Kebiasaan Jeleknya

Setelah beberapa waktu lalu aku  mengundang suamiku menjadi guest blogger di sini, kali ini aku mengundang Ibit, putriku, untuk menjadi blogger tamu. Beberapa cerpen yang ditulisnya sudah diposting di blognya, tapi yang satu ini belum. Dan dengan seijinnya, aku tampilkan di sini (tanpa kuedit sama sekali). Selamat menikmati.

***

Namanya Andi. Kebiasaan jeleknya adalah tidak ikhlas. Namun hal-hal lainnya masih baik bagi teman-temannya. Hanya saja, kadang dia pelit kalau sedang sebal pada hal sepele.
Suatu hari. Andi bermain catur di perpustakaan bersama kedua sahabatnya, Indra dan Hendi. Hendi yang tidak bisa bermain catur hanya melihat Indra dan Andi sambil membaca buku. Tapi tiba-tiba bel berbunyi.
TEEETTT!!! TEEETTT!!! TEEETTT!!! Bel berbunyi tiga kali. Andi dan Indra membereskan catur. Dan Hendi mengmbalikan buku dan meminjam satu buku yang berjudul ‘Kalista, si tukang potong rambut’. Selesai menulis di buk peminjaman, mereka bertiga keluar perpustakaan.
“Kenapa sih sudah harus bel???!!!….. Padahal aku sudah mau menang!” Gerutu Andi.
“Sudahlah, teman… Itu bukan perlombaan catur, kita hanya bermain biasa. Besok kan bisa main lagi…” Hibur Indra.
“HUH!!!” Andi mendengus kesal.
“Nanti juga ilang marahnya. Hi…hi…hi…” Bisik Hendi kepada Indra.
Memang, Andi anak yang baik hati sebenernya. Kalau udah kesel kayak gitu sih… Beberapa menit nanti juga hilang muring-muring nya itu.
Sampai di kelas, disana sudah ada anak-anak yang sedang mengobrol dengan teman sebangkunya sendiri. Andi sebangku dengan Indra. Sedangkan Hendi sebangku dengan Reza. Saat melihat rambut berjalan di jendela, Andi berteriak…
“Pak Habibie datang!!!” Teriakannya kencang sekali! Hingga semua anak yang mendengarnya langsung kaget dan terdiam.
“Selamat siang, anak-anak! Bagaimana istirahat kalian tadi, hah?” Yanya Pak Habibie.
“Selamat siang, pak. Alhamdullilah, luar biasa, Allahu akbar!” Anak-anak sangat semangat belajar bahasa Indonesia dengan Pak Habibie.
“Apakah kalian sudah belajar untuk ulangan hari ini?”
Anak-anak mengangguk, berarti pertanda ‘sudah’ atau ‘ya’. Pak Habibie membagikan buku ulangan.
“Hari ini, ulangannya membuat cerita. Baik cerita karangan, cerpen, atau cerita pengalaman. Waktunya satu jam.” Kata Pak Habibie. Semua anak mengerjakan tugas dengan baik dan tidak ada yang menyontek. Andi membuat cerpen. Dia membuat cerpen yang berjudul ‘uang melayang, karena boros’. Sampai saatnya waktu pulang, mereka sudah selesai ulangan. Setelah itu, mereka berdo’a, dan pulang.
Andi, Indra, dan Hendi pulang bersama. Selain bersahabat, rumah mereka pun berdekatan.
Saat di tengah jalan, mereka bertemu pengemis di dekat pembuangan sampah. Indra dan Hendi memberi pengemis itu uang, mereka sangat ikhlas.
“Buat apa ngasih uang ke pengemis? Buang-buang uang tahu!” Kata Andi. Tapi tiba-tiba… Pak Eko, guru agama mereka berjalan di dekat mereka.
“Ah! Ngasih uang aja! Biar dilihat pak guru, kalau aku adalah anak yang suka berbagi.” Andi cepat-cepat mengambil uang seribuan dari sakunya, dan menaruh uang itu di atas tangan pengemis dengan sopan. Tapi sangat sial! Ternyata Pak Eko mendengar semua perkataan Andi barusan!
“Andi! Apa yang kamu lakukan?” Tanya Pak Eko sedikit galak.
Wah, jangan-jangan… Pak Eko tahu kalau aku memberi uang pada pengemis ini tidak ikhlas. Hanya ingin dilihat oleh guru. Uh, sial! Batin Andi.
“Eh, oh! Saya hanya memberi uang pada pengemis ini kok, pak.” Jawab Andi tegang.
“Apakah dengan ikhlas? Hati yang kasihan? Dan ingin mengasihani pengemis itu?” Pak Eko bertanya lagi. “Jujurlah Andi!” Pak Eko mulai naik darah.
“Maaf, pak. Memang, saya hanya memberi uang ini hanya agar Pak Eko mengira saya adalah anak yang suka berbagi dan suka memberi.” Andi menyesali perbuatannya. Tak terasa, air matanya menitik di pelupuk matanya.
Setelah Pak Eko pergi, Indra dan Hendi menghibur Andi.
“Makanya, kalau mau berbuat baik itu, harus ikhlas! Kalau nggak ikhlas, nanti dapet sial. Tuh buktinya! Udah Adzan tuh! Kita sekalian sholat Dzuhur aja yuk!” Ajak Hendi. Mereka bertiga pun menuju masjid di dekat pembuangan sampah. Sambil menyejukkan hati, Andi berdo’a agar terlindung dari godaan setan.

Advertisements

14 thoughts on “Kebiasaan Jeleknya

  1. @cinderella: o ya? sekarang masih ngga?
    @bie: bisa ah. belum pernah nyoba aja kali
    @edy: ikut2an emaknya dia… 😀
    @tuyi: makasih om…
    @R2G: ikhlas ngga ikhlas terima kasih… 😀
    @humor: iya. cerpen yang satu ini sederhana tapi pesannya lumayan berat. makanya kupilih buat diposting di sini…

  2. @cengkunek: gimana kalo cerpennya tentang cerita sedih, seram atau sadis? indah juga kah?
    @idana: dicoba terus mbak, lama2 pasti bisa
    @wongbagoes: pasti bisa ah, semua orang bisa…
    @cahsholeh: aku tahu 🙂
    @achoey: bener kang. kadang orang komen di blog pun diragukan keikhlasannya, misalnya mengharap komen balik di blognya, hihihii *ngaku*

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s