Taste, Honesty, Hospitality

Seperti yang kubaca di tetralogi Laskar Pelangi, hanya sebuah aksesori dari keseluruhan cerita, yaitu tentang penjual kue… (apa ya? lupa). Penjualnya hanya dia satu-satunya, buka dan tutup pada waktu yang sangat terbatas, jumlah produksinya pun terbatas. Sudah begitu penjualnya galak. Tapi tetap saja orang mau mengantri, karena kue bikinan si galak ini benar-benar enak dan tiada duanya.ย  Bahkan setelah si penjual meninggal, tidak ada yang menggantikannya.

***

Ada penjual nasi goreng langgananku. Bukanya setelah jam 9 malam, sampai jam 4 pagi, atau sebelum itu kalau sudah habis. Citarasanya khas.ย  Orangnya ramah. Dan, murah. Aku tidak tahu namanya. Hanya saja, ketika dia mangkal di pekarangan sebuah rumah kosong, pernah pasang tenda bertulis ‘MISBAR’. Aku paham itu maksudnya ‘gerimis bubar’, tapi begitulah aku memanggil beliau: PakMisbar, dan beliau tidak pernah protes.

Beliau beberapa kali pindah tempat mangkal, tapi selalu masih di sekitar pom bensin sana itu. Kalau habis pindah begitu, aku yang bingung mencari ke mana… Nanti setelah beberapa minggu baru ketemu. Oh, ternyata pindah ke seberang. Atau, oh, geser ke sana…

Selain Pak Misbar, di dekat pom bensin itu ada satu lagi pedagang nasi goreng yang mangkal. Hanya saja, pembelinya tidak seramai Pak Misbar. Entah kenapa, aku sendiri belum pernah nyoba beli. Tempat mangkal Pak Misbar yang terakhir, sangat dekat dengan penjual yang satu itu. Hanya berjarak beberapa meter. Jadi terlihat nyataย  timpang pembelinya.

Suatu saat Pak Misbar ‘hilang’ lagi. Aku masih berbaik sangka, dia sedang geser ke suatu tempat deket-deket situ. Tapi sampai hampir dua bulan tidak ketemu. Saking penasaran, akhirnya aku bertanya kepada petugas pom bensin, ke mana kiranya penjual nasi goreng favoritku itu.

“Meninggal, Mbak”

“Meninggal? Kenapa? Sakit? Kecelakaan?”

“Uhm… katanya sih sakit perut. Tapi ada yang bilang, meninggalnya karena dapat kiriman…”

Tidak usah dilanjutkan. Mataku langsung tertuju kepada pedagang di sebelahnya, yang sekarang ramai pembeli. Astaghfirullahaladzim. Aku sempat suudhon. Apalagi ditambah keterangan si petugas pom tentang kiriman itu.

“Mudah-mudahan benar karena sakit, Pak,” kataku. Si petugas hanya mengangkat bahu.

***

Di pom bensin yang lain lagi, ada penjual nasi goreng yang lain juga. Eko. Gerobak mangkal, sama. Tidak seenak punya Pak Misbar, tapi lumayan. Penjualnya juga ramah, lucu, baik hati. Tetep sabar meskipun aku kadang cerewet.

Tidak jauh dari situ, di seberang gang, ada warung tenda nasi goreng juga. Iya, sepi. Lebih banyak yang mengantri si penjual gerobakan. Cita rasa masakannya bukan seleraku. Penjualnya galak dan tidak ramah. Aku beli satu kali, dan tidak pernah ingin balik ke sana lagi.

Sudah beberapa bulan belakangan, gerobak Eko masih mangkal. Tapi yang masak beda. Kalau aku perhatikan, mirip Eko, tapi bukan. Masakannya beda dengan kalau Eko yang masak.

Usut punya usut…

Eko kecelakaan, ditabrak mobil. Patah tulang punggung. Tidak bisa jualan, jadi adiknya yang menggantikan.

Unsur kesengajaan. Dan orang sudah menduga siapa, karena beberapa saat sebelumnya, pemilik warung di seberang gang mendatangi Eko. Memaki-maki, menendang, memukuli.

Sekarang, warung tenda itu tutup. Gerobak Eko masih di sana di pojokan jalan, dijalankan adiknya.

***

Waktu aku kecil, di dekat rumah ibu ada dua warung soto berhadapan. Kata Ibu, pemilik warung yang sepi sering menabur bunga dan kemenyan di dekat warung yang ramai.

Aku juga pernah baca tentang warung makan yang ramai, tiba-tiba masakannya bau bangkai dan tidak dikunjungi orang lagi.

***

Aku berharap semua ini hanya cerita orang. Hanya gosip isapan jempol yang tidak benar. Pak Misbar meninggal karena sakit yang wajar. Dan Eko mendapat kecelakaan, bukan tabrakan kesengajaan. Karena sungguh menyedihkan jika berita yang tersiar itu benar.

Ayolah, jual yang diinginkan pembeli. Rasa, kejujuran, keramahan.

Advertisements

12 thoughts on “Taste, Honesty, Hospitality

  1. yups, kadang kita rela bayar mahal asalakan para penjual tersebut ramah en jujur, iya khan sista? btw, qo komen pertamanya diambil sendiri ๐Ÿ˜€

  2. antara nyata dan tidak tapi ternyata ada , kebetulan
    keponakanku sendiri buka warung setiap habis masak nasi satu jam kemudian nasi udah bau dan berair sampai akhirnya terpaksa di tutup.

  3. Demi materi siapapun akan melakukan apapun demi mendapatkan materi yang dia inginkan,,aku juga enggak kaget sama gituan karena itu sering terjadi didesa akutidak menampik ditipi-tipi juga sering cerita kayak gituan..aku sebenarnya mau posting kayak gitu tapi aku takut kalo sampai ketahuan sama orangnya bisa-bisa aku yang diberi kiriman..sebagai umat muslim kita seharusnya lebih takut sama allah SWT benar bukan??

  4. wallahu a’lam. semoga kita tidak dikirimi yang begituan, naudzubillah. kalo ada yang mau kirim pizza boleh, tidak ditolak sama sekali ๐Ÿ˜€

  5. memang tujuan seorang pembeli adalah pelayanan yg memuas kan. kalau kita udah merasa puas kita pasti jadi ketagian.. betul kan bro

  6. langganan nasi gorengku sepasang suami istri yang sudah berumur, masakannya enak, harganya terjangkau dan porsinya jumbo dibandingkan dengan penjual nasi goreng keliling.
    hal-hal tersebut memang benar ada disekitar kita dan biasanya sama-sama penyuka hal-hal mistis. penjual yang hatinya selalu bertaut dengan Allah SWT tidak akan pernah bisa diganggu dengan “kiriman” seperti itu.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s