengucapkannya. Aku kecewa dengan kata-kata Pak Kondektur yang menurutku, tidak selayaknya.

Advertisements

26 thoughts on “Damriku sayang Damriku mengecewakan

  1. @idana: wakakakakakak…!!
    @kw: aku juga diemin aja kok mas. malahan aku buka pintu sendiri. kejam bener..
    @farcham: hm… apa perlu kukirim ke surat pembaca ya?
    @warmorning: ujian kesabaran om…
    @gwgw: kondektur say… I said kondektur… iya, aku cuekin aja kok pak kondekturnya..
    @udin: kapan-kapan maenlah ke semarang, tak traktir soto bangkong lagi insya Allah 🙂
    @nino: mm… mungkin. tanggal 2, tapi mungkin belum sempat amilb gaji dia 😀
    @phery: alhamdulillah…

  2. hai mbak latre,.. sabar ya. tu kondekturnya mesti lagi pusing. kalo ketemu kondekturnya bilang aja jangan galak-galak. lama-lama gak mau yang naek. hehe,..
    ini wordpressnya sampean ya mbak?

  3. Ingat damri, ingat dulu waktu kuliah, pulang pergi kuliah naik damri, ongkosnya terjangkau banget jauh dekat segitu gitu aja tarifnya, sampe2 ngeluyur tiap hari libur kerumah teman2 yg jauh pake damri tentunya 😀

  4. wach bener juga yach, Kalau waktu Itu teriaknya kenceng dan lanytang dengan suara “SAYAAAAAAAA PAAAAAAAK” !!!!

    Pasti telinga itu Kondektur bisa pecah kali yach 😀 ckckckck ///

    Damriiii oh Damriiii 😀

    Salam 🙂

  5. kondekturnya lagi PMS kali….
    sabar Mba, itu balasannya 🙂

    *Damri…ah jadi ingat jaman dulu jurusan pucang gading-mangkang, naik dari depan bandeng Juwana ke arah barat sampe agen bus coyo rutin 2 mgg sekali*

  6. @abdee: hasyah! provokator 😛
    @pandu: iya pand…
    @anny: nyebrang semarang tiga ribu limaratus!
    @aribicara:ide bagus 😀
    @bayuh hebat: tull. ntar kalo BRT jurusan pudakpayung udah jadi aku juga pasti tinggalin si damri 😛
    @andivan: kondekturnya yang sensi. supirnya sih ga tau menahu..
    @falla: isi apa maksudnya?
    @evi: sekarang jurusan mangkang pucanggading bisnya gedhe Vi, AC pula!
    @lintang dan semua: setelah kupikir2 mungkin memang pak kondektur itu lagi capek banget dan bete… aku sendiri juga. kalo aku lagi riang gembira mungkin juga aku cuek aja kali ya…

  7. mungkin perlu juga dipasang sinyal otomatis, jadi ketika ada teriakan dari pak kondektur …..ting…langsung berdiri didepan pintu keluar…he…he…..tapi bisa jantungan tuh kondektur kalo bisa demikian, bisa dikira yang naik hantuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu………kabuuuuuurrrrr !!!

  8. jadilah orang komunikatif.
    diruang tunggu apotik atau rumahsakit, ketika saya dipanggil, saya akan jawab panggilan itu, “saya mbak” atau “dalem bu” atau “ya”

  9. @name: jadilah orang yang berani bertanggung jawab. aku tidak pernah meninggalkan komen anonymous, apalagi ditambah alamat email palsu.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s