Hantu Dikejar Hantu

*oleh-oleh perjalanan ke Wonosobo*

rumpun bambu


“Aku tidak ikut,” kata Sri.

Jalan setapak yang mereka susuri terputus karena longsor. Hampir satu meter. Pak RT baru saja melompatinya, berdiri di seberang longsoran. Jalan sesudah itu kelihatannya lebih terjal, dan semaknya semakin rimbun.

“Tanggung, Mbak. Sedikit lagi kita sampai di sumber airnya,” kata Agus.

Sri menggeleng, “Aku tidak berani. Kalau kalian mau ke sana silakan. Aku tunggu di sini.”

“Longsoran ini, bagian dari saluran yang mau diperbaiki bukan?” tanya Mano.

Agus mengiyakan. “Dan nanti akan dialirkan lewat saluran ini,” katanya sambil menunjuk parit kering di tepi tebing, sejajar dengan jalan setapak itu.

“Kalau begitu cukup. Kita balik saja,” Yanto akhirnya memutuskan, “Mano, kamu ambil gambarnya.”

Mano mengambil gambar saluran, lereng yang longsor, dan Pak RT yang berdiri di bagian yang lebih tinggi.

“Hei, kamu ambil foto sungai di bawah sana itu, supaya terlihat kita di tepi jurang,” kata Sri. Mano menurutinya. Lalu mereka berbalik arah, kembali ke arah desa.

Di sebuah rumpun bambu Mano berhenti.

“Ada apa?” tanya Agus.

“Tidak ada apa-apa. Bapak-bapak duluan saja. Saya cuma mau motret sebentar di sini,” jawab Mano, “Mbak, tolong ambilkan gambarku ya,” lalu diulurkannya kameraphone andalannya kepada Sri.

Sri mengambil foto Mano yang bergaya ci-luk-ba di rumpun bambu. Berdua mereka melihat hasilnya, dan puas.

“Kamu berani, Mbak,” kata Agus ketika mereka kembali berjalan.

“Kenapa Pak?” tanya Mano curiga.

“Tidak…”

“Kenapa?”

“Ah…”

“Apa ada….?”

“Banyak Mbak, di tempat ini,” Pak RT yang menjawab.

Bulu kuduk Mano meremang. Tiba-tiba teringat olehnya kata Bapaknya, rumpun bambu adalah tempat yang sering ditinggali makhluk halus.

“Dik…,” Sri memandang Mano, sama pucatnya. Tapi Mano sok baik-baik saja, “Sudahlah Mbak, ngga papa, ayo jalan lagi.”

“Pak Agus, tunggu! Aku ngga mau jalan di belakang, njenengan saja!”

Agus berhenti sebentar, membiarkan Mano dan Sri berjalan lebih dulu. Yanto sudah di depan. Sebenarnya Mano masih belum hilang merindingnya. Dia berusaha mengalihkan perhatian dengan menimpali pertanyaan-pertanyaan Sri kepada Agus tentang saluran yang akan dibangun itu.

Mereka sempat berhenti sebentar, menyapa seorang petani yang sepertinya juga sedang bersiap-siap pulang. Sudah jam lima lewat. Langit mulai gelap, sebentar lagi senja turun. Terdengar suara garengpung meraung-raung menggema di langit-langit hutan. Lalu pembicaraan pun berganti membahas binatang sekecil jempol tangan yang bersuara keras luar biasa itu.

Yanto tetap di depan, diikuti Sri, lalu Mano, lalu Agus dan Pak RT di belakangnya. Ketika tiba di rumpun babmu terakhir di pinggir desa, tiba-tiba Agus membungkuk, jalannya memelan, kedua tangannya memegang kepalanya, lalu berbisik kepada Mano, “Mbak Mano, lari. Lari, sekarang!”

Mano berbalik melihat Agus, dan bertanya, “Apa? Kena…”

“Lari!”

Mano berlari. Mendahului Sri dan Yanto, lalu menuruni jalan menuju ke desa, dan dalam sekejap menghilang. Agus berdiri tegak lagi, memandang Mano yang terus berlari. Bersama yang lain dia terus berjalan pelan menuju desa.

“Pak Agus, ke mana Mano?” tanya Sri ketika mereka sudah memasuki perkampungan dan tidak melihat Mano. Agus bertanya kepada beberapa penduduk di jalan yang dilewati, “Lihat mbak-mbak lari lewat sini?” Tapi tidak ada yang lihat.

Sri mencoba menghubungi Mano lewat handphonenya. “Tidak bisa dihubungi Pak.”

Agus dan Pak RT kembali ke arah hutan, mencari Mano. Sri masih menunggu di situ bersama seorang Ibu. Yanto berjalan terus ke arah mobil mereka.

***

Demi melihat Agus yang membungkuk melindungi kepalanya, dan caranya yang setengah berbisik menyuruhnya berlari, Mano langsung merinding. Tanpa pikir panjang dia berlari. Dia merasa, sesuatu entah apa, telah membuat Agus bersikap seperti itu. Dan sesuatu itu mengejarnya. Dia tidak berani menoleh ke belakang. Tubuhnya gemetar dan bulu kuduknya meremang. Langkahnya sama sekali tak mengalami kesulitan menuruni jalan yang cukup terjal berbatu. Jalan kampung bermakadam yang tadi waktu berangkat terasa sulit dilewatinya, tiba-tiba terasa menjadi pasangan paving yang rata, seolah dia bisa terbang di atasnya.

Ketika mulai memasuki perkampungan, tak lagi dirasakannya sesuat yang mengejarnya itu. Tapi dia terus berlari menuju mobilnya. Terengah-engah diintipnya ke dalam, tampak Pak War sedang duduk di kursi pengemudi. Segera dibukanya pintu samping kiri, masuk, duduk, dan ditutupnya kembali.

Nafasnya masih tersengal. Badannya masih gemetar. Jantungnya masih berdegup kencang. Perlahan diambilnya Handphone di sakunya, menelpon Bapak untuk menenangkan dirinya.

“Bapak…”

Lalu diceritakan apa yang baru dialaminya. Bapak menyuruhnya membaca Al Fatihah dan tiga surat pendek plus ayat kursi.

“Hapal kan?” tanya Bapak

“Harusnya, tapi ngga tahu kalau nanti jadi kamisol-solen” jawabnya.

Ditutupnya handphonenya, menyandarkan tubuhnya, lalu memulai bacaannya. Tidak lama dilihatnya Yanto datang, diikuti Sri dan yang lain. Dibukanya pintu mobil.

“Hei, kamu tadi ke mana?” tanya Sri.

“Pak Agus menyuruhku lari, jadi aku lari sampai ke sini”

“Kamu lari cepat sekali. Kami mencarimu. Pak Agus sampai balik ke tepi hutan lagi, karena orang-orang di jalan yang kita lewati tidak melihat kamu lewat”

Mano memandang Agus, Pak RT dan Yanto bergantian. Tapi ketiganya Cuma tersenyum.

“Kenapa pak Agus tadi menyuruh saya lari?” tanya Mano.

“Ada tawon.”

“Tawon? Tawon apa? Kenapa saya yang disuruh lari?”

“Tawonnya… mau menyengat Mbak Mano”

Mano memandang Pak RT, “Benar Pak?,” tapi beliau diam saja.

Yanto berpamitan kepada Agus dan Pak RT. Sri dan Mano juga. Sri dan Yanto masuk ke dalam mobil, dan Pak War membawa mereka meninggalkan desa itu.

“Mbak Sri… Benar tadi itu tawon? Mbak Sri lihat tawonnya?” tanya Mano ketika mereka sudah agak jauh dari desa.

“Uhm… Tidak…”

Sejenak mereka diam. Mobil menyusuri jalan yang berkelok. Senja mulai turun, hari benar-benar mulai gelap. Dari jauh terdengar adzan maghrib mengalun.

“Mbak, fotoku di rumpun bambu tadi, kuhapus…” kata Mano.

“Kenapa?” tanya Yanto.

“Ngga tahu, tiba-tiba aku ngeri melihatnya”

27 thoughts on “Hantu Dikejar Hantu

  1. Hi..hi….cerita yang alirannya ringan dan menghibur🙂
    Bikin baca sampe tuntas tapi ingin ada kelanjutannya , gimana nih ???

  2. @warm: nyata.
    @awal sholeh: silakan ketawa…😀
    @uni: sayang sudah kuhapus. nyesel juga sih. tapi takutnya pas dibuka ada gambar sosok lain selain aku… hiy…
    @bendol: bukan tawon. Aku dan Sri dan Yanto yakin ndak lihat tawon, tapi Pak RT dan Agus juga ga mau jelasin apa sebenarnya yang mereka lihat…
    @djayarus: terima kasih
    @anny: udah selesai, mau dilanjutin gimana lagi?😀

  3. @fenty: bukaaaaan… ngga ada tawon!
    @ario: boleh ngaka deh, mumpung belum ngalamin sendiri..
    @satrio: itu foto lokasi beneran. tapi foto yang aku lagi cilukba udah dihapus… *nyeseldotcom*
    @SDSA: ok
    @ika: terima kasih…
    @goenoeng: boleh dong, mau pake La, Lat, Tree, Mano, Hara, L…😀
    @zulhaq: tul, wonosobo dingiiiin!
    @natazya: kalo rame2 sih masih berani
    @tuyi: ga kelihatan om…

  4. manusia dalam kondisi beriman insyaallah tidak akan diberikan situasi dimana makhluk halus menampakkan wujudnya kepadanya…..
    hmmm….melihat foto diatas jadi ingat masa-masa dimana beberapa hari harus hidup dialam terbuka (pegunungan)…jadi kangen kondisi seperti dalam foto..

  5. hmmm…. kisahnya menarik dan sangat layak dikembangkan jadi cerpen, mbak latree. ini bener kisah2 nyata, kan, mbak. kalau dibumbui sedikit imajinasi, pasti akan jadi sebuah cerita yang bagus dan memikat.

  6. @AeArc:🙂
    @R2G: hm… aku ga lihat. tapi pak Agus dan Pak RT yang lihat
    @Pak Sawali: hehe.. iya pak, ini sekedar menceritakan pengalaman sejati. belum kebayang nambahi bumbu imajinasi…
    @uni: insya Allah. lagi blank nih uni…
    @lintang: terima kasih. memang agak konyol juga kalu dipikir…😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s