Pssst…. jangan cari aku (2)

*baca dulu cerita sebelumnya*

Pagi itu, sekitar delapan bulan yang lalu. Fad sedang kunjungan ke luar propinsi. Rey juga pamit begitu ke istrinya. Rey tidak bohong, hanya saja dia menyisihkan satu malam dari hari kunjungannya itu, untukku.

Aku dan Rey di sebuah villa di bukit. Kami masih kelelahan setelah percintaan liar malam sebelumnya. Aku masih meringkuk di lengannya.
“Untung aku bukan menteri”, katanya.
“Kenapa memangnya?”, tanyaku.
“Kalau aku menteri, pasti semua tindakanku diawasi, aku tidak akan bisa punya kamu….”, dia mengecup rambutku.
Tuh, kan. Kata-katanya yang sederhana seperti itu yang membuatku mati kutu.
“Tapi kamu juga pengusaha terkenal”
“Masih kurang terkenal, buktinya kamu tidak tahu siapa aku, dulu”
Aku mengikik kecil, menggigit lehernya, malu.
“Pengusaha, tidak serawan menteri. Asal kita berhati-hati, kita akan bisa terus bersama”, katanya lagi.
“Sampai kapan kamu ingin bersamaku, Rey?”
“Selamanya….”

***
Nyatanya baru setahun lebih sedikit sejak kami berkenalan. Tiba-tiba aku harus menarik diri karena dia sedang diawasi. Terlibat dalam sebuah kasus dugaan korupsi. Aku sudah melakukan yang dia minta, untuk tidak berkomunikasi dengannya. Rinduku padanya meronta-ronta. Kadang aku tidak bisa menyembunyikan kegelisahanku dari Fad. Aku bisa merasa dia curiga. Tapi dia mau apa? Karena justru saat ini tidak ada sesuatu yang kulakukan yang bisa membawaku pada tuduhan main di belakangnya.

Dia lebih sering memantauku, aku di mana, dengan siapa, sedang apa. Dan aku sama sekali tidak pernah berbohong menjawabnya. Karena walaupun aku ingin, aku tidak bisa bersama Rey-ku cinta….

***
Aku menitip pesan kepada seorang teman. Rinduku tak tertahan. Aku ingin bertemu Rey. Jawab Rey, kata temanku itu, ‘belum bisa, keadaan masih kacau’

Lalu kulihat di televisi, Rey berjalan didampingi istrinya. Mereka bergandeng berpeluk mesra. Menjawab pertanyaan wartawan seputar kasus yang sedang melibatkannya.
“Insya Allah saya bersih”, katanya, menebar senyumnya yang menjerat aku dulu, lalu sekilas mengecup kening wanita di sampingnya.

Keadaan sudah baik. Mestinya Rey segera menghubungiku. Tapi tidak kunjung juga. Aku tidak mungkin muncul di depan kantornya. Apalagi di depan rumahnya. Aku nekat mengirim email padanya, tapi sia-sia. Aku mencoba menelponnya, tapi sepertinya, nomorku diblacklist. Aku mencoba menelpon dengan nomor lain, tapi tidak diangkat. Dia pasti bisa menduga itu aku.

Lemas aku.

***

Aku masih menunggu Rey berhenti menyembunyikan diri dariku. Bertahan berpura manis di depan Fad. Sedangkan hatiku tersiksa luar biasa. Aku berharap Rey hanya sedang menunggu suasana menjadi tenang. Aku tidak lagi mencoba mencarinya. Hanya menunggu dia menemuiku. Kembali padaku seperti yang dijanjikannya dulu.

Tiba-tiba uang dan kesenangan tidak ada artinya. Semua yang diberikan oleh Fad terasa seolah hanya untuk membeli tubuhku. Dan memang itulah yang kulakukan. Menjual apa yang diinginkan Fad dariku.
Tapi Rey tidak begitu. Rey mencintaiku. Rey menyayangiku. Rey berjanji akan melindungiku. Dia takut kehilangan aku. Dia bilang begitu.

Dulu pernah suatu masa, aku merasa tidak semestinya menjalin hubungan dengannya. Waktu itu masih sangat mula. Fad membaca gelagat tidak beres padaku. Lalu aku menghindari Rey. Beberapa waktu tidak menghubunginya. Rey mengirim sms padaku, ‘aku lelah, jenuh. sepertinya aku butuh yang perhatikan aku’

Lagi di suatu hari. Rey berkata bahwa istrinya curiga.. Lalu aku meminta pada Rey untuk berhenti saja, daripada mengacaukan semuanya. Dia diam saja. Tiba-tiba beberapa hari kemudian dia berkirim kabar, bahwa dia baru saja ambruk di kantor dan terpaksa digotong ke rumah sakit oleh stafnya.

“Kamu kenapa, Rey?”, tanyaku waktu itu lewat telepon. Aku sangat khawatir dengan keadaannya.
Dia bercerita tentang suatu penyakit dalam tubuhnya. Semacam kanker atau apa. Istrinya tidak tahu dia mengidapnya, padahal penyakit itu mengancam nyawanya.

“Kenapa kamu tidak beri tahu istrimu?”
“Aku tidak mau membuatnya khawatir….”
“Kenapa kamu beri tahu aku? Kamu tidak peduli aku khawatir?”
“Karena aku butuh seseorang untuk mendengarkanku. Aku tidak sanggup menyimpan ini sendiri. Dan aku percaya padamu”

Selalu begitu. Setiap kali aku ingin pergi, Rey membuatku tak bisa lari.
“Aku merasa kau selalu berusaha membuatku tinggal, setiap kali aku ingin pergi”, kataku padanya suatu hari.
“Kamu tidak tahu betapa takutnya aku kehilangan kamu….”
Dia memenangkan hatiku. Aku pun menjadi tak bisa membayangkan kehilangan dia.

Aku ingin Rey. Aku ingin Rey. Aku ingin Rey….
Aku ingin lagi kelembutannya. Aku ingin lagi mendengar tawanya. Aku ingin lagi kejutan manisnya. Aku ingin dia.
Aku ingin lagi dicintainya. Bukankah katanya, dia ingin bersamaku selamanya?

***

Entah telah bulan ke berapa. Rey menghilang entah ke mana. Kabarnya usai kasus yang membebaskannya itu, dia pergi ke luar negeri bersama keluarganya. Semua bisnisnya di Indonesia di-handle dari sana.

Aku terbiar terluka. Dan aku masih terus membohongi diri. Bahwa Rey akan datang suatu hari nanti. Meski jauh di lubuk hati aku tahu, bisa seumur hidup aku menunggu.

Satu-satunya penghiburanku, adalah pikiran yang kutanamkan di benakku, bahwa aku memang perempuan jalang yang tak pantas menerima, dan memberi cinta sejati. Persetan dengan segala omong kosong tentang ketulusan. Karena pada kenyataannya aku tak lebih dari, seorang pelacur yang menjajakan diri, sembunyi-sembunyi.

Anggap saja aku telah menjadi tumbal demi keselamatan pihak-pihak tertentu.

Advertisements

23 thoughts on “Pssst…. jangan cari aku (2)

  1. mengasyikkan membaca cerita percintaan dengan intrik-intrik yang menyertainya, perlu ditambahkan hal-hal yang membuat pembaca menjadi masuk lebih jauh kedalam cerita…. 🙂

  2. @R2G: thanks masukannya
    @omwarm: kok bisa? ini kan bukan cerita hantu?
    @bendol: eh yang suka humor masak mau nangis…
    @phery: super siyallll!!!
    @madi: sengaja, biar serem. makasih sudah mampir 🙂

  3. aku tidak ingin bernasib seperti ini.

    seandainya perempuan itu dinikahi secara sah, dan dipublikasikan bahwa ia juga istri yang sah…

    apakah cinta itu masih salah hadir ketika ia sudah memiliki istri ?

  4. @ichanx&tuyi&annosmile: *kasih tisu*
    @satrio: ga jadi misuh 😉
    @cinderella: thanks
    @easy: itu relatif sekali ease, tergantung pribadi masing2 bisa menerima atau tidak. aku sih tidak… maaf.
    @dheminto: thx, semoga ada hikmah yg bisa diambil dari apa yang kutulis
    @uni: wa ‘alaikum salam uni, thx. ini kan juga udah jadi cerpen, udah 8 halaman kuarto 1,5 spasi lho 🙂

  5. jawaban mba la bener. tetapi terlalu menusuk. mungkin memang tidak seharusnya aku menerima cinta itu. mungkin juga aku yang hina menjalani cinta yang seperti itu.

  6. @cesnez: ya… nunggunya sambil ngapa.. gitu, biar ngga terlalu nglangut, kalo perlu lupa.
    @ease: maaf say, bukan bermaksud begitu. siapa tahu yang di sana lebih berlapang dada dan bisa menerima, jadi easy tetep bisa menerima cinta itu. aku berdoa yang terbaik untukmu… jangan sedih ya…
    @nA: makasih, baru belajar ini…
    @abrus: belum kejedhut aja kali…
    @lintang: betul sekali mbak, makanya kita harus pandai-pandai meletakkan di mana dia..

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s