antara teroris dan eksibis

aku dan aL berhadapan. meja rendah dengan gelas mungil berisi  minyak. sebuah benang sumbu menyala, terapung di potongan gabus semanggi tiga. kenapa tidak dibikin empat?

aL meniupkan asap rokoknya padaku, aku terbatuk, dia terkekeh.

“aku ingat eksibis di pleburan jaman kuliah dulu,” katanya.

“kenapa?”

“dia suka kalau korbannya menjerit atau ketakutan. tapi pernah ada yang bikin dia langsung mungkret dan pergi. dan setelah itu ngga datang-datang lagi”

“oh ya? siapa? bagaimana caranya?”

“aku. aku lihatin apa yang dia pamerin. sambil aku bilang, barangnya itu jelek, kecil, dan ngga bikin pengen. barangnya yang tadinya tegak langsung mungkret. dianya malu, lalu pergi”

aL terbahak. aku ternganga.

“harusnya orang sinting yang ngebom dua hotel itu dibegitukan juga,” katanya lagi.

“dibegitukan…?”

“dibikin mungkret”

“dengan?”

“menunjukkan bahwa perbuatannya itu cuma tindakan konyol dan ngga berguna,” aL menghujamkan rokoknya ke asbak.

aku menunggu saja. aL sudah mulai mencondongkan badan ke arahku, siap merentetkan banyak kalimat lanjutan.

“aku sebal sama SBY yang takut datang ke lokasi saat itu juga. alasannya lokasi belum steril. pake menunjukkan bukti bahwa dia pernah jadi incaran tembakan maut.”

“wajar kan?”

“enggak!! yang wajar itu kalau dia jadi incaran tembak. karena dia orang nomor satu di indonesia. kalau memang dia takut ditembak ya ndak usah ke mana-mana. ndak usah kunjungan ke daerah pake buka mobil dadah dadah tangan ke orang-orang yang mengelukan dia di sepanjang jalan. diam aja di istana. atau pake mobil anti peluru, kalau perlu baju zirah..”

“dia kan cuma mau waspada aL. dalam keadaan normal dia bisa bergerak bebas. kalau keadaan khusus begini…”

“dalam keadaan sekarang justru bodoh kalau mau nembak SBY di lokasi bom. banyak pulisi. justru yang terlihat normal dan aman itu yang melenakan”

ketegangan di wajah aL mulai mengendur. lalu dia bersandar. kakinya dinaikkan, dipeluk. matanya terpejam. dan mulai bicara lagi dengan setengah bergumam seperti orang mengigau.

“siapa sih yang bisa meyakinkan dunia bahwa indonesia aman, kalau bukan kita sendiri? konyol benar SBY itu. pura-pura khawatir MU membatalkan kedatangan. tapi dia sendiri tidak bisa meyakinkan bahwa endonesya aman. malah nakut-nakutin dengan dia sendiri tidak berani datang ke lokasi kejadian. ngga usah heran kalau MU ngga jadi datang”

“banyak yang mati aL… aparat kita juga mungkin ngga bisa memberikan jaminan keamanan kalau MU jadi datang”

aL bangun lagi, ganas lagi.

“so what? mati bisa kapan aja, di mana aja. ngga bisa dihindari. memangnya kalau SBY tidak datang ke lokasi, ada jaminan dia akan aman-aman saja? paling tidak jangan bikin citra tidak aman itu semakin nyata. itu yang diinginkan si teroris, ngerasa ngga sih….??” aL menggeretakkan giginya, gemes banget nampaknya.

“kamu kesal karena MU ngga jadi datang?”

“aku tidak terlalu peduli dengan MU. aku kesal karena SBY berhasil ditakuti teroris itu”

tubuhnya menghempas lagi. merem lagi. diam. aku pikir aL benar juga.

berita di tipi masih saja tentang bahan pembicaraan kami juga. kali ini wawancara dengan seorang warga korea selatan, seorang designer yang sedang kunjungan ke indonesia dalam rangka show karyanya. katanya dia sama sekali tidak trauma. sesaat setelah kejadian dia tetap menjalankan misinya, menyiapkan segala yang sudah dia rencanakan. dia juga akan datang lagi ke indonesia untuk show berikutnya bulan depan.

masih dalam keadaan terpejam aL menunjuk ke arah tipi.

“begitu seharusnya. persetan dengan pelaku bom bunuh diri. jangan sampai dia berhasil jatuhkan mental kita. kita yang harus jatuhkan mental dia. bomnya boleh meledakkan kita, tapi jangan sampai dia bangga karena sudah berhasil bikin kita ketakutan. dia bakalan besar kepala dan otaknya jadi lancar merancang aksi berikutnya. harusnya SBY malu sama orang korea itu”

aL tertidur, beneran. ngorok. sialan.

Advertisements

12 thoughts on “antara teroris dan eksibis

  1. Waduuh sinis,, pedes dan mengkritik banget kata-katanya..meski begitu ada benarnya juga dia mengatakan itu,,dia telah mengkritik dengan kata-kata yang benar demi bangsa ini dan itulaah kenyataannya

  2. ehmmm
    mbak 🙂

    Sahabat, makasih atas doanya selama ini
    Insyaallah ini hari terakhir saya tuk bedrest
    Dan esok bisa kembali beraktifitas 🙂

  3. Bagus-bagus-bagus banget ceritanya. Memang seharusnya kita jangan takut dengan kematian. Ia bisa datang kapan dan dimana saja. Tapi susahnya itu kalau kena bom tapi nggak mati ……….. !? Repot, dah sakit, cacat lagi. Itu mungkin yang bikin ogah …………!? Jadi bukannya takut tapi ogah. Beda lho.
    BTW salam kenal!

  4. eh..iya yah…kok aku gak denger berita kl SBY sempet takut dateng ke lokasi krn blm steril. Tp mungkin jg bukan dia yg mengakibatkan ketakutan itu. Mungkin orang2 disekelilingnya yg membuat dia merasa begitu, merasa org penting (Presiden merangkap Capres) hingga dia takut mengecewakan pemilihnya kl dia nanti akhirnya ikutan mati. Tp ya wajarlah….namanya juga manusia punya rasa takut juga….meski sebenarnya kl emang ‘udah waktunya’ seperti yg dikatakan si aL tetep aja akan ‘pergi’. Tp sebagai negarawan memang gak patut itu……

  5. Saya seneng dengan kalimat2 terakhir 🙂

    Dengan teror ini Mental kita memang tidak boleh cengeng….

    tapi tetep waspada itu perlu 🙂

    Salam 🙂

  6. takut dan waspada itu beda. bukan juga harus nantang. at least jangan membuat keadaan tambah buruk, dengan menambahkan ilustrasi yang ngga pas (baca: ngga perlu).

    ini hanya opini dangkal seorang latree.

  7. saya juga sebal sama pemimpin negara ini. but please, for the sake of the people who died because of the love for this fuckin’-god-forsaken-place…
    bisakah menulis nama negara dengan Indonesia?
    ini juga cuma omongan dangkal seorang jalang.

    demikian.

  8. cerita dari zaman dahulu kala :
    seorang sahabat menghindari daerah yang tadinya hendak dia kunjungi karena daerah tersebut sedang dilanda wabah penyakit, dia bukan menghindari maut!.
    Salut buat media yang bisa mendeskripsikan para pemirsanya kepada fikiran yang negatif dan positif terhadap sebuah peristiwa sekaligus.
    parahnya pelaku menjadi sasaran tembak yang beruntun dari kita, media karena keterbatasan kita mencerna setiap yang terjadi…tragis.Dan disudut kegelapan sana senyum sumringah menghiasi bibir sang pembenci sejati.

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s