Kado untuk Cha

*ditulis special sebagai kado special di hari special untuk teman special, Neng Ocha*

“Jangan tidak datang ya…” pinta Cha.

“Aku usahakan. Semoga hari itu tidak ada acara yang penting,” jawab Ang.

“Makanya aku minta dari sekarang, supaya kamu bisa atur jadwalmu, supaya pas hari itu kamu bisa off”

“Aku bisa atur apa pun yang berkaitan denganku, sesuka hatiku. Tapi kalau sudah menyangkut klien, aku tidak bisa berbuat apa-apa kan? Hanya bisa berharap mereka bisa diajak nego, tapi keputusan akhirnya belum tentu sesuai keinginan kita”

Cha pengen merajuk saja rasanya. Ini akan jadi ulang tahun pertamanya yang akan dia rayakan bersama Ang. Cha ingin saat itu menjadi special.

Ang orang sibuk. Cha juga sibuk sebenarnya, tapi tidak sesibuk Ang. Sibuknya Cha yang begitu-begitu saja sih. Ngantor dari jam delapan sampai jam lima. Rutin begitu dari Senin sampai Jumat. Sabtu mengajar di kelompok belajar bahasa Inggris gratis untuk anak yang dia dirikan bersama beberapa rekannya. Dan Minggu hari bebas bersama keluarga, atau hang out bersama teman-teman ceweknya.

“Kenapa sih kamu harus kerja di Jakarta?” tanya Cha.

“Hey, apa hubungannya? Aku sudah kerja di Jakarta sejak belum kenal kamu”

“Kenapa sih aku harus kenal kamu?”

“Itu pertanyaan yang lebih aneh lagi. Aku ngga bisa jawab”

“Coba kalau kamu kerja di sini saja. Kita bisa ketemu lebih sering. Dan aku ngga perlu khawatir kamu ngga bisa datang di hari ulang tahunku”

“Kalau aku kerja di Semarang, belum tentu kita kenal. Belum tentu kamu jadi pacarku. Jadi belum tentu juga kita bisa sering ketemu”

“Ang…..”

“Sudahlah, jangan berandai-andai. Pokoknya aku usahakan untuk datang. Tapi sebaiknya kamu bikin plan B, apa yang akan kamu lakukan kalau aku tidak bisa datang”

“Aku ngga mau bikin plan B. Aku mau satu plan aja. Merayakan ulang tahunku sama kamu, ngga peduli mau ngapain. Makan di fast food, atau nonton, atau naik gunung, atau sekedar duduk sambil minum teh dan makan kue di teras”

Ang tergelak di seberang.

“Dulu dulu, sebelum kenal aku, memangnya apa yang kamu lakukan kalau ulang tahun?” tanya Ang.

“Di rumah, berdoa sama Mami dan Papi. Aku juga bikin acara bareng Lin dan Fey. Makan, nonton, belanja”

“Ya sudah, anggap saja itu plan B nya”

“Enggak mauuuuu….!!.”

***

Cha memasuki ruangannya, membawa cemberut yang mulai terukir di wajahnya beberapa saat sebelum berangkat tadi.

“Oi, muka kamu kusut banget Cha, kenapa?” tanya Dub, satu-satunya cowok di ruangan.

Cha tidak menjawab, langsung meletakkan tasnya di meja, lalu berjalan ke kamar mandi. “Sok perhatian, menyebalkan,” gerutunya dalam hati. Dub cuma mengangkat bahu.

Ang tidak bisa datang. Dia harus menjadi moderator seminar, menggantikan temannya yang tidak bisa karena… melahirkan! Menurut perkiraan dokter, katanya, harusnya masih minggu depan. Tapi sepertinya bayi di dalam perut teman Ang itu sudah tidak sabar ingin melihat matahari. Jadi tepat dua hari sebelum seminar, Rit, teman Ang itu, masuk rumah sakit dan menuruti keinginan si bayi untuk cepat-cepat lahir.

Tentu saja jadwal seminar tidak bisa dimaju atau mundurkan. Undangan sudah disebar. Pembicara sudah siap. Juga sewa gedung sudah diatur.

“Iya iya, aku tahu!” potong Cha tadi ketika Ang menelpon menjelaskan kenapa dia tidak bisa datang.

“Ya jangan marah dong…”

“Kenapa sih temanmu itu harus melahirkan lebih cepat dari perkiraan dokter? Kenapa harus kamu sih yang gantiin jadi moderator?”

“Aku ngga mau jawab. Pertanyaanmu mulai aneh, dan memang ngga perlu jawaban. Sudahlah, aku janji, aku tetap akan jadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun nanti”

“Bagaimana kalau ternyata ada yang mendahului?”

“Ya aku minta maaf…”

“Begitu saja?”

“Harus bagaimana?”

Ang selalu begitu. Menganggap enteng semua perkara. Menganggap ringan semua masalah. Menganggap tidak penting hal yang buat Cha sangat penting. Menyebalkan!

***

Ang menepati janji. Tadi malam jam dua belas tet dia menelpon. Mendahului Fey, mendahului Lin. Cha sebenarnya bahagia sekali. Tadi malam itu, Ang begitu manis. Kata-katanya menyejukkan. Harapannya membahagiakan.

“Aku sayang kamu,” katanya.

Cha hanya bisa bilang, “Aku juga.”

Lalu Ang, dari kejauhan memainkan gitar, lagu sederhana ‘selamat ulang tahun’ yang biasa dinyanyikan meriah sambil bertepuk tangan di pesta-pesta. Tapi Ang membawakannya jadi halus dan romantis. Ah, entah juga ding. Mungkin Cha saja yang merasa begitu. Karena yang main gitarnya Ang, tengah malam, sebagai ucapan selamat ulang tahun…

“Aku kirim kado buat kamu” kata Ang usai main gitar.

“Apa? Kapan?”

“Isinya… rahasia dong. Kirimnya tadi sore. One Night Service. Kalau tidak ada apa-apa, harusnya besok siang atau sore sudah sampai”

“Ke rumah atau ke kantor?”

“Kantor”

“Ok. Isinya apa?”

Ang cuma tertawa, tidak terjebak.

Tetap saja ada kecewa menyelimuti hati Cha hari ini. Dia belum membuat rencana bersama Lin dan Fey untuk acara apa pun. Mereka sudah menelpon juga tadi.

“Ang datang?” tanya Lin.

“Datang dong” Cha berbohong.

“Wah, ngga ada yang traktir kita makan dong”

“Ada… acara sama kalian tetep lah… tapi mundur dikit ngga papa ya?”

“Gitu ya sekarang, yang udah punya yayang. Eh, kalau ini chat di YM, aku pasang tanda titik dua sama huruf P”

“Melet juga buat kamu”

Tapi Lin mau mengerti. Fey juga. Padahal sebenarnya, Cha bisa saja tetap pergi bersama mereka seperti tahun-tahun sebelumnya. Plan B, kata Ang. Tapi Cha tidak mau. Jadi malam ini, mungkin dia akan merayakan ulang tahunnya bersama Mami dan Papi saja. Makan malam di rumah.

***

Cha menggesekkan kartu ID-nya. Swipeout sebelum pulang, kalau mau uang makannya diberikan sesuai jumlah kehadiran. Sebelum pulang, dia mau mampir ke toko roti, beli kue tart kecil untuk dirinya sendiri. Mami sebenarnya mau membuatkan kue tart beneran untuknya. Yang besar. Yang cantik. Tapi Cha melarangnya.

“Ngga usah repot Mam. Cuma kita bertiga yang makan. Mami masak makan malam saja yang enak. Kuenya biar Cha beli yang simple aja nanti pulang kantor”

Mami setuju.

Cha melangkah keluar kantor, mengangguk pada Pak Sab, satpam paling sangar di kantornya. Beneran, penampilannya seperti preman, tapi bukan kasar. Pokoknya bikin keder. Tapi justru dia yang bicaranya paling halus di antara satpam yang lain.

“Selamat ulang tahun Mbak,” katanya.

“Eh, Pak Sab tau dari mana?”

“Semua orang juga tau. Maaf baru mengucapkan sekarang. Hari ini pas shift malam sih. Bisa saja saya telpon tadi pagi, tapi saya pengen ngucapin langsung”

“Makasih Pak. Kadonya mana?” canda Cha.

“Ada, sebentar ya. Tunggu di sini”

Cha diam di depan pintu. Tidak menyangka Pak Sab benar-benar menyiapkan kado buatnya. Pak Sab pergi ke samping gedung, bukan ke Pos Satpam di depan gerbang. Kadonya disembunyikan di sana? Atau di parkiran, digantung di motornya? Atau sebenarnya kado kiriman dari Ang?

Tidak lama Pak Sab muncul, bersama…. Ang!

“Aaaa……!!!” Cha menjerit tapi menutup mulutnya.

Ang tersenyum.

“Terima kasih Pak,” kata Ang pada Pak Sab. Pak Sab mengangguk. Ang menggandeng Cha menuju mobilnya yang diparkir agak jauh dari kantor.

Sambil mengikuti Ang menuju mobil, Cha terus-terusan meninju bahu Ang dan meracau tidak karuan. Ang kesakitan sebenarnya, tapi dia diam saja. Tetap tersenyum menggandeng Cha, yang bahagia bukan kepalang…

***

Happy Birthday Ocha….

Advertisements

34 thoughts on “Kado untuk Cha

  1. Happy birthday…

    sekedar menyimpulkan, sikapnya ang begitu dingin dan tenang. dan hal itu membuat ocha, kayak merasa kurang perhatian. padahala itu menjadi sebuah surprise yang tidak di sangka sangka…..

  2. mamaaaaaa…..makasih yhaaaa…….ocha ampe nangis nihhh! jujur, pengen banget anggie ada disini hari ini atau besok…ngga ada yang bisa menggantikan deh! sekali lagi, makasih buat kado ini yah maaaa :-*

  3. Pingback: This is Me and Mine, not Yours » Blog Archive » Kado Untuk Cha

  4. @wempi: lah kapan… nanti ada deh kado buat wempi, special juga. belum tahu bentuknya apa 😀
    @all: terima kasih, I wish I could write better than this…

  5. @lintang: thanks, puisimu juga selalu menyentuh…
    @phery: teman special 😀
    @R2G: iya sih, cuma jalan menuju ending kan bisa macam-macam…
    @escoret: tull!
    @angga: sama-sama…

  6. entahlah…
    setiap baca tulisanmu, aku selalu terhanyut. tidak hanya puisi, cerpen atau apapun. kurasa kamu sangat berbakat. emang kamu tinggal dimana sich, kok ada logat jawa tengahan?

  7. keren mbak…..cerbung2nya, sudah ada yang dibukukan nggak? Senangnya….tulisannya bagus2!

    salam kenal (serujadiguru.blogdetik.com)

  8. @tuyi: enak dong
    @Julie&yangputri: romantis ya? *mikir*
    @dheminto: ah, jangan gampang hanyut lah… aku memang orang jawa dan tinggal di jawa tengah 🙂
    @farid: berguru?
    @el_afiq: pengen apa ik?
    @pak sawali: ya ini pak, yang namanya bete tapi rindu, hihihi..
    @erfano: ah… baru belajar nulis ini… salam kenal kembali

  9. hihi, ang romantis juga ya..
    btw, buat teh ocha met milad moga semakin jadi [ribadi yg bercahaya, bermanfaat, dan selalu dikasihiNYA, amiiiin

  10. Pingback: Kado Untuk Cha | Retno Ika

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s