nunik sakit (atau mati?)

begitu kata bu hadi. aku sudah menitipkan amplop berisi 300ribu, kemarin sore seingatku. untuk berobat, tapi bu hadi tidak ingat. dan sekarang matanya seperti meminta. yang lain dengan serta merta meninggalkan masing-masing satu di kardus sepatu yang di letakkan di samping pintu. tapi aku sudah menitipkan amplop berisi 300 ribu, kemarin sore seingatku.

tak urung aku menarik satu amplop lagi, lalu mengais-kais isi. banyak saku di tasku dan aku terkejut masih ada segumpal ratusan ribu di salah satu. tidak, aku sudah menitipkan amplop berisi 300 ribu, kemarin sore seingatku. maka sekarang aku hanya menyelipkan selembar biru. aku tidak mau yang lain melihatku, biar dipikir aku tidak berpikir untuk melakukan apa yang barusan mereka lakukan. tapi kikuk membuka rahasiaku — dan mereka melihatku pelit (atau pailit?).

***

toni habis sakit.
badannya kurus wajahnya tirus. berkaca mata duduk di kursi berlindung selimut. dan sweater yang itu, yang sering kulihat dipakainya dulu. kata adiknya (atau maminya?) istrinya pergi (atau mati?). aku diharapkan bersimpati. bukan olehnya, bukan oleh adiknya, bukan oleh maminya. tapi oleh suasana.

padaku dihadapkan setumpuk baju. cantik dan lucu-lucu. kubuka dan kulihat beberapa, nyaris jaket rajut semua. yang coklat mirip punyaku. yang biru terlalu ayu. yang putih terlalu jarang rajutannya.

aku harus pergi mandi. aku coba mengaduk tumpukan bajuku sendiri. kupindah dari satu tumpukan ke tumpukan yang lain, tapi aku hanya mengambil beha dan celana dalam. lalu aku berbalik ke tumpukan baju pemberian toni itu. lalu kuambil satu yang berwarna coklat yang mirip punyaku. dari situ, dari tumpukan baju pemberian toni itu — baju-baju istrinya.

***

aku mau mandi. tapi tidak di sini. sebelum berangkat aku mendengar bapak bertanya kepada ibu, di mana aku. ibu menjawab tidak tahu. lalu dia bercerita kepada bapak bahwa kemarin aku pamit pergi kuliah, tapi menurutnya aku berbohong. kata ibu yang menjawab itu bukan suaraku, hanya teriakan seseorang yang dia dengar dari balik pintu.

aku tidak bohong. memang aku pergi kuliah, dan temanku yang berkata ‘pergi kuliah’ ketika aku sedang pergi kuliah. jelas itu bukan aku. bagaimana aku bisa menjawab dari balik pintu jika aku sedang pergi kuliah dan bukan berada di situ?

aku tidak peduli. aku menyeret kaki sepanjang jalan. aku mau mandi di sma 1. kenapa langkahku terasa begitu berat? di belokan batas kota aku baru teringat, aku tidak bawa handuk atau sabun. hanya baju yang kutarik dari dua tumpukan berbeda itu.

aku ingin beli sabun di warung pinggir jalan, tapi aku tidak membawa uang sepeserpun. lewat di depan warung mbak yah, aku berniat ngutang dulu, sabun cair biore aroma kesukaanku. tapi dari luar pintu kulihat dia sedang serius. berbicara dengan suaminya, menceritakan keburukanku. itu tidak benar. tapi aku memilih pergi.

maka aku berjalan lagi, berat lagi. melewati sebuah bangunan yang apa peruntukannya tidak pernah aku sadari. dia sudah berubah bentuk berkali-kali. tapi di ingatanku dia masih bengkel aji saka tempat aku sering main waktu kecil dulu. sepulang sekolah jika masih dititipkan di rumah simbah karena bapak dan ibu belum pulang.

aku ingat lagi seseorang yang duduk diam mendengarkan temannya bercerta sambil membetulkan sepeda motor. aku lihat lagi bibirnya yang tertutup rapat menyungging senyum tiba-tiba sedikit demi sedikit terbuka dari ujung kiri hingga seluruhnya. dia menoleh padaku dan melebarkan senyumnya. kubalas. aku petik bunga rumput warna ungu yang tumbuh di trotoar depan bengkel itu, lalu aku berjalan lagi — berat lagi.

***

aku masih berpikir keras di mana aku mencari sabun. kakiku sudah lelah tapi aku baru sampai di depan masjid, setelah toko adi daya. sebentar lagi lampu lalu lintas tikungan pertigaan alas kethu. aku berharap banyak mobil lewat di titik itu supaya bisa melindungiku. aku tidak ingin terlihat oleh budhe paryo atau siapa pun di rumah itu yang mungkin melihatku. tapi mbak yani memanggilku.

maka aku menyeberang. mereka bertanya padaku mau ke mana aku. aku mau mandi. dan kata budhe aku boleh mandi di situ. aku tidak bawa sabun, dan kata mbak yani aku boleh pakai sabun di situ. aku bilang aku sebenarnya ingin mandi di sma 1, tapi aku senang mereka memanggilku. karena sma 1 masih 1 kilo lebih lagi, dan kakiku sudah lelah.

budhe bilang tidak usah pergi ke sma 1, di sana sedang mati lampu. di situ juga, baru saja menyala. aku bertanya dalam hati apa mati lampu berarti tidak ada air di kamar mandi? tapi di tempat budhe masih ada sumur timba dan mati lampu bukan perkara.

mbak yani menyuruhku segera mandi, sambil memeluk seekor kucing berwarna kembang benguk campur merah jambu.

***

aku belum mati.
tapi kau masukkan aku ke dalam peti.

Advertisements

2 thoughts on “nunik sakit (atau mati?)

jangan sungkan kalau mau komen :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s