Pssst…. jangan cari aku (1)

Psst…. jangan cari aku.

Untuk sementara aku akan menghilang.
Begitu kata Rey. Katanya sekarang keadaan sedang berbahaya. Dia sedang diincar musuh-musuhnya.

Huh. Aku betul-betul tidak mengerti politik. Rey memang sering bercerita tentang intrik yang terjadi di kalangan pengusaha dan pejabat. Dan aku paham semua yang diceritakan Rey. Yang aku tidak mengerti, kenapa mereka harus melakukan itu? Sikut sana sikut sini. Menjatuhkan orang lain demi melindungi diri sendiri.

***

Sejak dua bulan yang lalu Rey melarang aku menghubunginya. Tidak boleh menelpon. Katanya telponnya disadap. Tidak boleh sms, katanya itu juga bisa dilacak.

“Ingat kasus tertangkapnya Tommy?”, katanya.
Email juga tidak boleh.
“Masak sih sampai begitu?”, tanyaku.
“Aku tidak tahu dengan siapa aku berhadapan. Aku tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Kalau mereka tahu tentang hubungan kita, itu bisa dijadikan bahan ancaman buat menekanku”
“Mereka bisa melacak email?”
“Mereka mengawasi aktivitas internetku. Mereka punya hacker yang bisa membobol semua passwordku”

Aku kelu membayangkan tak bisa berkomunikasi dengan Rey dalam bentuk apa pun.
“Sayang, apa kamu berbuat kesalahan?”
Rey terdiam sebentar.
“Sebenarnya bukan aku. Aku sudah melakukan semuanya sesuai prosedur. Tapi di atasku ada kekuatan yang bisa membolak-balik fakta. Kamu tahu. Uang dan kekuasaan bisa melakukan segalanya”
“Kamu difitnah, begitu?”
“Tidak persis begitu. Anggap saja aku akan jadi tumbal demi keselamatan pihak-pihak tertentu. Hanya dijadikan kambing hitam. Tapi konsekuensinya, aku bisa masuk penjara. Kalau itu terjadi, kita tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang sangat lama….”

Aku tidak mau Rey dipenjara. Kasihan. Aku tidak mau tidak bisa bertemu dengannya untuk waktu yang sangat lama….
“Sampai kapan?”, tanyaku lagi.
“Apanya?”
“Pemeriksaan KPK terhadapmu”
“Mungkin selesai satu dua minggu. Tapi kalau aku berhasil lolos dari mereka pun, kita tidak bisa langsung semaunya, harus tetap hati-hati dulu sampai aku yakin pihak yang ingin menghancurkan aku berhenti berusaha melakukannya”

Aku merajuk. Rey mengelus kepalaku.
“Tolong Na, mengertilah. Aku meminta ini juga demi keselamatanmu. Aku tidak mau kamu ikut terbawa masalahku. Jangan sampai Fad juga tahu tentang ini”
Jantungku berdegub kencang. Fad.
“Rey, apa maksudmu… Fad…”
“Tidak sayang. Ah.. Entahlah. Mungkin”
“Apa Fad punya lebih banyak uang dan kuasa dibanding denganmu?”
Rey menggeleng, “Secara kasat mata kami selevel. Hanya saja aku swasta dan dia pejabat negara. Tapi aku tidak tahu siapa di balik semua ini. Bisa saja mereka meminta bantuan dari Fad”

Itu percakapan terakhir kami. Rey menjemputku di sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Lalu kami berkendara saja berkeliling sambil bicara. Itu pun, kata Rey, dia penuh cemas. Padahal biasanya kami ke mana-mana. Kadang bahkan menginap ke luar kota. Tapi seperti kata Rey, keadaan sedang berbahaya.
Aku diturunkan di perempatan jalan di pinggir kota. Itulah terakhir kali aku melihatnya, sebelum akhirnya aku pulang dengan angkutan umum.

***

Kurebahkan badan ke kasur. Mencoba menerima kenyataan yang dipaparkan Rey. Kuingat lagi semua yang pernah kami lewati. Rey tahu pasti betapa aku harus benar-benar berhati-hati. Selain agar jangan sampai ketahuan oleh istrinya, hubungan kami juga tidak boleh tercium Fad.

Fad adalah direktur di sebuah departemen kementrian. Kami bertemu di pub tempat aku menyanyi. Sebenarnya dia tidak terlalu sering berkunjung. Tapi baginya, rupanya aku istimewa. Dia memperlakukan aku istimewa juga, dan menghormatiku, bukan merendahkan seperti pengunjung pria kebanyakan. Seiring waktu dia mulai mendekatiku. Aku hanya anak desa lulusan SMA. Rasanya seperti ketiban durian runtuh, maka aku langsung mengiyakan ketika dia mengajakku menikah siri, meskipun aku tahu dia sudah punya istri.

Istrinya entah tahu atau tidak. Aku yakin tidak, karena Fad juga memintaku untuk tidak membiarkan oang lain tahu tentang pernikahan kami, kecuali kedua orang tuaku dan beberapa kerabat dekat. Tapi bagi Fad, aku, juga Rey, menikah siri sudah sah di mata agama. Karenanya Rey juga tidak bisa main-main dengan Fad, karena bagaimana pun di mata kami bertiga, aku adalah istri Fad.

Rey seorang pengusaha ternama. Dia punya sebuah bank yang cukup besar. Ditambah lagi banyak bisnis lain yang dia sebut ‘kecil, cuma sambilan’.
Dia juga pengunjung di pub yang sama. Tadinya aku tidak terlalu paham dia siapa. Rey hanya memperkenalkan diri sebagai seorang pengangguran. Tentu saja aku tidak percaya. Dan tidak peduli. Aku jatuh cinta padanya, itu saja.

Ketika aku tahu siapa Rey sebenarnya aku hampir mundur. Dia mendekatiku tapi aku tidak berani menanggapi karena minder dengan pekerjaanku. Posisinya dan posisiku. Tapi Rey selalu meyakinkan aku untuk tidak memandang dia seperti itu. Dia meminta aku melihatnya sebagai laki-laki biasa yang sedang jatuh cinta. “Karena aku juga mencintaimu apa adanya”, katanya.

Rey juga sebelumnya tidak tahu bahwa aku sudah dinikah siri oleh Fad. Aku yang mengaku. Karena pikirku, gila aja kalau aku harus jadi simpanan dua orang sekaligus. Tapi kata Rey, dia akan menghormati Fad yang sudah berniat baik dengan tidak sekedar memacariku. Jadi dia tidak akan menuntutku menjadi lebih dari yang dia berhak.

Omong kosong. Sebenarnya dia tidak punya hak apa pun atas aku, kan?

Tapi aku jatuh cinta setengah mati pada Rey. Sumpah. Dengan Fad aku masih ada motivasi mata duitan. Rumah ini Fad yang belikan, seisinya. Motorku juga. Aku mendapat jatah uang bulanan. Juga untuk belanja pakaian, ke salon, dan bersenang-senang dengan teman-teman.

Hey, apa lah aku ini? Cuma penyanyi bar. Kalau mau makan honor menyanyi saja, aku tidak akan bisa sefoya-foya sekarang. Bukan… bukan maksudku semua penyanyi bar mencari penghasilan tambahan seperti aku. Aku tahu banyak teman yang tetap profesional dan memilih mencari pekerjaan lain untuk menambah penghasilan.

Hanya saja dengan Rey aku merasa beda. Aku sama sekali tidak pernah minta apa pun darinya. Bagiku dicintainya sudah berharga segalanya. Dia membuatku merasa lebih berharga, sementara banyak orang justru menganggapku hina. Apa dia mencintaiku? Setidaknya itu yang dikatakannya padaku. Dan kupikir juga begitu. Kalau tidak, mana dia mau menyisihkan waktu untuk bertemu denganku, di sela kesibukannya yang luar biasa? Mana dia punya waktu untuk memberiku kejutan-kejutan manis yang melambungkan aku ke angkasa?

Tidak, kejutan dari Rey beda dengan yang diberikan Fad. Rey tidak memberiku uang atau permata, atau baju atau sepatu. Dia memberikan kehadiran ketika kupikir dia tidak bisa. Dia muncul ketika aku putus asa merindukannya.
Dia memberiku kasih sayang, bukan hanya mengajakku bercinta memuaskan nafsu lelakinya….

bersambung ke:  *pssst…. jangan cari aku (2)*

12 thoughts on “Pssst…. jangan cari aku (1)

  1. perempuan seperti itu.. disatu sisi beruntung disisi lain menjadi hina dimata masyarakat. beruntung, karena ada banyak lelaki berduit yang sudah beristri mencintainya… murni mencintainya..

    mba la,,,
    bukan aku sedang berbohong,
    tapi aku juga sedang diposisi itu. walau tidak sampai dinikahi siri…

    dan hingga sekarang aku belum ambil keputusan.
    salahkah cinta itu hadir mba ?

  2. entah mengapa, tiap kali baca tulisanmu baik puisi maupun cerpen kok jadi terhanyut ya.. pernahkah dikirim ke majalah atau media apa gitu ?
    sukses deh n lannjuuuuuut!!!!

  3. @lowo dan satrio: penulis tidak kecewa meskipun pembaca tidak melihat link ke sambungan yang sudah disediakan😀
    @wongsableng: kebiasaan😛
    @cahsholeh: mungkin ya…
    @easy: cinta sih katanya tidak pernah salah. cuma mungkin kita yang salah tempat naruhnya😀
    @dheminto: ati-ati terhanyut, di depan ada air terjun, ayo cari pegangan🙂. thanks..

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s