“Jay, tolong dengar, ini penting…”

Dia berhenti berjalan dan membalikkan badan. Akhirnya. Sudah berhari-hari aku mencoba memberitahunya. Tapi dia selalu bilang, ‘bisa nanti aja?’ atau ‘aku capek banget’, atau  ‘aku masih banyak kerjaan’ atau seribu alasan lain.

“Sebaiknya betul-betul penting, karena aku ada rapat penting jam delapan”, katanya.

“Bisakah kita duduk sebentar? Aku…”

“Sudah, katakan saja”

“Aku lebih nyaman kalau menyampaikan ini sambil duduk tena..”

“Katakan saja sekarang”

Aku sudah berhasil membuatnya berhenti. Haruskah aku menambah dengan memaksanya duduk, sedang hasilnya mungkin dia justru pergi dan tidak jadi mendengarkan?

Aku menghela satu nafas panjang, “Aku hamil”

Aku sudah menduga aku tidak akan menemukan senyum bahagia. Tapi masih saja aku kecewa ketika tidak menemukannya. Dia membuka mulut tapi tidak berkata apa-apa. Hanya matanya yang menyampaikan tanya, “Apa? Kamu gila? Sadar ngga kamu barusan bicara apa?”

Aku tidak perlu mendengar apa-apa. Dia berlalu, membanting pintu, membiarkan aku melihat  punggungnya menjauh.

***

Hamil.

Beberapa tahun lalu itu selalu bisa jadi alasan yang bagus. Kehamilan bisa membuat orang yang kau cintai setengah mati, tapi tidak mencintaimu sebesar itu, bersedia menikahimu. Kau tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya. Kau bisa melihat perceraian sesaat setelah bayinya lahir. Tapi kau tetap berpikir masih ada harapan bahwa itu tidak akan terjadi.

Kehamilan bisa membuat orang tuamu membiarkan orang yang kau cintai setengah mati dan mencintaimu seperti itu atau bahkan lebih, tapi mereka tidak suka; untuk menikahimu. Kau akan berharap seorang bayi akan mencairkan kebekuan di antara kau dan orang tuamu, dan kehadiran bayi yang lain akan membuat mereka mengerti bahwa laki-laki itu memang jodohmu.

Aku membuat diriku sendiri percaya bahwa aku juga bisa memakai alasan itu untuk mempertahankan Jay. Perkawinan kami sudah terasa hambar setahun terakhir ini – kalau kau terlalu takut untuk menyebutnya pahit. Rumah ini, dan aku, bukan lagi ‘rumah’ bagi Jay. Maksudku, dia masih pulang ke sini dan tidak ke lain tempat lagi. Tapi percakapan tidak pernah lebih dari ‘mana kausku?’ atau ‘besok aku ada pertemuan dengan manajer PT anu’ atau’ aku pulang terlambat’.

Aku tidak tahu apa yang salah. Semua begitu indah di awal pernikahan kami. Dia bilang tidak ingin punya anak dulu sebelum mencapai level manager. Sekarang sudah, tapi dia masih berkata ‘tunggu sampai hidup kita mapan’. Kami belum pernah membicarakan ‘mapan’ menurut standar dia atau standarku. Aku bisa hidup dengan keadaan apa pun yang kami hadapi, tapi dia masih punya banyak rencana.

Aku masih selalu berusaha berpikir positif, sampai beberapa bulan yang lalu ketika kami mau berangkat tidur. Aku berbantal bahunya dan memejamkan mata, mendengarkan detak jantungnya seperti biasanya.

“Dee, apakah kamu masih mencintaiku?”

Aku mengangkat kepala dan memandangnya, “Tanya apa kamu barusan? Tentu saja masih”

“Sorry. Tanya aja”

Dia menarik tangannya lalu membalikkan badan, dan tidur. Atau pura-pura tidur.

***

Tanggal 17 bulan lalu. Kami sedang menikmati candle light dinner yang aku siapkan sejak dua minggu sebelumnya. Perayaan tahun ke lima sebuah perkawinan harusnya romantis. Aku menyiapkan masakan dan gaun terbaikku. Jay, seperti yang kuminta, juga pulang lebih awal.

Dia duduk di seberang meja. Aku meraih tangannya dan menunggu hujan bunga dan gambar hati berkelap kelip di sekeliling kami. Tapi tidak terjadi. Lagu cinta yang kuputar di CD lebih terdengar seperti lenguhan segerombolan sapi. Pewangi ruangan kehilangan kekuatan. Dan aku merasa bodoh.

“Tidak akan berhasil, Dee. Maafkan aku”, kata Jay sambil menarik tangannya.

Aku berusaha untuk tidak menangis. Tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

“Kenapa, Jay? Apa yang salah? Apa yang sudah kulakukan?”

Dia menggeleng dan menghela nafas.

“Entahlah Dee. Aku tidak bisa bilang apa yang salah. Atau apa yang sudah kau lakukan. Tidak ada yang salah, dan kau tidak melakukan apa-apa. Tapi rasanya sudah tidak benar lagi. Aku tidak bisa lagi merasa nyaman berada di dekatmu. Aku… aku sudah tidak punya lagi..”

“Kamu tidak punya apa?”

Aku menyesal bertanya. Dia tidak lagi punya perasaan apa-apa padaku.

Bagiku ini tidak masuk akal. Selalu ada alasan untuk setiap hal. Aku siap untuk alasan terburuk. Makanya aku tidak sakit hati sama sekali ketika aku, dari sudut kafe yang aku tahu sering dia kunjungi sepulang kerja, melihatnya mengecup kening sahabatku.

***

“Please Dee, aku tidak bisa”

“Aku tidak akan meminta apa-apa lagi setelah ini, Jay. Beri aku untuk terakhir kalinya sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk pergi”

“Dee, kalau pun aku melakukannya, pasti bukan dengan cinta, aku tidak mau menyakitimu dengan cara itu. Aku…”

“Aku tidak peduli. Biar cintaku yang akan mewarnainya. Please…”

Jadi kami melakukannya. Aku, sesuai janjiku, menumpahkan segenap cinta yang kupunya untuknya. Hingga menangis.

“Kenapa kamu menangis? Ya kan? Harusnya aku tidak mau, kalau akhirnya hanya membuatmu menangis”, Jay kelihatan merasa bersalah.

“Pernah dengar ‘air mata bahagia’ ?”

Dia percaya itu air mata bahagia. Tapi aku tahu air mata apa itu sebenarnya.

Kami sudah pergi ke konsultan perkawianan dua minggu terakhir. Tidak berhasil, Jay sudah benar-benar kehilangan keinginan untuk tetap bersamaku. Aku tidak tahu harus pakai cara apa lagi…

***

Dia sedang mengemasi barang-barangnya. Tidak ada yang tertinggal di lemari bajunya, dan tidak ada kata-kata.

“Jay…”

Dia masih belum menjawab.

“Jay please. Aku hanya melakukan apa yang kupikir bisa mencegah kepergianmu. Tolong beri aku kesempatan…”

Dia berjalan ke sana ke mari mengambili barang-barang dan memasukkan ke kopernya, sementara aku terus mengikutinya di belakangnya, memohon kesediaannya untuk tetap tinggal.

“Jay… kupikir akan menyenangkan kalau kita punya bayi. Nanti kamu akan jadi ayah… kita akan jadi keluarga yang lebih lengkap. Kita bisa mulai lagi. Aku janji…”

Dia berbalik dan berteriak, “Well you thought wrong! Sekarang tolong minggir supaya aku bisa cepat selesai beres-beres dan pergi”

Aku minggir. Aku duduk di tepi kasur. Aku melihat dia menyelesaikan berbenah. Aku melihat dia keluar kamar.

Aku tidak mengikuti. Aku tidak mau melihatnya keluar rumah…

*******************************************************

tulisan ini terilhami prompt ‘sundayscribbling’ #153 Listen up, because this is important!

postingan ini adalah versi bahasa-ibu ku. respon langsungku kutulis di blogku yang ini dalam bahasa inggris yang terbatas, seperti biasanya.🙂

17 thoughts on ““Jay, tolong dengar, ini penting…”

  1. hmm….realita kehidupan yg tak terbantahkan, berulang dan terus berulang, terjadi ketika seonggok daging hanya terbungkus nafsu…..tanpa keimanan !!

  2. memang biduk tak selalu mulus,
    kadang pusaran air, ataupun batu karang menghadang.
    tapi jangan biarkan bidukmu tenggelam.
    pastikan layar selalu terkembang, menuju daratan impian.

  3. aku masih kecil ga tau apa2…

    duh, aku jadi inget ceritaku ma mantanku, dia sayang ma aku dengan sepenuh hati, tapi aku ga bisa bales apa apa…hiks..hehe

  4. @bendol: hamil2an itu bukan hamil beneran?
    @awan: thanks
    @R2G: cool… man. kok jadi berapi2 gitu…
    @genial: monggo
    @uni: gelap mata dan hati un…
    @dheminto, anny, angel: that’s the way life goes..
    @nino: sok kecil ah kamu no!

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s