AH….!

Aku terus berjalan. Cepat. Dengan langkah lebar sepanjang trotoar. Aku senang tadi aku memutuskan memakai rok super lebar yang sering kupakai dulu jaman kuliah. Dua rok lebarku yang lain sudah entah ke mana kuberikan pada siapa. Tapi yang satu ini masih kusimpan dan kupakai sesekali. Masih cinta. Aku bahkan bisa bonceng motor melangkah tanpa harus takut tersibak. Retsletingnya tidak terkancing sampai atas, dan kaitnya tidak bertemu. Lingkar perutku sudah bertambah beberapa senti dari masa rok ini dijahit beberapa tahun yang lalu. Tapi tidak masalah, selama atasanku sampai ke pantat, tidak ada yang tahu begitu sebenarnya caraku memakai rokku.

Aku senang tadi aku memutuskan memakai bootku, dan bukan sandal trepes yang licin itu. Sudah tiga tahun sejak aku membelinya, dan memakainya hampir tiap hari. Tapi di mataku dia tidak bertambah jelek atau usang. Cuma lecet di sana sini yang bisa kututup dengan semir. Dan rasanya, makin hari kulitnya makin lembut dan nyaman di kakiku.

Ah masih berusaha berjalan menjajariku. Aku tidak melihat ke arahnya, tapi aku bisa merasakan langkahnya kecil-kecil setengah berlari mengimbangiku.

“Memang itu alasannya Ra,” katanya tanpa berusaha menghentikanku.

Aku tidak menyahut. Berhenti sebentar karena ada anak laki-laki yang memotong jalanku. Ah mencoba memegang lenganku tapi aku keburu berjalan lagi lebih dulu.

“Aku harus bagaimana? Aku tahu aku salah. Aku tidak semestinya membiarkan semuanya begini. Tapi kamu tahu kenapa aku bisa. Karena aku tidak bisa… ah! Ra… please berhenti sebentar…”

Tapi aku tidak berhenti melangkah. Membiarkan Ah terengah karena mencoba terus berjalan sambil bicara. Aku tidak ingin mendengarnya bicara lagi. Aku tidak ingin mendengar alasan apa pun yang digelarnya.

Tidak dengan bicara berdua berhadapan di meja pojok cafe. Dengan lampu remang yang menyamarkan wajahnya yang terlipat tak karuan. Dan minuman terbaik yang tiba-tiba serasa air comberan. Itu sebabnya aku keluar, meninggalkannya. Aku tidak perlu dia mengantar aku pulang seperti tadi dia menjemputku. Halte bis terdekat hanya beberapa menit jauhnya kalau aku tetap berjalan seperti sekarang.

Tidak juga walaupun dia mengikuti di belakangku. Meninggalkan Alphardnya dan berlari mengejarku. Bicaranya semakin tidak karuan seperti racauan orang yang terserang demam.

“Ra….”

“Sudahlah Ah! Keinginanmu sudah jelas, aku terima tanpa syarat. Dan aku tidak perlu dengar alasan atau penjelasan apa pun darimu.”

Aku menarik tasku yang tersangkut tas ibu-ibu yang berjalan sama terburu berlawanan arah denganku. Memaksa Ah minggir sedikit dan berhenti di belakangku.

Aku berjalan lagi dan Ah sedikit berlari lagi menjajari.

“Aku tidak mau kamu menilaiku kejam karena melakukannya. Aku ingin kamu tahu bahwa ini juga berat buatku. Aku juga sakit melepaskanmu. Jangan kira aku baik-baik saja. Aku… “

Aku berlari sedikit menyeberang anak jalan mendahului sebuah motor yang hendak keluar gang, yang menghambat Ah beberapa langkah di belakangku. Memaksa Ah berlari sedikit lebih kencang dari sebelumnya untuk bisa berjalan di sampingku lagi.

“Tapi tidak mungkin aku meninggalkan Nung. Dia…”

Mau tak mau aku harus berhenti. Aku sudah sampai di halte tempat aku akan menunggu bisku. Ah berdiri di hadapanku, memegang kedua pergelangan tanganku. Menatap wajahku. Tapi aku memandang jauh ke jalan berharap bisku segera datang.

“Maafkan aku. Aku sama sekali tidak ingin menyakitimu. Maafkan aku yang membiarkan kita sampai ke titik ini. Tapi ini harus kita akhiri. Aku menyayangimu, sangat. Dan perasaan itu tidak akan hilang meskipun tidak lagi bersamamu.”

Mataku panas dan pasti sebentar lagi memuncratkan air mata. Tenggorokanku sakit menahannya. Kubiarkan Ah dengan segala usahanya membuatku merasa lebih baik dalam menerima keputusannya.

Kusumpal telingaku dengan semua ngiang kata-kata cinta yang pernah dibisikkannya di telingaku. Dan liukan nada lagu yang pernah dipersembahkannya untukku. Kubiarkan kenangan indahnya menghiburku, menghambat sesaat tumpahan air mataku. Melonggarkan sekejap sesak dadaku.

Bisku datang.

“Dengar Ah. Aku tidak mau mendengar apa pun lagi darimu. Kamu minta kita hentikan, fine, kita hentikan. Titik. Aku tidak akan menuntut apa pun darimu. Aku pergi, kamu juga pergi. Sudah. Aku sakit dan kamu tahu. Kamu sakit itu tanggunganmu. Tapi kuberi tahu sesuatu. Tidak ada kata-kata apa pun yang bisa kamu ucapkan, untuk membuatku merasa lebih baik, sedikitpun.”

Aku senang aku memakai sepatu boot dan rok super lebarku. Jadi aku bisa sekali lompat naik ke bis dan segera mencari kursi di tengah. Aku masih mendengar Ah berteriak memanggilku. Tapi pintu otomatis bis ini cepat menutup, membantu telingaku terbebas dari siksa mendengar suaranya.

Sekat di tenggorokan kulepaskan. Katup di pembuluh air mataku kubebaskan. Dan banjir di pipiku kubiarkan. Tidak ada isak. Tidak ada suara. Hanya derasnya yang membebaskan kepedihan yang sempat tertahan. Tidak kuusap. Tidak kuseka. Tidak peduli kondektur yang memandangi.

Kuulurkan lima ribuan memenuhi tarif sekali bayar. Aku bersandar dan memejam mata. Aku belum memutuskan mau berhenti di mana. Mungkin aku akan terus ikut bis ini berkeliling berkali-kali sampai malam nanti ketika dia harus berhenti.

Advertisements

9 thoughts on “AH….!

  1. @idana: segit… banyak!
    @escoret: masa sih? kok kamu bisa bilang gitu? mbuh ya, aku ga pernah nonton sinetron sih.
    @luvaholic: di satu pihak, mungkin 😕
    @warm: apanya om? roknya kah? boot? atau alphardnya? 😀
    @mandor tempe: ndak ada lanjutannya 😦
    @ zulhaq: wow, istilah baru yang passssss 😀

  2. rok super lebar? yang kaitnya tidak lagi bertemu?
    berasa dejavu, jaman kuliah dulu aku punya rok kaya gitu mbak, udah ga bisa dikancing, dan kalo naik motor enak banget, gak ribet..hihihihi…
    salam kenal mbak latree! 😀

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s