The Wine….

2 glasses of red wine

Berdua kita termangu di depan pintu.

“Kita masuk atau tidak?” tanyaku.
“Aku ragu,” jawabmu.
Lalu untuk beberapa lama kita berdiam saja di situ membisu.
“Kurasa tidak mengapa kita masuk,” katamu memecah bisu.
“Sungguh?” aku tidak tahu apakah aku senang atau bertambah ragu. Kau tampak seperti tidak yakin juga.
“Ya, asal kita yakin kita bisa menjaga diri di dalam sana”

Maka perlahan kita melangkahkan kaki. Merasa gamang dan asing di dunia yang bukan punya kita.
“Kita… apakah menurutmu kita telah menjadi salah satu di antara mereka?” tanyaku, karena aku sebenarnya tidak seberani itu menjadi begitu.
“Bukan. Berada di tengah mereka bukan berarti kita telah menjadi seperti mereka”
“Tapi kita bergerak seperti mereka”
“Gerakan yang sama tak selalu bermakna sama. Jika kulambaikan tangan di atas kepalaku, mungkin aku sedang memanggil seorang di kejauhan. Mungkin pula sebenarnya aku sedang mengucapkan selamat jalan.”

Kubiarkan kau raih tangan dan menuntunku. Aku sama sekali belum pernah ke sini. Demi Tuhan. Dulu aku pernah menapakkan selangkah kaki tapi lantas kabur melarikan diri. Hiruk-pikuk dan aromanya membuatku ngeri. Kau yang pernah. Sebentar, katamu. Dengan seorang yang telah terbiasa. Tapi katamu kau tidak nyaman bersamanya, dan pergi meninggalkannya.

Oh well, setidaknya kau tahu jalannya. Jadi aku menurut saja. Aku percaya padamu, aku percaya. Kau selalu menunjukkan kau bisa dipercaya.

Di dekat sebuah meja kau berhenti, “Kita duduk di sini saja.”
Aku menurut.
“Kau mau memesan?” tanyamu.
“Aku tak tahu harus memesan apa. Di sini ada apa?”
Seorang datang membawa daftar apa yang bisa dipesan. Aku menelan ludah. Tidak ada yang bisa kupesan.
“Dua red wine,” katamu. Dan pergilah dia mengambil yang kau minta.
“Tapi… aku… aku tidak bisa…”
“Psstt…. Jangan khawatir. Memesannya bukan berarti meminumnya. Kita harus memesan sesuatu supaya bisa duduk di sini.”
“Baiklah.”

Dan suara-suara mulai terdengar biasa di telinga. Belum ternikmati, namun tidak lagi menyakit. Aroma-aroma mulai tercium terbiasa di hidung kita. Belum ternikmati, namun tidak lagi menusuk.

Dua gelas anggur di meja, tepat di depan kita.
“Kenapa kau tidak mau?” kau menyentuh satu dan bertanya kepadaku.
“Bukankah… itu… tidak boleh?”
“Jadi belum pernah?”
Aku menggeleng.
“Tidak ingin mencoba?”
“Please. Bukankah tadi kau berjanji kita hanya akan memesannya supaya kita boleh duduk di sini?”
Akhirnya kau letakkan kembali. Dan kembali berdua kita hanya memandang ke sekeliling ruangan. Lalu saling berpandang. Membuang lagi. Begitu berulangkali.

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin mambaui aroma wine itu. Kuraih dan kubawa ke depan hidungku. Aku tersengal. Tubuhku bergoyang, wine di dalam gelas itu tertumpah sedikit ke bajuku.
Sigap kau meraihnya dari tanganku dan meletakkannya di meja. Lalu mengambil tisu dan mengeringkan tumpahan wine di bajuku.
“Tidak akan bisa hilang,” aku panik.
“Pssst…. Jangan panik. Lama-lama akan hilang. Lagi pula, tumpahnya di tempat yang agak terlipat. Kalau kau berdiri dan berjalan seperti tidak pernah terjadi apa-apa, orang tidak akan memperhatikan ke sana. Jadi bersikaplah seperti biasa.”
Kuatur nafasku dan berusaha seolah tidak terjadi apa-apa.
“Baunya menyengat, tapi manis, harum, atau… apa namanya?”
“Kenapa meributkan apa namanya? Kau tidak pernah peduli itu merah atau jingga, hijau atau biru muda. Kau akan ambil sepanjang kau suka”
“E… Aku hanya… belum pernah membau yang seperti ini sebelumnya.”
Kau raih gelasmu, kau baui, lalu kaucicip sedikit isinya.
Mulutku sudah ternganga ingin melarang. Tapi kau sudah hentikan.
“Kau sudah menyecapnya.”
Kau mengangguk.
“Katamu…”
“Hanya menyecap.”
“Enakkah?”
Kau mengangkat alis.
“Pahit?”
Kau menggeleng.
“Manis?”
“Manis dan yang lain.”
“Apa?”
“Aku tidak tahu namanya.”
Penasaran, aku pun mencoba. Mungkin hanya setetes dua. Mulutku terbakar, tapi bukan tersakiti. Kerongkonganku hangat.
“Mungkin ini tidak berbahaya, asal kita tidak menandaskannya,” kataku.
“Menurutmu begitu?”
Aku meneguk sedikit lebih mantap. Kepalaku serasa dipenuhi kembang api. Kehangatan bukan lagi di kerongkongan, tapi menjalar ke sekujur badan.

Lalu detik merambat merangkaikan setiap percakapan, menautkan seteguk demi seteguk wine di hadapan. Dan setiap teguk menghadirkan sensasi lebih. Aku merasa diayun gelombang. Di ombang-ambing perasaan. Dibuai kenyamanan berlebihan.

***

Kubuka mata perlahan, meringis menahan kepala yang sakit bukan main. Berusaha bangun tapi kepalaku seperti terekat dengan meja. Dadaku seperti dihimpit stoom walls. Sekujur tubuhku seperti daging tanpa tulang.

Suara-suara memekakkan telinga. Menghantam jantung. Frekwensi tinggi beramplitudo besar. Aroma-aroma membuatku mual dan ingin muntah. Kilat cahaya aneka warna bergantian mengiris-iris mata. Dalam tak berdaya kulihat orang-orang masih saja bergerak sambil tertawa. Dan kau… kau… kau di mana?

Tiba-tiba tubuhku tegak, serasa hilang menemukan kau tak ada. Aku sendirian. Kukais sisa tenaga untuk berdiri. Seperti membawa rantai berbola besi sepuluh kilogram aku berjalan ke sana kemari. Terhuyung, dikasihani, dimaki.

“Ada yang melihat orang yang tadi bersamaku? Di mana dia? Orang yang memesan anggur merah untuk kami berdua? Di mana dia? Ada yang melihat? Ada yang melihat? Di mana dia?”

Aku merasa sudah berteriak, tapi tampaknya bagi mereka aku tak bersuara. Hanya tatapan tidak mengerti yang membuatku semakin tidak mengerti. Hingga orang yang membawakan anggur kami menuntunku duduk kembali di meja kita.

“Istirahatlah, Anda boleh pergi meninggalkan tempat ini jika merasa lebih baik nanti,” katanya.
“Orang yang tadi bersamaku, yang memesan anggur yang kau bawakan, di mana dia?” tanyaku.
“Maaf, saya tidak tahu,” dan dia berlalu, kembali sibuk membawakan ini itu untuk para tamu.

Kujatuhkan lagi kepala di meja memejam mata. Aku ingin menangis tapi tidak bisa. Ke mana perginya air mata?
Suara-suara menjadi indah. Denting gelas menjadi bunyi triangle. Detak sepatu adalah bunyi castanet. Desah dan bisik menjelma suara maracas. Gelak tawa seolah choir. Percakapan membentuk lagu. Lalu irama menggandeng nada dan kata merasukiku.

Seorang lahir
Seorang mati
Seorang lahir
Seorang mati
Seorang lahir
Seorang mati

Aku terbuai.

Kulirik gelasku yang telah benar-benar kosong. Kulirik gelasmu yang masih sedikit bersisa. Kuraih dan biar kuhabiskan.
Kuteguk. Oh, !@#$%^&*. Ternyata gelasmu berisi sirup cocopandan.

*gambar dipinjam tanpa ijin dari sini*

13 thoughts on “The Wine….

  1. aku pikir benar2 red-wine. jadi ingat, rasa panas sewaktu pertama kali mencobanya. aromanya juga masih terbayang di kepala.

    ma, cerita diatas, apakah mimpi?? atau, apakah kepergian seseorang bisa membuat kita tidak akan menangis karena merelakannya?? maaf aku menerjemahkannya sesuka hatiku…

    jujur, aku sedang kalut karena merasa tidak bisa merelakan kepergian seseorang. ahh, entahlah! cerpen yang mama buat untukku, tak’kan pernah jadi kenyataan. bahkan untuk memimpikannya pun aku tak punya kekuatan😦

  2. @fahmi: lha yo kuwi. tiwas dibela2in minggrang minggring di berani2in. eh, ternyata yang punya dia cuma cocopandan, pantes aja glak glek dan mentheles. kitanya yang tepar sendirian….
    @Ocha: sabar ya say… nangis aja, tapi nanti lama-lama berhenti sendiri. asal jangan dipelihara kesedihannya. cari aja yang bisa bikin senyum. karnel misalnya😀

  3. banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengusir kesedihan dan duka lara…

    ha ha ha ha, ternyata sirup. tapi enakan sirup kali. daripada red wine, kebanyakan bikin mabuk hi hi hi

  4. ironisnya, yang bisa membuatku tersenyum adalah orang yang juga menorehkan luka diatas hatiku… lalu dimana, batas antara cinta dan benci? terkadang aku berpikir akan karma…namun, untuk bersikap ikhlas pun aku belum bisa…😦

  5. @zulhaq, wempi, kika: aku pilih cocopandan memang…
    @ocha: ikhlas itu meringankan beban Cha, believe me…
    @ndorokakung: berarti ngga begitu menggigit dong ndoro, coba wine yang sampai bisa bikin panas itu..😀
    @warm: penipu ulung😦
    @pheri: betul, sepertinya seperti itu..

  6. setan penggoda tertawa penuh kemenangan!
    Baiknya “terpaku” langkah kaki untuk zona yang sudah diketahui terlarang….
    nice posting!

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s